Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Mulai Penyerangan


__ADS_3

Langit sudah hampir berubah warna, tapi cafe kecil itu masih diisi oleh karyawan yang sibuk.


"Yve, setelah itu tolong lap mejanya ya." Seru seorang perempuan imut dengan celmek penuh rendanya.


"Baik kak."


Tadi sore, pelanggan yang datang cukup ramai. Membuat para pekerjanya harus ekstra membersihkannya sekarang.


"Boss, aku sudah selesai mengganti lampu di kamar mandi." Leo muncul sambil menaruh kembali kursi yang ditentengnya.


"Bantu aku cuci piring." Jawab Tina yang sudah selesai mengumpulkan piring dan gelas kotor.


Yve yang baru selesai dengan kegiatan menyapunya, mulai mengambil lap untuk membersihkan meja.


"Kak Ann masih cuti ya?" Tanya Yve sambil tangannya sibuk membersihkan.


"Begitulah. Katanya hamil muda itu cukup merepotkan." Ucap Tina sambil mengangkat kedua bahunya. Ia yang belum memiliki pasangan, tidak paham dengan hal seperti itu.


Orion yang sedang mengumpulkan sampah ikut berkomentar juga. "Kata ibuku, memang emosi tidak stabil kalau sedang hamil."


"Haha tidak bisa dibayangkan kalau suatu saat nanti Yve hamil. Dia kalau emosi suka menghancurkan barang." Tina tertawa sambil melirik jahil kearah Yve.


"Suaminya harus orang yang kaya raya, supaya bisa membeli perabotan baru setiap saat haha." Leo ikut menimpali.


"Terus saja mengejekku." Yve tidak peduli dan fokus mengelap meja.


"Laki-laki yang kemarin itu ternyata miskin ya. Dia mengendarai mobil sampah kesini. Padahal ganteng begitu. Tapi tidak apa-apa, asal Yve suka, kelak biar aku yang membelikan perabotan baru untukmu."


"Pfftt!!!" Suara Leo yang bersusah payah menahan tawanya, membuat Yve menghadiahinya tatapan tajam.


"Mengendarai mobil sampah?" Orion menatap Tina dengan bingung.


"Iya mobil sampah. Setelah Yve mengantar orang itu pulang. Yve juga membereskan mobil sampahnya."


Dasar kak Tina! Dia belum lihat rumah bak istana yang ditinggali Bai Lian.


"Hei Yve, siap-siap saja kalau sudah jadi istrinya, kau akan berkutat dengan sampah setiap hari." Leo terkekeh di akhir kalimatnya.


Plak!


Kain basah yang dipakai Yve untuk membersihkan meja, sukses mendarat di wajah Leo.


"Diam kau!!!" Bentak Yve.


"Kenapa cuma aku yang dilempar? Boss Tina juga mengejekmu."


"Kainku cuma satu."


Orion yang sebenarnya patah hati dengan candaan itu, memilih untuk pergi membuang sampah. Lebih baik ia tidak mendengarkan lebih banyak. Itu tidak baik untuk hatinya.


"Aw aw ada yang cemburu." Sindir Leo sambil melihat kepergian Orion.


Orang ini semakin menyebalkan dari hari kehari. Yve melirik Leo dengan bengis.

__ADS_1


"Sudah Leo, kau selalu mengerjai mereka." Tina yang sebenarnya senang itu pura-pura tidak bersalah.


"Boss Tina yang memulainya kan."


"Haha jangan diperjelas." Tina tertawa dengan malu-malu.


Astaga mereka ini.


Yve mencari kain lap meja yang baru. Kemudian kembali melakukan kegiatannya yang tertunda.


"Setelah ini, acara bersih-bersihnya selesai." Kata Tina sembil melihat cucian piring dan gelas yang sudah mulai habis.


"Ini sudah lewat jam pulang, apa dihitung lembur?" Tanya Leo penuh harap.


Plak!


Lagi-lagi kain lap meja mendarat di wajah Leo. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Yve.


"Enak saja lembur, ini baru lebih 5 menit."


"Siapa tahu bisa dapat tambahan." Leo memajukan bibirnya sambil menggerutu.


Ya ampun, bodyguard Bai Lian satu ini, sudah lupa tujuan yang sebenarnya berada disini. Malah memikirkan gaji, dasar otak udang.


"Gawat! Gawat!" Orion tiba-tiba berlari dari arah pintu belakang. Nafasnya terengah-engah seolah baru saja melihat hantu paling menyeramkan.


"Ada apa Orion?" Tanya Tina heran.


"Ba-banyak preman di sekitar cafe kita! Da-dan masih banyak yang berdatangan!" Orion berubah histeris dengan raut wajah ketakutan.


Yve dan Leo saling lirik kemudian mengangguk bersamaan.


"Berapa orang?" Tanya Leo dengan santai sambil mencuci tangannya yang penuh busa.


