Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Seperti Kucing


__ADS_3

“Kamu yakin mau ngampus hari ini?” Pertanyaan Dion menyadarkan Lily dari lamunannya. Sebelum memutar kontak mobil, ia bertanya lagi untuk memastikan. Kondisi leher yang nampak masih merah dan cara jalan Lily yang terlihat aneh membuat Dion tidak yakin.


Melihat sekilas kemudian tertunduk lagi. “Iya, aku yakin.” Memainkan resleting tas yang ia pangku.


Bahaya kalau aku tinggal di rumah. Mami pasti akan mencercaku dengan banyak pertanyaan. Memalukan sekali.


Terdengar tarikan napas dan hembusan Dion yang panjang. “Baiklah. Kalau nanti kamu merasa tidak enak badan, izin saja.”


Mengangguk, “iya.”


Kemudian Dion menyalakan mesin lalu menjalankan mobil. Saat ia menyandarkan punggungnya, saat itu pula ia sedikit meringis menahan perih.


“Kenapa, Mas?”


“Tidak papa.” Dion menarik punggungnya ke depan agar tidak bergesekan dengan sandaran jok.


Sepanjang jalan Lily memperhatikan. Dion mengemudi dengan duduk tegap tanpa mau menyandarkan tubuhnya. Tidak lelah apa duduk begitu, pikirnya.


“Mas baik-baik aja, 'kan?” Lily memastikan. Karena kalau dilihat dari gestur tubuhnya, Dion terlihat tegang dan tidak nyaman dengan duduknya.


“Iya.”


“Tapi kayaknya nggak,” sanggah Lily.


Dion diam saja dan terus fokus memimpin kemudinya. Memang dia merasa tidak nyaman dengan tubuh bagian belakang yang terasa perih, namun itu bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan.


Dion menepikan mobil lalu mematikan mesin. “Sudah sampai,” ucapnya setelah menoleh ke samping. Lily yang tengah menatapnya bergeming. “Kamu tidak mau turun?”


“Apa benar, Mas, aku mencakar Mas?” Balik bertanya.


“Memangnya kamu kucing yang main cakar. Sudah sana, nanti kamu dihukum dosen karena telat.”


Meski ragu untuk turun, Lily memang harus bergegas karena sebentar lagi mata kuliah pertama mulai. Sebelum Lily menginjakkan kaki di tanah, ia berbicara lagi, “oh iya, Mas, nanti nggak usah jemput karena sepulang ngampus aku mau ke toko buku.”


“Aku jemput, nanti aku antar kamu ke toko buku.”


“Nggak usah, Mas, toko bukunya dekat dari sini. Aku bisa sendiri kok. Pagi ini aja aku udah buat pekerjaan Mas terlantar.” Sedih gadis itu.


“Tidak. Aku akan menjemputmu nanti.”


“Nggak usah, Mas. Mas Dion jemput aku di toko bunga aja sepulang dari kantor. Setelah beli buku aku akan ke toko bunga.” Memberi tawaran.


Tidak ingin perdebatan berbuntut panjang, Dion mengiyakan, “baiklah,” ucapnya setelah terlebih dulu menghembuskan napas. “Kamu harus hati-hati. Jangan sampai kejadian dulu terulang lagi. Jangan pergi ke tempat yang sepi.”

__ADS_1


“Iya.”


“Kalau ada orang yang tidak dikenal jangan diladeni.”


“Iya, iya.”


“Kalau ada gerak-gerik orang mencurigakan segera berlari minta tolong atau kamu langsung telepon aku.”


“Iya, Bos. Kenapa sekarang jadi sangat cerewet.”


Dion tidak mengindahkan. “Pokoknya ka–”


Lily akan benar-benar dihukum dosen kalau ia masih tetap di sana mendengar nasehat Dion. Segera ia memotong mulut kereta api Dion dengan mencium pipi.


Lily keluar dan melambaikan tangan, “dah, Mas. Hati-hati di jalan.” Lalu melenggak pergi.


Sementara Dion tidak henti memandangi punggung istrinya sampai tak terlihat lagi. Seulas senyum menghiasi sudut bibir. Hatinya yang selama ini beku perlahan mulai mencair dengan sikap dan perlakuan Lily yang apa adanya.


Teringat lagi akan pertemuan mereka yang pertama, tatkala Dion masa bodo dengan kehadiran Lily di samping mobil waktu itu. Sampai ia menjumpai Lily dikejar orang jahat saking fokusnya gadis itu memikirkan cara membatalkan perjodohan.


Ah, awalnya gadis itu memang menyebalkan. Tetapi semakin ke sini semakin tampak nyata sifatnya yang lucu dan menggemaskan. Dan yang lebih menggelitik perut Dion adalah saat Lily katanya mau bayar hutang. Hutang apa coba? Biasanya wanita akan sangat senang dibelanjai, tapi gadis itu menganggap sepotong rok kotak-kotak yang dibelinya adalah hutang. Dion malah sumringah mengingat hari itu.


