
"Bersulang!"
Semua orang saling membenturkan gelas mereka dengan gembira.
Sekarang Yve sedang terjebak bersama teman-teman bodyguardnya yang membuatkan pesta kecil untuk kesembuhannya. Padahal ia ingin cepat-cepat bertemu Bai Lian. Kenapa susah sekali?
"Yve, ceritakan padaku bagaimana rasanya pingsan? Seumur-umur aku tidak pernah pingsan." Tanya Ronan setelah meminum soda yang diberikan Devian.
"Mungkin seperti tidur." Jawab Yve singkat.
"Lalu bagaimana rasanya-"
"Kalian jangan bertanya hal aneh pada Yve. Nanti kalau dia trauma dengan pot atau kaktus bagaimana?" Beng menyela Bernard yang terlihat ingin bertanya sesuatu pada Yve.
"Aku baik-baik saja."
Ucapan pelan Yve tidak didengar oleh siapapun. Teman-temannya malah sibuk berdebat tentang dirinya.
"Coba bayangkan kalau Yve jadi fobia pot? Kan tidak lucu."
"Tidak. Itu malah lucu sekali."
Terserahlah. Yve hanya pasrah lalu meneguk soda di gelasnya.
"Tada! Aku sudah membawa cemilannya!" South datang dengan riang gembira sambil membawa cemilan dikedua tangannya.
Semua orang langsung terdiam melihat banyaknya cemilan yang dibawa South. Bukannya takut tidak bisa menghabiskannya, tapi karena yang membawanya adalah South, pelopor cemilan aneh. Bisa saja itu kripik tawon rasa coco pandan, atau biskuit cacing besar Alaska rasa rumput laut.
"Ayo ambil jangan malu-malu." South menaruh cemilannya diatas meja, dan dalam sekejap meja itu berubah menjadi lautan cemilan.
"Ini... Bisa dimakan kan?" Tanya Bernard ragu-ragu.
"Mungkin tidak." Celetuk Devian yang berdiri di belakang Yve karena tidak kebagian tempat duduk.
"Enak saja! Ini bisa dimakan. Kalian jangan khawatir, ini adalah cemilan khusus yang dibuat oleh hotel tempat tuan menginap selama diluar negeri."
"Sepertinya cukup bisa dipercaya." Ronan mencoba mengambil beberapa cemilan dan membaca rasa yang tertera di bungkusnya. "Rasa awan Cumulonimbus, rasa awan Kinton, rasa awan Altostratus."
"Apa-apaan itu?!" Beng yang tidak percaya merebut salah satu cemilan dari tangan Ronan dan membacanya sendiri. "South, sepertinya aku harus membersihkan kamarmu lagi."
"Tunggu dulu kak Beng! Jangan asal membuangnya. Rasakan dulu. Enak kok."
"Yo! Kalian sedang apa? Sepertinya seru sekali."
Dari kejauhan seorang laki-laki berjalan mendekat ditemani tiga wanita seksi dibelakangnya.
"Tuan Ferran?!" Beng langsung berdiri dan membersihkan kursi yang sebelumnya ia duduki. "Silahkan duduk disini tuan."
"Oh terimakasih." Ferran duduk di kursi itu yang kebetulan berhadapan langsung dengan Yve.
"Anda ingin bertemu tuan Bai Lian? Saya akan memberitahunya kalau anda sudah disini." Ucap Beng dengan sopan.
"Tunggu sebentar. Aku ingin melihat seseorang dulu." Ferran tersenyum sambil memandang Yve.
Beng saling lirik dengan Devian. Mereka harus menjaga adik kecilnya dari playboy cap kodok satu ini! "Sebaiknya anda segera bertemu tuan Bai Lian. Pasti tuan menunggu anda."
"Kalian jangan mengusirku. Aku juga ingin ikut pesta. Kudengar bodyguard manis kesukaan Lian ini baru keluar dari rumah sakit." Ferran kembali menatap Yve penuh senyuman. "Apa yang dilakukan Lian padamu manis? Kalau tidak tahan bersamanya, kau bisa datang ke rumahku kapanpun."
Cih! Hanya dalam mimpimu.
Yve berdiri lalu tersenyum penuh pencitraan. "Tuan Ferran ingin ikut berpesta? Makanlah beberapa cemilan ini. Rasanya enak." Yve mengambil acak salah satu cemilan yang dibawa South dan memberikannya pada Ferran.
"Wah, karena ini permintaan si manis, jadi aku akan memakannya. Selamat makan." Ferran membuka bungkus cemilan dan memakannya tanpa curiga.
Uweekkk!
"Aku melihat siluet adikku. Arwahku terbang~"
Gubrak!
Setelah mengatakan kalimat perpisahan, Ferran pingsan dan jatuh dari kursinya.
"Wow ampuh sekali."
"Kyaaa tuan Ferran." Wanita seksi yang dibawa Ferran berteriak karena terkejut.
"Santai saja kakak cantik, kalau masih bernafas berarti masih hidup, biarkan dia. Ayo nikmati pestanya dengan kami." Usul South dan disetujui oleh bodyguard lain yang semuanya laki-laki jomblo itu.
