
Dion mengangkat kepala Lily yang menindihi lengannya dan memindahkannya ke atas bantal yang baru saja ia raih. Gadis itu menggeliat tetapi tidak sampai membuka matanya. Lily tertidur setelah beberapa saat yang lalu urusan mereka selesai. Dion menarik ujung bibirnya karena melihat banyaknya tanda merah yang menghiasi tubuh Lily. Kemudian ia membenarkan selimut ke tubuh istrinya itu, mencium kening Lily sesaat lalu mengenakan pakaian.
Dion baru tersadar kalau hari sudah malam. Itu terlihat dari jendela kaca bening yang menampakkan langit yang sudah gelap. Padahal rencananya ia ingin mengajak Lily melihat matahari terbenam di pantai pasir putih. Kalau besok tidak mungkin karena besok sore mereka sudah harus pulang.
Ponselnya bunyi pertanda ada pesan WA masuk. Ia yang masih bertelanjang dada dengan cepat memakai kaosnya lalu meraih benda itu dan membaca pesan. Pesan itu dari Ariel melalui ponsel daddy-nya.
Ariel mengirimkan kata-kata penuh kekecewaannya di sana. Kecewa karena ia dan Lily tidak mengajaknya atau paling tidak berpamitan terlebih dulu padanya. Bocah kecil itu bahkan mengancam tidak akan mau lagi bertemu dengan mereka.
Dion membayangkan Ariel saat ini sedang marah dan cemberut. Kalau sedang begitu, Ariel biasanya akan melipat tangannya dan menatap lurus ke depan. Sangat sulit untuk dibujuk. Dion tersenyum geli membayangkannya.
Hendak membalas, Ariel sudah melakukan panggilan video. Dion memilih keluar untuk menjawab panggilan itu agar tidak mengganggu tidur Lily.
Dion menyapa seraya melambaikan tangan. Seperti dugaannya Ariel cemberut dan tidak membalas sapaannya. Bocah itu malah memalingkan muka tidak mau bertatapan dengan pamannya.
“Ariel ....”
Bocah yang diajak bicara itu masih tidak mau melihat Dion.
“Paman minta maaf karena tidak berpamitan padamu. Paman dan bibi pergi mendadak tanpa ada perencanaan. Itu sebabnya Paman tidak sempat berpamitan.” Tidak berhasil, bocah itu masih setia melihat arah yang lain.
“Nanti lain waktu kita jalan-jalan bareng.”
Hanya dengusan kesal keluar dari mulut Ariel. Anak kecil itu sungguh kecewa dengan paman dan bibinya.
Dion mencari ide untuk membujuk keponakannya itu. Ia mendapatkannya. “Bukankah Ariel pernah bilang kalau Ariel ingin adik? Nah sekarang Paman dan Bibi sedang berusaha mewujudkan permintaan Ariel itu.”
Ariel menengok dan mulai tertarik dengan topik pembicaraan. “Benarkah? Paman tidak bohong?”
“Iya, benar. Paman tidak bohong.” Wajah Ariel yang berubah menjadi ceria, membuat Dion menyambutnya dengan senang.
“Kalau gitu Ariel juga mau bicara dengan Bibi Belle. Tolong Paman berikan ponselnya pada bibi.”
“Ehm, kalau sekarang tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa?” Ariel berubah keki lagi.
“Jadi begini,” Dion memikirkan kata yang tepat supaya Ariel tidak kesal lagi padanya. Lily sedang tidur karena kecapekan akibat ulahnya. Mana mungkin ia tega membangunkan Lily apalagi penampilannya yang berantakan dan tanpa baju. “Bibi sekarang lagi tidur. Bibi butuh banyak tenaga untuk menyambut adik bayi di perut bibi. Jadi untuk saat ini bibi jangan diganggu dulu.”
__ADS_1
Ariel diam. Ia mengulangi dan mencerna setiap kata yang diujarkan pamannya di dalam hati. Kalau hanya sekedar berbicara saja tidak begitu memerlukan banyak tenaga, pikirnya.
“Hanya sebentar saja, Paman, please.” Anak kecil itu memelas.
Dion mendesah pelan. “Gimana kalau besok saja. Bibimu baru saja tidur. Tadi bibimu sangat kelelahan karena berlari-lari di pantai. Kasihan dia kalau dibanguni.”
Gantian Ariel yang mendesah panjang. “Baiklah. Besok pagi bibi harus segera menghubungiku. Kalau tidak, aku akan benar-benar marah pada Paman dan Bibi.”
