
Acara berkabung untuk Lin telah selesai. Sekarang orang-orang berkumpul di gazebo. Yve sedari tadi berusaha menahan tawanya, apalagi saat menatap foto Lin yang dihiasi bunga. Padahal orang menyebalkan itu sedang berada di apartemen Leo.
"Yve, dari tadi ekspresimu aneh. Apa masih sedih tentang orang tuamu?" Tanya Ronan sambil membawa miniatur mobil balap di tangannya. "Jangan dipikirkan lagi, mau main mobil-mobilan?"
"Tidak terimakasih." Yve menggeleng.
Ronan adalah teman sekamar Devian. Dia sering hilir mudik di gazebo, tapi sosoknya jarang disadari karena hawa keberadaannya yang tipis. Si maniak miniatur mobil itu juga sering membuat Beng kesal dengan mobil-mobilannya yang kadang berceceran di lantai dan membuat kepala bodyguard itu terpeleset.
"Aku baru saja membeli miniatur mobil truk monster." Ucap Ronan sambil memperlihatkan foto miniatur yang dimaksud pada Yve.
"Dasar linglung! Bicaramu tidak jelas. Sebenarnya itu mobil atau truk?" South tiba-tiba datang dan mengikuti obrolan.
"Truk juga sejenis mobil." Jawab Ronan.
"Daripada mendengar ocehan tidak jelasmu, Yve sebaiknya cobalah cemilan baru yang kubeli ini." South menyodorkan sesuatu pada Yve. "Tada! Kripik singkong rasa kecambah."
"Kecambah?" Yve menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.
"Ini super duper langka loh! Aku bahkan harus pre order 2 bulan sebelumnya!"
Yve hanya tersenyum tipis menanggapi South.
Kata kakek, keluarga Bai bisa bangkit karena bodyguard baru yang hebat. Sebenarnya dimana letak kehebatan mereka? Disini hanya berisi orang-orang aneh.
"South, kudengar kau membawa cemilan aneh lagi." Beng muncul dengan wajah garangnya.
"I-ini hanya cemilan biasa kok kak Beng haha." South berusaha tertawa sambil menyembunyikan cemilannya di belakang punggung. Ia takut kalau Beng kembali menyitanya.
"Awas kau ya, aku mengawasimu."
"Kak Beng, kenapa bajumu kotor sekali?" Yve menunjuk baju Beng yang memiliki banyak noda.
"Ah ini, aku baru saja membetulkan atap. Tidak sengaja terkena jaring laba-laba." Jawab Beng sambil menepuk-nepuk bajunya.
Satu hal yang aneh lagi, bodyguard disini harus serba bisa. Bahkan membetulkan atap rumah juga tugas bodyguard. Mungkin kalau Bai Lian memiliki anak, pasti para bodyguard dituntut mengurus bayi.
Yve menggelengkan kepalanya dengan iba.
"Yve! Bisa kemari sebentar?" Dari kejauhan, Devian melambaikan tangan kearah Yve sambil berteriak.
"Ya kak Devian." Yve berlari kecil mendekati laki-laki berkacamata yang memanggilnya itu.
Setelah sampai di sisi Devian, mode bisik-bisik pun aktif. "Yve, aku belum bicara pada ayah mengenai Lin. Kau saja yang bilang sana."
"Aku? Kenapa tidak kak Devian saja? Lagipula kenapa tidak memberitahu Bai Lian kalau Lin sebenarnya masih hidup? Dia sampai membuat acara berkabung seperti ini."
"Kenapa? Kau kasihan? Sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh." Devian tersenyum menggoda Yve.
"Cinta apanya? Aku memang kasihan padanya. Dia pikir adiknya sudah mati, dan membuat acara berkabung. Pasti rasanya sedih sekali."
"Tenanglah, aku hanya mematuhi ayah. Dan ayah sendiri yang bilang untuk tidak usah memberitahunya dulu." Devian mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam kantongnya. "Disini berisi semua bukti kejahatan Lin yang sudah kau ambil. Aku akan mengirimkannya pada polisi besok. Sekalian menunggu kondisinya sedikit membaik, atau minimal bisa berjalan. Jadi sebelum itu, kau harus bertanya pendapat ayahku."
"Bukankah lebih baik kalau ayah dan anak saja yang bicara?"
"Yve, semua ini bisa terbongkar karena kau. Dan berkat kau juga, banyak masalah bisa selesai. Ayahku pasti lebih mempercayakan keputusannya padamu."
__ADS_1
Yve menghela nafas sebentar, kemudian mengangguk. "Baiklah."
"Ayahku ada di dekat kolam ikan koi." Ucap Devian setengah memaksa.
"Iya iya, aku tahu." Yve akhirnya berjalan pergi.
Meskipun Yve sudah berjanji pada Leo untuk mengatakan masalah Lin pada Bai Jun, tapi jika ada Devian kenapa harus ia yang bilang? Itu sedikit membuang waktu dan tenaga.
Langkah kaki Yve sudah hampir sampai di dekat kolam ikan koi. Tapi dari jauh yang ia lihat bukanlah sang kakek. Melainkan Bai Lian. Dia tengah melamun sambil melihat kedalam kolam.
Mana kakek? Apa sudah pergi? Atau aku ditipu oleh orang tua mata empat itu?
