
Tok! Tok!
Pintu kamar Bai Lian bergetar beberapa kali akibat ketukan disana.
"Kakak. Bolehkah aku masuk?"
Lin? Tumben sekali dia mengunjungiku.
Bai Lian buru-buru berpindah ke atas ranjang. Ia mengambil perban dan melilitkannya dengan asal dikepalanya. Setelah itu ia merebahkan diri dan menarik selimut sampai ke leher.
"Masuklah." Ucap Bai Lian dengan suara yang dibuat serak.
Pintu terbuka, dan dua orang berwajah familiar masuk.
"Kak bagaimana keadaanmu? Maaf aku baru bisa menjenguk sekarang. Kudengar lukamu semakin parah, jadi aku meninggalkan beberapa pekerjaanku hari ini untuk melihatmu."
Perkataan formalitas? Sudah berapa lama dia menghafal dialog itu?
Bai Lian tidak menanggapinya. Ia malah menatap Levin yang dengan setia berada disisi adiknya Lin. "Kenapa dia ada disini?" Bai Lian menunjuk Levin dengan tangan yang bergetar seakan-akan itu adalah tenaga terakhirnya.
"Maksudmu Levin? Bukankah dia memang selalu bersamaku?"
"Tapi dia sudah dijadikan salah satu bodyguard intiku oleh ayah. Jadi, tidak seharusnya dia disini dan bersantai. Sementara bodyguard inti lainnya sibuk latihan dan mengasah diri. Kau- uhuk uhuk." Bai Lian pura-pura batuk. Aktingnya semakin berkembang pesat.
"Tenang kak. Minumlah dulu." Lin mengambilkan gelas berisi air yang ia lihat diatas meja.
Levin menatap mereka dengan sinis. Yang satu akting sakit, dan yang satunya lagi akting perhatian. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga mafia ini?
"Maafkan saya tuan. Terimakasih atas tegurannya, saya akan pergi dan bergabung dengan bodyguard lain. Sekali lagi maaf sampai membuat kesehatan tuan Bai Lian terganggu." Levin yang paham situasinya, langsung membungkuk memberi hormat. Kemudian pergi.
❀
"Kurang cepat!" Devian lagi-lagi memukul jari Yve.
Baru saja latihan dimulai, tapi Devian sudah berulang kali memukuli jari murid gadisnya. Dan tentu saja muridnya itu akan mengumpat sambil mengelus ujung jarinya. Wataknya mirip seperti Beng.
"Kak Devian! aku baru belajar. Tidak bisa mengetik dengan cepat." Protes Yve.
"Makanya latihan."
"Ini kan juga latihan. Butuh proses." Yve tak kalah galak dari Devian.
South dan Beng yang melihat dari lapangan tembak, saling berbisik satu sama lain.
"Mereka bertengkar lagi." Komentar South sambil memasukkan peluru pada pistolnya.
"Siapapun yang mengobrol dengan si kecil Yve, pasti akan berakhir dengan pertengkaran. Seperti aku dulu." Jawab Beng dengan santainya.
"Kak Beng lihat! Ada seseorang yang datang." South menunjuk laki-laki yang berjalan mendekati gazebo.
__ADS_1
"Levin?" Beng ngerutkan keningnya.
Yve masih berdebat dengan Devian saat Levin datang.
"Belilah laptop atau komputer agar kau bisa latihan dirumah."
"Apakah kak Devian mau membelikannya? Harga dua perangkat itu tidaklah murah. Aku ini cuma pelajar yang mengandalkan uang saku." Yve membuat raut wajah sedih.
"Dasar kau ini! Memangnya aku setua itu, untuk melupakan tindakanmu saat meminta uang 100 juta pada tuan Bai Lian?"
Yve menggaruk kepalanya dengan bingung. "Eh? Memangnya saat itu ada kak Devian ya?"
"Aku ada disana! Dasar bodoh" Devian melayangkan serangannya lagi, dan muridnya itu harus pasrah terkena pukulan penggaris.
"Halo." Sapa Levin.
Yve dan Devian seketika berhenti dari kegiatannya. Mereka baru sadar kalau ada Levin duduk di dekat mereka.
"Sejak kapan kau disini?!" Ucap Devian dengan ekspresi terkejut.
"Aku baru sampai." Levin tersenyum.
Eh? Devian itu terkejut? Bukankah dia orang yang peka? Kurasa aku baru saja menemukan kelemahannya. Levin mengangguk ringan.
