
"Aku harus pergi dari sini." Lin memaksakan tubuhnya bergerak. Tapi tidak bisa, ia kembali jatuh karena lukanya.
Levin akan menghancurkan tempat ini? Caranya? Apa kak Devian memberi ide lain? Yve merasakan getaran yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
Dum!
Itu suara ledakan atau bangunan runtuh? Yve celingukan. Suara itu entah berasal dari mana. Tapi yang jelas tempatnya berpijak sekarang menjadi lebih bergetar dari sebelumnya.
Yve mengecek kembali posisi flashdisk nya, tempat ia menyalin data. Syukurlah itu tidak hilang atau jatuh saat Lin memukulinya tadi.
"Dewi!!!!"
Sosok preman penakut sebelumnya muncul di pintu ruangan Lin.
"Kau kan..." Yve sangat terkejut melihat orang itu kembali. Bukankah tadi sudah pergi?
"Ayo cepat keluar. Tempat ini akan runtuh!" Kian menarik tangan Yve dan membawanya keluar ruangan Lin.
"Tunggu, Lin masih-"
"Tinggalkan saja!" Kata Kian sambil berlari menggandeng tangan Yve.
"Tapi, dia kan boss mu. Kenapa malah menyelamatkan aku?"
"Ini perintah dari Dewa." Jawab Kian dengan mata yang terfokus pada salah satu jendela yang sedang terbuka.
"Dewa?" Yve memicingkan matanya tidak percaya. Bisa saja preman ini menipunya.
"Ayo cepat! Cepat!" Yin Yang muncul di jendela yang sedang dituju oleh Yve dan Kian.
"Kak Yin Yang?"
"Bingungnya nanti saja. Ayo!" Yin segera meraih tubuh Yve dari jendela dan menggendongnya. Laki-laki berusia 30 tahunan itu terlihat begitu sigap.
"Ayo anak baru!" Yang menarik Kian layaknya kucing peliharaan.
__ADS_1
Keempat orang itu akhirnya berlari menjauhi lokasi pabrik markas Lin yang setengahnya sudah ditutupi asap tebal. Suara dentuman itu ternyata berasal dari bangunan yang sudah runtuh di beberapa bagian pabrik. Akibatnya, asap berisi debu yang sangat pekat itu menghiasi hampir di semua sudut.
Yve melihat ke belakang punggung Yin. Bangunan terakhir gedung akhirnya runtuh disertai bunyi dentuman besar lainnya.
"Tunggu... Dimana Levin?" Tanya Yve.
Orang-orang tidak menjawabnya, dan lebih fokus berlari. Yve merasa suasana diam ini sangat tidak mengenakkan.
"Kak Yin Yang, dimana Levin?" Ulang Yve karena tidak ada yang menjawabnya. "Apakah dia sudah keluar bersama kak Sky?"
"Sky jaraknya jauh dari sini. Tidak mungkin dia kemari untuk membawa Levin kan?" Jawab Yin dengan suara yang pelan.
"Apa maksudmu? Levin masih disana?!" Yve menunjuk bangunan besar yang sudah sepenuhnya runtuh itu.
"Ya." Yin kembali menjawab dengan suara rendah. Ia sebenarnya tidak ingin mengatakannya, tapi gadis di gendongan tangannya ini sudah tersadar lebih dulu.
"Apa?! Lalu kalian masih membawaku? Lepaskan!" Yve meronta, tapi Yin semakin mempererat tangannya untuk menahan Yve. "Kubilang lepaskan! Aku ingin menyelamatkan Levin! Aku ingin membawanya! Lepaskan aku!" Yve mulai memukuli Yin.
"Yang! Bantu aku! Bayinya rewel!"
Trrtt!!
Bruk!
Yve langsung tidak sadarkan diri setelah Yang mengarahkan stun gun padanya.
"Bodoh! Kenapa malah pakai itu?" Yin dengan cemas langsung mendatangi Yve yang sudah ambruk.
"Aku panik, dia mulai berlari. Umurku sudah tidak muda lagi, pasti akan tertinggal kalau mengejarnya. Jadi sebelum dia lari jauh, aku menggunakan stun gun saja."
"Bodoh! Kan bisa dipukul tengkuknya biar pingsan."
Penglihatan Yve mulai buram. Gambaran Yin dan Yang tengah bertengkar semakin memudar.
"Levin..."
__ADS_1
Yve akhirnya benar-benar tak sadarkan diri.
❀
Di sebuah ruangan di dalam rumah keluarga Bai.
"Levin bodoh! Berengsek!"
Prang!
Devian membanting laptopnya sendiri hingga rusak menjadi berkeping-keping.
"Devian, aku ingin mengaktifkan sistem penghancuran gedung yang kubuat bersama Lin. Aku akan memakai virus dari Yve untuk mengaktifkan pemicu sensor. Hanya aku yang bisa mengaktifkannya, karena itu memerlukan sidik jariku. Dan saat sistem itu aktif, aku akan otomatis terkunci di dalam ruangan lalu mati bersama gedung ini. Itu adalah konsekuensinya. Untuk Yve, aku sudah mengutus orang menunjukkan jalan tercepat keluar dari banyaknya lorong. Setelah ini, alat komunikasi akan kuserahkan padanya, dia juga akan menunjukkan pada kak Yin Yang letak jendela."
Brak!
Devian kembali membanting benda di sekitarnya saat teringat perkataan Levin.
"Kau pikir bisa menjadi pahlawan hah!!"
"Devian, ini adalah balasan untukku. Aku sudah membuat banyak bodyguard keluarga Bai mati, hanya demi ingin mendapatkan kepercayaan Lin. Bahkan teman sekamarku sendiri sudah kubunuh. Aku merasa sangat jahat, dan sering bermimpi buruk karena itu. Jadi sekarang waktunya aku pergi. Tolong jaga Yve, dia adalah orang yang sangat kusayangi. Terimakasih juga sudah menyelamatkan dan merawatku."
Cih!
Devian menggertakkan giginya dengan kesal. Rasanya ia begitu ingin marah sekarang. Kenapa Levin harus mati?!
Devian melirik komputernya yang masih menunjukkan cctv lain di jalan dekat markas Lin. Semua orang selamat, kecuali Levin. Mereka terlihat kembali dengan mobil yang sudah disiapkan sebelumnya. Tidak lupa si anak baru yang seperti preman mengikuti mereka.
Baiklah Levin. Aku akan berusaha ikut senang. Karena kau sudah tidak menderita dikejar rasa bersalahmu pada orang-orang yang sudah kau bunuh. Semoga kau tenang disana.
Devian kembali menenangkan hatinya, dan berekspresi serius sambil membenahi kacamatanya.
Sekarang Lin pasti juga sudah mati. Mari kita lihat, apa yang akan dilakukan dengan mantan boss mafia, ayahku.
Sial! Rencana jadi berubah karena Levin. Aku harus membuat ayah dan yang lain sadar dengan kematian Lin. Supaya ayah cepat pulang dari luar negeri. Lalu, dimulailah rencana kedua.
__ADS_1