
"Yve, lepaskan dia." Devian berjalan mendekat sambil membenahi kacamata persegi panjangnya.
"Bukan aku yang salah, mereka-"
"Aku tahu." Devian tersenyum sambil menepuk bahu Yve.
Yve akhirnya melepaskan wali kelasnya. Ia sedikit mendorong tubuh dewasa itu hingga pemiliknya hampir terjatuh.
"Sangat tidak sopan! Siapa kamu?" Teriak kepala sekolah sambil berdiri dari kursinya memandang Devian.
"Perkenalkan, saya kakak dari Yve. Panggil saja Devian."
Sekarang jadi kakakku. Besoknya jadi siapa lagi? Ibuku?
"Kakak? Yve hanya memiliki satu kakak perempuan sebagai wali. Kamu pasti mau menipu kami ya?"
"Kepala sekolah, seharusnya anda tidak melupakan nama Bai Jun bukan?" Devian melirik kepala sekolah dengan tatapan dingin, setelah itu tersenyum polos.
Hm? Kenapa kak Devian tiba-tiba menyebut nama kakek?
"Tu-tuan Bai Jun? Apa hubungannya kamu dengan tuan Bai Jun?" Kepala sekolah yang tadinya terlihat garang tiba-tiba bergetar ketakutan.
"Syukurlah anda masih ingat. Saham yang diberikan tuan Bai Jun di sekolah ini ternyata bisa membuat ingatan anda kembali." Devian masih tersenyum dengan sebelah tangannya yang mengusap kepala Yve. "Dan selamat! Anda sudah memfitnah cucu tuan Bai Jun, Yvenia Guilietta."
"Apa?! Cucu?!"
Sebenarnya kak Devian kemari untuk membantuku atau membuka kedokku? Yve menghela nafas dengan malas.
Tapi apa maksud kak Devian tadi? Saham apa?
"Kepala sekolah, apa maksud orang itu? Memangnya kenapa kalau Yve cucu pemegang saham sekolah ini?" Wali kelas Yve masih tidak terima. Tapi kepala sekolah hanya terdiam ketakutan.
"Ternyata anda masih saja memfitnah adik saya. Baiklah, saya membawa beberapa bukti rekaman cctv yang berada di dalam kelas. Silahkan dilihat."
Dasar menyebalkan! Enak saja menuduh Yve mencontek. Aku dan Beng mengajarinya sampai larut malam tapi tidak dianggap sama sekali. Mereka seharusnya bersyukur karena yang datang kemari adalah aku. Kalau Beng yang turun tangan, bisa-bisa tempat ini habis diobrak-abrik.
Setelah wali kelas itu menonton video cctv dari tablet Devian, dia terdiam sejenak. "Kamu memasang cctv tersembunyi di dalam kelas? Ini menyalahi kode etik!"
"Apa anda bodoh? Pemegang saham terbesar di sekolah ini bisa melakukan apapun. Termasuk memasang cctv rahasia." Devian mulai tidak tahan terus tersenyum. Ia ingin sekali memukul guru sok bijak itu.
__ADS_1
"Tapi-"
"Cukup!" Kepala sekolah meneriaki si wali kelas dengan emosi. "Ini hanya kesalahpahaman. Mohon tuan Devian bisa menyampaikannya pada tuan Bai Jun, agar tidak memicu pertengkaran."
"Hmmm... Bagaimana ya..." Devian menggaruk dagunya dengan sombong. "Adikku ini sedang dalam masa pubertas. Saat dimana kekuatan batinnya paling lemah. Ini bisa dengan mudah meninggalkan trauma bagi dia."
Hah? Pubertas apanya? Trauma apanya? Yve melirik Devian bingung.
"Pak Kepala sekolah, sejak kapan kualitas pengajaran di sekolah ini menurun? Mau tidak mau saya akan melaporkannya pada tuan Bai Jun."
"Tolong jangan tuan, saya mohon." Kepala sekolah tiba-tiba mendekati Devian dan bersujud di depannya.
"Saya terpaksa akan menghubungi bagian urusan akademik. Beberapa guru disini tidak pantas mengajari cucu tuan Bai Jun, dan bersikap tidak kompeten." Devian merangkul bahu Yve sambil menebar senyuman.
"A-aku akan kehilangan pekerjaanku?!" Para guru yang baru sadar langsung beramai-ramai bersujud di depan Devian dan Yve. Jika memang orang yang disebut Bai Jun itu sangat berpengaruh, maka pekerjaan mereka juga bisa hilang dengan mudah.
"Tolong ampuni kami."
"Itu terserah adikku yang manis ini."
