Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Tugas Lainnya


__ADS_3

Yve kembali ke gazebo. Ia duduk di samping Beng seperti sebelumnya.


"Kenapa cepat sekali? Katanya mau mengambil onigiri tuna mayo. Kau tidak membawa apapun dari dapur." Beng melirik tangan Yve yang kosong.


"Onigirinya sudah habis dimakan kucing."


Memangnya di rumah ini ada kucing? Beng menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Lalu kenapa ada bekas nasi dimulutmu?" South menunjuk mulut Yve.


Dengan panik Yve mengusap mulutnya ke segala arah. "I-ini... Tadi aku sempat merebutnya sedikit dari kucing itu."


"Aku tahu. Kau pasti memakannya di dapur, karena tidak ingin South atau kak Beng memintanya kan?" North berkomentar dari sudut gazebo.


"Bukan!"


"Yve pelit sekali. Padahal aku sering membagikan cemilanku padamu." South nampak sedih.


"Siapa juga yang mau cemilanmu!!!"


"Adikku tidak kusangka kau pelit." Beng menutup mulutnya dan pura-pura terkejut.


"Bukan begitu!"


"Haha baiklah. Cepat latihan menembak bersama South. Hari sudah mau sore, nanti kau terlambat pulang." Beng mengusap kepala Yve kemudian berdiri. "Aku ingin pergi ke depan sebentar, memotret Devian untuk dijadikan kenang-kenangan."


"Baik kak." Para adik Beng menjawab bersamaan.


Yve langsung mengikuti South ke lapangan tembak, sementara North ingin mengisi beberapa senjata dengan peluru sebelum digunakan.



Satu jam telah berlalu. Yve menaruh pistolnya diatas meja yang berada di pinggir lapangan tembak.


"Kenapa ditaruh?" Tanya South sambil melihat Yve.


"Aku lelah. Sepertinya cukup disini saja."


"Tidak! Caramu memegang pistol masih salah. Itu bisa membuat tembakanmu meleset."


"Baiklah. Kalau begitu, biarkan aku istirahat sebentar." Yve duduk diatas rumput sambil melepas sarung tangan yang ia pakai untuk latihan.


"Tidak boleh! Kembali ke sini, dan tembak lagi targetnya!"


Yve mulai menatap South emosi. "Daritadi aku terus mengangkat pistol. Menurutmu aku ini apa? Robot yang tidak bisa lelah? Bahkan robot juga perlu dicharge. Baik! Aku akan kesana dan memberimu sedikit hadiah lebam." Yve berdiri dengan cepat dan berjalan mendekati South.


"Waaaa North tolong aku!!!"


Duk!

__ADS_1


Gubrak!


South yang berniat berlari kearah gazebo untuk mencari pertolongan, malah menabrak seseorang di belakangnya.


"Oi! Kalau jalan jangan pakai mata!" South mengumpat lebih dulu, lalu berdiri dan melihat siapa yang ditabraknya. "Tuan Bai Lian?!"


Habislah aku! Pasti nasibku akan lebih buruk dari kak Devian.


"Belajarlah dari mulutmu. Karena mulutmu lebih berani daripada kau." Bai Lian melipat tangannya dengan ekspresi marah.


"Maafkan saya tuan. Saya tidak melihat anda tadi." South membungkuk berulang kali.


Yve hanya melihat dari jauh. Ia sebenarnya juga terkejut melihat Bai Lian tiba-tiba muncul disini.


"South, sepertinya kolam ikan Koi-"


"Baik tuan, saya akan membersihkannya besok." South kembali membungkuk.


"Kenapa buru-buru menjawab? Aku belum selesai bicara." Bai Lian tersenyum licik.


"Maaf tuan sudah memotong kata-kata anda."


"Yang ingin kukatakan. Kolam ikan koi terlalu kecil sekarang. Aku ingin kau membuat kolam yang baru di sampingnya. Lakukan itu SENDIRIAN." Bai Lian menekankan kata terakhir sambil tersenyum.


Haaaaa???


"Hahaha aduh kasihan sekali." Yve tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


Dia terlihat gembira saat aku menghukum bodyguard. Aku ingin melihatnya selalu gembira. Besok akan kuhukum lebih banyak bodyguard.


"Memangnya kenapa kau kesini?" Yve mulai mendekati Bai Lian.


Oh iya! Aku hampir lupa tujuanku.


"Aku ingin pergi ke kasino sekarang. Bodyguard inti harus mengikutiku."


