
"Tidak terima?"
"Aku tidak terima dengan semua omong kosong ini." Yve bangkit dari tempatnya duduk. "Lebih baik kalian panggil seseorang untuk mengurus para preman di depan. Daripada mengatakan hal yang aneh seperti ini."
"Yve." Devian ikut berdiri. "Yang dikatakan Levin benar, aku sudah memeriksanya. Kau boleh tidak mempercayainya, tapi apa kau juga tidak mempercayaiku?"
Yve hanya diam. Kepalanya menunduk dan menatap kedua kakinya. Entahlah, ia juga tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
"Anu... Sayang? Cinta?" Sky mengangkat tangannya sambil melihat Yve.
"Namaku Yve."
"Oh oke, Yve cinta. Dengarkan aku. Tuan Bai Jun dulu memang ditakuti dan suka membunuh, namanya juga boss mafia. Tapi, dia tidak membunuh sembarangan orang seperti menepuk nyamuk." Ucap Sky sambil tersenyum.
"Aku tahu."
Dari jauh, Yve bisa melihat motornya yang terparkir didekat dapur. Itu adalah hadiah dari kakek. Saat melihat motor itu, ia selalu teringat kakek.
Memang sangat mustahil kalau seorang boss mafia tiba-tiba membunuh orang tuaku, yang seorang masyarakat biasa. Pasti ada sesuatu yang membuat itu terjadi.
Apakah orang tuaku menyinggung kakek? Tidak mungkin seperti di film yang hanya menumpahkan kopi di bajunya lalu dibunuh bukan?
"Kau bisa memikirkan itu nanti." Levin berjalan mendekati Yve kemudian menepuk bahunya. "Karena rencana yang akan kita eksekusi dulu adalah, menghancurkan markas Lin."
"Aw, aku ikut." Sky mengangkat tangannya dengan gemulai.
"Kami juga." Ucap Yang dan diikuti anggukan kepala dari Yin.
"Aku sih tidak mau ikut. Lebih baik menjaga disini. Siapa tahu ada penyerangan lagi." Leo berkata dengan malas sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Kau adalah bodyguard ruang bawah yang sangat pemalas." Cibir Devian.
Ternyata Leo bodyguard ruang bawah. Katanya mereka bodyguard khusus yang hebat. Pantas saja, dia kuat.
Yve melirik sebentar, kemudian berjalan kearah dapur.
"Yve, kau mau kemana?" Tanya Levin.
"Menenangkan pikiran, mungkin?" Balas Yve sambil terus melangkah pergi.
Yve mendekati motor sportnya, mengusap bodynya, lalu duduk di atasnya. Ini adalah motor idaman Yve sejak dulu, dan ia masih ingat saat kakek memberikannya ini.
Jika kakek tidak membunuh orang tuaku, pasti sekarang aku masih memiliki keluarga.
Argh! Apa yang kupikirkan?! Aku tidak boleh menyalahkan kakek! Pasti ada sesuatu yang belum aku ketahui.
Yve menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Hatinya sekarang penuh dilema.
__ADS_1
"Yve? Kenapa disini? Ayo makan." Tina dan Orion muncul masing-masing tangan membawa piring nasi goreng untuk orang-orang.
"Aku makan nanti saja. Masih tidak selera."
"Eh? Tapi nanti keburu dingin-"
"Nona." Devian tiba-tiba muncul kemudian menyela Tina. "Mungkin Yve masih lelah, biarkan aku bicara dengannya berdua." Senyum Devian yang tampan membuat Tina luluh.
"Ba-baiklah, nanti jangan lupa makan." Ucap Tina dan pergi bersama Orion.
"Yve. Ayo bicara berdua."
"Bukankah sekarang kita sedang bicara berdua?"
"Bukan begitu, ayo cari tempat lain yang lebih enak dipakai mengobrol. Setelah makan, para senior akan memanggil polisi untuk membereskan semua kerusuhan ini. Otomatis cafe akan ramai. Tidak enak dipakai mengobrol."
"Kak Devian ingin bicara di luar?" Pertanyaan Yve dibalas anggukan kepala Devian.
"Aku ingin merasakan dibonceng oleh Pangeran jalanan."
Yve tersenyum kemudian menepuk dadanya dengan sombong. "Serahkan padaku. Jangan sampai jatuh dari motor seperti si bodoh Bai Lian ya."
"Tuan? Dia pernah jatuh?"
"Oh tidak, aku baru saja membongkar aibnya." Yve terkekeh sambil mengingat kembali ekspresi Bai Lian saat itu. Benar-benar lucu.
