Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia

Gadis Bodyguard Milik Boss Mafia
Jatuh Cinta


__ADS_3

Sekarang Yve sudah berada di rumah keluarga Bai. Ia duduk di gazebo bersama beberapa bodyguard lainnya. South dan North tidak ada diantara mereka, si kembar itu sedang mengerjakan hukuman absurd yang diperintahkan boss. Sementara Bai Lian, dia langsung masuk rumah tanpa memperdulikan lagi Yve yang diculik paksa.


"Tin! Tin!"


Sebuah miniatur mobil sport menabrak tangan Yve. Ronan langsung tersenyum saat Yve melihatnya.


"Bermainlah di tempat lain." Ucap Yve sambil mengembalikan miniatur mobil itu.


"Karena kau terlihat tidak semangat, jadi aku menabrakmu. Sedari tadi hanya menatap ke rumah itu. Memangnya mencari siapa?"


"Tidak cari siapa-siapa. Lagipula aku sangat bersemangat hari ini. Iyakan kak Beng?" Yve melihat laki-laki berotot yang sedang mengasah pisau lipat di depannya.


"Iya, dia sangat bersemangat." Beng mengangguk.


Devian yang ikut duduk disana hanya bisa menggeleng. Apa Beng tidak sadar kalau sejak di sekolah tadi, Yve lebih banyak melirik pada Bai Lian? Meskipun tidak terlalu terlihat, tapi itu dilakukannya sampai berulang kali. Dia seperti menunggu sesuatu.


"Yve, apa ada yang ingin kau tanyakan?" Devian berinisiatif bertanya.


"Ya." Yve mengangguk kemudian menatap Devian. "Kenapa kak Devian disini? Tidak pakai kostum ikan di gerbang lagi?"


"Ah i-itu..."


"Begini ceritanya adikku." Beng menyela. "Devian awalnya keceplosan soal masalahmu di sekolah pada tuan Bai Lian. Saat tuan ingin bertanya lagi, dia tidak mau bercerita. Lalu tuan membuat kesepakatan dengannya. Kalau Devian bercerita tentang masalahmu, dia tidak akan dihukum lagi."


"Oh begitu. Kak Devian pintar sekali ya." Yve tersenyum.


Habislah aku.



Tuk!


South menaruh pot kaktus di dinding pembatas balkon. Lalu ia menyeka keringat sambil menghela nafas. "Akhirnya selesai juga. Oke kucatat dulu jumlahnya."


Setelah menulis, South celingukan mencari tali yang sebelumnya mengikat pot kaktus agar tidak jatuh. Tadi ia mengambil pot itu dan menghitung durinya sambil duduk. Saat ingin mengembalikannya, tali pengikatnya hilang.


"Eh? Tadi kutaruh dimana ya talinya?" South mencoba mengitari balkon tapi tetap tidak menemukan tali itu.


"Apa jatuh kebawah? Ya sudahlah, aku akan mengambil tali yang baru. Hari ini cuaca sedikit berangin. Kalau potnya jatuh bisa-bisa menimpa kelapa orang, dan aku yang dimarahi tuan." South berlari menuju gudang.



Yve masuk ke dapur bodyguard. Ia membuka lemari makanan dan mengambil onigiri dari dalam sana.


Onigirinya masih banyak. Apa Bai Lian belum mencurinya hari ini? Dia selalu saja sibuk.


Entah kenapa tangan Yve terulur dan mengambil onigiri lagi. Ia bermaksud ingin memberikan itu pada Bai Lian.


"Makan dua apa tidak kekenyangan?"


Yve terkejut, dan langsung menoleh. Ternyata itu Devian. Entah kenapa ia sedikit kecewa saat tahu itu bukan Bai Lian.

__ADS_1


"Aku masih kecil. Sedang masa pertumbuhan, jadi makan banyak tidak masalah kan?"


"Bukankah masa itu sudah terlewat? Lihat tubuhmu sudah sebesar ini."


Yve tidak menanggapinya, dan memilih untuk pergi sebelum emosinya meluap-luap.


"Tunggu."


Yve berhenti dan menoleh pada Devian yang memanggilnya. "Apa?"


"Tadi kau terus melirik tuan Bai Lian secara diam-diam. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?"


Kenapa kak Devian bisa tahu?!


Yve langsung membuang muka dan menjawab tanpa melihat kearah Devian. "Mungkin hanya perasaan kak Devian saja."


Sebenarnya memang ada sesuatu yang Yve pikirkan sejak tadi pagi. Yaitu Bai Lian. Laki-laki itu tidak mengatakan apapun mengenai ucapannya saat mabuk. Sudah jelas kalau dia melupakan pernyataan sukanya pada Yve. Dan itu sedikit mengganggu.


Mungkin saja pernyataan itu hanya racauan konyol orang yang sedang mabuk. Bai Lian tidak mungkin menyukainya. Tapi saat Yve memikirkan memungkinan itu, rasanya sedikit menyedihkan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin perkataan Bai Lian nyata. Bahkan ingat saja tidak, berarti itu bukan berasal dari hatinya.


