
"Meskipun dia menjadi baik. Lin tetap tidak bisa ke tempat Levin dengan tepat waktu." Yve menatap satu per satu dari tiga orang di depannya.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Devian.
"Aku membuatnya terluka cukup parah. Kaki kanannya kutusuk dengan belati sangat dalam. Tangan kirinya juga sudah kusayat, dan aku yakin itu cukup sakit untuk digerakkan. Jadi bagaimana mungkin dia bisa mendatangi Levin? Lorongnya juga sangat panjang. Jika dia berjalan pincang pun, akan membutuhkan waktu yang lama." Jelas Yve.
"Masuk akal." Devian memainkan kacamatanya dengan ekspresi serius.
"Aku tau!" Sky tiba-tiba muncul dari balik pohon dan menghamburkan dirinya dalam pelukan Devian.
"Kak Sky, menjauhlah dariku! Aku masih normal!" Devian berusaha keras mendorong Sky.
"Devian sayang, biarkan aku berbicara tentang ideku." Sky merangkul lengan Devian.
"Yve bantu aku! Sebelumnya kau membantuku kan? Jauhkan kak Sky dariku!"
"Tidak mau. Kalau dipikir-pikir, kalian cocok." Yve mengacungkan ibu jarinya.
"Adik durhaka!"
"Oke Sky, katakan idemu." Yin mencoba mengembalikan suasana agar kondusif.
"Begini... Aku pernah nonton film detektif bersama ibuku. Ceritanya tentang-"
"Langsung intinya." Sela Devian.
"Devian sayang jutek banget sih." Sky menggembungkan pipinya dengan kesal, lalu kembali bicara. "Jadi di markas penjahat di cerita itu, ada satu ruangan yang terdapat pintu rahasia. Nah, pintu itu bisa tembus ke ruangan lain. Jadi apakah di ruangan Lin juga sama? Karena dengan begitu, Lin tidak perlu repot-repot jalan pincang melewati lorong untuk bertemu Levin kan?"
"Benar juga." Devian mengusap dagunya sambil berpikir keras.
"Tapi kalau begitu, Levin tidak perlu menyuruh orang aneh... Siapa tuh namanya untuk menjemput Yve kan? Dia tinggal pakai saja pintu rahasia itu untuk ke ruangan Lin dan membantu Yve pergi. Kalau urusan dia mau membalas penyesalannya itu mudah. Setelah mengantar Yve, dia tinggal masuk lagi buat bunuh diri." Ucap Yang.
Dikejauhan.
__ADS_1
Beng terus menatap kearah rombongan Yve dan Devian. Disana mereka duduk dengan para senior, dan seperti membahas sesuatu yang serius. Itu sangat aneh, karena biasanya Devian dan Yve akan bersama dengan para bodyguard inti lainnya.
Apa ini perasaanku saja atau memang ada sesuatu diantara mereka? Lagipula Devian yang tiba-tiba menghilang dan muncul lagi bersama Yve juga terlihat aneh.
Apa jangan-jangan... Mereka pacaran?!
"Yo kak Beng! Lihat, aku memiliki satu cemilan normal untukmu. Yaitu biskuit rasa pisang coklat." South berkata dengan gembira, tapi orang yang diajaknya bicara hanya terdiam. "Kak Beng?" South mencoba mencolek bahu Beng.
"Astaga demi Yve pacaran dengan Devian!" Beng terkejut hingga mengucapkan kata-kata yang aneh.
"Kagetnya unik."
❀
Di cafe, terdapat seorang pegawai baru. Laki-laki itu terlihat rajin berlarian kesana kemari untuk mencatat pesanan pelanggan.
"Satu lagi yang pesan kentang goreng keju dan milkshake coklat." Seru si pegawai baru kearah Tina dan Leo.
"Wah kau semangat sekali ya Sekian."
"Haha maaf." Tina tertawa melihat wajah kesal Kian.
Leo menggaruk kepalanya dengan heran. Ia tidak paham dengan jalan pikiran teman-temannya yang berniat menyerang markas tuannya Lin kemarin. Mereka malah membawa pulang satu orang preman yang nampak hiperaktif dan terlihat sangat ceria tapi penakut. Sebenarnya Leo juga cukup sedih saat salah satu personil yang pergi menyusup menghilang satu, yaitu Levin. Katanya, kejadian yang dahsyat merenggut nyawa dia, dan akhirnya tadi pagi Beng menelpon untuk memberitahu berita yang menghebohkan.
Leo kembali menghela nafas dan bersiap membuat pesanan milkshake coklat.
"Boss, apakah ada yang harus aku kerjakan lagi? Semua pelanggan sudah kucatat pesanannya." Kian bertanya dengan antusias.
"Hmm apa ya?" Tina menggaruk pelipisnya. "Mungkin buang sampah saja. Karena kemarin aku lupa buang sampah hehe. Kantong plastik sampahnya ada di dekat kamar mandi."
"Baiklah siap."
Kian segera pergi ke dalam dan melakukan tugas yang bossnya suruh.
__ADS_1
Kian mengikuti gerombolan dewinya kemarin, dan berkat rasa iba dari sang dewi, ia diperbolehkan kerja di cafe untuk sementara. Saat uang tabungannya sudah cukup, ia akan menyewa apartemen untuk tinggal sendiri dan mencari pekerjaan lain. Untuk saat ini, Kian tidur di tempat Leo. Kian tidak berniat kembali ke rumah pamannya. Ia tahu benar sifat pamannya, pasti nanti ia akan dikatai narapidana dan membuat malu keluarganya, padahal itu bukan salah Kian.
Masa bodoh dengan pamannya. Kian sekarang ingin hidup sendiri. Lagipula kedua orang tuanya sudah meninggal. Tidak ada orang yang menyayanginya kecuali dirinya sendiri.
"Spabadabadu~ dudubadadada~" Kian dengan bersenandung ria mengangkat plastik sampahnya dan memasukkan itu ke dalam bak sampah.
"Kian."
Sedang asik berjoget sambil bersenandung, Kian dikejutkan dengan suara yang sepertinya pernah ia dengar. Saat menoleh, pemandangan yang amat sangat aneh kembali mengejutkannya.
"De-dewa?!"
❀
Setelah sesi istirahat selesai, semua bodyguard kembali memunguti puing-puing bangunan. Apa yang dicari boss besarnya belum ketemu. Jadi mereka harus terus mencari tanpa memperdulikan rasa lelah.
Yve hanya berjalan mengelilingi puing bangunan yang mungkin saja bekas ruangan Lin. Ia melihat banyak buku tebal yang terjepit di sela-sela reruntuhan bangunan.
Sepertinya dimulai dari sini.
Yve menaiki beberapa puing bangunan yang besar, kemudian melompat dari satu puing ke puing besar lainnya. Ia melakukan itu sambil membayangkan seperti saat berlari di lorong sebelumnya.
Yve berhenti melakukan kegiatannya saat ingatannya sampai di ruangan Lin. Sebuah pintu besar yang sama seperti kemarin, tergeletak dengan kondisi yang sudah terbelah menjadi beberapa bagian.
Ini dia... Tepat disini adalah bekas ruangan Lin.
Disekeliling Yve sekarang, keadaannya tidak beda jauh dari hamparan puing-puing lainnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disini.
Terdapat banyak buku yang sudah tidak bagus lagi. Yve menuju ke salah satu rak buku besar yang sudah dalam keadaan terbalik.
Nah aku akan mencari-
Yve terkejut melihat salah satu rak.
__ADS_1
Rak buku ini... Memiliki engsel.