
Dor! Dor!
Sekarang Yve sedang latihan menembak. Sudah lama ia tidak melakukannya. Hari ini Yve sengaja tidak berangkat sekolah, ia terlalu lelah dengan pertempuran semalam.
"Salah!" South menepuk kepala Yve dengan wadah cemilannya.
"Aku sudah mematuhi instruksimu." Jawab Yve malas sembari mengisi lagi peluru dalam pistolnya.
"Tanganmu harus dalam posisi lurus. Awalnya kau memang lurus, tapi lama-lama jadi turun. Lihat! Tidak pas di jantungnya." South menunjuk target tembakan yang terbuat dari papan tipis berbentuk orang.
"Tidak masalah. Itu juga kena perutnya. Musuh pasti mati."
"Tapi matinya perlahan. Kasihan. Kalau tepat di jantung, akan lebih cepat mati."
"Kalau kasihan tidak usah ditembak. Ajak saja main rumah-rumahan."
"Kau ini membantah terus ya. Aku disini sedang mengajarimu. Kau harus patuh." South mulai emosi.
"Tapi ajaranmu jelek."
"Aku South, bodyguard terbaik yang memegang pistol. Tidak mungkin ajaranku jelek!"
"Ya ampun berisik sekali." Duplikat South muncul, itu adalah North.
"North, lihatlah Yve. Dia bodoh tapi tidak mau jadi pintar." Adu South sambil menunjuk Yve.
North melihat Yve kemudian berganti melihat papan target yang semua lubang bekas tembakannya melenceng dari gambar jantung.
"Kenapa ribut karena hal ini? Tidak usah terpaku pada jantung. Incar saja kepalanya. Mudah kan?" North menguap di akhir kata-katanya.
"Kepala ya." Yve mulai mengangkat pistolnya dan mengarahkannya pada kepala target.
Dor!
"Kena!" Kripik jeruk rasa coklat di tangan South seketika jatuh saking terkejutnya.
Baru sekali coba langsung bisa? Daritadi mengincar jantung hampir satu jam meleset semua. South menggaruk kepalanya dengan bingung.
"Bagus." North mengangguk.
"Terimakasih North, ajaranmu lebih berguna daripada South. Mulai sekarang aku akan memanggilmu guru." Yve menepuk bahu North sambil tersenyum.
"Hei! Aku mengajarimu yang mudah tahu. Mengincar kepala itu susah, lebih mudah area badan."
"Itu kan menurutmu." North berkomentar.
"Ya benar. Jangan samakan aku denganmu." Yve melipat tangannya dengan kesal.
"Hiks kalian jahat padaku. Aku tidak akan memberi kalian cemilan lagi!"
"Itu bagus. Aku tidak perlu pura-pura makan lagi." North tersenyum.
"Aku juga." Yve ikut tersenyum.
"Kalian jahat, huaaa." South berlari menjauh sambil menangis.
__ADS_1
"Aku akan mengurus bayi besar itu dulu. Kau lanjut saja latihannya."
"Baik guru." Yve menangguk.
Setelah melihat si kembar pergi. Yve kembali mencoba untuk menembak, dan semuanya kena. Mungkin Yve memang lebih mudah jika menargetkan kepala.
Tiba-tiba rasa sakit di lengan Yve kembali. Membuat tangannya tidak kuat lagi untuk mengangkat pistol.
Aku lupa sedang cidera. Malah latihan menembak. Sekarang obat yang diberikan Bai Lian jadi sia-sia.
Yve menaruh kembali pistolnya. Lalu menatap papan target yang kepalanya sudah berlubang.
Aku akan terus mengasah kemampuanku agar menjadi kuat. Lalu melindungi Bai Lian dari semua musuhnya.
Plak!
Yve menepuk kedua pipinya sendiri.
Aduh kenapa jadi Bai Lian? Tidak tidak. Demi semua bodyguard juga! Agar tidak ada yang mati lagi.
"Cucuku!"
Yve menoleh. Sosok Bai Jun yang tersenyum menyambut pandangannya.
"Kakek." Gumam Yve.
"Cucuku, ambil ini." Bai Jun tiba-tiba menyerahkan satu kantong plastik besar, dan saat Yve buka ternyata isinya cemilan manis. Ada biskuit, coklat batangan, dan yang lainnya.
"Ini... Untukku?" Tanya Yve.
"Max?"