"Laksanakan tuan." South memberi hormat.


"Apakah itu lama? Sekarang sudah mau malam. Aku takut kakakku menungguku pulang." Yve menunjuk langit yang mulai berubah keunguan.


"Aku tidak peduli. Itu tugasmu." Bai Lian pergi.


Aku akan diam-diam mengantarnya. Bai Liat tersenyum sambil melangkah pergi memasuki rumah.


"Bai Lian berengsek!"


"Yve jangan mengatai tuan seperti itu." South memperingati.


"Kenapa memangnya? Kau tidak kesal padanya? Disuruh bikin kolam loh. Apa menurutmu itu menyenangkan? Kalau menurutku sih menyenangkan karena bukan aku yang melakukannya."

__ADS_1


"Tadi memang kesalahanku. Aku pantas menerimanya."


"Jangan terlalu totalitas pada orang seperti Bai Lian."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Beng datang bersama Devian yang sudah melepas kostum ikan koinya. "Ayo bersiap, kita akan segera pergi."


"Apa perlu melakukan persiapan ketat seperti sebelumnya? Lin sudah di penjara. Tidak ada yang mengancam nyawa Bai Lian lagi kan?" Tanya Yve.


"Tentu saja tidak." Devian memainkan kacamatanya seperti biasa. "Tuan Lin hanya salah satunya saja. Masih banyak lagi orang yang ingin membunuh tuan Bai Lian. Terutama saingan bisnis dan keluarga bekas musuh tuan besar dulu. Apalagi setelah tahu kalau anak keduanya dipenjara, otomatis jika tuan Bai Lian mati tidak ada yang menjadi pewaris lain. Mereka akan semakin gencar melakukan penyerangan."


"Berarti pilihanku salah kalau memenjarakan Lin?"


"Tidak adikku. Itu juga tindakan yang tepat. Musuh lainnya tidak tahu jadwal tuan Bai Lian berpergian, sementara tuan Lin tahu semuanya. Jadi dialah ancaman terbesar. Untuk sekarang, yang harus kita lakukan adalah menjaga tuan sebaik mungkin." Beng mengusap pundak Yve sambil memberi semangat.


Kak Beng benar. Meskipun Bai Lian sangat menyebalkan, kadang baik dan kadang buruk. Tapi ini tugasku untuk menjaganya.


"Yve! Karena hanya kau yang tidak memakai jas, ini kupinjamkan punyaku." North datang sambil membawa setelan jas ditangannya.


"Apa tidak boleh aku pakai baju ini saja?" Yve menunjuk kaos yang ia pakai.


"Tidak! Kita harus terlihat rapi dan berwibawa." South mengambil setelan jas itu dan menyodorkannya pada Yve.


"Baiklah. Waktunya Yve si tampan muncul."


"Jeh! Aku satu-satunya yang tampan disini." South membenahi rambutnya dengan gaya sok keren.


"Kalau kau tampan berarti aku juga. Wajah kita sama." North menunjuk dirinya.


"Enak saja! Aku yang paling tampan, dan atletis." Beng memainkan otot lengannya dengan sombong.


"Tampan tapi tidak pintar percuma. Lihat aku, pintar, tampan, dan mempesona." Devian menggigit ujung kacamatanya dengan ekspresi menggoda.


Sekumpulan om-om jomblo ini sungguh tidak tahu malu. Mereka kurang kasih sayang.


Yve hanya melihat dengan iba.


"Ehem! Jadi kapan kita berangkat?" Bai Lian tiba-tiba muncul lagi sambil tersenyum.


"Ini sudah siap tuan!"


Orang-orang mulai berhamburan dan pergi dengan kalang kabut. Mereka takut kalau dihukum dengan tugas aneh-aneh lainnya.


"Kau tidak ikut pergi?" Bai Lian menatap Yve yang hanya berdiri diam.


"Aku ingin ganti baju disini. Apa kau ingin melihatku?"


"Hah?!" Wajah Bai Lian langsung memerah. "Dasar bocah! Ganti baju di kamar mandi sana! Bocah bodoh!" Dengan cepat Bai Lian pergi meninggalkan Yve.


Kenapa dia marah padaku? Sampai wajahnya merah begitu. Juga mengataiku bocah bodoh. Mungkin hari ini dia banyak masalah jadi memarahiku terus.

__ADS_1


Akhirnya Yve pergi menuju kamar mandi untuk ganti baju.


__ADS_2