Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Lupa Membawa Senyum


__ADS_3

Di dalam mobil.


Tidak tahu ke mana Dion akan membawanya. Melayat, itu yang didengar Lily tadi sekilas. Ke mana dan siapa dia tidak tahu. Rencana indah yang sudah disusunnya rapi-rapi saat mandi tadi seketika hancur berantakan, layaknya potongan puzzle-puzzle yang berserakan.


Mobil mulai bergerak maju.


“Kita ke mana, Mas?” tanya Lily di sela-sela kunyahan sarapannya. Lily memutuskan memakan sandwichnya di mobil saja setelah drama tadi.


Tadi saat hendak mengganti baju, Lily tidak menemukan baju hitam di lemari pakaiannya, semua berwarna cerah. Gadis itu sempat senang di dalam hati karena dengan begitu dia tidak akan ikut ke acara sedih itu. Lily menghampiri Dion yang sedang sarapan dan menyampaikan tidak ada baju hitam di lemari.


Dion pun mengajak Lily ke lemari pakaiannya dan memberi kemejanya.


“Mas yakin aku pakai baju ini?” tanyanya tidak yakin. “Ini kebesaran , Mas.” Menempelkan kemeja lengan panjang itu di tubuhnya untuk mengukur seberapa besar dan seberapa panjang untuknya.


“Itu kemejaku yang paling kecil, pakai itu saja.”


“Ini terlalu besar, Mas. Aku tenggelam memakai baju ini,” bantahnya lagi.


“Kalau harus membeli dulu memakan waktu lama. Kita sudah terlambat.”


“Kalau begitu aku nggak usah ikut.” Memberi usul jitu. Berdoa dalam hati agar usulnya itu disetujui.


“Tidak bisa, kau harus ikut.” Menatap Lily seakan ingin memakannya.


“Tapi bajunya gimana?” Masih berusaha memelas.


“Pakai saja itu. Kau ini dapat peringkat tiga tapi tidak bisa mengakali hal remeh begini. Kau bisa menggulung lengannya dan memasukkan ujung kemeja itu ke dalam celanamu. Begitu saja harus diberitahu,” jawab Dion semakin jengkel karena waktu yang semakin mepet.


Sebenarnya masalahnya bukan di baju. Lily hanya membuat alasan agar tidak ikut.


“Tunggu dulu, Mas.” Lily menghentikan langkah Dion yang mau keluar dari ruang baju. “Mas nggak punya penyakit kurap atau kudis atau sejenisnya, kan,” pekik Lily menahan tawa.


Dion menoleh, berkacak pinggang, “punya, dan sebentar lagi kau akan tertular. Bukankah selama sebulan ini kau tidur di kasurku dan memakai selimutku.”


Lily bungkam seketika. Maksud hati ingin menjahili Dion malah dia yang dapat serangan telak.


“Cepat ganti bajumu!”


Kembali ke dalam mobil.


“Kita akan melayat ke mana, Mas?”ulangnya lagi bertanya karena Dion belum menjawab dari tadi.


“Habiskan dulu makananmu baru bicara!”

__ADS_1


“Ini sudah habis.” Menunjukkan tangannya yang sudah kosong.


“Mulutmu itu masih penuh.”


Ahh dia ini!


Sementara mobil mulai merayap di jalan besar. Kemacetan terjadi di mana-mana. Walau masih pagi, tapi kendaraan sudah padat merayap di dua jalur. Wajar saja macet karena hari ini adalah akhir pekan. Waktu yang dipakai orang-orang untuk pergi berlibur atau mengunjungi sanak saudara.


Lily sibuk dengan hpnya. Memberi kabar ke grup chat kalau dia tidak bisa datang, alasannya karena ada acara keluarga mendadak.


“Mas, kita akan ke mana? Siapa sebenarnya yang meninggal?” tanya Lily yang ketiga kalinya.


“Dokter keluarga kita, istrinya meninggal.”


“Kasihan sekali, Mas. Memangnya kenapa meninggal?”


“Karena sakit.”


Lily terlihat bosan. Sudah satu jam perjalanan tapi mobil hanya maju pelan-pelan. Seandainya dia tidak ikut, dia sekarang pasti sedang tertawa bersama teman-temannya.


Lily melirik ke sampingnya, terlihat Dion juga bosan. Lily teringat kata-kata Dion tadi pagi yang harus minta izin mau ke mana dan melakukan apa. Bingung sendiri apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengutarakannya atau tidak. Raut wajah yang selalu datar, tidak ada senyum apalagi tawa. Tidak bisa ditebak suasana hatinya sedang baik atau buruk.