❀
Sudah hampir tengah malam. Yve dan Devian sampai di sebuah taman yang sepi. Hanya ada lampu jalan yang senantiasa menyala melawan gelap, dan beberapa ayunan yang bergerak pelan karena angin malam yang kencang.
Yve duduk di salah satu ayunan dan memainkannya perlahan. Di sampingnya, Devian melakukan hal serupa.
"Ini milikmu." Devian memberikan bakpao hangat yang sempat mereka beli saat menuju kemari.
"Terimakasih." Yve menerimanya. "Jadi kak Devian ingin bicara apa?"
"Masalah orang tuamu itu." Devian menggigit bakpaonya dengan santai.
"Kenapa dengan orang tuaku?"
"Tuan besar tidak akan membunuh orang tuamu tanpa alasan. Dia adalah orang yang baik."
"Aku tahu." Yve menatap bakpao yang masih mengeluarkan asap di tangannya.
"Meskipun kau tahu, tapi pasti ada rasa gelisah kan? Apalagi dari cerita bodyguard lain kalau tuan besar adalah orang yang kejam. Pasti hatimu gundah sekarang."
Yve mengalihkan pandangannya pada Devian. Bagaimana laki-laki itu bisa menebak perasaannya dengan benar?
__ADS_1
"Jadi dengarkanlah semua cerita tentang tuan besar dari sumber yang terpercaya. Yaitu dari anaknya."
"Dari Bai Lian?" Yve memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Bukan."
"Lalu? Dari Lin?"
"Bukan juga." Devian kembali menggeleng.
"Apa maksudmu kak? Mereka berdua kan anaknya kakek."
"Mereka bukan anak kandung tuan besar." Devian melihat lelehan coklat dari bakpao hangatnya.
"Eh?! Ja-jadi... Bai Lian bukan anaknya kakek?!" Tanya Yve histeris.
"Tuan Bai Lian, dan tuan muda kedua Lin, bukan anaknya tuan besar." Devian kembali mengigit bakpaonya.
"Lalu siapa anaknya yang asli?"
"Anak kandungnya sekarang sedang makan bakpao di sampingmu."
"KAK DEVIAN?!" jarit Yve sampai berdiri dari ayunannya.
"Hahaha tidak perlu terkejut seperti itu. Yang tahu tentang ini hanya bodyguard senior seperti kak Sky dan kak Yin Yang. Para bodyguard senior mengunci mulutnya rapat-rapat tentang fakta ini. Bahkan Beng dan yang lainnya tidak tahu."
"Kak Beng tidak tahu?!"
"Hahaha ayo duduk lagi. Terkejutnya jangan berlebihan." Devian tersenyum sambil menarik tangan Yve.
Gadis itu menurut, dan kembali duduk. "Malam ini otakku diisi fakta mengejutkan. Besok pagi pasti aku lupa ingatan karena terlalu stress." Yve memegang kepalanya.
Setelah menenangkan pikirannya, Yve kembali bersuara."Lalu, bagaimana bisa orang-orang tidak tahu fakta itu? Dan kenapa harus ada Bai Lian dan Lin yang merebutkan posisi boss mafia? Kenapa kak Devian tidak muncul saja? Dan mengakhiri semuanya? Kak Devian bisa menjadi boss mafia, lalu Bai Lian dan Lin tidak perlu bermusuhan. Tamat." Usul Yve.
"Menurutmu? Kenapa aku tidak ingin identitas asliku diketahui?" Tanya Devian.
"Hmmm..." Yve memutar-mutar jari telunjuknya pada pelipisnya sambil berpikir. "Tidak tahu." Akhirnya Yve menggeleng.
"Karena aku tidak ingin menjadi boss mafia. Itulah permintaan ibuku." Devian memakan gigitan terakhir bakpaonya.
"Lalu kenapa kau berada disini? Seharusnya, tidak ingin menjadi boss mafia, juga berarti tidak ingin ikut campur masalah mafia bukan? Kenapa kak Devian malah bersusah payah menjadi bodyguard boss mafia yang sedang diancam kudeta oleh adiknya?"
"Pertanyaan yang bagus." Devian mengusap kepala Yve. "Karena aku percaya ayahku adalah orang yang baik. Dan ingin membuktikan pada ibuku, kalau aku juga bisa menjadikan pewarisnya orang yang baik juga. Akan kuubah dunia mafia yang hitam dan kotor ini, kearah yang lebih bersih. Tanpa menggunakan kekuasaan."
"Aku tidak paham." Yve menggaruk kepalanya.
Astaga.
__ADS_1