Dion menggoyangkan kepala. Astaga, apa yang aku pikirkan. Dion memastikan tidak ada yang melihatnya. Kalau ada yang lihat bisa gawat.


Tanpa sadar ia menyandarkan punggungnya dan meringis lagi karena merasa perih. “Ahhh, ini benar-benar mengganggu.” Tetapi kemudian menyunggingkan senyum lagi, “tapi dia benar-benar seperti kucing.”


Lily sudah sampai di toko buku. Toko buku yang dijajakinya memang benar dekat dengan kampus. Sudah ada banyak pengunjung di sana. Toko buku itu memang terkenal lengkap dan harganya katanya bersahabat.


Lily melangkahkan kaki menuju rak buku kedokteran, tentu saja. Buku-buku di sana disusun dan ditata dengan rapi. Saking banyaknya gadis itu sampai ingin membeli semua.


”Ini saja lah.” Dia memilih buku 'Dasar Anatomi dan Fisiologi'. Lalu dilihat harga. Hampir saja ia menjatuhkan buku itu dari pegangannya. Harga buku itu 700 ribu. Ia memicingkan mata kalau penglihatannya salah, mungkin saja itu 70 ribu.


**


“Halo, Mas.”


“Iya, ada apa? Kamu tidak kenapa-kenapa, 'kan?” Yang di sana bertanya panik.


“Nggak papa, Mas. Aku lagi di toko buku. Mm ....” Ragu-ragu ia ingin mengutarakan maksudnya.


“Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”


“Aku boleh nggak pake kartu Mas beli buku?” Suaranya pelan sekali, hampir tertelannya sendiri.

__ADS_1


Astaga, Dion pikir ada hal genting yang terjadi dengan gadis itu, sampai-sampai ia sudah berjalan menuju pintu ruangannya bermaksud menemui Lily.


“Tentu saja boleh. Kartu itu sudah milik kamu.”


“700 ribu lho, Mas.”


“Iya, pakai saja.”


“Makasih, ya, Mas.”


Ketika Lily menyudahi panggilannya sembari berbalik badan, saat itu pula ia menabrak seseorang.


“Maaf, maaf. Saya tidak sengaja.” Beberapa kali ia meminta maaf dengan menundukkan punggung dan kepala.


“Lain kali hati-hati,” kata orang itu dengan suara dingin. Lily berpikir sebentar dan sepertinya Lily mengenali suara itu. Lily mengangkat kepala dan benar ia kenal orang itu.


“Kakak Baik!” panggilnya dengan berlonjak kegirangan.


“Kamu lagi,” balas orang itu dengan malas. Lalu berjalan melewati Lily. Kali ini Lily tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Ia harus berteman dengannya karena orang itu adalah orang baik. Atau paling tidak ia harus tahu nama orang setengah laki-laki dan setengah perempuan itu.


Orang itu melihat-lihat buku musik. Lily berargumen kalau jurusan orang itu pasti musik karena dua kali bertemu ia melihatnya membawa gitar. Tapi pertemuan yang ini tidak, orang itu menggantungkan kamera di lehernya.


“Kakak mau beli buku juga?” Orang itu diam saja lalu berjalan ke rak buku yang lain. Terlihat jelas kalau ia sangat terganggu dengan kehadiran Lily. Namun Lily tidak peduli, ia terus mengekori orang yang belum diketahui namanya itu.


Setelah selesai melihat-lihat, orang itu pergi ingin keluar dari toko buku itu. Tentu Lily tidak memberinya kesempatan untuk pergi. Ia menghadang jalannya.


Orang itu berdecak, “jangan menghalangi jalanku.”


“Kenapa Kakak nggak jadi beli buku?” Tidak ada takutnya walau orang itu sudah menunjukkan ketidaksukaannya.


“Bukan urusanmu.” Lalu berjalan ke samping mau melewati Lily.


Lily mencegah dengan memegangi tangannya, “ayo kita berteman, Kak.”


“Aku nggak menerima teman.” Dinginnya orang ini melewati Dion.


“Kalau Kakak nggak mau berteman denganku, aku akan terus mengikuti Kakak.”


Orang itu melihati sekitar. Sudah ada beberapa orang yang memperhatikan mereka. Ia juga merasa seperti ada yang memotret mereka. Ya, instingnya yang berkata begitu.


“Hai ...” sapa seseorang pada mereka. Mata seseorang itu kemudian fokus pada Lily. “Masih kenal saya?”


Lily mengerjap. Iya, dia mengenal wanita cantik ini yang sudah memeluk dan mencium suaminya itu. Darahnya serasa mengalir deras, matanya memerah mengingat kejadian lalu. Lily diam saja, pun dengan Orang Dingin itu.

__ADS_1


Clara tertawa. Ia seperti menemukan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Matanya lama berdiam pada tangan Lily yang masih memegang lengan Orang Dingin itu.


“Maaf kalau saya mengganggu kesenangan kalian. Silakan kalian lanjut lagi, saya pergi dulu.” Tawanya masih terdengar meski ia sudah jauh.


__ADS_2