
"Lelahnya."
Yve menjatuhkan kepalanya diatas meja gazebo. Tidak disangka menyapu halaman bisa melelahkan seperti ini. Meskipun dilakukan bersama-sama bodyguard lain, tapi bunga Magnolia satu truk itu sangat banyak, dan menyebar di halaman luas dari rumah bak istana ini. Bernard sudah diceramahi Beng dengan penuh umpatan. Sekarang biang masalah itu, diberi hukuman menghitung semua kelopak bunga Magnolia. Entah akan selesai kapan.
"Yve. Makanlah ini. Saat sedang lelah, perut akan terasa lapar." South yang duduk didepan Yve menyerahkan coklat bar.
"Terimakasih." Yve menerimanya dan mulai makan. "South, kau suka sekali membawa cemilan."
"Aku suka cemilan, entah itu yang manis atau gurih. Semuanya kumakan haha." South terkekeh sambil membuka cemilan lain yang baru saja ia bawa dari kamar.
"Begitu ya." Yve menggangguk dan menggigit kembali coklat bar nya.
South menatap gadis itu lekat-lekat.
Kata kak Devian, kita semua harus diam-diam mendukung Yve yang bekerjasama dengan tuan muda kedua Lin. Kita juga harus pura-pura tidak tahu, agar tidak menambah beban pikiran Yve. Perkiraan kak Devian adalah, Yve turut menjadi mata-mata tuan Bai Lian, karena tiba-tiba saja tuan berhenti mencari orang untuk memata-matai tuan muda kedua. Berarti dia sudah mendapatkan oranya, yaitu Yve.
"Tidak enak." Yve melihat bungkus coklat bar yang ia makan. "Rasa apa ini?"
"Rasa wortel."
"Coklat rasa wortel?!" Yve seharusnya tahu kalau semua cemilan South itu aneh. Dia yang bodoh karena tidak mengecek rasanya dulu. Sekarang kalau mau dibuang sayang sekali.
"Sudah kuduga itu tidak enak." North datang dengan membawa dua botol jus jeruk. "Ini Yve. Minumlah supaya lidahmu yang sudah terkontaminasi bisa kembali seperti semula."
"Hei! Ini enak tahu!" Protes South.
"Lihat, kau hampir membunuh Yve. Hentikan memberikan cemilan anehmu padanya!"
"Cemilanku tidak aneh!"
"Kau yang bilang tidak aneh, sebenarnya ikut aneh!"
"Sudah kubilang tidak aneh!"
"Anu... Tidak apa-apa kok." Yve mencoba bersuara ditengah perdebatan saudara kembar didepannya.
"Itu aneh! Buktinya di minimarket jarang ada yang menjualnya, karena tidak laku!" North terlihat sudah tidak tahan lagi melihat cemilan tidak jelasnya South.
"Sok tahu sekali, itu karena cemilan ini sangat eksklusif. Orang yang lidahnya mati rasa sepertimu mana paham!"
"Ada apa ini?!" Beng datang dengan ekspresi marah. Dia baru saja selesai menceramahi Bernard, dan sekarang dua anak lain minta diceramahi juga.
"Ti-tidak." North yang sudah tahu kalau kepala Beng masih panas, mencoba untuk diam agar tidak membuatnya mendidih.
__ADS_1
"Kak Beng! Ini salah North! Dia mengatai cemilanku aneh."
Malang sekali nasibmu South, kau tidak melihat keadaan kak Beng yang sedang marah. Bisa-bisa kau dimarahi. Yve menonton sambil meminum jus jeruk pemberian North.
"Cemilanmu memang aneh! Mulai sekarang semua cemilanmu kusita!" Bentak Beng.
"Tidaaaak."
Di kejauhan, seseorang melihat suasana riuh di gazebo. Tatapan matanya lebih terfokus pada seorang gadis yang sedang menonton pertengkaran temannya seperti sedang menonton sinetron. Dia adalah Levin.
Bagus, Yve tidak terlihat seperti orang yang akan mengadu pada teman-temannya tentang bekerja sebagai bawahan tuan Lin.
Puk!
Levin menoleh saat merasakan seseorang menepuk bahunya.
"Halo." Devian mencoba tersenyum dengan ramah. "Kenapa kau hanya melihat dari jauh?"
"Aku hanya malu untuk menyapa teman-teman." Levin ikut tersenyum dan pura-pura canggung.
"Benarkah? tapi tindakanmu yang seperti ini lebih mirip... Sedang memata-matai."
