
Mulai dari bab ini klimaks dimulai ya, man-teman.
.
.
.
Keesokan hari
“Apa benar kamu hamil?”
Dion sedang melakukan panggilan video dengan Lily. Pertanyaan pertama Dion saat video call itu sudah terhubung. Lily mengangguk pelan dengan bibir ia lipat ke dalam. Ternyata kehamilannya sudah sampai ke telinga Dion. Kemarin mereka tidak melakukan panggilan karena Dion yang sibuk. Ya, begitulah.
Melihat anggukan Lily, Dion tersenyum. Bukan tersenyum, tetapi tertawa karena ia menarik kedua sudut bibirnya sampai menampakkan deretan gigi. Lily bisa mendengar Dion mengucap syukur karena kehamilannya.
Ternyata bukan hanya mami dan papi saja yang bahagia dengan kehamilannya. Dion, suaminya juga bahagia bahkan sangat terlihat bahagia karena pria itu terus saja mengungkap rasa syukurnya dan tertawa lebar.
“Nanti siang aku akan pulang. Sekitar jam 3 mungkin akan tiba di rumah. Kamu tidak ke kampus?” Dion bertanya lagi. Senyum di bibirnya belum juga surut.
“Mata kuliah pertama pukul 10.00. Nanti berangkatnya jam sembilanan,” jawab Lily lesu. Entahlah, ia merasa kurang bersemangat hari ini. Mungkin itu karena hormon kehamilannya. Begitu yang dijabarkan dokter kandungan kemarin saat ia melakukan ultrasonografi. Mood ibu hamil suka berubah-ubah tanpa melihat waktu.
“Kalau kamu tidak enak badan atau tidak ingin ke kampus lebih baik cuti saja,” saran Dion yang melihat Lily tidak bersemangat.
“Nggak, Mas. Kemarin aku udah nggak masuk. Entar aku di D.O.” Tiba-tiba Lily menolak dengan bersemangat membuat Dion di sana terhenyak untuk sesaat.
“Kalau begitu teleponnya kututup dulu. Fasa sudah menunggu. Kamu hati-hati ke kampus. Biarkan supir yang mengantarmu. Jangan naik motor!” Sederet titah Dion membuat Lily memutar bola mata dengan malas.
***
Lily tengah berdiri di atas trotoar menunggu kendaraan umum. Seharusnya hari ini ia mendapatkan dua mata kuliah. Namun karena dosen-dosen mengadakan rapat mendadak, para mahasiswa diminta pulang saja.
Menelepon supir atau mami rasanya sungguh kekanak-kanakan. Ia bukan anak SD lagi yang mesti diantar-jemput. Sekali-sekali tidak patuh tidak apa-apa lah, pikirnya.
“Suamimu tidak menjemput?”
Tepukan di bahu dan suara mengagetkan itu membuat Lily terjingkat. Ia sedang melamun menimang antara menelepon orang rumah atau langsung pulang saja.
“Kak Unni! Kakak mengagetkanku, tahu!”
Orang yang diprotes acuh saja sambil tangannya bergerak menghentikan angkot yang bergerak semakin dekat. “Kau mau ikut atau tidak?” Dengan mulut masih mengomel Lily mengikuti Uni masuk ke dalam angkot itu.
Tanpa mereka sadari ada dua mobil yang mengikuti.
***
“Aku langsung saja ke kafe.” Tanpa menunggu Lily menjawab, gadis tomboy itu berlalu begitu saja. Mereka baru saja turun dari angkot yang berhenti di depan toko bunga. Lily melengos melihat sikap dan sifat Uni yng masih saja dingin.
“Selamat siang, Bu Sinta,” sapa Lily pada Bu Sinta yang baru keluar dari balik pintu dengan membawa tanaman hias gantung. Toko bunga sedang sepi pembeli sepertinya. Sebab tidak ada orang lain di sana.
__ADS_1
“Eh, Dek Ayu. Tumben sekali jam segini sudah datang?” Wanita berkulit sawo matang itu berhenti sesaat untuk menyapa Lily.
“Iya. Dosennya pada rapat jadi disuruh pulang saja.”