Devian melirik Yve. Pasti Yve akan memaafkan mereka karena tidak tega. Dia itu berhati baik.
"Oke, kalian berbaris dan biarkan aku memukul kepala kalian satu persatu." Ucap Yve.
"Aduh sakit! Kenapa jadi salahku?"
"Jangan melakukan kekerasan pada orang yang lebih tua. Ingat itu." Nasehat Devian.
Ck! Dasar bodyguard mafia sok baik. Kemarin aku bertengkar dengan kak Sky tapi tidak dilerai. Yve membuang muka dengan kesal.
"Baiklah begini saja. Karena kalian sudah terlanjur mengundang kakakku kemari, nanti saat dia datang, perlakukan seperti menyambut seorang ratu." Titah Yve sambil melipat tangannya.
"Kami mengerti Yve." Kepala sekolah mengangguk dengan semangat dan disusul oleh para guru lain.
"Adikku sedang merasa kesal sekarang. Jadi daripada membuat rusuh kelas, saya ingin membawanya pulang." Pinta Devian.
Ha? Pulang?
"Tentu saja tuan, silahkan."
__ADS_1
Devian segera berjalan pergi sambil menarik tangan Yve dengan paksa.
Setelah melihat Yve dan Devian pergi, salah satu guru menepuk bahu kepala sekolah. "Pak kepala sekolah, kenapa anda sangat takut dengan nama Bai Jun itu? Membuat kami para guru jadi tidak memiliki keberanian untuk melawan. Memangnya kenapa kalau Bai Jun itu pemegang saham terbesar di sekolah ini?"
"Tidak. Tuan Bai Jun bukan hanya sekedar pemegang saham tertinggi, tapi beliau juga orang yang sangat berpengaruh di negara ini. Berhati-hatilah dalam berbicara, karena bisa saja besok kau sudah tidak bernyawa lagi." Jawab kepala sekolah dengan ekspresi ketakutan.
"Apakah dia anggota militer?"
"Bukan. Tapi seseorang yang berada di dunia hitam. Kabar yang kudengar, tuan Bai Jun menyerahkan kepemimpinan dunia hitam itu pada anaknya. Teror ini tidak akan berakhir."
❀
Devian membawa Yve masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka di pintu gerbang sekolah. Tatapan orang-orang yang terus tertuju pada mereka tidak dihiraukan sama sekali.
"Akhirnya selesai. Benar-benar guru berengsek." Devian melonggarkan dasinya sambil mengomel.
"Kenapa kak Devian bisa ke sekolahku? Tidak mungkin cuma kebetulan kan?" Yve melirik Devian curiga.
"Tentu saja tidak. Leo yang menelponku. Katanya, kau mungkin akan berbuat sesuatu yang aneh di sekolah. Saat kuselidiki, ternyata masalah ujian."
"Cih! Dasar Leo. Pulang nanti akan kumutilasi."
"Tapi berkat dia, kau bisa lolos dari situasi tadi." Devian mengambil air minum kemasan dan meneguk isinya hingga habis. Berdebatan tadi benar-benar menguras tenaga.
"Kak Devian menganggu. Baru saja aku ingin memukul wali kelas berengsek itu tadi."
"Sudah diam. Nih! Minum dulu." Devian menyodorkan air mineral lainnya pada Yve.
Karena kebetulan Yve juga haus, maka gadis itu segera menghabiskan satu botol air mineral. Perasaannya juga menjadi lebih tenang.
"Oh iya, tadi apa maksudmu? Kakek memiliki saham di sekolahku?"
"Seperti cerita ayah, dari dulu dia sudah mengawasimu. Jadi saat kau masuk ke sekolah ini pun, ayah memberikan sedikit uangnya untuk menjadi pemegang saham tertinggi. Ayah melakukan itu agar suatu saat, ketika kau mendapat masalah di sekolah, dia bisa melindungimu dengan itu."
Tapi sepertinya kepala sekolah tahu siapa kakek yang sebenarnya. Karena dia tidak mungkin setakut itu hanya karena kakek adalah pemegang saham tertinggi. Tapi masa bodoh! Yang jelas orang-orang itu tidak akan berani macam-macam lagi padaku.
Yve tersenyum puas.
"Kita akan pergi ke rumah Bai Lian kan? Aku ingin bertemu kakek."
__ADS_1
"Iya kita akan kesana." Devian mengangguk.
Hahaha padahal ayah sedang ke luar negeri untuk mengurus binisnya yang tertunda. Sementara tipu Yve saja, agar dia bisa menemui Bai Lian. Hahaha.