Dion bernapas lega. “Iya, Paman janji.”
**
Dion turun menapaki anak tangga satu per satu. Angin malam mulai berhembus kencang hingga mengibarkan kain gorden warna putih yang menutupi pintu dan jendela kaca villa itu. Saat sudah di anak tangga terakhir, ia melihat pintu yang terbuka lebar. Pantas saja terasa dingin, pintunya terbuka, pikirnya.
Dion melihat Fasa di luar sedang duduk meringkuk memeluk kedua kakinya. Ia baru sadar dan teringat kalau ia sendiri yang meminta asistennya itu menunggunya di sana.
Melihat Dion mendekatinya, Fasa bangkit berdiri dengan bibir yang bergetar dan mulai memucat.
“P, Pak.”
“Ayo, masuklah!”
“Kenapa kau tidak masuk?” tanya Dion saat tubuhnya sudah mendarat di sofa ruang utama villa itu. Tangannya bergerak mengambil remot tv lalu menghidupkannya.
“Saya hanya menuruti perintah Bapak yang meminta saya menunggu di luar.”
Dion merasa bersalah. Ia sendiri tidak mengira kalau dirinya akan selama itu berada di kamar. Tadinya ia hanya ingin memperingati Lily agar gadis itu bisa menjaga tangannya untuk tidak menyentuh pria lain, walaupun itu Fasa. Tapi ia sungguh tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya itu.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa, Pak.” Meski atasan salah, bawahan tidak memiliki wewenang untuk marah kalau tidak mau dipecat.
“Makan atau minumlah sesuatu yang bisa menghangatkan dirimu.”
“Bapak menginginkan sesuatu?”
“Teh saja.”
__ADS_1
Fasa mengangguk dan berlalu pergi.
*
“Aku tidak suka ada orang lain apalagi laki-laki menyentuh istriku,” ucap Dion setelah menyesap teh jahenya. Tatapan tidak suka terlihat jelas di kedua bola mata laki-laki itu.
“Maaf, Pak. Kedepannya saya akan hati-hati.”
Saya tahu itu. Anda tidak suka kalau wanita terdekat anda disentuh laki-laki. Saat dulu anda bersama Clara juga mengatakan itu. Eh sebentar ....
Fasa mengangkat dagu dan mengamati wajah yang setiap hari selalu dilihatnya itu dengan seksama. Ia ingin menemui jawaban yang jujur di sana.
Apakah anda mencintai istri anda?
“Kuharap kau mengingatnya dengan baik. Jangan sampai terulang lagi!” Dion memberi penegasan. Tadinya Dion ingin memarahi Fasa habis-habisan karena bersentuhan dengan Lily. Namun ia urungkan mengingat kepatuhan asistennya itu yang menunggu sampai kedinginan.
“Saya akan mengingatnya, Pak.”
Sepertinya iya. Anda mencintai Nona Lily.
Dion beralih topik. “Di mana rumah Bapak I Nengah Natya?” I Nengah Natya adalah rekan bisnis perusahaannya yang baru. Mereka akan melakukan kerja sama di bidang properti yang tempo hari pernah disinggung oleh papi.
“Rumah beliau di Nusa Dua, Pak.”
“Besok kita ke sana.”
“Tapi waktu ini untuk bulan madu Anda, Pak.” Bisa habis Fasa oleh mami kalau Dion menggunakan waktu bulan madu ini untuk bekerja. Ia harus melapor apa-apa saja kegiatan sepasang suami istri itu pada Nyonya Besarnya.
“Tidak usah takut pada ancaman mami. Kita hanya aka–”
Percakapan mereka diganggu oleh teriakan dari atas. Terdengar Lily berteriak ketakutan.
Dion berdiri begitupun Fasa. Teriakan Lily yang berulang-ulang memaksa Dion mengambil langkah seribu diikuti Fasa di belakang.
“Kau mau ke mana?” hardik Dion pada Fasa dengan melotot. Mereka sudah sampai di depan kamar.
“Maaf, Pak.”
__ADS_1
“Kau di bawah saja! Dia sedang tidak pakai baju.” Dion yakin Lily terbangun dari tidurnya karena terganggu oleh sesuatu, seperti kecoa misalnya. Tapi masa ada kecoa di villa bintang lima. Kalau benar ada, ia akan protes pada pemilik villa.
“Baik, Pak.” Fasa tidak percaya Dion mengatakan itu padanya. Dion yang berkata begitu tapi dia yang malu.