Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Lily Yang Malang


__ADS_3

“Kenapa kalian lama sekali? Mana gadis itu?” Clara. Dialah dalang di balik semua yang barusan terjadi. Tadinya ia akan menyusul ke dalam. Namun urung karena orang-orang yang lalu lalang mulai curiga celingak-celinguk mencoba melihat ke dalam toko bunga.


“Mereka sudah tamat. Ayo jalan sebelum massa menghakimi kita!” perintahnya pada anak buahnya (mungkin) yang duduk di balik stir mobil. Mobil pun melaju.


“Apa maksudmu tamat?” Clara bertanya tidak mengerti. Kemudian ia memegang sandaran jok mobil yang diduduki pria bedebahh di depannya itu dan mendekatkan kepalanya. “Jangan bilang kalau kalian membunuh mereka?” selidik Clara dengan menajamkan mata juga pendengarannya.


“Hhhahha. Bermain-main dengan mereka dengan cara seperti itu lebih asik daripada harus menyeret dan mengurungnya dalam rumah kosong. Itu hanya akan buang-buang waktu. Sekarang aku sudah puas. Dendamku sudah terbalaskan,” ucap pria itu dengan bangga.


“Kau gila. Kau membunuh mereka?” Clara terkejut bukan main. “Aku tidak memintamu untuk membunuh mereka. Aku hanya mau kalian membawa gadis itu padaku! Kalian tidak tahu kalau–”


“Sudahlah! Jangan membuat suasana hatiku yang sedang baik jadi buruk,” potong kepala preman itu dengan cepat.


“Kalian tidak akan bisa hidup dengan tenang! Dion tidak akan tinggal diam karena kalian membunuh istrinya,” ucap Clara lagi setengah berteriak. Dadanya semakin cepat kembang-kempis tidak menyangka hasil rencananya akan menjadi runyam begini. Ada rasa takut menelisik dalam hati. Karena bagaimanapun ia terlibat dalam peristiwa yang telah terjadi.


“Aku rasa gadis itu tidak mati. Dia hanya kesakitan karena perutnya terbentur.”


“Apa?” Clara melotot tidak percaya. “Bodoh! Lalu untuk apa kalian membunuh papanya? Urusanku dengan gadis itu bukan dengan papanya!” Clara nampak murka dengan rahangnya yang mengeras. “Kalau begini kalian melakukan pekerjaan yang sia-sia. Aku akan mendapatkan masalah besar karena kebodohan kalian!” bentaknya berapi-api.


Nasi sudah menjadi bubur. Wanita jahat itu kemudian menjatuhkan punggungnya ke belakang dengan lunglai, memikirkan rencana apa yang bisa menyelamatkan hidupnya. Sudah bisa dipastikan mulai detik ini hidupnya ada di ujung tanduk. Dion pasti akan tahu semua yang terjadi. Dan dengan cepat bisa menemukannya walau ia bersembunyi dengan apik di belahan bumi manapun.





Sebulan berlalu. Hidup tanpa sosok papa. Tanpa kasih sayang papa. Tanpa kehamilan. Tanpa toko bunga. Tanpa senyum dan tawa. Tanpa keceriaan. Tanpa kuliah. Kehidupannya yang dulu sempurna bersama dengan papa, kini telah binasa direnggut oleh takdir.

__ADS_1


Lihatlah dia, gadis malang itu. Tubuhnya dari ujung kaki sampai rambut tampak sangat menyedihkan. Ia bernapas namun seperti tidak bernyawa. Setiap hari hanya terdengar tangis pilu di dalam kamar itu. Tragedi mengerikan itu selalu terbayang-bayang di pelupuk mata.


“Lily.” Dion memanggilnya setelah baru saja membuka pintu. Tidak tahu di mana keberadaannya namun suara isakan terdengar jelas. Carol, Dion, mami dan papi kemudian mendapati Lily sedang duduk meringkuk di kaki tempat tidur menyembunyikan wajah. Tangisannya begitu menyayat hati.


Cairan infus yang beberapa waktu lalu dipasang oleh Carol sudah terlepas dari tangannya. Ya, selama sebulan ini tidak tahu sudah berapa banyak kantong infus yang dihabiskan Lily. Itu karena Lily jarang makan dan minum sehingga Carol harus memasangkan infus untuk menyeimbangkan cairan tubuh.


“Kenapa kamu di sini? Kenapa tidak di tempat tidur?” Dion dengan perasaan hancur mencoba meraih tubuh Lily yang sangat kurus. Sangat jauh berbeda saat dulu ia meninggalkan istrinya itu untuk pergi ke Bali.


Lily mengangkat kepala. Wajahnya penuh dengan linangan air mata, “papa, aku mau ketemu papa.” Selalu permintaan itu yang ia ucapkan tiap kali seseorang mengajaknya bicara. Permintaan yang mampu mengiris hati. Matanya cekung pertanda ia selalu menangis dan kurang tidur. Ia akan tertidur kalau diberi obat tidur.


“Pa-papa sudah bahagia di surga,” lirih Dion. Ia menunduk karena tidak sanggup melihat wajah Lily yang menyedihkan.


“Surga?” Air mata gadis itu berlinang lagi semakin deras. “Kalau begitu aku juga mau ke surga. Aku ingin bertemu papa di sana.” Isakannya kembali terdengar. Lily berdiri dan berjalan sempoyongan menerobos mereka. Matanya mendapati suatu benda di atas meja sofa.


“Lily!” teriak keempat orang itu terkejut. Siapa yang tidak panik gadis itu mengambil pisau buah dan didekatkan ke depan wajahnya.


“Buat apa pisau itu?” Dion mencoba mendekat. Sedangkan mami sudah terisak di tempatnya.


Grabb!


Dion berhasil menangkap tangan Lily sebelum ujung pisau itu mengenai perutnya. Dengan cepat ia merebut pisau itu dan melemparnya jauh. Bukan hal sulit merampas pisau itu dari tangan Lily karena tenaga gadis itu yang sedikit.


“Kenapa kau melarangku? Aku ingin pergi ke surga. Aku mau menemui papa.” Lily berontak dengan sisa tenaga yang ada dan mencoba mengambil pisau itu lagi.


Dion merengkuh tubuh kecil itu dengan erat. Air matanya turut jatuh. Lily terus berontak meski tubuhnya sudah lelah. Mami juga semakin terisak tidak sanggup melihat Lily yang menyedihkan.


“Sebaiknya dia diberi suntik penenang.” Carol mengambil jarum suntik dari tasnya.

__ADS_1


***


Kini Lily sudah tertidur. Infus sudah dipasang kembali di tangan. Mami dan papi sudah keluar. Tinggallah Dion dan Carol menunggui Lily.


Dion menatap pilu wajah istrinya. Tampilannya sama menyedihkannya dengan Lily. Rambut yang tidak terurus, bulu-bulu halus tumbuh tidak teratur di wajah, mata seperti mata panda dan banyak lagi.


“Seandainya aku tidak pergi waktu itu... seandainya aku menuruti permintaannya unt–”


“Sudahlah, Gid.” Tepukan kecil diberikan Carol di pundak pria itu. “Ini sudah jalannya. Memang menyakitkan melihat orang yang kita sayang menderita.” Carol bersimpatik. Dokter duda itu paham betul bagaimana hancurnya perasaan Dion. Sebab ia pun pernah menyaksikan betapa menderitanya istrinya melawan sakit semasa hidup dulu.


Carol yang tadinya akan pulang, niatnya itu ia urungkan. Ia menarik kursi untuk ia duduki dan turut mengamati wajah Lily yang terlelap. Sungguh menyedihkan gadis itu yang kini telah menjadi yatim piatu. Carol menarik napas. Ia melirik sebentar Dion yang tengah menyapu pipi menggunakan telapak tangan. Dion menangis.


Kembali Carol mengambil napas. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting namun sepertinya waktunya tidak pas melihat Dion yang terpuruk. Akhirnya Carol kembali berdiri dan meraih tas kerjanya.


“Kalau sesuatu terjadi segeralah telepon aku. Cia sedang menungguku.” Tidak ada jawaban. Namun Carol yakin pria yang terus melihat intens istrinya itu mendengar apa yang ia ucapkan. Carol menepuk-nepuk kembali pundak Dion sebelum akhirnya ia berlalu dari sana.


Epilog


Dion mendengar suara kegaduhan. Entah itu mimpi atau nyata, tidak tahu. Suara keributan itu semakin ramai di pendengarannya.


“Lepaskan! Aku mau ketemu papa. Aku juga mau ketemu bayiku. Lepaskan! Lepaskan!” Dion yakin itu suara Lily.


“Jangan, Nona! Jangan!” Terdengar lagi sahutan yang tidak kalah kerasnya. Perdebatan itu terus berlanjut sampai membuat telinga Dion berdengung.


Dion membuka matanya yang terasa berat karena suara-suara teriakan itu sungguh mengganggu. Perdebatan itu ia dengar lagi hingga membuatnya terduduk. Ini bukan mimpi karena saat ia sudah membuka mata, suara kegaduhan terus terdengar.


Dion memindai tempat tidur. Tidak ada Lily di sana.

__ADS_1


“Biarkan aku menemui papa dan bayiku!”


Dion terlonjak. Pintu kamar telah terbuka lebar. Dengan kepala yang terasa amat berat, Dion membawa tubuhnya untuk mencari keberadaan Lily.


__ADS_2