
"Jadi begini... Pertama, jangan beritahu Yve kalau kita bersekongkol."
"Jangan beritahu? Katanya dia akan ikut bekerjasama?" Devian melipat tangannya didepan dada. "Rencanamu tidak jelas. Aku tidak ikut."
Devian hendak melangkahkan kakinya untuk pergi. Tapi Levin kembali membuka suaranya.
"Tentu saja untuk melindunginya! Ini sudah kurencanakan dengan matang."
Devian berhenti berjalan dan kembali menoleh kearah Levin.
"Kenapa kau begitu ingin melibatkan Yve?" Tanya Devian sambil menatap Levin penuh curiga.
"Karena aku sudah mempertimbangkan semuanya, ini adalah rencanaku sejak lama. Bahkan jauh sebelum Yve menjadi bodyguard disini."
Apa maksudnya? Rencana sebelum Yve menjadi bodyguard? Dia sudah kenal? Tapi sepertinya Yve tidak kenal, karena Yve seperti orang yang baru mengenal Levin. Apa jangan-jangan Levin berbohong?
"Kau adalah orang licik yang penuh tipu daya. Aku tidak mempercayaimu." Devian membenahi kacamata melorotnya.
"Baiklah. Akan kuberitahu alasan kenapa kita tidak boleh memberitahu Yve." Levin menghela nafas dengan malas. Bekerjasama dengan Devian benar-benar harus menjelaskan semuanya dengan detail.
"Tidak ada kata 'kita', aku masih belum setuju soal kerjasama ini."
"Oke oke. Baiklah dengarkan aku."
❀
(Flashback selesai)
Ps : [Sengaja ga dikasih tahu hehe]
❀
❀
❀
"Wah kau sudah pulang?" Tina menatap heran pada Yve yang sudah pulang di siang bolong seperti ini. Bisa dibilang, ini pertama kalinya Yve pulang lebih awal. Biasanya jadwalnya sangat padat sampai harus berangkat di hari libur. Entah kenapa bengkel bisa begitu ramai seperti itu.
__ADS_1
"Pulang cepat." Jawab Yve sembari mengantongi lagi kunci motornya.
"Pergilah ke kamarmu dan istirahat." Ucap Tina dengan perhatian.
"Baiklah."
Yve berjalan menuju kamarnya. Sebelum menaiki tangga, ia berpapasan dengan Leo. Laki-laki itu menatap Yve dengan ekspresi terkejut.
"Yve! Kau sudah pulang? Bagaimana soal Devian?!" Seperti kejadian sebelumnya, Leo langsung mencengkram kedua bahu Yve dan bicara dengan cepat.
"Kak Devian..." Yve mengalihkan pandangannya dari wajah Leo. Ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. "Kak Devian belum ditemukan."
"Benarkah?! Ya ampun gawat sekali!" Leo memegangi kepalanya dan menjambak sedikit rambutnya dengan frustasi. "Tadi aku juga mencoba mencarinya di sekitar sini dengan alasan menemani boss Tina belanja sayur. Tapi aku juga tidak menemukan apa-apa."
Kak Devian sudah mati. Satu-satunya cara agar kau bisa menemukannya adalah pergi ke alam kematian.
Yve menghela nafas kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Yve mengambil laptopnya dan mulai mencoba sesuatu yang baru. Ia membuka buku pemberian Leo, dan mempraktikkannya di laptop.
Aku akan membuat virus, untuk berjaga-jaga. Kalau seandainya aku gagal melarikan diri dari markas Lin, minimal semua data yang ia punya akan musnah.
Halaman demi halaman Yve baca, dan beberapa kali ia mencobanya langsung di laptopnya. Saat lelah, ia akan tiduran sambil membaca buku, kemudian kembali ke laptopnya. Hal itu terus ia lakukan berulang kali.
Hingga senja pun tiba. Yve menoleh kearah jendela. Langit yang sebelumnya cerah saat terakhir kali ia lihat, sekarang berubah menjadi jingga. Gadis itu terlalu semangat belajar hingga lupa waktu. Sebenarnya bukan sepenuhnya karena semangat, tapi perasaan dendam juga ikut andil.
"Oke selesai." Yve menekan tombol enter kemudian tersenyum. "Ini berhasil. Besok aku akan membuat virus yang lebih mematikan."
Tok! Tok!
Ketukan pintu yang lembut. Yve langsung bisa menebaknya. Pasti kakaknya Tina.
"Masuk."
Tepat seperti dugaan, Tina masuk dengan membawa nampan yang berisi segelas susu dan biskuit diatas piring.
"Ini makanlah untuk menemanimu belajar." Tina menaruh bawaannya ke atas meja didekat Yve.
__ADS_1
"Ini sih cocoknya untuk sarapan."
"Haha tapi tidak masalah kalau untuk cemilan." Tina tertawa, dan suara tawanya yang terdengar halus, selalu membuat Yve merasa tenang.
Yve mengangguk mendengar perkataan itu. Ini lebih baik daripada Tina mengantarkan nasi goreng asinnya, dan meminta Yve memakannya sebagai cemilan.
"Oh iya, ngomong-ngomong..." Tina tiba-tiba duduk didepan Yve dan menatap adiknya itu lekat-lekat. "Kenapa hari ini kau terlihat sedih?"
Yve terkejut mendengarnya. Padahal ia sudah berekspresi sebiasa mungkin didepan Tina tadi. Tapi kakaknya itu selalu bisa menebak suasana hatinya.
"Aku tidak apa-apa." Yve mengambil satu keping biskuit dan memakannya untuk menghalangi rasa penasaran Tina yang ingin bertanya lebih jauh.
"Oh ayolah, kita sudah lama bersama. Ceritakan saja pada kakakmu ini." Tina tersenyum, lalu tiba-tiba ekspresinya berubah jahil. "Atau jangan-jangan pacarmu selingkuh?"
Uhuk! Uhuk!
Biskuit dimulut Yve gagal tertelan karena ucapan kakaknya. Segera ia meneguk susu, dan kembali mengatur nafasnya.
"Pacar apanya? Aku tidak punya pacar!"
"Apa jangan-jangan kau tidak menyukai laki-laki?! Pasti karena kau terlalu tomboy." Tina menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Yve, "... ha?"
"Tidak boleh! Kau harus menyukai laki-laki!" Pekik Tina dengan tingkah imutnya.
Yve menggaruk kepalanya dengan bingung. Bagaimana bisa kakaknya berpikir sejauh itu?
"Aku ini masih normal."
"Syukurlah." Tina sekarang tersenyum dengan lebar.
"Sekarang kak Tina bisa kembali ke bawah. Bersih-bersih cafe atau lakukan hal lain yang positif. Agar kepalamu tidak berisi sesuatu yang tidak masuk akal."
"Ya ampun, aku diusir?" Tina pura-pura sedih dan teraniaya.
"Pergi!" Yve mengangkat guling dan bersiap untuk melempar Tina.
__ADS_1
"Iya aku pergiii."