“Oh.” Kemudian Bu Sinta melanjutkan pekerjaannya memasukkan benda hidup itu ke dalam mobil. Terlihat lagi Pak Seto membawa pohon hias yang lumayan besar dan sepertinya berat. Dengan sigap Lily dan Bu Sinta membantu membawakannya ke dalam mobil.
“Pesanan ini mau diantar sekarang, ya?” Lily melihat mobil pick up itu hampir terisi penuh.
“Iya. Yang pesan maunya diantar sekarang.” Pak Seto yang menjawab setelah selesai mengengsel pintu belakang mobil. “Kalau begitu saya pergi dulu.”
“Lebih baik Pak Seto ditemani sama Ibu. Itu barangnya banyak. Biar Lily yang menjaga toko.” Lily tidak tega tubuh renta Pak Seto mengangkat pesanan yang cukup banyak itu sendirian.
Bu Sinta nampak berpikir sebelum kemudian mengiyakannya. “Kalau begitu kami pergi dulu, Dek Ayu. Oh, iya, di kebun belakang ada Mbak Gendis, istrinya Mas Adnan.”
Lily melotot. Apa? Istri?
Setelah Pak Seto dan Bu Sinta pergi, mulut Lily komat-kamit. Ingin rasanya ia berlari ke kafe untuk meneror Adnan yang tidak memberitahunya tentang pernikahan itu. Apa laki-laki itu ingin balas dendam tidak mau memberitahu pernikahannya. Namun siapa yang akan menjaga toko kalau ia pergi ke sana?
“Kapan Mas Adnan menikah?” gumamnya. Lebih baik ia bertanya pada wanita yang ada di belakang yang kata Bu Sinta adalah istri pria pendendam itu. Saat kakinya ingin melangkah ke belakang, Papa memanggilnya.
“Tumben sekali kamu tidak langsung ke kafe? Biasanya kamu harus makan dulu.”
“Pa, apa benar Mas Adnan udah nikah?” Malah balik bertanya. Tatapannya sungguh mengintimidasi.
Papa menarik napas, “iya, sudah.”
“Ih, kenapa Papa sama Mas Adnan nggak kasih tahu Lily? Aku akan menghajar Mas Adnan karena udah menyembunyikan pernikahannya dari aku.”Gadis itu geram lalu melepas tasnya dan melemparnya ke kursi rotan. Ia akan menghabisi Adnan saat ini juga.
“Tentu saja mau memarahi Mas Adnan, Pa,” ujarnya dengan emosi.
Papa geleng-geleng kepala. Kemudian tangan beliau bergerak mengisyaratkan supaya Lily mendekat. “Kamu tidak mau memberitahu Papa sesuatu?”
Lily terdiam. Emosinya belum turun. Sesaat ia memutar otaknya memikirkan sesuatu yang memang harus ia sampaikan pada papa.
“Tentang sesuatu yang terjadi kemarin. Bukannya kemarin kamu bikin gempar seisi rumah Dion?”
“Ah, iya. Iya, Pa, Papa sebentar lagi akan punya cucu,” jawabnya malu-malu. Setelah mengatakan demikian papa memeluk Lily dengan cinta kasih. Tanpa terasa beliau menitikkan air mata.
“Terima kasih, Nak. Semoga kamu bahagia terus dan panjang umur.”
“Wah, wah, wah. Nampaknya ada yang lagi berpelukan di sini. Ya, kalian memang harus berpelukan sebelum berpisah. Hahaha ....”
Lily dan papa terkejut mendengar suara tawa yang tidak enak didengar itu. Saat melihat orang itu, tubuh Lily bergetar. Tubuh-tubuh besar berbaris masuk ke dalam toko. Seseorang dari luar menutup pintu itu saat keempat orang itu masuk.
Lily ingat. Orang-orang itu yang dulu membuatnya berlari ketakutan. Orang-orang itu dulu yang hampir melecehkannya. “Pa ... Pa.” Tubuhnya tambah bergetar. Pun dengan suaranya. Orang-orang bertubuh besar itu menyeringai dan berjalan mendekati mereka. Membuat Lily bersembunyi di belakang papa.