"Yey akhirnya aku bisa pesta dengan wanita seksi." Ucap Beng pelan.
Yve seketika menoleh kearah kepala bodyguard itu dan emosinya langsung tersulut. Kakaknya tidak boleh patah hati.
__ADS_1
"Kak Beng." Yve mendekati Beng dengan wajah memelas andalannya.
"Oh? Ada apa adikku?"
"Tolong bantu aku mengambil sesuatu di gudang senjata. Kumohon. Sebentar saja, aku janji." Yve tersenyum dengan imut.
"Baiklah. Memang mau mengambil apa?" Beng langsung berjalan lebih dulu dan Yve mengekorinya.
Setelah sampai di depan gudang senjata, Beng mengeluarkan kunci gudang yang hanya dipegang olehnya. Setelah membuka pintu, ia berbalik menatap Yve. "Ingin mengambil senjata? Yang mana? Jangan terlalu berat, kau masih sakit."
Duk!
Yve menendang Beng hingga jatuh masuk ke dalam gudang, setelah itu ia buru-buru mengambil kunci di pintu dan menutupnya dengan cepat.
Cklek!
Yve berhasil menguncinya dari luar.
"Hei! Apa-apaan ini? Keluarkan aku!!!" Beng memukul-mukul pintu sambil berteriak.
"Hehe, tetaplah disana." Yve menggenggam kunci itu dengan gembira.
"Kenapa?!"
"Karena aku tidak mau kak Beng bersama wanita seksi di gazebo tadi."
"Apa kau tidak ingin melihat kakakmu ini bahagia?!"
"Justru aku melakukan ini agar kau bahagia. Selamat tinggal." Yve berjalan menjauh.
"Adikku! Kembali kemari! Yve!!!"
Hehe untung gudang senjata pintunya sangat kuat. Dia tidak akan bisa merusaknya.
Mengindahkan teriakan Beng, Yve kembali berjalan menuju gazebo tanpa rasa bersalah. Sebenarnya ia sangat lapar karena belum sarapan sejak pulang dari rumah sakit. Setelah makan baru menemui Bai Lian. Tidak lucu kalau sedang mengatakan perasaan tiba-tiba perut keroncongan.
Semoga saja ada cemilan South yang bisa dimakan.
Setelah Yve sampai di gazebo, Devian langsung sadar dengan hilangnya Beng. Ia sempat melihat orang emosian itu pergi bersama Yve, tapi adik kecilnya kembali seorang diri.
"Yve, dimana Beng?"
"Dia ke kamar mandi. Mungkin lama. Katanya sakit perut." Ucap Yve santai sambil memilih-milih cemilan South.
Itu kan kunci gudang senjata yang hanya dibawa Beng. Jadi Yve mengunci Beng disana? Pffttt lucu juga. Apa karena wanita seksi yang bergabung dengan pesta ini? Kenapa Yve jadi overprotective pada Beng? Dia jelas tidak menyukainya. Jangan-jangan Yve melakukannya demi seseorang? Aku mengerti... Seseorang yang hanya bisa membuat Yve melakukan apapun adalah kakaknya. Hahaha apa kakaknya Yve menyukai Beng? Astaga ini berita baru!
"Yve, makan yang rasa awan Kinton. Ini lebih baik dari yang lain." North menyerahkan cemilan yang dimaksud pada Yve.
"Kau tidak berusaha membohongiku kan?"
"Aku bersumpah atas nama South."
"Hah?!"
"Benarkah? Terimakasih." Yve mengangguk.
"Tidak! Semuanya enak!" Protes South.
Yve hanya tersenyum melihat kericuhan didepannya. Ia mengantongi kunci milik Beng, lalu hendak membuka bengkus cemilan. Belum sempat membukanya, Yve melihat ada sesuatu yang sangat menarik tertulis di belakang bungkus cemilan itu.
Tuliskan pesan pada orang yang kamu suka!
Dan terdapat gambar kertas putih kosong dibawahnya.
Yve terpikirkan sebuah ide. Ia menatap Devian dan berteriak. "Kak pinjam pulpen."
❀
Bai Lian mulai bosan dengan kegiatannya didepan komputer. Ia meregangkan badannya yang tidak bergerak selama 30 menit, setelah itu meraih ponsel didekatnya. Tapi tidak ada pesan disana.
Ck! Dimana Ferran? Tadi bilang hampir sampai. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar. Tidak mungkin dia diserang musuh kan? Dia hanya boss minuman.
Bai Lian berdiri dan melemparkan ponselnya kembali keatas meja. Ia berjalan kearah pintu untuk keluar mencari makanan. Di jam ini memang waktunya mencuri cemilan bodyguard.
Kriet...
Bai Lian terkejut melihat seseorang sudah berdiri dibalik pintu dengan senyum kakunya.
"Yve?! Apa yang kau lakukan disini."