Sial! Apa dia curiga? Cih! Julukan bodyguard 100 mata tidak hanya berlaku saat dia sedang melihat cctv. Meskipun aku berada di titik buta cctv sekalipun, dia masih bisa melihatku.
"Haha memata-matai siapa? Aku ini sebenarnya sangat pemalu. Maaf juga kalau jarang menyapa dan saling mengobrol bersama." Levin kembali tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit.
Levin melihat kepergian Devian sambil tersenyum. Dasar, ini hanya mainan anak-anak.
Levin meraba bahunya yang tadi ditepuk oleh Devian. Dan benar saja, sesuatu yang dicurigainya berada disana. Sebuah alat kecil yang berbentuk seperti kepik ia temukan disana.
Robot pendeteksi?
Levin menjatuhkan alat itu keatas tanah kemudian menginjaknya. Menepuk bahu orang berulang kali itu cukup mencurigakan tahu.
Drrt!
Devian yang sedang berjalan merasakan tablet ditangannya bergetar. Itu adalah penanda kalau robot berbentuk kepiknya hancur.
Dia menyadarinya? Benar-benar orang yang hebat. Tuan muda kedua Lin sangat beruntung memiliki orang seperti Levin disisinya. Bodyguard yang sangat sempurna.
"Kak Devian. Mereka daritadi bertengkar." Yve menunjuk Beng dan South yang masih bertengkar pada Devian yang baru saja sampai.
"Sudahlah. Kalian memberikan contoh buruk pada Yve. Dimana wibawa kalian sebagai senior?"
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan Devian, Beng dan South akhirnya berhenti berdebat. Mereka kemudian duduk dengan emosi yang masih tersisa.
"Sebenarnya tidak masalah. Aku sudah sering menerima ajaran buruk sejak kecil. Tapi kalian berisik" Yve berkata dengan santai sambil memainkan botol jus jeruk.
"Sejak kecil? Siapa yang mengajarimu?" Tanya South.
Ekspresi diwajah Yve tiba-tiba berubah. Ia terlihat sedih sambil mengingat wajah seseorang. "Preman baik yang merawatku ketika kecil."
Suasana tiba-tiba hening. Teman-teman bodyguardnya fokus mendengarkan Yve.
"Tapi dia sudah meninggal." Lanjut Yve sambil tersenyum tipis.
"Meninggal? Kenapa?" South mencoba bertanya dengan hati-hati.
"Dibunuh, oleh temannya sendiri."
Devian yang sebenarnya sudah tahu tentang itu, hanya menganggukkan kepala. Ternyata kalau orangnya sendiri yang bercerita terasa lebih menyedihkan.
"Lalu, bukankah kau selama ini tinggal dengan seorang perempuan? Bagaimana ceritanya?" Beng yang tiba-tiba penasaran, ikut bertanya.
"Setelah kepergian orang itu, aku hidup tidak jelas di jalanan. Lalu saat melihat seorang perempuan yang membawa banyak barang bawaan aku menodongnya."
"Menodong? Kau benar-benar jahat haha." Komentar Beng sambil tertawa.
"Lalu? Lalu?" South nampak sangat penasaran.
"Dia sangat baik, malah menawariku tempat tinggal. Dan akhirnya aku hidup dengannya sampai sekarang. Tamat."
"Ya ampun singkat sekali, seperti trailer film." South terlihat kecewa.
"Kalau aku benar-benar menceritakannya, itu akan sangat panjang."
"Baiklah sudah dulu ceritanya." Devian menaruh tabletnya diatas meja. "Yve aku akan mengajarimu sesuatu."
Devian belum berkata lebih banyak, tapi Yve sudah mendengus dengan malas. "Belajar lagi."
"Kali ini pasti berguna."
"Kak Devian selalu mengatakan itu." Yve kembali menaruh kepalanya diatas meja.
"Aku serius, kali ini kita akan belajar komputer. Aku akan mengajarimu cara menyalin file tanpa meninggalkan jejak. Dan... cara mengirim virus."
Yve berpikir sejenak. Benar juga! Kalau aku ingin mendapatkan bukti perdagangan ilegalnya si Lin, berarti aku harus bisa komputer. Lalu mengirim virus ke komputer Lin.
__ADS_1
"Baik kak! Aku mau!" Yve tiba-tiba bersemangat.
Anak pintar. Aku akan mendukungmu mengorek informasi dari tuan muda kedua Lin untuk tuan Bai Lian. Devian tersenyum.