Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Lily Mau Dion Peduli


__ADS_3

Selesai makan malam.


“Besok Papi dan Mami akan ke Perancis. Tadi Mbakmu menelepon, katanya Ariel kena demam berdarah.”


“Kok bisa, Pi?” tanya Dion panik. Wajar saja panik, Ariel adalah keponakan kesayangan.


“Namanya juga penyakit. Kita kan tidak tahu kapan datangnya.” Papi menjeda sesaat. “Kalian tidak apa-apa kan ditinggal berdua?”


“Dion ikut, ya, Pi.”


Serentak ketiga orang di sana melihat ke arahnya.


“Ikut? Trus perusahaan gimana kalau kamu dan Papi ke sana?”


Terdiam. Jadi bimbang sendiri.


“Kalau tidak, kamu dan Lily saja yang ke sana. Kalian bisa–”


“Tidak, Pi. Papi dan Mami saja yang ke sana. Sepertinya kehadiran Papi dan Mami sangat diharapkan Ariel. Dan di kantor juga banyak pekerjaan,” ucap Dion memotong kata-kata papi yang sudah tahu arahnya kemana. Padahal kerjaan di kantor juga tidak sebanyak yang dia ucapkan.


Papi dan mami saling pandang, dan Lily menatap dalam Dion.


“Benar kamu tidak mau ke sana?” tanya mami ragu.


“Iya, Mi. Kerjaan Dion lagi banyak-banyaknya.”


“Tadi semangat betul ingin ikut,” timpal papi.


“Itu karena Dion khawatir sama Ariel.”


“Mmm, ya sudah, nanti setelah Ariel sembuh, Mami akan memboyong mereka ke sini. Kita doakan saja supaya dia cepat sembuh.” Mami melirik Lily yang dari tadi hanya diam. “Lily, apa kamu mau ikut?”


Menggeleng, “nggak, Mi. Beberapa hari lagi Lily akan menerima kelulusan. Dan Lily juga belum siap untuk jauh dari papa,” jawab gadis itu malu-malu dan tertunduk.


Mami tersenyum mendengar alasannya. Maklum saja hanya papa keluarga kandungnya di dunia ini.


“Baiklah kalau begitu. Kalian di rumah baik-baik, ya.”


Lily mengangguk, Dion diam saja.


Mereka terus bercengkrama membahas tentang Ariel. Satu-satunya anak kecil di keluarga ini. Lily akui memang anak itu lucu, manis, dan juga menggemaskan. Lily menjadi pendengar yang baik saja, dia belum terlalu kenal dan akrab dengan Ariel.


Lily ikut tersenyum saat keluarga itu tertawa. Sesekali curi-curi pandang pada Dion, berusaha membaca isi hatinya. Sialnya, laki-laki itu tak acuh dan tidak peduli walau diamati. Dia bahkan tidak melirik seujung kukupun pada Lily. Lily merasa hatinya tidak nyaman.


“Baiklah, Mi, Pi, Dion naik duluan.” Pria itu berdiri dan berlalu setelah cukup lama berbincang. Dan sekali lagi dia tidak menganggap kehadiran Lily di sana. Sepertinya mami dan papi agak curiga.


“Mi, Pi, Lily juga pamit ke kamar.” Berdiri, “selamat malam, Pi, selamat malam, Mi,” pamit gadis itu.


“Iya, selamat malam juga, Sayang.”


Lily juga pergi.


“Pi, Mami perhatikan dari tadi, Dion sepertinya kesal pada Lily.”


Papi tersenyum, “biarkan saja, Mi. Namanya juga anak muda. Makin lama nanti juga tumbuh benih-benih cinta. Kayak Mami tidak pernah muda saja.”

__ADS_1


“Mudah-mudahan saja Lily bisa cepat menggoyahkan hati Dion yang keras itu, ya, Pi.”


“Kita lihat saja nanti, Mi.”


Di lain tempat Lily mengejar langkah Dion yang besar-besar. Gadis itu sekuat tenaga mengejar.


“Mas!” Tidak dihiraukan.


“Mas, tunggu dulu!” Tetap tidak peduli.


Lily mengeluarkan jurus terakhirnya, berlari ke depan dan menghadang dengan merentangkan kedua tangannya.


“Awas!”


Lily menggeleng kuat.


“Minggir!”


“Nggak mau.” Mencebikkan bibir.


Dion ke kiri, Lily menghalangi. Dion ke kanan juga dihalangi. Pria itu mendengus kesal.


Tidak ingin membuang waktu berdebat dengan gadis itu, Dion menghempas salah satu tangan dan melangkah.


Lily tercengang. Cepat-cepat dia balik badan dan mengejar pria itu.