“Papa ....!” teriak Lily saat salah satu dari preman itu berhasil menarik tangannya.
“Lepaskan putriku!”
__ADS_1
Orang-orang yang tidak tahu malu itu justru tertawa menyeringai. Sungguh tawanya tidak enak dilihat maupun didengar.
“Lepaskan putriku dan pergi dari sini!” Papa berusaha menepis tangan preman yang terus mencekal tangan Lily, namun sia-sia.
“Tidak akan! Kalian harus membayar mahal karena sudah berani memenjarakan kami!”
Papa berusaha semaksimal mungkin untuk melepaskan Lily dari cengkeraman manusia iblis itu. Namun yang terjadi ....
Buggghh
Salah satu dari mereka meninju perut papa membuat beliau terhuyung ke belakang.
“Papa....!” Isakan Lily semakin menjadi-jadi. Preman siallan itu belum melepaskan tangannya dari Lily meski gadis itu sudah meronta-ronta sekuat tenaga. “Lepaskan tanganku!”
Gelak tawa tercipta lagi. Seseorang atau lebih dari satu orang di luar menutupi pagar kawat dengan kain atau apapun itu. Maksudnya mungkin biar orang lain tidak bisa melihat ke dalam.
Saat papa hendak meraih tubuh Lily lagi, pukulan mendarat di wajahnya. Perkelahian pun tidak dapat dihindari.
Tiga lawan satu. Tentu papa tidak akan mampu melumpuhkan ketiga bajingann berbadan besar itu sekaligus meski beliau cukup mampu dalam bela diri. Baku hantam terus terjadi hingga pada akhirnya papa yang tumbang. Wajahnya terluka berdarah-darah. Sampai mata pun bengkak akibat terkena pukulan. Lily terus menjerit-jerit memanggil papanya. Preman yang satu lagi terus menahan Lily dalam genggaman tangannya.
“Lepaskan putriku!” pinta papa lemah dengan berusaha bangkit berdiri. Orang-orang tidak waras itu kembali tertawa membahana.
Pintu terbuka. Seseorang mendongakkan kepala dan berkata, “cepat bereskan! Orang-orang mulai curiga.” Setelahnya orang itu menutup pintu kembali.
Mendengar itu Lily langsung berteriak, “tolong...! Tolong....!”
Keempat manusia berwujud iblis itu panik. Suara riuh di luar mulai terdengar. Lily terus berteriak minta tolong.
Papa sudah berhasil berdiri sambil memegangi perutnya yang terasa kram. Beliau mendekat pada orang yang terus saja mencengkram pergelangan tangan Lily.
“Lepaskan putriku!”
“Baik.”
Orang itu melempar kuat tubuh Lily yang mungil hingga membuatnya berputar-putar. Dan....
“Aaarrrrgggg!” pekik Lily seketika. Perutnya membentur siku kursi rotan di mana ia melemparkan tasnya tadi. “Perutku... sa-kit. Aaarrgghhh.” Ia memegangi perutnya dan terus merintih. Wajahnya memucat. Keringat mengucur dari tubuhnya. Ia pun jatuh ke lantai tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia merasakan sakit di perut teramat sangat.
“Kau...!” Papa mengepalkan tangan bersiap menghajar orang itu. Tidak terima putrinya disakiti sampai begitu.
Terlambat. Manusia biadaab itu terlebih dulu menancapkan senjata tajam tepat di perut papa. Hingga akhirnya papa merosot memegangi perutnya yang mulai mengucurkan darah dengan deras.
“Papa!” Gadis malang itu berteriak sekuat mungkin dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia merayap mendekati papa dengan satu tangan dan tangan lainnya memegangi perut yang masih terasa sakit luar biasa. Air mata dan keringat menyatu membasahi seluruh wajahnya yang sangat ketakutan.
“Dulu kau menampar dan memukuliku bahkan sampai memenjarakanku. Sekarang dapatkan balasanmu. Hahhhahhaa....”
.
.
__ADS_1
.
Lily😭😭😭😭😭