Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Pagipun datang. Tadi malam Lily tidur dengan nyenyak. Tidak ada lagi drama dalam mimpinya seperti malam sebelumnya. Mungkin dia mimpi indah tadi malam karena memeluk guling yang sebenarnya. Bukan guling jadi-jadian.


Dia sudah ada di kamar mandi, mengguyur seluruh tubuhnya. Hari ini dia bangun lebih awal. Dion sepertinya masih tidur ganteng di bawah selimutnya. Sambil mandi sambil menyusun rencana kegiatan hari ini. Begitulah kebiasaannya, merencanakan sesuatu saat sedang mandi.


Lily memakai seragam sekolahnya. Hari ini hari pembagian rapor. Artinya dia akan pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman-teman yang sudah sangat dia rindukan.


Sebelum keluar dari ruang pakaian, Lily menemukan koper di depan lemari gantung pakaian Dion. Dia bingung kenapa ada koper besar di sana karena tadi malam tidak ada. Dan kelihatannya koper itu sudah diisi dengan baju-baju dan barang lainnya, karena lemari Dion sudah tidak penuh seperti tadi malam.


Sebelum membuka pintu Lily melihat ke kasur. Di sana Dion masih terlelap.


Kenapa jam segini dia masih tidur? Mendekat. Tangannya apa kabar ya.


“Pak, bukan. Mas.” Tidak ada pergerakan sama sekali.


Karena masih bergeming, Lily menggoyang bahu Dion yang tidurnya miring. Yang dibangunkan menggeliat pelan.


“Mas, udah pagi.” Mendengar ada suara, pelan-pelan Dion membuka matanya.


“Ada apa?” Bertanya dengan mulut yang menguap.


“Mas nggak kerja? ini udah pagi.”


“Nggak,” jawabnya enteng dengan muka datar, lalu duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Lily masih setia berdiri di samping tempat tidur itu. “Kamu mau ke mana?” balik bertanya karena melihat Lily yang sudah rapi dan memakai seragam pula.


“Mau ke sekolah.”


“Sekolah?” Yang Dion tahu Lily sudah selesai ujian nasional dan tidak mungkin ada kegiatan lagi di sekolahnya.


“Iya, hari ini murid kelas Xll terima rapor.”


Dion manggut-manggut datar mendengar.


Bangun tidurpun dia terlihat tampan. Dia pantas menerima predikat pria tertampan walau tanpa senyum. Dan jakunnya? aih, tanganku gatal ingin sekali memegangnya.

__ADS_1


Lily menggoyang kepala karena sudah melantur ke mana-mana.


“Bagaimana tangannya?” tanya Lily untuk mengalihkan perhatiannya dari jakun dengan melirik tangan Dion yang masih diperban. Tanpa menunggu jawaban, Lily meraih tangan Dion dan membuka pelan perbannya. Duduk di bibir tempat tidur. Bagaimanapun juga Lily sadar Dion terluka karena ingin memberi keadilan bagi dirinya.


“Syukurlah nggak terlalu bengkak lagi.” Dion memandangi wajah Lily. Tercium juga aroma segar tubuh Lily yang membuat hatinya berdesir. Dion merasakan perhatian gadis yang sudah jadi istrinya itu. Perhatian yang tulus. “Kalau masih nyeri minum obat setelah makan ya, Mas.”


Ketukan suara pintu terdengar. Lily berjalan membukakan pintu. Ada Edu di sana menundukkan kepala setelah pintu dibuka.


“Selamat pagi Nona. Apa benar Nona memesan ojek online?”


“Pagi juga Mas Edu. Tolong dong jangan memanggilku begitu. Panggil saja namaku ya, Mas.” Menyentuh lengan Edu dan tersenyum manis. “Iya, aku pesan tadi. Apa ojeknya udah datang?”


Merasa tidak nyaman karena tangan istri majikannya masih menempel di badannya. “Sudah menunggu di depan.”


“Sebentar lagi aku akan turun. Maaf ya, Mas Edu jadi repot.”


“Bukan apa-apa Nona. Saya permisi dulu.” Edu pergi setelah menundukkan kepalanya lagi.