"Oh." Devian langsung mengalihkan fokusnya pada Yve. "Kita kembali ke pembelajaran. Sekarang kau latihan mengetik dulu. Tulis apapun, dan aku akan menghitung waktunya."
"Mulai."
Yve mulai mengetik secepat yang ia bisa. Tapi tetap saja itu masih lambat di mata Devian.
"Sudah." Yve mengangkat tangannya.
"Ya ampun. Menulis sedikit begini memerlukan waktu hampir setengah menit?" Devian melihat hasil tulisan Yve.
Tunggu... Apa itu yang dia tulis? Devian sekarang membaca tulisan Yve dengan serius.
"Kau dengan riang gembira
Sedang makan cemilan aneh, lalu
Diincar oleh South."
Devian dengan hati-hati mencari makna tersirat, dari kata-kata yang entah kenapa sengaja dibuat 3 baris itu.
Jika aku hanya membaca satu kata didepan maka... "Kau sedang diincar"
Devian seketika tersenyum lalu mengusap kepala Yve. "Ternyata kata-katanya cukup panjang. Bagus! Tingkatkan kecepatan."
Aku ini memang selalu jadi incaran mereka. Entah sejak kapan tuan muda kedua Lin dan Levin selalu berusaha membunuhku. Tapi kau tidak perlu khawatir Yve kecil, karena... Orang yang bekerja dibelakang sepertiku, sangat pintar menyembunyikan diri.
__ADS_1
"Lalu apa lagi yang harus kulakukan?" Tanya Yve dengan bingung.
"Untuk sekarang, ulangi saja dulu apa yang sudah kuajarkan padamu." Devian tiba-tiba melepas jasnya, dan bersiap-siap untuk pergi.
"Mau kemana?"
"Latihan bersama Beng. Sudah lama aku tidak melawannya. Kau fokus saja dengan apa yang kau kerjakan." Ucap Devian sambil berjalan menjauh.
Kenapa kak Devian tiba-tiba pergi? Dia paham dengan pesan yang kutulis tidak ya? Yve menggaruk kepalanya dengan bingung.
Dia paham atau tidak, aku tetap akan melindunginya. Yve kembali mengetik untuk melatih kecepatan jarinya.
Dulu Yve pernah membaca komik dengan tokoh utama perempuan yang sangat hebat di semua bidang. Yve yang hanya tahu bertarung, dan bodoh dibidang lainnya, selalu berangan-angan menjadi tokoh utama itu. Ternyata untuk menjadi seperti itu memerlukan banyak perjuangan.
Oke, aku harus fokus. Yve kembali melakukan kegiatannya.
Levin yang sedari tadi keberadaannya tidak dianggap, terus menatap sosok Yve yang fokus dengan dunianya.
Yve memberitahu Devian, sesuai perkiraanku. Karena rencanaku untuk menghabisinya kali ini sudah sangat matang. Aku tidak ingin membunuhnya tanpa perlawanan. Itu tidak seru. Levin tersenyum sendiri.
"Aku akan pergi latihan menembak." Kata Levin pada Yve yang sedang sibuk dengan laptop Devian.
"Terserah." Jawab Yve acuh.
"Yve!!!" Bernard dari kejauhan berlari mendekati gazebo tempat Yve berada.
"Paman beruang, kau masih hidup?"
"Sembarangan! Kenapa kau bertanya begitu?!"
"Kukira menghitung kelopak bunga Magnolia satu truk membuatmu stress lalu gantung diri." Ledek Yve.
"Argh! Jangan mengingatkanku! Beng memberiku waktu istirahat satu hari. Dan besok aku harus menghitungnya lagi." Bernard menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Begitu ya. Semoga kau tidak lupa sudah menghitung sampai berapa."
"Aku mencatatnya di kertas. Tapi rangkaian angka itu malah menghantui pikiranku, hingga membuatku hampir gila. Mungkin besok aku akan bermutasi menjadi zombie."
"Bukankah itu keren?" Yve terkekeh.
"Kepalamu keren!"
Bernard tiba-tiba teringat sesuatu. "Benar juga! Aku kemari bukan untuk membahas masalah kelopak bunga padamu. Ada hal yang sangat gawat!" Yve melihat ekspresi khawatir sekaligus ketakutan di wajah Bernard.
"Gawat apa?" Yve memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Tuan besar memanggil kita untuk di sidang!!!"
"Ha?"
__ADS_1