"Dia bawahan kakek. Karena kesehatan kakek menurun belakangan ini, jadi dilarang memakan yang manis-manis. Tapi kakek berhasil menyelundupkan cemilan di dalam kamar haha. Jadi karena mau pergi, dan tidak ada yang memakannya. Lebih baik kamu makan saja."
Yve tersenyum kaku kemudian mengangguk. "Baik, terimakasih kek."
Ada apa dengan anak ini? Kenapa sikapnya berbeda? Biasanya tidak seperti ini. Jangan-jangan dia tahu tentang fakta itu? Tidak, tidak mungkin.
Bai Jun terus menatap Yve dengan tajam.
"Kakek? Apa ada hal lain yang ingin dikatakan?"
"Ah tidak. Tidak ada." Bai Jun langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tatapan kakek sangat menyeramkan tadi. Kenapa? Apa dia ingin membunuhku juga?
Argh! Yve sadarlah! Kakek itu baik!
"Baiklah, kakek pergi dulu. Setelah pulang dari luar negeri, kakek akan membawakanmu oleh-oleh rok mini. Pamerkan pada Bai Lian ya." Bai Jun pergi diiringi tawa jahilnya.
"Tidak akan!" Wajah Yve memerah karena malu.
Ayah dan anak sama saja!
❀
__ADS_1
Brum!
Motor Yve berhenti tepat di depan cafe. Gadis itu dikejutkan dengan keadaan cafe yang rapi dan bersih, berbeda jauh saat ia pergi tadi pagi.
Yve tersenyum saat membayangkan apa yang mungkin terjadi. Pasti kakaknya Tina memperbudak para bodyguard Bai Lian. Para bodyguard sangar itu salah mencari tempat beristirahat.
Yve turun dari motornya. Lalu berjalan memasuki cafe.
"Aku pulang."
Baru saja Yve masuk, ia sudah ditatap oleh banyak pasang mata. Mulut mereka terbuka dan air liur mengalir dari sana.
"Makanan!!!" Dengan kecepatan bodyguard yang sudah dilatih bertahun-tahun, Leo menyambar kantong plastik besar yang dibawa Yve.
"Oi!" Teriakan Yve tidak digubris.
"Makan, makan, makan." Yin Yang dan Sky kegirangan. Leo dengan adil membagikan makanan curiannya pada mereka bak Robin Hood.
Yve hanya bisa pasrah melihat cemilan dari kakeknya dikerubuti monyet berkedok bodyguard itu.
"Mereka sudah kelaparan dari tadi."
Yve kembali terkejut dengan Levin yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Kelaparan? Tidak mungkin. Kak Tina pasti memberi mereka makan. Dia orang yang baik."
"Memang sudah diberi makan. Kakakmu itu sudah bersusah payah membuat banyak nasi goreng untuk makan kami berlima. Tapi mereka tidak kuat lagi dengan asinnya. Tadi malam makan nasi goreng asin masih tahan, tapi karena lelah bersih-bersih lalu makan asin lagi, jadi tidak tahan. Mereka protes dengan rasanya. Kakakmu marah dan melempari mereka dengan panci. Setelah itu tidak diberi makan lagi."
"Begitu ya." Yve mengangguk.
Memang jika sudah bersusah payah membuat sesuatu tapi tidak dihargai pasti menyakitkan. Pantas saja Tina marah.
"Sekarang dimana kakakku?"
"Di kamarmu."
Yve segera berjalan menuju tangga untuk mendatangi Tina. Kakak manisnya itu pasti sedang sakit hati sekarang.
Pintu kamar tidak dikunci, Yve bisa masuk dengan mudah. Tapi setelah itu, ia terkejut karena melihat kakaknya yang sedang membuka tas uang miliknya.
"Kak Tina."
"Yve, dimana kau mendapat semua uang ini? Banyak sekali. Jangan-jangan kau merampok ya?" Tina menatap Yve dengan kesal.
"Bukan kak." Yve duduk di depan Tina.
"Lalu? Dari mana semua uang ini?"
"I-itu..." Yve menggaruk pelipisnya. Ia tidak tahu ingin membuat alasan seperti apa.
Lebih baik jujur saja. Aku sudah terlalu banyak membohongi kak Tina.
"Itu dari ayahnya Bai Lian." Yve tersenyum.
"Apa?! Uang lamaran?!" Tina histeris.
__ADS_1
"Tentu saja bukan!!!"