“Mas.”


“Apa Mas melupakan sesuatu?”


Dion menoleh. Apa yang aku lupakan, pikirnya. Selama ini Dion sangat disiplin dan tidak pernah ada kata lupa dalam kamusnya. “Lupa apa?”


Lily bergidik dengan tatapan serius itu. Dion bukanlah orang yang tepat untuk dijahili. Pria itu tidak memiliki waktu untuk bercanda. Tapi bukan Lily namanya kalau tidak mau diam.


“Sepertinya Mas lupa membawa senyum. Sudah lama aku nggak pernah lihat senyum itu.” Lily tersenyum manis dengan menatap lelaki itu, seperti mengajari beginilah cara tersenyum. Berharap bercanda garingnya mampu memancing Dion untuk tersenyum, atau reaksi yang lebih hangat misalnya. Nihil, bukan senyuman yang di dapat. Tatapan tajam itu malah berubah menjadi tatapan memangsa. Lily tertawa renyah meski candaannya tidak berhasil.


Tidak berhasil ternyata. Kalau dari dulu sudah kaku mau diapain juga akan tetap kaku.


“Mas... .”


“Diamlah! Kau jangan menggangguku dengan cara kampunganmu itu,” sinisnya.


“Aku serius, Mas. Tersenyum dan tertawa bisa membuat kita awet muda dan memiliki umur yang panjang lho,” tambah Lily, tak lupa mengikutsertakan mimik wajah lucu yang dibuat-buat agar terlihat imut. Lebih baik dia mengundang amarah Dion daripada hanya duduk dan diam yang bisa membuatnya gila karena bosan.


Dion mengerem sampai membuat Lily terpental ke depan. Untung ada si sabuk pengaman.


“Mas! Apa kamu mau membuatku mati karena jantungan,” ucapnya protes sambil mengelus dadanya yang berdebar.

__ADS_1


“Orang sepertimu akan susah mati. Di neraka kau akan ditolak karena mulutmu yang selalu mengoceh itu.”


“Haha. Ternyata Mas bisa melawak juga, ya.”


Melawak?


“Kamu harus tahu, istri dokter itu adalah orang yang paling suka tersenyum dan tertawa. Dia juga masih sangat muda. Jadi tersenyum atau tertawa bukanlah jaminan untuk mendapat umur panjang,” celoteh Dion panjang lebar.


Sekejap Lily terkesiap, “Benarkah? Lalu hipotesis itu benar atau salah?”


“Itu hanya praduga kebanyakan orang saja, kamu salah satunya.”


**


“Mas.”


“Apa lagi?” Seperti biasa, kesal.


“Aku mau menyampaikan sesuatu.” Lily serius. Dion bisa menangkap keseriusan itu. “Aku ingin kuliah.” Lily menatap lekat wajah suaminya. Tidak mau melewatkan akan seperti apa air muka yang akan ditunjukkan. Dan yang ditunjukkan adalah biasa saja, datar.


Karena Dion hanya diam, Lily mulai merengut. “Mas, aku serius. Aku mau kuliah.”


“Lalu?”


“Kok lalu. Tadi Mas bilang harus izin dulu aku mau ke mana dan melakukan apa.”


Mobil memasuki kawasan perumahan yang tergolong elit. Terlihat ada bendera kuning di tengah jalan. Seorang satpam kompleks menghampiri. Dion memberitahu kalau mereka ingin melayat. Setelah di beri izin, Dion melajukan kembali mobilnya.


“Kita sudah sampai, ya, Mas?”


“Belum, sebentar lagi.”


“Bagaimana, Mas, dengan permintaanku tadi?”


“Nanti kita bicarakan di rumah. Bersiaplah, kita hampir sampai.”


Dion memarkirkan mobil di tempat yang sudah disediakan. Ada banyak mobil yang berjejer di sana. Dion mengajak Lily ke rumah duka, sayang keadaan sepi.


“Bu, maaf. Kenapa sepi, ya?” tanya Dion pada seorang ibu paruh baya yang kebetulan ada di rumah duka.


“Jenazahnya sudah dibawa ke pemakaman, Mas. Sebentar lagi keluarganya juga akan kembali.”


“Oh, gitu. Terima kasih ya, Bu.”

__ADS_1


Dion mengajak Lily untuk menunggu di teras rumah saja.


__ADS_2