Grabb!


Kedua tangan gadis itu melingkar di pinggang Dion. Dia memeluk pria itu dari belakang.


Lily menggeleng.


“Satu!”


“Dua!” Lily malah menjawab. Sungguh gadis itu sama sekali tidak takut. Tidak peduli Dion akan marah atau bagaimana.


Dion berusaha melepas kaitan tangan di perutnya, namun Lily semakin mengeratkan. Baiklah, daripada Dion ikut-ikutan seperti anak kecil, diikuti saja kemauan gadis itu.


“Kamu mau apa?”


“Lily mau Mas Dion peduli dengan Lily.”


“Tidak mau.”


“Kok nggak mau? Mas Dion harus mau.”


“Lepas dulu tanganmu!”


“Nggak mau. Mas bilang dulu mau peduli, baru Lily lepas.” Lily menenggelamkan wajahnya di punggung itu. Dion tetap bergeming. Beberapa waktu mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Mereka tidak tahu ada dua pasang mata yang sedang mengamati dari tangga.


“Tuh, Mi. Belum juga satu jam Papi bilang, benih-benih cinta sepertinya sudah tumbuh.”


Mami cekikikan dengan suara pelan, “Iya, Pi. Lily sepertinya benar-benar akan menggoyahkan hatinya Dion. Dan itu si Dion juga kelihatannya tidak keberatan. Jarang-jarang lho, Pi, Dion mau dipeluk wanita.”

__ADS_1


“Lebih baik kita turun lagi saja, Mi. Nanti mereka jadi malu ketahuan sama kita.”


“Iya, Pi. Ayo!”


Kedua orangtua itupun kembali lagi, agar tidak mengusik kejadian langka yang mereka lihat ini.


“Mas Dion marah karena Lily ketemu Axel, ya?”


Diam. Tidak menjawab dengan suara atau gerakan tubuh. Tapi yang pasti gadis itu tepat membaca isi hatinya saat ini.


“Maafin Lily, ya, Mas. Karena di telepon dulu bilang dia pacar Lily.” Gadis itu masih tenggelam di punggung Dion. Tidak mau melepas tangan. “Dulu kami memang pernah pacaran dan sudah putus, tapi aku... .”


“Tapi kamu tidak mencintainya.”


“Iya, aku nggak cinta sama dia. Eh, kenapa Mas Dion tahu?” Mengangkat wajah, melepas pelukan. Dion memutar tubuh menghadap istrinya. Pandangan mereka bertemu menatap satu sama lain.


“Ada yang memberitahu.”


“Papa?”


Mengangkat bahu, “mungkin iya, mungkin tidak.”


“Ihh, Mas Dion. Ihh, papa.” Geram sendiri. Rahasianya diketahui satu orang lagi.


“Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang agar aku peduli sama kamu?”


“Iya.”


“Nahh, itu dia sebagai bentuk kepedulianku. Salah satunya aku harus tahu siapa yang kamu sukai dan tidak.”


Melongo, masih mencerna kata-kata Dion di otaknya. Dion tersenyum kecil melihat wajah lugu itu. Dia berjalan meninggalkan Lily. Gadis itu tersadar dan mengejar lagi.


“Mas mau ke mana? Tunggu! Memang Mas tahu siapa yang aku sukai?”


“Kalau kamu kasih tahu, aku pasti tahu.”


“Kalau gitu, Lily nggak akan kasih tahu.”


Dion tersenyum lagi. Baiklah, sekarang gadis itu belum bisa terbuka sepenuhnya padanya. Walau dia tahu siapa yang disukai gadis itu, Dion ingin mendengar langsung dari mulutnya.


Dion akui gadis itu hebat. Tidak pernah didengarnya mengeluh sampai histeris karena pernikahan dipaksa ini. Di usianya yang masih belia ini dia bisa menerima pernikahan dengan lapang dada, wow.


“Kamu mau kuliah di mana?”


“Aku ikut SNMPTN, Mas.”


Berbalik, “kamu yakin akan lolos?” Bertanya dengan nada mengejek.


“Ihh, Mas. Aku kan nggak bodo-bodo amat. Disemangatin kek, didoain kek.” Memajukan bibir.


“Baiklah, baiklah. Trus program study apa yang kamu ambil?”


“Bla bla bla”


Pada akhirnya Lily sedikit demi sedikit menghancurkan tembok baja yang kokoh di hati Dion. Yang awalnya Dion benar-benar tidak peduli padanya karena sifat Lily yang kekanakan dan belum bisa menjaga perasaan, namun di sana terselip kejujuran yang dicari oleh Dion selama ini dari seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2