
Pagi hari di lantai dasar rumah mewah itu. Lily hari ini juga bangun lebih awal. Tadi malam dia memutuskan makan di dalam kamar saja karena percuma juga turun ke bawah kalau akhirnya akan makan sendiri. Semalaman Lily berpikir keras tentang kebodohannya menangisi Dion yang pergi tanpa pamit itu.
Buat apa aku menangisi dia? Di antara kita hanya terikat janji di depan orangtua saja, bukan janji setia antar sepasang suami istri yang benar-benar saling mencintai.
Begitulah akhir dia menutupi kekecewaannya. Meski di lubuk hati yang terdalam ada kegetiran mengingat fakta itu. Di depan orangtua dia akan bersikap layaknya istri dan apabila di luar dia akan merasa seperti gadis yang benar-benar bebas.
Pernikahan ini hanyalah kompromi!
Terlihat kesibukan para pelayan wanita di setiap sudut ruangan. Seragam pelayan semua sama dan aksesoris rambut pun serupa. Lily seperti berada di dunia drakor favoritnya. Untuk sesaat pernikahannya dilupakan.
Imut sekali mereka menggunakan perlengkapan yang senada. Boleh nggak ya, aku mengambil foto dengan mereka.
Sepagi ini sudah ramai tapi tidak ada yang mengobrol. Alat-alat pembersih yang digunakan pun sangat canggih. Sebuah alat pembersih lantai menarik perhatian Lily. Cukup menggunakan remote control saja dan robot itu akan bergerak dan bekerja dengan sendirinya.
Pelayan yang melihat Lily turun terkejut, lalu cepat-cepat menundukkan kepala. Kenapa nona ini bisa bangun sepagi ini? apa suara mesin pembersih ini terdengar sampai ke atas sampai mengganggu tidurnya? kalau iya, tamatlah aku.
“Maaf ya, Mbak. Jangan merasa terganggu dengan kehadiranku. Silakan dilanjutkan,” ucapnya tersenyum sembari mendekat pada seorang pelayan wanita muda yang terlihat panik itu.
Kenapa minta maaf?
Pelayan itu hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Lily tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Pandangannya asyik menyaksikan robot pintar itu. Tepuk tangan sendiri seperti baru mendapat hadiah yang selama ini diincar.
Mereka ini bekerja tapi seperti bermain-main. Aaa kalau kerjanya begini aku juga mau.
Untuk kesekian kali lagi Lily berdecak kagum. “Mbak, apa boleh saya diajari cara menggunakannya?” tunjuk Lily pada remot itu.
Wanita muda itu terbelalak. Benarkah dia tidak salah dengar?
“Ma—”
“Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Edu yang entah dari sudut mana datang mengeluarkan suaranya. Tangannya bergerak, seperti isyarat agar pelayan itu melanjutkan pekerjaannya.
“Ah, Mas Edu. Selamat pagi juga. Aku hanya mengobrol dengan Mbak itu,” jawabnya santai.
“Maaf, Nona. Tapi semua pelayan dilarang berbicara saat jam kerja.”
“Haah! tapi aku hanya ingin menyapa mereka, bukan mau mengganggu mereka bekerja. Seperti aku berteman dengan Mas Edu, akupun ingin berteman baik dengan mereka.”
“Peraturan di rumah ini sudah begitu, Nona. Tidak boleh ada yang mengobrol saat jam kerja.”
Pergilah ke kamar anda nona, jangan mengganggu di pagi buta begini.
__ADS_1
“Lalu kenapa Mas Edu mengobrol denganku pada saat jam kerja.” Berkacak pinggang seperti menemukan kesalahan besar pelayan di kafe papa, menggerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri.
“I-itu karena saya sedikit berbeda dengan mereka.” Sudah gelagapan dan jengkel.
Melihat wajah Edu yang merah menahan kesal, Lily tertawa, “tenang saja, Mas Edu. Aku nggak akan mengganggu mereka. Aku hanya akan melihat mereka bekerja. Mereka keren, ya.” Kagum sendiri.
Apanya yang keren??
“Nona... kembalilah ke kamar.” Mempersilakan dengan menunjuk tangga dengan sopan walau hatinya dongkol.
“Tidak mau,” berlari ke ruangan lainnya.
Aarggh
Lily masuk ke dapur. Orang-orang di sana tak kalah sibuk dengan pelayan yang ada di ruang utama. Saking sibuknya, tidak ada yang menyadari kehadiran Lily. Tercium aroma wangi masakan yang menggugah selera.
