Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Tugas Penting


__ADS_3

Dion tampak tak acuh. “Aku rasa aku tidak perlu tahu itu,” katanya dengan tidak senang karena pembahasan melenceng dari jalur.


“Aku hanya memberitahu aja. Orang yang nggak waras itu tadi bilang gitu. Dia pernah pacaran. Dan pacarnya itu katanya mirip dengan kamu, Mas,” celetuk Lily. Lily jadi membayangkan bagaimana Clara dan Dion berpacaran. Dan bayangan itu berubah menjadi ingatan saat Clara memeluk dan mencium Dion dengan tiba-tiba. Membuat dadanya seperti dicubit.


Kening Dion berkerut penuh tanda tanya, “bagaimana kau tahu orangnya mirip denganku? Kau mengenalnya?” tanya Dion dengan sedikit terpancing akan pernyataan itu.


Lily buang muka agar mata mereka tidak bersirobok dan akan ketahuan sedang membuat-buat alasan. “Em, itu, tadi dia sambil menyerangku mengatakan ciri-ciri yang sama kayak Mas Dion. Matanya, hidungnya, rambutnya, mu ....”


“Sudah, sudah.” Ini kok malah bahas yang tidak penting. Kembali memperhatikan leher Lily, “kau mendengarkan apa yang dia bilang. Dan kau membiarkan orang itu menyakitimu. Tapi kenapa kau membiarkannya pergi begitu saja?” Dion mendengus kesal bercampur marah. Andai Dion bertemu dengan orang stres itu, akan ia patahkan tangannya saat ini juga.


“Udah lah, Mas, biar aja,” ujar Lily. Ia tidak mau kejadian ini berujung panjang dan menambah masalah baru, seperti dengan preman-preman pengganggunya dulu. Eh, mengingat preman-preman itu, apa kabar mereka sekarang? Apa masih mendekap di balik jeruji besi?


“Semuanya udah terjadi. Aku juga nggak apa-apa. Kalau orang itu macam-macam lagi dan menyakitiku, aku akan membuat matanya tidak bisa melihat lagi. Aku akan menyiapkan senjata yang ampuh,” seloroh Lily disertai seringai.


“Kau jangan macam-macam, ya! Kau ini seorang mahasiswi bukan kriminal.”


“Mas Dion nggak usah khawatir. Senjataku bukan benda tajam yang bisa mematahkan tulang atau membuat berdarah. Disentuh pun nggak akan membuat luka,” kelakar gadis itu lagi penuh santai. Kemudian ia membuka botol minuman kemasan yang dibeli Uni tadi dan menenggaknya. Tenggorokannya benar-benar kering setelah berdebat dengan Clara, ditambah lagi cuaca yang terik. “Mau?” tawar Lily pada Dion karena pria itu melihatinya minum tanpa berkedip.


Dion menggeleng. Bukan ia tergiur akan minuman Lily. Ia hanya tidak habis pikir gadis itu bisa menghabiskan separuh air kemasan hanya tiga kali tegukan.


Lagi-lagi Dion menarik napas. Mengabaikan kelakar Lily tentang senjata yang tidak dimengertinya.


Dion menyibakkan rambut yang menutupi leher Lily. Lily tidak menolak. “Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk memeriksa apa ada luka dalam.” Kini Dion mengelus-elus leher itu.


“Nggak usah, Mas. Aku nggak merasa sakit, kok.”


Kembali Dion menarik napas. Tak lama kemudian ia menarik tubuh Lily dan membenamkannya dalam pelukannya. “Kalau kau dalam bahaya, seharusnya kau meneleponku atau siapa saja atau berteriak. Jangan malah pasrah dan membiarkan dirimu disakiti.” Dion memperdalam pelukan. Ternyata ini kecemasan yang ia rasakan semenjak tadi.

__ADS_1


Pria itu sudah mengabari Lily melalui pesan singkat maupun mencoba menelepon agar segera pulang dengan menggunakan kendaraan umum. Namun tidak ada balasan atau jawaban membuat pria itu cemas dan memutuskan untuk datang ke kampus setelah urusannya selesai.


“Udahlah, Mas, nggak usah dibahas lagi. Toh semuanya udah terjadi, aku juga nggak apa-apa. Lain kali aku akan waspada.”


Dion menghembuskan napas beratnya. Bagaimana kalau papa mengetahui kejadian ini? Akankah beliau akan murka atau akan melayangkan pukulan-pukulan di tubuhnya karena tidak bisa bertanggung jawab atas Lily? Kembali Dion menghembuskan napas mengusir segala kemungkinan buruk yang akan diperbuat papa. Dion kemudian menghujani banyak ciuman pada kepala gadis itu.