"Aku..." Yve terus memandangi Bai Lian. Tidak disangka hanya 3 hari tidak bertemu akan membuatnya serindu ini. Padahal dulu jangankan melihat, mendengar suaranya saja sudah muak. Perubahan ini benar-benar membuatnya gila.
__ADS_1
"Duduk saja di gazebo. Kalau butuh apa-apa, suruh orang lain mengambilkannya untukmu. Jangan banyak bergerak, lukamu masih belum sembuh kan? Sini kulihat. Seharusnya kau tetap di rumah sakit. Apa kau merindukan teman-temanmu?"
Ya ampun, aku belum bicara apa-apa, dia sudah menyela panjang lebar. Lama-lama dilihat jadi menyebalkan.
"Atau... Jangan-jangan kau merindukanku?" Bai Lian tersenyum sambil menatap Yve. "Biar kutebak, jawabannya pasti tidak."
"Iya aku merindukanmu." Jawab Yve cepat.
"Hah?" Bai Lian memukul-mukul telinganya, lalu kembali menatap Yve. "Maaf tadi sepertinya aku salah dengar."
Apa dia masih mengira aku tidak peka?
"Oh iya, kebetulan kau ada disini. Aku ingin memberimu oleh-oleh." Bai Lian mendekati salah satu rak, dan mengambil sebuah barang dari sana. "Mendekatlah, aku akan membantumu mamakainya."
Yve awalnya ragu-ragu, ia meremas cemilan yang masih disembunyikannya dibalik punggung. Tapi kakinya tergerak sendiri untuk berjalan mendekati Bai Lian.
"Tunggu ya." Bai Lian mengeluarkan kalung yang menyilaukan dari dalam kotak, lalu hendak memeluk Yve.
"Hei! Apa yang ingin kau lakukan?!"
"Tenang saja, hanya memasang kalung."
"Mana ada orang memasang kalung dari depan. Dari belakang!" Yve hendak berbaik tapi Bai Lian menghalanginya.
"Aku ingin memasangnya dari depan. Jangan protes." Bai Lian melanjutkan kegiatannya. Dengan gaya seperti memeluk itu, ia dengan fokus memasang pengait kalung.
Yve terdiam seperti patung, ia tidak berani bergerak sedikitpun. Jujur saja, ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan laki-laki. Nafas Bai Lian terasa hangat di telinganya. Sementara jantungnya sangat berisik untuk diajak bekerjasama. Ia sangat tertekan sekarang. Tapi... Ada perasaan senang juga disana.
"Aku mencintaimu."
Yve terkejut dengan bisikan pelan yang Bai Lian lakukan. Rasanya jantung berisik ini akan segera meledak.
"Nah sudah." Akhirnya Bai Lian menjauh. "Cocok juga."
Yve mengatur nafasnya yang tidak karuan. Rasanya seperti menaiki rollercoaster untuk pertama kali. Sangat menegangkan!
Bai Lian melihat tingkah Yve yang aneh. Dia hanya diam seolah menahan sesuatu. Dan sedari tadi ada yang dia sembunyikan dibalik tubuhnya. Meskipun Bai Lian sudah melihatnya saat memasang kalung, tapi itu hanya cemilan. Untuk apa disembunyikan sampai seperti itu.
"Yve? Ada apa?"
Setelah merasa dirinya sudah tenang, Yve akhirnya menyodorkan sesuatu yang ia sembunyikan. "Mau cemilan?"
Bai Lian menerima itu dengan bingung. Ia tahu kalau yang diberikan Yve adalah cemilan milik South yang kemarin dibeli saat mengawalnya ke luar negeri. Tapi kenapa Yve memberikan itu padanya?
"Kau marah padaku? Jadi ingin menghukumku dengan memakan ini?" Tanya Bai Lian.
"Iya."
"Iya? Kau marah?" Ulang Bai Lian.
"Tidak. Iya untuk yang lain." Yve berusaha tersenyum sambil berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
"Apa maksudmu?"
"Iya... Itu." Yve melirik cemilan di tangan Bai Lian sebagai kode untuk membalik bungkusnya.
"Itu apa?"
"Itu... Itu tuh."
"Itu?"
"Dasar bodoh! Iya yang itu! Tidak lihat nih mataku melirik ke cemilan itu maksudnya dibalik!" Yve akhirnya tersulut emosi juga.
"Memangnya ada apa dengan cemilannya?" Bai Lian membalik bungkus cemilan dan menemukan sebuah tulisan disana.
Boss mafia ini adalah milikku, Yvenia Guilietta. Ingat itu ya, dasar bodoh!
❀
❀
❀
END
❀
Halo pembaca sekalian. Akhirnya novel ini tamat juga. Terimakasih sekali sudah membaca sampai tamat. Dan terimakasih juga yang sudah memberikan like, vote, rate, dan komen di setiap bab. Love u💖
Oh iya, kalau ada yang ingin episode tambahan untuk menceritakan kisah bodyguard, bisa komen ingin bodyguard yang mana😆 dan bisa pilih juga mau cerita masa lalu (kenapa jadi bodyguard), atau masa depan (setelah Yve dan Bai Lian bersama).
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih.