Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Jarak Satu Jengkal


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 20.20. Papi melihat mami yang sudah didera rasa kantuk. Pada akhirnya papi mengajak mami untuk istirahat lebih dulu.


“Ariel, kamu tidak ingin tidur sekarang?” tanya Tiara. Ia dan Kharel juga ingin cepat mengistirahatkan tubuh mereka setelah perjalanan panjang.


“Tidak, Mommy. Aku masih ingin berbincang dengan Paman Dion dan Bibi Belle.” Anak itu masih tetap menyandarkan punggungnya, tidak tertarik dengan ajakan Tiara.


“Biarkan saja, Mbak. Nanti kalau Ariel tertidur aku akan menggendongnya ke kamar.”


“Baiklah.” Tiara melihat Dion dan Lily bergantian. “Kalau begitu kami juga masuk ke kamar. Selamat malam.”


“Malam.”


Mereka yang tertinggal saling berdiam diri sesaat. Lalu setelahnya Ariel yang membuka perbincangan lebih dulu.


“Oh iya, Paman. Aku mau bertanya?” ucap Ariel sedikit ragu. Anak itu memicingkan matanya melihat Lily. Seperti ada yang beda dengan wanita yang dilihatnya ini. Dilihat seperti itu, Lily hanya mampu membalas dengan tersenyum.


“Iya, kamu mau tanya apa?” Masih dengan kesukaannya mengacak rambut Ariel. Ariel menggerutu tapi Dion malah tertawa.


Dengan ragu anak kecil itu pun menyuarakan apa yang jadi pertanyaannya, “apakah Bibi Belle ini istri Paman?”


Dion terkesiap begitupun dengan Lily. Mata mereka saling bertemu. “Tentu saja. Memang siapa yang akan jadi istri Paman selain Bibi Lily. Apa kamu lihat ada wanita lain di sini? Dasar kamu ini.” Kali ini Dion menarik hidung Ariel sampai bocah itu meringis.


“Sakit, Paman,” omelnya dengan menepis tangan Dion lalu mengusap hidungnya yang kemerahan. Lily diam, bertanya dalam hati mengapa Ariel bisa menanyakan itu.


“Aku hanya bingung saja, Paman.”


“Apa yang buat kamu bingung? Ayo, katakan!” desak Dion. Ia pun penasaran mengapa keponakannya itu menanyakan hal ini.


“Mm, tapi Paman jawab jujur, ya,” pinta Ariel dengan wajah sungguh-sungguh.


Dion sedikit tergelak dengan wajah serius Ariel. “Memangnya Paman pernah bohong sama kamu?”


Lily pun tidak sabar dengan apa yang ingin dikatakan Ariel. Hatinya seketika berdebar karena tatapan Ariel mengarah kepadanya lagi. Yang ia cerna dari tatapan itu, pertanyaan Ariel pasti mengenai dirinya.


“Begini, Paman.” Menarik napas dalam. “Dulu Paman, kan pernah menunjukkan foto pacar Paman padaku, bahkan juga mengenalkannya padaku.”


“Iya, itu kan dulu. Memangnya kenapa?” Dion belum bisa menebak ke mana arah pembicaraan Ariel. Hati Lily sedikit perih mendengar itu. Namun ia berusaha bersikap biasa saja dengan memainkan ponselnya. Walau tangannya pura-pura sibuk, tapi percayalah dia sudah menyiapkan telinganya sungguh-sungguh untuk mendengarkan kelanjutan ucapan Ariel.

__ADS_1


“Bukankah Paman pernah bilang, kalau pacar Paman yang bernama Clara itu yang akan jadi istri Paman?”


“Ariel, kamu ini bicara apa?” Dion mencoba menghentikan Ariel. Merasa situasi tidak baik lagi apalagi pandangannya bertemu dengan Lily. Gadis itu meradang karena tidak suka mendengar nama Clara.


“Itu dulu yang Paman bilang padaku. Kalau tidak menikah dengan Bibi Clara, maka Paman tidak akan mau menikah dengan siapapun. Tapi ke–”


Dengan cepat Dion membekap mulut Ariel. Tidak menyangka Ariel akan mengungkap hal yang sudah dikuburnya dalam-dalam. Ariel, bocah polos itu sudah menciptakan perang antara dirinya dan Lily. Padahal ia sudah cukup bersusah payah membuat hubungan lebih dekat semenjak kaburnya gadis itu dulu.


Ariel meronta agar dilepaskan. Dion meletakkan jari telunjuk di bibirnya, sebagai isyarat agar Ariel diam.


“Oh, iya, Ariel. Bibi baru ingat kalau Bibi punya tugas sekolah.” Berdiri dan tetap menunjukkan sikap manis. “Kalian lanjut saja berbincangnya. Bibi ke atas dulu, ya. Selamat malam.” Lily pergi.


......


Lily sudah berada di dalam kamar. Ia mengambil tas yang digunakannya ke kampus tadi. Mengeluarkan semua isinya, gunting, koran, dan berbagai jenis kertas warna dan lain sebagainya. Meletakkan semuanya ke atas meja yang ada di kamar itu.


Kakak tingkatan meminta maba membuat rambut palsu dari bahan-bahan itu untuk dipakai besok. Saat papa mengantarnya pulang, terlebih dulu mereka mampir di toko untuk membeli itu semua. Lily mulai mengguntingi kertas-kertas itu dengan tipis.


Pintu dibuka, Lily menoleh. Terkejut karena secepat ini Dion menyusul. Kembali lagi ia mengerjakan tugasnya meski tidak fokus. Sungguh ia ingin sekali lenyap dari pandangan pria itu.


“Apa yang kamu lakukan?”


Diam.


“Kenapa tidak menjawab?”


“Aku sedang menggunting kertas.”


“Buat apa menggunting kertas setipis itu?”


“Kakak tingkatan yang menyuruh,” jawabnya dengan datar tanpa mendongak sedikitpun.


Dion tidak berkata lagi. Pria itu memutari sofa yang diduduki Lily kemudian duduk di sisinya. Tangannya meraih kertas-kertas di atas meja dan mengumpulkannya di tangan lalu beranjak lagi.


“Mau dibawa ke mana kertas itu? Aku harus segera menyelesaikannya.” Berusaha merebut. Namun pria itu terlalu sigap.


“Tunggu saja lima menit. Tetaplah di sini.” Beranjak untuk pergi ke luar kamar.

__ADS_1


“Jangan buang kertas itu! Aku harus membuat rambut palsu.”


“Tunggu saja di sini. Aku akan membantumu biar lebih cepat.” Menutup pintu.


“Apa yang akan dilakukannya dengan kertas-kertas itu?” Bertanya sendiri dengan penuh rasa cemas. Segera Lily beranjak dan ingin menyusul Dion. Namun saat sudah di bibir pintu Dion tidak terlihat lagi. Entah ke mana pria itu membawa kertas-kertasnya.


Beberapa menit kemudian Dion kembali dengan membawa boks yang berisikan serpihan kertas yang sudah terpotong-potong. Ia meletakkannya di meja di mana Lily duduk.


Lily tidak mengeluarkan kata-kata meski ia takjub karena kertas-kertas itu sudah berubah menjadi potongan kecil, berterimakasihpun tidak. Dan bersyukurnya, potongan kertas itu sudah bergelombang. Dion seperti tahu saja apa yang diinginkan Lily. Sebenarnya penasaran bagaimana Dion bisa mengubahnya menjadi begini. Tapi Lily memilih diam.


Diambilnya seutas pita, dibentangkan di atas meja, ditempelkannya double tip pada pita itu dan mulai menempelkan ujung-ujung potongan kertas. Dion mengamati dengan seksama.


“Bisa kubantu?”


“Tidak usah.”


Meski dilarang tangan Dion bergerak mengikuti yang dilakukan Lily. Tahu istri kecilnya ini sedang ngambek. Gadis itu tidak berontak.


Dan akhirnya potongan-potongan kertas itu tertempel semua. Tinggal mengikat ujung pita itu pada sebuah topi bucket. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerjakan itu sampai rambut palsu sudah benar-benar jadi. Lebih tepatnya Lily membuat rumbai di topi.


“Mau ke mana?” Dion menarik tangan Lily. Pria itu tahu kalau istrinya akan menghindarinya lagi.


“Mau ke–, aaa!”


Terlambat. Sebelum Lily menuntaskan ucapannya, Dion menarik pinggang Lily dan mendudukkan di pangkuannya.


Saat Lily melihat orang yang sudah lancang menarik tubuhnya, gadis itu merona. Wajah mereka sedekat ini, hanya berjarak satu jengkal. Mereka bahkan bisa merasakan udara yang mereka hirup terasa hangat. Bisa dibilang mereka saling bertukar napas. Tatapan Dion saat ini terlihat teduh dan mendalam, mampu mendamaikan hati gadis itu. Untuk beberapa saat Lily terhanyut.


Lily tersadar lalu memalingkan wajah. Hendak beranjak namun Dion menahan dengan mengunci tubuh Lily menggunakan kedua tangannya.


“Lepas, Mas.”


“Tidak.”


Lily berusaha keluar dari situasi ini. Tapi apa daya, tenaga gadis itu hanya seujung kuku bagi Dion.


Dan akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba... semoga kalian tidak lupa meninggalkan jejak like. Apalagi kalau kalian mau memberi vote, alangkah senangnya hatiku ^.^

__ADS_1


__ADS_2