Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Hanya Sedikit Membalasnya


__ADS_3

Gubrak!


Lin jatuh diantara sofa dan meja di dekatnya.


"Kau benar-benar memukulku?!" Lin memegang pipinya yang mulai memerah.


"Ya. Memangnya kenapa?" Yve menarik Lin untuk bangun. Lalu... kembali memukulnya.


Bugh!


"Hei tunggu dulu!"


Bug!


Yve terus memukuli Lin. Meskipun laki-laki itu jatuh, maka Yve akan menariknya untuk berdiri dan kembali memukulnya.


"Leo aku sudah membeli semuanya-" Levin yang baru saja masuk apartemen terkejut melihat kelakuan Yve.


"Astaga! Apa yang kau lakukan?!" Levin segera menarik Yve untuk melepaskan Lin. Lalu ia mendekati Lin dengan panik.


Uhuk! Uhuk!


Darah memenuhi mulut Lin hingga menetes keluar.


"Kenapa kau memukulinya?" Tanya Levin sambil membantu Lin untuk bangun.


"Karena aku bingung." Jawab Yve santai.


"Hah?"


"Di satu sisi, dia sangatlah jahat hingga membuatku muak. Tapi di sisi lain, ada seseorang yang menyayanginya dan tidak rela kehilangannya. Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Aku tidak mengerti maksudmu." Levin menggelengkan kepalanya dengan bingung.


"Intinya, aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Agar seseorang bisa tenang." Yve berjalan keluar apartemen dan menghilang dari balik pintu.


"Aku harus bicara padanya." Levin berdiri hendak menyusul Yve, tapi Lin menghalanginya.

__ADS_1


"Biarkan saja. Aku masih bisa dipenjara meskipun sakit. Disana pasti ada dokter."


Levin menghela nafas dengan kasar, lalu mengambil kain untuk mengelap wajah Lin yang berdarah. "Apa yang kau katakan hah? Tubuhmu sudah jauh lebih baik, pasti bisa membalas Yve tadi. Kau sengaja dipukuli lagi agar menunda waktu untuk dipenjara kan?"


"Pikiranmu jahat sekali." Lin tersenyum dengan ekspresi sedih. Karena sifatnya jahat, orang-orang jadi melihatnya penuh tipu daya dan niat negatif. "Aku sengaja, karena aku menyadari kesalahanku. Yve hanya mengingatkanku kalau karma akan segera datang dan sedang menghantuiku. Aku paham. Saat aku dipenjara nanti, kuharap tidak menerima keringanan apapun karena statusku."


Lin mode baik keluar lagi. Sekarang aku harus menjawab apa? Diam sajalah.


Levin benar-benar memilih untuk diam dan mengompres lebam di wajah Lin.



"Kau memukulinya?!" Teriak Sky setengah terkejut.


"Hebat hebat, kita beri empat jempol." Si kembar dengan kompak mengacungkan ibu jari mereka.


Saat malam hari, si kembar dan Sky jadi sering nongkrong di cafe. Meskipun mereka harus membuat minum sendiri karena Yve tidak sudi membuatkannya, dan Tina sudah pulang, mereka masih senang berkumpul disana.


"Ya aku memukulinya." Ucap Yve santai sambil menghabiskan makan malamnya.


"Kenapa? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada uang, kau tiba-tiba memukulinya." Tanya Leo sambil menyendok es krim yang ia temukan di dalam kulkas.


"Kurt? Siapa itu?" Sky menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Itu bocah yang suka menyapu di teras. Sering dipuji tuan besar karena ahli membuat balon dari permen karet." Kata Yin sambil memperagakan gerakan Kurt.


"Oh dia, yang acara berkabungnya dipenuhi bunga Magnolia?"


"Iya yang itu." Jawab Yve.


"Kata Devian, yang membunuh Kurt adalah Levin." Kata Leo sambil mengelap mulutnya yang belepotan es krim.


"Levin itu disuruh oleh Lin. Dia hanya memikirkan strategi untuk membunuh. Dalang dari semuanya tetaplah Lin. Hatinya busuk!" Yve tidak sadar mencengkram sendok ditangannya hingga bengkok.


Setelah puas meremas sendok, Yve pergi untuk mengembalikan piring di dapur.


Meskipun Lin jahat, semuanya didasari oleh pemikiran kekanak-kanakannya. Ditambah rasa iri, dan ingin disayangi. Pelampiasannya ke dunia negatif adalah kesalahannya. Dia pasti sadar sekarang.

__ADS_1


Kuharap benar-benar sadar. Kasihan Bai Lian yang terus mengkhawatirkan Lin, tapi orangnya bahkan tidak peduli.


Tunggu... Kenapa aku kasihan pada Bai Lian?!


Yve menepuk kedua pipinya sendiri. Pikirannya berkhianat, padahal ia tidak ingin memikirkan Bai Lian. Mungkin karena kepalanya banyak terbentur.


"Fuhh untung tidak ada hantu."


Yve melirik Kian yang buru-buru masuk dari pintu belakang. Si penakut itu baru saja selesai membuang sampah.


"Eh ada Dewi." Kian tersenyum sambil berjalan mendekati Yve. "Ingin apa? Mencuci piring? Sebaiknya tidak usah, biar aku saja yang melakukannya."


"Siapa yang ingin mencuci piring? Tapi kalau dilihat-lihat, kau rajin sekali."


"Tentu! Aku baru tahu kalau gaji disini sangat besar. Pantas saja Leo suka bekerja." Kian masih tersenyum lebar dan mulai menyalakan keran wastafel untuk mencuci piring.


Sepertinya kak Tina terlalu baik. Aku akan mengusulkan untuk mengurangi jumlah gaji mereka.


"Kenapa dewi? Apa butuh sesuatu yang lain?"


"Tidak. Aku hanya bepikir semoga kalian betah."


Yve kembali berjalan ke bagian depan cafe. Dan melihat orang-orang sebelumnya masih dalam posisi yang sama. Kecuali Leo yang mulai menjilati gelas bekas es krim, dia tidak ingin kehilangan setitik es krim.


"Yve, kapan Devian akan melaporkan Lin pada polisi?" Tanya Yin sambil membenahi posisi duduknya.


"Katanya besok."


"Aw! Besok semua orang pasti akan terkejut. Apalagi tuan Bai Lian yang sudah menganggap tuan Lin mati hahaha." Sky terlihat sangat senang saat membayangkan wajah tuannya.


"Apa kita akan membawa Lin ke rumah keluarga Bai dulu? Atau langsung ke penjara?"


"Aku ingin Bai Lian melihat Lin dulu. Kasihan dia merindukan adiknya."


Mendengar ucapan Yve itu, Leo langsung pura-pura berdeham. "Ehem! Itu permintaan special agar kekasihnya tidak sedih." Goda Leo.


"Kemari, akan kutunjukkan apa itu special." Yve mengangkat kursinya dan hendak melemparkan itu pada Leo.

__ADS_1


"Ampuuun!"


__ADS_2