
Saat Yve keluar cafe, ia sudah disambut dengan gerombolan preman yang bahkan tidak bisa ia hitung jumlahnya.
"Jadi gadis kecil ini? Astaga, hanya seekor kelinci. Tapi boss ingin kita semua maju. Padahal jarang sekali 200 orang berkumpul."
200? Sebanyak itu?
Yve melirik sampingnya. Leo baru saja datang sambil membawa pistol.
"Hei lihat! Kelinci kecil membawa teman kelinci lainnya haha." Seru salah satu orang dengan tatto yang hampir berada di seluruh tangannya.
"Sabar, jangan terbawa emosi. Semakin mereka merendahkan kita, semakin banyak celah yang bisa kita pakai." Bisik Leo pada Yve.
Ini tidak seperti cara Yve. Biasanya jika ia direndahkan, maka akan langsung ia balas berkali-kali lipat. Tapi sekarang harus sabar? Yang benar saja!
"Siapa yang mengutus kalian?" Teriak Leo yang langsung disambut tawa dari banyaknya preman dihadapannya.
"Untuk apa kau tahu? Lagipula sebentar lagi kau akan mati." Preman lainnya yang memiliki banyak tindik menjawab Leo.
Yve mengepalkan tangannya dengan kesal. Rasanya ia ingin menarik pelatuk dan menghujani mereka dengan peluru. Tapi Leo malah ingin melakukan sesi tanya jawab dulu.
"Gedung seberang, arah jam 2 ada Yin dan Yang. Pastikan bertarung di arah jarak pandang mereka. Agar kau bisa dibantu." Leo kembali berbisik pada Yve.
"Aku mengerti." Yve menyimpan pistolnya pada saku celana.
Gadis itu sekarang berjalan mendekati salah satu preman yang terlihat lebih menonjol dari yang lainnya. "Yah, kalian semua pengecut. Hanya bermodalkan mulut, dan tidak berani menyerang. Oh astaga, apa aku sedang berbicara dengan sampah penakut?" Yve menyeringai kemudian memukul wajah preman tadi dengan kekuatan penuh.
Gerombolan preman itu seketika meraung dengan heboh. Rasa ingin saling pukul mereka memuncak dan didasari sikap solidaritas yang salah.
Para preman itu berbondong-bondong mendatangi Yve dan berebut untuk memukul gadis itu. Tapi bak film komedi, Yve menunduk dan memanfaatkan tubuh kecilnya untuk menyelinap keluar gerombolan preman. Dan setelah benar-benar bebas, Yve menghujani mereka dengan peluru dari arah belakang.
Dor! Dor!
Leo terpukau dengan gerakan Yve yang sangat cepat dan lincah. Ini pertama kalinya ia melihat Yve bertarung. Jika dibandingkan dengan para preman ini, tubuh Yve sangat kecil dan mudah untuk lolos dari jeratan mereka.
Yve melihat satu persatu preman yang jatuh berkat pelurunya. Ia sebenarnya tidak tahu cara menembak yang benar, South terus berkata kalau kemampuannya payah. Tapi setidaknya tembakan yang berasal darinya selalu mengenai sasaran. Para preman yang tidak Yve tembak, berjatuhan dengan sendirinya. Itu pasti berkat Yin dan Yang.
"Sial!"
Yve menoleh pada Leo yang mendesis. Kondisinya kurang baik. Dia dikeroyok oleh preman yang jumlahnya lebih banyak dari Yve. Laki-laki yang sedang tepojok itu, berkali-kali ingin menembak dengan dua tangan, tapi saat sadar tangannya yang sebelah tidak memegang senjata, dia kembali mengumpat.
Apa Leo pengguna dua pistol? Pantas saja tanpa persiapan, dia sudah membawa dua pistol di jaketnya.
Yve yang paham segera berteriak, "ini kukembalikan!" Yve melemparkan pistol ditangannya pada Leo dan sukses ditangankap laki-laki itu.
Dor! Dor!
Benar saja. Dengan dua pistol, gerakan Leo jadi lebih leluasa. Dari ekspresinya juga terkesan lebih nyaman. Hanya sekejap rombongan preman itu habis di tangan Leo.
"Hebat." Yve tepuk tangan sambil menatap Leo.
__ADS_1
"Jangan senang dulu. Lihat mereka."
Saat Yve menoleh. Rombongan preman lainnya datang. Mereka meraung seolah tidak terima dengan kematian teman-temannya.
Baiklah, mereka ternyata tidak sabar untuk tiket kematian yang akan kuberikan. Yve tersenyum sinis.
"Kau tidak punya senjata." Leo tampak khawatir.
"Aku? Sebaiknya tidak usah repot-repot memikirkanku." Yve melirik sesuatu dibawah kakinya. Disana terdapat botol kaca bekas minuman Yve, yang dipakai Tina sebagai pot tanaman. Tanpa pikir panjang, Yve segera mengambilnya dan memecahkannya menjadi dua bagian. Jadilah senjata yang cukup menyeramkan.
Rombongan preman kloter berikutnya sudah mengerumuni Yve lagi. Dan perkelahian kembali dimulai.
