Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Tidak Akan Kubiarkan Mati


__ADS_3

Yve terbangun oleh sinar matahari yang mengenai wajahnya. Lagi-lagi ia lupa untuk menutup jendela tadi malam.


Dengan malas Yve mencoba duduk. Kondisi matanya sudah jauh lebih baik, dan ia tidak merasakan pusing. Semua yang diajari oleh Devian masih membekas diingatannya. Bahkan semalam ia sampai bermimpi dimarahi oleh bodyguard berkacamata itu. Sungguh menyeramkan!


Yve mengecek kondisi uangnya. Jumlahnya masih sama. Aku harus membeli laptop dan komputer juga untuk latihan.


Yve mengambil beberapa tumpuk uang dari dalam tas yang digunakannya untuk menyimpan semua uangnya.


Oke waktunya bersiap, dan pergi ke rumah membosankannya Bai Lian.


Yve mengambil handuknya, dan pergi menuju lantai bawah. Sebentar lagi kakaknya mungkin akan sampai, dan diikuti oleh pegawai yang lain. Jadi sebelum itu terjadi, Yve ingin memakai kamar mandi dengan leluasa.


"Baru bangun?"


Langkah kaki Yve seketika berhenti, saat sebuah suara terdengar dari sebelah kanannya. Gadis itu perlahan menoleh dan mendapati wajah seseorang yang dikenalinya sedang tersenyum.


"Levin?! Bagaimana kau bisa masuk?"


"Duplikasi kunci mungkin?" Levin mengangkat kedua bahunya dengan santai.


Yve segera meraih gunting yang kebetulan berada di rak sebelahnya. "Siapa yang mengijinkanmu menduplikasi kunci tempat tinggalku?" Yve menodongkan gunting tadi ke arah Levin.


"Santai saja, aku hanya ingin bicara sebentar. Kalau aku ingin mencelakaimu, bukankah seharusnya kulakukan dari tadi saat kau tidur?"


Yve tidak percaya dan masih menodongkan gunting itu. "Cepat katakan ingin bicara apa, atau aku akan menancapkan ini ke tenggorokanmu." Ancam Yve.


"Tuan Lin ingin membunuh seorang bodyguard inti."


Yve sangat terkejut mendengarnya. Tapi ia sebisa mungkin menyembunyikan ekspresi itu diantara wajah datarnya.


"Siapa?" Tanya Yve dengan nada acuh tak acuh.


"Devian."


Kak Devian?! Tidak akan kubiarkan!


"Oh. Lalu kenapa kau memberitahuku?" tanya Yve lagi.


"Tentu saja meminta bantuanmu untuk-"


"Tidak." Yve segera menyela.


"Kenapa?" Levin terlihat tidak senang.


"Aku tidak akan mempertaruhkan posisi yang sudah dipercayai oleh bodyguard inti lain dan Bai Lian. Sedikit saja aku membuat kesalahan, mungkin aku akan mati dan di cap sebagai bodyguard pengkhianat, lalu misiku untuk membunuh Bai Lian jadi gagal."


"Mudah. Kau jangan membuat kesalahan." Ucap Levin santai.


"Lalu kenapa tidak kau saja?" balas Yve. "Apapun yang kau lakukan, dan siapa saja yang kau bunuh, itu bukan urusanku."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Levin berjalan ke arah pintu belakang. "Aku akan membunuhnya sendiri."


Levin akhirnya pergi. Yve yang sudah memastikan Levin benar-benar menghilang dari pandangannya, mendekati pintu belakang.


Brak!


Yve menendang gagang pintu hingga rusak. Setelah itu ia berjalan memasuki kamar mandi.



"Pagi Yve." Sapa Tina sambil memasuki toko. Yve yang sedang memakan kacang menoleh kearah Tina.


"Pagi kak."


"Apa kau lapar? Aku bisa membuatkanmu nasi goreng untuk sarapan."


Yve langsung terbayang betapa mengerikannya nasi goreng si kakak. Semakin hari, rasanya semakin asin. Apakah lidah Tina mati rasa saat mencicipinya?


"Aku tidak lapar. Ingin langsung berangkat kerja saja." Yve menutup wadah kacang yang sedari tadi ia cemili, lalu mengambil kunci motor.


"Hati-hati di jalan."


"Oh iya kak, pintu belakang rusak. Mungkin ulah maling yang gagal masuk."


"Benarkah? Gawat sekali. Aku akan memesan pintu baru sekarang. Untung aku punya teman yang kerja membuat pintu, jadi bisa langsung dibawakan." Tina buru-buru mengambil ponselnya.