“Biar cepat sampainya, Mas. Lagian aku udah biasa naik motor.” Mengambil tas yang sempat diletakkan di kasur. “Kalau begitu aku berangkat dulu ya, Mas.”


“Tunggu sebentar.” Dion berjalan menuju meja yang ada di sudut ruangan. Mengambil dompet dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. “Pakai ini untuk kebutuhanmu.” Menyerahkan sebuah kartu.


Lily enggan untuk menerimanya. “Aku punya uang, Mas.” Sama sekali tidak tertarik dengan kartu yang masih menggantung di udara.


Dion tersenyum sinis, “kalau gitu terima ini untuk menambahi uangmu.”


“Uangku masih cukup Mas. Lagian kenapa Mas memberi itu untukku?”


“Karena kau membutuhkannya. Sudahlah, terima saja.” Mulai kesal. Dengan terpaksa Lily menerimanya. “Kode pinnya 08090809.”


Lily berbalik dan berjalan, tapi berhenti lagi dan menengok Dion. “Mas, nanti tangannya dikompres pakai air hangat ya. Jangan lupa juga diminum obatnya kalau masih terasa sakit.” Lily terkejut sendiri dengan kalimatnya barusan dan memukul-mukul bibirnya.


Duhh, kenapa aku ngomong sok perhatian gitu sih. Diakan jadi besar kepala.

__ADS_1


Lily berjalan cepat biar segera hilang dari pandangan Dion.


“Nanti malam kau tidur di sini saja,” ucap Dion lagi sebelum Lily hilang di balik pintu. Lily mematung, tidak punya keberanian lagi untuk bersitatap dengan Dion.


Kenapa dia menyuruhku tidur di kamarnya? lalu dia tidur di mana? jangan-jangan dia mau tidur denganku seperti waktu itu. Tidak, tidak, tidak.


Lily berlalu dengan berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang. Sebenarnya dia ingin menolak apa yang diucapan Dion barusan, tapi keberanian berbicaranya sudah menciut dan waktu juga mengharuskannya untuk segera beranjak. Nanti sajalah, toh akan bertemu lagi.


Terlihat ada senyum di bibir Dion yang jarang dilihat orang itu setelah kepergian Lily. Dion senang atas perhatian gadis itu. Dion juga senang karena Lily tidak canggung lagi memanggilnya dengan sebutan mas, dan Lily mau menerima kartu pemberiannya walau dipaksa. Tapi berangsur masam lagi mengingat keakraban Lily dengan Edu. Dia tampak seperti menimang-nimang sesuatu dipikirannya.


Di luar rumah Lily melihat mami sedang asyik dengan selang di tangannya.


“Selamat pagi, Mami.” Sepertinya bibirnya sudah fasih menyebut mami.


Mami menoleh, “selamat pagi juga, Sayang. Kamu pakai seragam? mau ke sekolah?” tanya mami dan menyerahkan selang kepada seorang pelayan yang sedang menungguinya. Pelayan itu melanjutkan menyiram bunga. Mami mendekat.


“Iya, Mi. Maaf kemarin Lily lupa memberitahu.”


“Itu ojek yang di luar kamu yang memesannya?” Lily mengangguk. “Kamu kan bisa naik mobil. Biar kamu diantar supir, ya?”


“Nggak, Mi. Lily naik ojek aja biar cepat nyampenya.”


“Benar ni kamu naik ojek?” Mami cemas.


“Iya, Mi. Lily udah biasa naik motor.”


“Kalau gitu kamu sarapan dulu,” pinta mami lagi.


“Nanti aja Mi, di sekolah. Kalau gitu Lily berangkat dulu ya Mi. Kasihan driver ojeknya udah nunggu lama.” Lily menyambar tangan mami dan mencium punggungnya. Setelahnya berlari menghampiri ojeknya di luar gerbang.


Mami geleng-geleng kepala melihat tingkah Lily yang seperti anak-anak.


Bagaimana bisa menantu keluarga ini naik ojek, sedangkan banyak mobil di garasi yang terparkir. Tapi demi membuat Lily merasa nyaman di rumah ini, lagi-lagi mami menahan egonya. Dengan terpaksa mami mengizinkan Lily pergi menggunakan kendaraan roda dua itu.

__ADS_1


__ADS_2