Lily memperhatikan tangan chef yang sedang bermain-main dengan teflon. Benar-benar teknik memasak yang profesional. Sudah pasti Bi Itan di rumah bukan tandingannya.
“Nona, sebaiknya Anda tidak di sini.” Ternyata Edu menyusul.
Mendengar suara yang tidak asing di telinga, semua chef yang asyik dengan kesibukannya menoleh. Dan tanpa aba-aba menunduk bersamaan.
“Lanjutkan saja pekerjaan kalian!” Para koki mengangguk dan meneruskan pekerjaannya.
“Mas Edu, aku mau berkeliling rumah. Apa Mas Edu mau menemaniku?”
Napas Edu terdengar berat. Mau tidak mau dia harus menuruti kemauan gadis itu. Edu menjawab dengan merentangkan satu tangannya mempersilakan nona muda itu berjalan duluan.
“Terima kasih,” jawabnya manis, berjalan melenggak lenggok dengan sedikit melompat.
Nona muda kok gitu.
Edu memperkenalkan ruangan demi ruangan. Lily kagum dalam diam. Walau sudah beberapa hari tinggal di rumah ini, rasa takjubnya tidak berkurang.
*****
Tuan rumah sudah menghabiskan sarapan tanpa Dion. Rasa sarapan itu benar-benar lezat sama seperti aromanya yang sedap dicium. Sebelum semua beranjak, hp mami yang diletak di atas meja bunyi. Menandakan ada panggilan video masuk.
Mami memposisikan layar hp di depan wajahnya sebelum menjawab panggilan itu.
“Hai, Mi,” sapa seseorang dari seberang telepon.
__ADS_1
“Sayang, kamu udah nyampe?” tanya mami dengan wajah ceria plus senyum sumringah mendapat video call dari putranya.
“Iya, Mi.”
Semua orang di sana bisa mendengar karena mami mengeraskan suara hp.
“Syukurlah kamu udah nyampe dengan selamat. Kalo gitu kamu langsung istirahat, di sana kan masih malam.”
“Iya, Mi. Kami baru saja sampe di apartemen. Papi mana, Mi?”
Kami? tuh kan bener, dia nggak pergi sendirian.
“Ini papi kamu.” Mami memberikan ponselnya.
Papi melambai tangan. “Kamu jaga kesehatan di sana. Kalau ada apa-apa segera hubungi Papi, mengerti?”
“Siap Bos.”
Papi tergelak mendengar jawaban Dion yang bertingkah seperti anak sekolahan.
“Kalau gitu Dion tutup dulu ya, Pi.”
“Eh, tunggu, tunggu dulu. Kamu nggak mau ngomong sama istri kamu?”
“Nggak usah, Pi,” jawab Lily cepat. Untuk saat ini dia tidak mau bersitatap dengan Dion, apalagi saling bicara.
Tanpa menghiraukan penolakan Lily, mami mengambil hp itu dari tangan papi dan mengarahkannya tepat ke wajah Lily. Otomatis mata mereka saling beradu. Dengan terpaksa Lily menerima. Mami mengajak papi untuk menjauh, membiarkan mereka berbicara sendiri.
“Kenapa kamu nggak mau bicara?”
“Nggak papa. Ya udah kamu istirahat saja. Bye.” Lily langsung mematikan hp itu. Yang jauh di sana kebingungan dengan sikap dingin Lily.
Menghampiri mertuanya yang baru duduk di ruang utama. “Mi, ini hpnya. Lily ke toko bunga ya, Mi, Pi.” Ingin menghilang secepat kilat.
Papi dan mami serentak merasa pelik, lalu saling berpandangan.
“Sayang, Papi dan Mami baru saja duduk di sini. Kamu udah selesai ngomong dengan Dion?” tanya mami tidak percaya.
“Iya, Mi. Udah. Katanya dia mau istirahat.” Lily menahan sesak di dada.
“Kalian tidak bertengkar, kan?” Curiga mami.
__ADS_1
“Ya nggak lah, Mi. Kenapa kami bertengkar, hehe.” Tersenyum palsu. “Kasihan Mas Dion Mi, Pi kalo diajak ngobrol. Habis perjalanan jauh, pasti dia capek.” Jawab begitu saja biar tidak dicurigai lagi.
Tidak ingin ada yang tahu isi hati yang sebenarnya. Hanya akan ada satu yang tahu, siapa lagi kalau bukan diary kesayangan.