Bagus. Levin tidak akan bisa masuk lagi untuk waktu dekat.


"Iya."


Saat Yve keluar cafe, ia berpapasan dengan Orion. Kondisinya terlihat baik, hanya ada beberapa plaster yang menghiasi wajahnya.


Seperti sebelumnya, Yve kembali mengacuhkan Orion dan memilih untuk mendekati motornya. Laki-laki malang itu hanya bisa melihat Yve yang bersiap untuk pergi.


Setiap detik, hanya ada rasa penyesalan yang Orion rasakan. Seandainya waktu bisa berputar kembali, ia akan lebih memilih untuk mempercayai Yve daripada orang lain.


Sekarang, Orion hanya bisa menatap punggung Yve yang semakin lama semakin menjauh. Seperti hubungannya dengan gadis itu.



Yve sampai di rumah Bai Lian. Setelah ia memarkirkan motornya, seperti biasa ia langsung menuju gazebo.


Sekarang bagaimana caraku untuk memberitahu kak Devian? Yve menggaruk kepalanya dengan bingung.


Dari kejauhan, Yve melihat Devian yang sedang menyiapkan Laptop di gazebo sendirian. Sepertinya dia sudah tahu kalau Yve akan datang, dan mempersiapkan semuanya.


Tidak akan kubiarkan temanku mati lagi!


"Pagi kak." Sapa Yve sambil mendekati Devian.

__ADS_1


"Baru sampai? Aku menunggumu dari tadi." Devian memukul kepala Yve dengan penggaris yang tiba-tiba saja muncul di tangannya.


"Kak Devian jangan memukul kepalaku, nanti aku jadi bodoh." Yve mengusap kepalanya dengan ekspresi kesal.


"Kau memang sudah bodoh. Di sekolah pun cuma dapat ranking 5. Kalau dapat ranking 1 di ujian berikutnya, aku akan memanggilmu guru selama setahun."


"Benar ya. Awas saja kalau aku berhasil mendapat ranking 1 dan kak Devian malah pura-pura amnesia." Ancam Yve.


"Aku Devian, tidak pernah mengingkari janji."


Devian dan Yve saling mengaitkan jari kelingking mereka.


Dan aku tidak akan membiarkanmu mati.


"Wah ada apa ini? Janji sehidup semati?" South yang baru datang bersama North tidak tahan untuk menggoda Yve dan Devian.


"Apa maksudmu? Aku tidak suka orang berwajah tua seperti kak Devian." Sanggah Yve.


"Yve juga buka tipeku." Devian memainkan kacamata dengan serius. "Aku lebih suka perempuan dewasa yang beberapa bagian tubuhnya besar."


"Maksudnya obesitas?" Tebak Yve.


"Bukan!" Devian tidak paham bagaimana menjelaskannya. Yve masih dibawah umur untuk tahu tentang itu.


"Yve, kak Devian memang menyukai perempuan obesitas. Kau tidak boleh memperjelasnya. Lihat, kak Devian jadi malu." South kini berganti menjahili Devian.


"Dasar kalian bocah!" Wajah Devian mulai memerah karena emosi.


"Ada apa ini?"


Perusuh lainnya datang. Beng muncul dengan membawa kopi ditangan kirinya, serta roti lapis di tangan kanannya.


"Beng, lihatlah kelakuan adik-adikmu." Protes Devian yang masih emosi.


Dari semua bodyguard yang dimiliki keluarga Bai, hanya 4 orang yang tergolong sangat muda. Yaitu si kembar South North, Levin, dan terakhir Yve. Jadi Beng sebagai kepala bodyguard, menganggap mereka adik. Tentu saja Levin tidak termasuk.


"Memangnya apa yang mereka lakukan?" Tanya Beng heran.


"Kami hanya mengatakan kalau tipe perempuan kak Devian adalah orang yang terkena obesitas. Itu karena tadi dia sendiri yang bilang suka yang besar-besar." Jelas Yve dengan polosnya.


"Devian memang suka yang obesitas." Beng mengangguk.


"Beng!"


"Salahmu sendiri mengajari adikku yang aneh-aneh!"


Di kejauhan...


Seseorang melihat dari jendela lantai dua rumah keluarga Bai. Sepasang mata biru laut itu menyapu pemandangan gezebo dibawah.

__ADS_1


Bai Lian tersenyum melihat mereka. Syukurlah dia sudah ceria lagi.


__ADS_2