Dari atas gedung, dua pria fokus dengan senjata mereka. Masing-masing menembak ke arah yang berbeda, untuk membatu dua orang yang sedang bertempur di bawah.
"Dua anak itu sama gilanya." Salah satu pria dengan warna rambut dominan putih bicara sambil mengisi kembali peluru di senjata yang ia bawa. Dialah Yang.
"Bodyguard keluarga Bai semakin hebat saja. Kurasa masa kejayaan kita sudah habis." Ucap laki-laki satunya yang memiliki warna rambut dominan hitam. Dialah Yin.
"Haha kau masih kesal dengan si kembar plagiat itu? South dan North jelas mencontek role kita." Yang tertawa dengan sinis.
"Jelas masih kesal. Tapi apa boleh buat, mereka juga lebih hebat dari kita. Sekarang, yang harus kita lakukan adalah mendukung para junior. Demi keamanan keluarga Bai" Yin juga ikut mengisi pelurunya yang sudah habis.
"Kau benar."
"Yang, apa kau dengar sesuatu?" Yin langsung terdiam agar Yang mendengar suara aneh itu.
Yang menutup mata untuk mempertajam indera pendengarannya. Selain suara orang yang sedang bertarung dibawah, memang ada suara lain yang terdengar. "Kau benar, ada suara..."
Bugh!
Dor! Dor!
Pertarungan sengit masih terjadi. Yve tidak bisa menghindari semua pukulan yang ditujukan padanya. Gerombolan preman itu menyerang secara bersamaan. Yve bukanlah superhero yang bisa memprediksi serangan. Alhasil beberapa lebam menghiasi wajah dan tangannya.
"Cih!" Yve melihat gerombolan preman lain kembali berdatangan. Mungkin mereka sengaja membuat Yve dan Leo kelelahan dengan cara menyerang secara bertahap.
Entah kenapa semakin lama jarak Yve dan Leo semakin berjauhan. Mereka jadi tidak bisa membantu satu sama lain. Meskipun begitu, Yve tidak berniat untuk mendekat kearah Leo. Ia lebih memilih melawan semuanya sendiri.
Gerombolan preman yang baru datang segera menargetkan Yve yang terlihat lebih lemah daripada Leo. Seorang gadis dengan senjata botol lebih menarik daripada laki-laki yang terlihat tangguh dengan dua pistolnya.
Bugh!
Yve kembali terkena pukulan. Kali ini seseorang memukulnya dengan batang kayu. Untung saja ukurannya tidak terlalu besar, sehingga kesadaran Yve masih bisa terjaga.
Jleb!
"Argh!"
Yve berhasil menusuk beberapa orang dengan pecahan botolnya. Setelah menyerang, Yve akan menghindar untuk menghemat energinya. Yve mamakai sistem hit and run.
__ADS_1
Tidak sadar, Yve lama kelamaan terdorong hingga ke sisi cafe yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan Yin dan Yang. Alhasil lawan Yve terasa lebih banyak dan berat.
Dimana Yve? Leo baru tersadar saat Yve tidak lagi berada di jarak pandangnya.
Tin! Tin!
Leo menutupi wajahnya yang tiba-tiba disorot oleh lampu sebuah mobil yang melaju kencang. Preman di sekelilingnya juga terkejut melihat itu.
Klontang!
Yve masih mencoba bertahan dengan menjatuhkan berbagai benda di sekelilingnya, untuk menghalau para preman. Ia sudah hampir mencapai batas, tapi disudut penglihatannya, ia kembali melihat rombongan preman baru. yang menuju kearahnya.
Mereka tidak ada habisnya. Yve menggigit bibir bawahnya dengan frustasi.
Buagh!
Ketika botol ditangan Yve sudah pecah menjadi potongan kecil, akibat banyaknya orang yang hendak memukulinya, akhirnya Yve hanya bisa mengandalkan kekuatan tangan kosongnya.
Duak!
Bugh!
Yve memukul dengan membabi buta, kemudian bergerak secepat mungkin menghindari serangan balasan.
Dug!
Gubrakk!
Kaki Yve ditarik oleh seorang preman dari bawah, mengakibatkan tubuhnya jatuh dengan sangat keras.
Melihat lawannya sedang terkapar, membuat para preman itu tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini. Salah satunya segera mengangkat linggis ditangannya dan mengayunkannya kearah Yve.
Habislah aku. Yve memejamkan matanya.
Dor!
Suara tembakan itu membuat Yve terkejut. Ditambah tidak ada yang memukulnya.
Apa itu Leo?
Yve perlahan membuka matanya.
Sosok seorang laki-laki berdiri di depan Yve. Ditangan laki-laki itu terdapat sebuah pistol yang menjadi dalang dari suara tembakan tadi.
"Kau..." Kedua mata Yve melebar dan mulutnya menganga saking terkejutnya.
"Maaf aku terlambat, adik kecil." Devian tersenyum bak pahlawan sambil menoleh kearah Yve.
"SETAAANNN!!!" Yve menjerit.
__ADS_1
Hah?! Yang benar saja!
Devian yang ingin terlihat keren, harus pasrah hanya dianggap sebagai arwah gentayangan.