Yang paling parah, bukannya bertanya apa yang terjadi saat dia mabuk, Bai Lian malah datang ke sekolah untuk menangkap kepala sekolah. Dan berhasil membuat Yve salah paham sebentar.


"Tidak, pasti ada sesuatu yang terjadi diantara kalian."


Yve tersadar dari lamunannya, dan kembali melihat Devian.


"Kak Devian. Jatuh cinta itu rasanya bagaimana?"


Lagipula bagaimana aku tahu?! Jangan tanya pada orang yang tidak memiliki pasangan seperti diriku!


Tidak Devian! Kau tidak boleh terlihat pecundang didepan adikmu. Yve bertanya begitu pasti sedang merasa ada yang aneh dengan dirinya. Aku harus menjawabnya!


Yve melihat Devian yang tak kunjung menjawab. "Sudah kuduga. Seharusnya aku tidak bertanya pada jomblo abadi seperti kak Devian ini."


"Hahaha kau salah. Aku pernah membaca buku- ah tidak! Aku pernah pacaran sebelumnya." Devian tertawa diatas kebohongannya sendiri.


"Benarkah? Lalu bagaimana rasanya jatuh cinta?"


Hehe untung aku pernah membaca novel romantis. Devian tersenyum dengan bangga.


"Saat kau sedang jatuh cinta. Rasanya semua hal terasa indah. Bahkan kentut orang menjadi wangi."


Yve mengangguk. Berarti aku tidak sedang jatuh cinta. Tadi kak Beng kentut dan baunya seperti bangkai Tyrannosaurus.


"Lalu..." Devian kembali melanjutkan. "Saat kau tidak melihatnya, rasanya sangat gelisah. Dan ketika melihatnya, secara tidak sadar kau akan melompat salto saking girangnya. Terakhir, yang paling menentukan kau sedang jatuh cinta atau tidak adalah, saat melihatnya mengupil-"


"Sudah cukup, aku mengerti. Kak Devian memang ahlinya." Yve berjalan keluar dapur.


"Hei tunggu! Dengarkan dulu, aku belum selesai bicara." Devian mengikuti Yve.


Devian masih belum menyerah, ia bercerita panjang lebar tentang arti jatuh cinta. Padahal semua yang ia baca dari novel itu hanyalah candaan konyol. Yve tidak menanggapinya, sampai mereka keluar dari bangunan rumah.

__ADS_1


"Yang paling menakutkan dari jatuh cinta adalah, rasa ingin memakan satu sama lain."


"Jadi maksud kak Devian, kalau orang sedang jatuh cinta, akan berubah menjadi kanibal?"


Mereka berdua berjalanan beriringan sambil mengobrol aneh.


"Devian!"


Suara Bai Lian membuat Yve terkejut. Ia ikut menoleh kebelakang meskipun yang dipanggil bukanlah dirinya.


"Ya tuan?" Devian buru-buru menghampiri Bai Lian.


Bai Lian menatap Yve sebentar, kemudian beralih pada Devian. "Ponselku tertinggal di dalam mobil. Aku harus menghubungi salah satu kolega penting, dan nomornya ada disana. Dimana Bernard? Kenapa dia tidak ada di tempat jaganya?"


"Tadi sebelum ke dapur, saya sempat berpapasan dengan Bernard. Dia sedang mules tuan."


Bai Lian menggeleng sambil menghela nafas. "Baiklah, cepat minta kunci mobil padanya. Suruh saja lempar dari dalam bilik toilet. Lalu ambil ponselku di dalam mobil. Antarkan ke ruang kerja."


"Baik tuan." Devian langsung pergi meninggalkan Yve dan Bai Lian.


Untuk sesaat, hanya ada keheningan diantara mereka. Lalu Yve mulai membuka obrolan. "Aku membawakan onigiri untukmu."


"Untukku? Benarkah?" Bai Lian mengangkat sebelah alisnya.


"Kau belum mencurinya hari ini bukan?"


Bai Lian tersenyum kemudian mengangguk. "Kemarilah, berikan padaku."


Yve memicingkan matanya. "Jarak kita hanya tiga langkah besar. Kau saja yang kemari."


"Sesuai yang kau inginkan, ratuku." Bai Lian berjalan mendekati Yve sambil tersenyum.


Ratu? Yve tidak sadar ikut tersenyum menatap Bai Lian.


Aku tidak tahu apa itu, tapi selama aku berada disisi Bai Lian. Rasanya sangat nyaman.


"AWAS!!!"


Teriakan itu membuat Yve sepontan melihat keatas. Sebuah pot jatuh kearah Bai Lian.


Tidak!


Yve mendorong Bai Lian dengan cepat.


Brak!


"Yve!!!"


Yve merasa ada cairan hangat yang keluar dari kepalanya, ia terjatuh dan pandangannya mulai kabur. Hal terakhir yang ia lihat adalah Bai Lian yang mengangkat tubuhnya dengan ekspresi khawatir.


Syukurlah... Dia tidak terluka. Yve tersenyum.

__ADS_1


Kemudian semuanya berubah gelap.


__ADS_2