Ya sudahlah, aku pergi saja mencari kakek.
Ketika Yve hendak berbalik, suara dari arah kolam ikan membuat langkahnya terhenti.
Plung!
Yve melihat Bai Lian yang melemparkan batu ke dalam kolam dengan raut wajah sedih.
Kasihan sekali. Dia masih berpikir Lin mati.
Akhirnya Yve memilih untuk mendekati Bai Lian.
"Jika kau melempar batu kesana, ikannya akan takut."
"Kau?!" Bai Lian terkejut melihat kedatangan Yve.
"Melamun dan tidak melihat aku datang?" Yve akhirnya berdiri di samping Bai Lian sambil melihat kolam ikan.
"Tugas boss mafia itu ternyata berat ya. Kukira cuma santai-santai di rumah mewah, makan enak, ditemani wanita seksi, dan menghukum orang seperti tiran."
"Kau terlalu banyak menonton film dan membaca novel."
"Bukankah imej boss mafia seperti itu?" Yve menoleh kearah Bai Lian dan tersenyum. "Tapi kau tidak begitu."
"Kau itu aneh, bocah."
"Aneh? Aku? Aneh bagaimana?"
Bai Lian menoleh kearah Yve dan menatap kedua matanya. "Kadang kau baik padaku, bisa mengobrol dengan bebas dan bercanda bersama. Tapi kadang, kau juga menyebalkan dan sering mengacuhkanku. Melakukan semuanya sendiri tanpa mengatakan apapun padaku."
"Kenapa aku harus lapor padamu?"
"Te-tentu saja! Aku bossnya!"
"Oh. Jadi kau melamun di pinggir kolam dengan menyedihkan hanya karena memikirkanku?" Tanya Yve sambil memiringkan kepalanya.
"A-aku tidak memikirkanmu! Tentu saja aku memikirkan adikku."
"Lin?"
"Ya." Sekarang Bai Lian berjongkok dan melihat kolam dalam jarak dekat. "Aku sudah mengutus beberapa bodyguard untuk mencari jejaknya. Tapi tidak ada satupun petunjuk. Hanya ceceran darahnya yang tersisa di sebuah pintu besi besar. Dna nya sama dengan Lin. Sayangnya jejak darah itu menghilang di salah satu jendela."
Menurut cerita Levin, Lin memang tertimpa pintu besi. Yve mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kenapa kau sedih? Biarkan saja. Lin itu jahat, dia berusaha membunuhmu berulang kali."
"Tapi dia adikku! Aku tahu benar apa keinginannya. Mungkin dia ingin dekat denganku, tapi tidak bisa. Hingga menimbulkan kebencian yang salah. Aku... Juga lama-lama membencinya, karena dia berusaha membunuhku. Sekarang aku sadar, kalau seharusnya aku menyayanginya. Argh! Aku benar-benar bodoh."
Yve kembali mengangguk. "Ya kau bodoh."
"Setidaknya tenangkan diriku. Kenapa malah ikut mengejekku?"
"Solusi tentang masalah ini sangat mudah. Silahkan berdamai dengan Lin." Ucap Yve enteng.
"Sudah terlambat. Dia sudah mati."
"Dari mana kau tahu?"
"Luka akibat pintu besi itu cukup vatal. Dan dia kabur dari jendela. Jika berjalan kaki sejauh 500 meter, dia akan kehilangan banyak darah. Lalu mati. Di sekitar tempat itu ada hutan kecil, sulit untuk keluar dari sana dengan berjalan kaki."
Memang benar. Levin saja butuh waktu setengah hari untuk berjalan dari sana menuju cafe sambil menggendong Lin.
"Masih belum terlambat."
"Apa maksudmu?" Bai Lian bingung mendengar kata-kata Yve.
"Lin masih hidup. Dia ada di apartemen Leo, dan masih dalam proses menyembuhan."
Bai Lian tersenyum kemudian berdiri. "Terimakasih, tapi kau tidak perlu menghiburku sampai seperti itu."
Hah? Itu beneran tahu!
"Dan..." Bai Lian menatap keatas kepala Yve. "Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku." Ucap Bai Lian sambil mengambil daun kering dari atas kepala Yve.
Sementara itu, dikejauhan...
Dua sosok manusia sedang bersembunyi dibalik pot bunga besar.
"Axel, kau sudah memotretnya? Foto yang banyak! Lihat! Lian sudah pergi." Bai Jun menoleh kearah putranya yang sedang memegang kamera.
"Tenang saja ayah, hasil fotoku sangat bagus." Devian mengacungkan ibu jarinya.
"Masukkan ke dalam album foto. Tulis saja kemesraan Yve dan Lian pertama kali haha."
"Siap laksanakan! Rencana kita untuk mempertemukan mereka berhasil!"
"Yey!"
Bai Jun dan Devian saling melakukan tos dengan gembira.
"Oh rupanya disini." Yve tiba-tiba muncul, dan sudah berada di belakang Bai Jun dan Devian.
"Waaa cepat sekali!!!" Devian menoleh kearah tempat ayahnya. "Ayah, kita ketahuan-"
Ternyata Bai Jun sudah lari lebih dulu.
"Ayah, kau penghianat!"
"Jadi kak Devian, apakah mau senam otot denganku?" Yve mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Aaaaa tolong."