"Ti-tidak tahu. Yang jelas sangat banyak. Me-menurut perhitungan singkatku, sekitar 100an dan banyak mobil yang terparkir mengeluarkan lebih banyak orang." Sambil menahan rasa takutnya, Orion bercerita dengan gagap.


"Yve-"


"Aku tahu." Belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, Yve bisa menebak maksud yang ingin dikatakan Leo.


"Kak Tina, dan Orion. Pergilah ke kamarku. Diam saja disana sampai aku menjemput kalian lagi." Yve menarik tangan Tina dan Orion lalu mendorong mereka kearah tangga.


"Eh? Tapi Yve-"


"Tenanglah kak Tina. Ini hal biasa. Bukankah aku sering melakukan perkelahian?" Yve tersenyum sambil mengusap bahu Tina.


"Tapi jumlahnya banyak." Kedua mata Tina sekarang berkaca-kaca.


"Ah biasa saja. Mau seribu orang juga tetap kulawan. Lawan saja sih, tidak tahu menang atau tidak hahaha."


Dug!


Tina menyikut perut Yve dengan ekspresi kesal. "Ini tidak lucu!"

__ADS_1


Yve tersenyum dan menunduk sedikit agar wajahnya bisa sejajar dengan kakaknya. "Tenang saja."


"Yve, aku ingin ikut membantu juga. A-aku kan laki-laki." Suara Orion yang ketakutan sangat tidak selaras dengan kata-katanya.


"Ya." Yve mengangguk. "Jaga kak Tina saja untukku. Setelah sampai di dalam kamar, tutup jendela dan korden. Lalu jangan duduk di dekat jendela. Kalau ada apa-apa, kabur ke atap sambil membawa tas dibawah tempat tidurku." Setelah memberikan arahan singkat, Yve memukul bahu Orion dengan pelan.


"Jaga kakakku, cepat!"


"Baik." Orion menaiki tangga sambil menarik Tina yang masih tidak ingin meninggalkan Yve.


Setelah memastikan kedua orang yang butuh dijaga itu aman, Yve kembali ke depan untuk melihat Leo.


Saat Yve datang, Leo baru saja menaruh ponselnya diatas meja. Lalu ia mengambil pistol dari dalam jaketnya.


"Kau menelpon siapa?" Tanya Yve sambil berjalan mendekati Leo.


"Yin, Yang, dan Sky." Leo mengatakan beberapa nama yang tidak Yve kenal sembari mengisi peluru pada dua pistol di mejanya.


"Siapa mereka?" Tanya Yve.


"Kau lupa? Katanya kau meminta bodyguard tambahan pada tuan Bai Lian untuk menjaga orang terdekatmu."


Yve mengangguk. Ia benar-benar lupa. Tidak disangka Bai Lian langsung menurutinya saat itu.


"Tapi jumlahnya tidak banyak. Tuan Bai Lian ingin mengirimkan orang-orang terbaik, jadi harus diseleksi dulu. Dari 10 bodyguard yang kau minta, tuan masih mengirimkan 3 orang."


"Hah?! Jauh sekali jumlahnya dari yang kuminta."


"Tenang, 3 orang ini adalah yang terbaik." Leo melemparkan salah satu pistol yang sudah diisi peluru pada Yve. "Pakai itu."


"Kau yakin tidak apa-apa?"


"Sebenarnya aku tidak yakin." Leo menatap kearah pintu cafe yang sudah tertutup. "Di atap gedung seberang, ada Yin dan Yang. Mereka adalah si kembar penembak jitu hebat sebelum ada South dan North. Bisa dibilang mereka itu bodyguard senior."


"Waduh sudah tua. Masih kelihatan matanya?"


"Mereka itu senior! Bukan tua! Dasar tidak sopan!" Leo masih sempat memukul kepala Yve, kemudian melanjutkan kata-katanya. "Tapi Sky berada cukup jauh dari sini. Aku khawatir dia tidak sempat datang."


"Wah tidak kompeten. Menjaga dari jauh itu sama saja tidak berguna." Yve kembali berkomentar.


"Dia juga senior tahu! Jaga perkataanmu!"


"Haaah... Bai Lian memberiku bodyguard tua-tua. Aku akan protes padanya."


"Kau ini-"


Brak!!!


Yve dan Leo kompak melihat kearah pintu belakang.


"Kata Yin dan Yang. Para preman itu memang menargetkan cafe ini. Jumlah mereka mungkin lebih dari 100. Dan para preman tengah mengerumuni cafe ini sekarang. Tapi entah kenapa masih belum ada yang menyerang."


"Kalau begitu, aku yang akan menyerang duluan!" Yve berlari kearah pintu sambil membawa pistolnya.

__ADS_1


"Hei tunggu!" Leo mengejar.


__ADS_2