•••••


Menyambut makan malam. Lily sudah mandi dan nampak segar. Setelah dari klinik, ia tidak singgah ke toko bunga seperti biasa. Ya, Dion memaksa Lily memeriksakan diri ke sebuah klinik yang mereka temui di jalan. Walau Lily mengatakan tidak ada rasa sakit yang berarti pada tubuhnya, namun Dion ingin memastikan langsung dari dokter.


Lily mengenakan kaos bermodel turtleneck untuk menutupi leher. Selain papa, ia juga tidak ingin membuat mertuanya khawatir.


“Sudah siap, Mas?” Lily bertanya akan kesiapan suaminya untuk turun ke bawah. Dion baru saja keluar dari ruang pakaian, rambutnya yang masih lembab terlihat sudah disisir rapi. Itu sukses membuat Lily terkesima untuk beberapa saat. Pria itu setelah mengantarkan Lily tadi siang, ia kembali lagi ke kantor dan pulang setelah senja.


Lily menepati janji bulan lalu yang katanya akan mempersiapkan segala keperluan Dion selayaknya istri pada umumnya, termasuk menyiapkan pakaian Dion.


“Kau belum memberikan ciuman selamat siang.”


Lily mendelik, ia pikir ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan laki-laki tampan di depannya ini. Tidak ingin mendebat permintaan Dion, Lily memilih diam dan melakukan apa yang diminta suaminya itu.


“Nggak nyampe, Mas. Bisa nunduk sedikit?” Lily yang tingginya sebahu Dion tentu sulit untuk menjangkau pipi lelaki itu.


“Kenapa kau bisa tidak tumbuh dengan subur padahal kau selalu makan banyak.” Meski menggerutu Dion membungkukkan badannya.


Lily berdecak. “Bukan aku yang nggak tumbuh, Mas Dion aja yang tingginya kayak tiang listrik,” protesnya dengan kesal lalu memberikan kecupan malas.


***

__ADS_1


Setelah mengenyangkan perut dan berbincang sebentar, Lily pamit untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia meninggalkan Dion dan papi sedang membicarakan pekerjaan dan mami sibuk dengan ponselnya. Samar-samar saat menaiki tangga, Lily masih bisa mendengar mami dengan girang menyebut nama Ariel. Rupanya mami melakukan panggilan video dengan bocah itu. Setelah kepulangan mereka dari berbulan madu beberapa minggu lalu, keesokannya Ariel beserta orangtuanya langsung terbang ke negara asal daddy-nya.


Hampir tiga jam lamanya Lily berkutat dengan laptop dan buku-buku untuk menyelesaikan tugas makalah-nya yang akan dikumpulkan besok. Lily menarik kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot yang terasa kaku, diikuti dengan kepalanya yang dimiringkan ke kanan dan ke kiri.


“Akhirnya selesai juga,” ujarnya dengan tersenyum puas.


Saat yang bersamaan, Dion datang. Seperti tahu saja istri kecilnya itu sudah selesai dengan satu tugas berat dari dosen. “Kau belum tidur?” tanyanya setelah menutup pintu lebih dulu dan menemui Lily yang sedang menyandarkan punggung di sofa.


Lily menoleh sekilas lalu meraih laptop yang ia letakkan di meja. “Belum, Mas. Tugasku baru saja selesai.” Lily berdiri dan menghadap Dion. “Mas, aku pinjam printer, ya. Aku mau mencetak tugas makalah ini.”


“Makalah tentang bakteri dan virus itu?!” Beberapa kali Lily pernah menanyai Dion tentang kedua mikroorganisme berukuran kecil itu. Dari situ Dion tahu Lily punya tugas membuat makalah.


Lily mengangguk, “iya, besok akan dikumpulkan.” Kemudian Lily melewati Dion hendak pergi ke ruang kerja suaminya itu.


“Nanti saja.” Dion merebut laptop dari tangan Lily. “Masih ada tugas penting yang harus kita selesaikan.” Laki-laki itu menaruh laptop Lily ke atas meja tadi.


“Tugas apa, Mas?” Lily bingung. Tugas penting apa yang harus mereka selesaikan.


Tatapan mata Dion yang datar berubah jadi mendalam dan penuh maksud. Dion lalu mendekati Lily membuat gadis itu melangkah mundur dan menatap awas. Karena biasanya Dion hanya menunjukkan tatapan dan wajah seperti itu padanya bila mereka sedang berdua dan ada di ruang privasi begini.


Dion sudah mendapat pinggang ramping Lily dan menguncinya dengan kedua tangannya yang kekar. “Mewujudkan keinginan Ariel. Anak itu mengancam kalau sampai awal bulan depan tidak mendengar kabar akan ada bayi, dia tidak mau sekolah.”


Lily terperanjat dan tidak mampu berkata-kata lagi saat tangan dan bibir Dion yang mulai merayap di kulitnya, yang mampu membuatnya terbang melayang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2