
"Racun? Apa kau yakin?" Tanya Devian lagi.
"Sepertinya begitu. Lihatlah minuman yang dibawa pelayan itu dari cctv, kak Devian akan paham."
"Baiklah, aku akan memperbesar gambarnya."
Yve kembali melihat kearah pintu ruang pertemuan. Sangat hening, tidak ada suara yang terdengar dari dalam. Mungkin memang ruangan itu memiliki sistem kedap suara, karena tempat yang begitu berisik ini pasti akan menggangu pembicaraan serius mereka. Tapi kesunyian ini terasa aneh.
"South, apakah Bai Lian sering minum?" Yve menoleh kearah laki-laki di sampingnya.
"Tidak. Saat berada di kasino, tuan selalu minum teh atau soda. Ketika bertemu kolega penting barulah tuan akan minum sedikit untuk menghargai kolega itu."
"Lalu kenapa pelayan tadi membawa anggur?"
"Mereka sudah tahu kalau yang bisa minum hanya kak Beng. Jadi minuman yang selalu mereka siapkan ketika kunjungan tuan kemari cuma untuk kak Beng."
Apa mungkin mereka ingin melumpuhkan kak Beng dulu?
Yve terus berpikir sambil melirik ruangan yang masih hening di dekat mereka.
"Kalau Hino itu orang seperti apa?" Tanya Yve lagi.
"Hmmm... Dia baik, murah senyum. Hino juga sudah bekerja mengelola uang di kasino ini sejak kepemimpinan tuan besar Bai Jun. Dia sangat dipercaya. Kabar terakhir yang kudengar, anak satu-satunya meninggal, dan Hino menjadi stress hingga sering sakit-sakitan."
"Berarti bukan cuma ini dia mengeluh sakit hingga melarang bodyguard lain masuk?"
"Sebenarnya meskipun Hino sakit-sakitan, tapi baru kali ini dia membuat permohonan seperti itu. Biasanya dia hanya akan memakai masker dan duduk jauh dari tuan Bai Lian. Entahlah, mungkin kali ini sakitnya parah."
"Begitu ya." Yve mengangguk.
Entah kenapa aku sangat khawatir. Rasanya kalau aku tidak melihat Bai Lian baik-baik saja dengan kedua mataku sendiri, seperti ada perasaan aneh yang menghantuiku.
Kuharap cuma perasaanku saja.
"South, aku akan pergi sebentar jalan-jalan di depan."
"Kak Beng menyuruh kita untuk menunggu disini. Jika dia datang dan melihatmu tidak ada, pasti dia akan memarahiku. Seperti tidak becus menjaga adik."
"Tenang saja, aku akan kembali sebelum dia keluar." Yve buru-buru berlari meninggalkan South.
❀
"Sepertinya disini." Yve menatap sebuah jendela di hadapannya. Ia sudah berlari berputar-putar hanya untuk mencari jendela tempat ruang pertemuan Bai Lian. Untung saja ruangan itu berada di lantai dasar, jadi lebih mudah bagi Yve untuk mencari keberadaannya.
Jendela dengan kaca itu tertutup korden berwarna hitam. Bahkan lampu di dalam cahayanya tidak terlihat begitu jelas.
Kenapa misterius sekali? Bukankah hanya membahas masalah uang di kasino?
Yve melihat di sekitar kakinya, lalu mengambil beberapa kerikil yang ada disana.
Menurutku, mereka bukanlah orang baik.
"Yve, aku sudah mengecek minumannya. Dan ini adalah kabar buruk." Suara Devian tiba-tiba terdengar dari alat komunikasi jarak jauh.
"Ada apa memangnya?"
"Minuman itu dicampur obat tidur."
"Apa?!" Kini suara teriakan South yang terdengar.
"Celaka! Beng meminumnya! Kenapa dia tidak bisa mendengar kata-kataku?" Devian mulai panik.
Dor!
"Mereka menembak cctv di dalam. Aku tidak bisa melihat apapun!" Suara Devian kembali terdengar.
__ADS_1
Sudah kuduga. Yve memainkan kerikil di tangannya.
"Aku akan mendobrak pintunya."
"Jangan South!" Teriak Yve. "Mereka tahu kalau kak Devian melihat dan menghancurkan cctv lebih dulu, jadi mereka juga sudah tahu kalau kau akan mendobrak pintunya setelah mendengar bunyi tembakan. Menurutku, mereka sudah menunggumu di balik pintu itu. Mungkin banyak peluru akan menghujanimu."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Mudah saja. Mereka tidak tahu kalau aku disini." Yve tersenyum lalu menarik nafas dalam-dalam.
"BAI LIAN BODOH! KEMARILAH!"
Pyar!
Yve melempar kerikil di tangannya hingga membuat kaca jendela itu pecah.
Sesuai prediksinya, Bai Lian keluar dari jendela yang sudah pecah itu dan berlari menuju Yve.
"Menunduk!" Teriak Bai Lian.
Yve melihat di belakang Bai Lian yang tengah berlari itu, beberapa orang yang memakai pakaian hitam bersiap untuk menembak.
"Kau saja yang menunduk." Yve mengeluarkan pistol dari sakunya dan menembak mereka lebih dulu.
Dor! Dor!
Orang-orang yang sedang membidik tadi langsung tumbang.
"Mereka ada banyak."
"Tenang, tetap di belakangku." Yve menyembunyikan Bai Lian di balik punggungnya. Lalu ia memasang kewaspadaan tingkat tinggi.
Drap! Drap!
Ck! Gawat! Susah kalau bertarung dengan tangan kosong sambil menjaga orang. Apalagi ketika dikeroyok seperti ini.
Dan kenapa suara kak Devian tidak terdengar lagi? Apa ada eror?
"Dengarkan aku. Kalau situasinya tidak memungkinkan, pergilah ke mobil dan pergi bersama paman beruang. Aku akan menahan mereka disini." Bisik Yve pada Bai Lian.
"Matipun aku tidak akan meninggalkanmu!"
Hah? Bisakah kau tidak usah keras kepala disaat seperti ini?
Yve mendengus kesal.
Aneh. Kenapa belum ada yang berniat menyerangku?
"Gadis kecil. Serahkan Bai Lian padaku. Lalu, aku akan membiarkanmu tetap hidup." Seorang pria yang sudah berumur melihat dari jendela ruangan pertemuan tadi. Sosoknya tampak pucat seperti orang yang sedang sakit.
"Apa kau Hino?" Tanya Yve.
"Ya. Serahkan Bai Lian."
"Baiklah." Yve mengangguk.
"Apa?! Kau mau menyerahkanku?!"
"Tapi aku ingin bertanya dulu. Kenapa paman Hino menginginkan orang berengsek seperti Bai Lian ini?" Yve menunjuk laki-laki dibelakangnya.
Aku berengsek? Dan dia juga seenaknya memanggil Hino dengan sebutan paman.
Bai Lian menggeleng bingung.
"Gara-gara dia anakku mati! Itu salahnya! Jadi aku akan mengirimnya ke dunia kematian untuk menemani anakku."
__ADS_1
"Aduh paman Hino ini ada-ada saja. Orang membosankan seperti Bai Lian tidak bisa memeriahkan suasana. Takutnya anaknya paman tetap kesepian meskipun Bai Lian menemaninya."
Bisa hentikan pembicaraan absurd ini? Kita sedang ditodong banyak orang dengan pistol.
"Jangan membuat kesabaranku habis. Cepat! Bunuh gadis kecil itu sekalian!"
"Bai Lian. Bersembunyilah dibelakang pohon itu." Yve melirik pohon hias yang memang sengaja ditanam mengelilingi gedung kasino.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Ck! Baiklah, jangan salahkan aku."
Dor! Dor!
Beberapa orang menembaki Yve bersamaan. Terpaksa gadis itu menjegal kaki Bai Lian hingga membuatnya terjatuh untuk menghindari peluru. Setelahnya, Yve menembak mereka hingga tumbang satu persatu.
Sial! Pelurunya benar-benar tidak cukup!
Peluru terakhir sudah ditembakkan oleh Yve. Tapi masih banyak orang yang membidiknya.
Tidak disangka Bai Lian bangkit dari posisi tengkurapnya. Dan bersamaan dengan itu salah satu musuh ingin menembak kearah Bai Lian.
Dor!
Musuh itu jatuh terkapar.
"Maaf terlambat." South terengah-engah sambil memegang pistol yang baru saja digunakannya untuk melindungi Yve.
"Lama sekali." Yve tersenyum. Ia tidak menyangka kalau akan sesenang ini melihat kedatangan South.
"Keadaan kak Bernard juga gawat. Cepat pergi. Nyawa tuan Bai Lian harus diutamakan. Biar aku yang menangani ini." South menyibakkan jasnya. Ternyata dibalik jas itu terdapat banyak pistol yang tersimpan dengan rapi.
"Baik." Yve menarik Bai Lian untuk menjauh. Saat melewati beberapa mayat hasil tembakannya, Yve melihat sebuah kunci motor yang keluar dari saku orang itu. Dan tanpa pikir panjang, Yve mengambilnya. "Kita ke tempat parkir motor. Tunjukan jalannya."
"Kejar mereka!" Perintah Hino sambil menunjuk Yve dan Bai Lian yang berlari menjauh.
Yve dan Bai Lian berlari secepat mungkin hingga dalam waktu singkat mereka sudah sampai di tempat parkir. Yve berusaha mengatur nafasnya sambil melihat merk motor yang tertera pada kunci di tangannya.
"Apa?!"
Teriakan Yve membuat Bai Lian ikut kaget. "Kenapa?"
"Sial! Ini kunci motor metic keluaran lama!"
"Tidak ada waktu lagi. Kita pakai itu saja."
Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Bai Lian dan Yve untuk menemukan motor yang mereka cari. Karena kebanyakan motor yang terparkir adalah motor sport mahal, jadi keberadaan motor metic keluaran lama dengan warna yang memudar itu tampak sangat mencolok.
"Itu mereka! Kejar!"
"Ada yang mengejar. Bai Lian cepat naik!" Teriak Yve.
"Tunggu, aku sedang mencari helm. Motor ini terlihat tidak aman."
"Kau ingin mati demi helm? Cepat naik saja dasar bodoh!"
"Tapi-"
"Sudah naik saja!" Yve menarik paksa tangan Bai Lian lalu melingkarkannya pada pinggang rampingnya. Setelah itu Yve buru-buru tancap gas.
Motor ini terlalu lamban. Tapi semoga mereka ketinggalan jauh.
Yve mencoba melihat melalui kaca spion orang-orang yang mengejarnya.
Kau pasti bercanda! Mereka pakai motor sport!!!
__ADS_1