Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Di Angkot


__ADS_3

Ospek hari pertama berjalan lancar, itu semua karena maba patuh terhadap semua instruksi kakak tingkatan. Terang saja, karena semua maba di fakultas yang Lily pilih lulusan IPA, jadi bisa dibilang mereka anak-anak disiplin yang mau diatur.


Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB dan ospek hari pertama pun berakhir. Ingin menghubungi Dion tapi pria itu pasti sedang sibuk-sibuknya. Diantar dan dijemput bukanlah kebiasaan mendarah daging yang melekat pada diri gadis itu meskipun dia anak semata wayang.


Kendaraan umum dipilihnya untuk mengantarnya pulang. Walaupun ia tidak tahu kendaraan umum yang seperti apa yang harus dinaiki ke tujuan, ia 'kan punya mulut untuk bertanya. Tapi terlebih dulu ia harus melepas ikatan rambutnya yang beranak di berbagai sudut kepala. Dan menghapus make-up noraknya. Tidak lucu kalau ia benar-benar dianggap badut sungguhan, 'kan?


Sahabatnya, Luna, memilih melanjutkan pendidikan di luar provinsi. Ia sedih namun juga harus maklum. Keputusan itu adalah kemauan orangtua dan kakaknya yang juga kuliah di kota kembang itu, karena mereka memang berasal dari sana. Jadi untuk saat ini, Lily belum mempunyai teman di kampus itu.


Dirinya sudah duduk di kursi panjang angkot dan ... desak-desakan. Tentu saja memang begitu. Sebelum angkotnya penuh, maka sopirnya tidak akan mau bergerak.


Gadis itu ingat sesuatu, ia harus mengabari Dion.


[ Mas, aku pulang naik kendaraan umum ]


Di tengah-tengah desakan Lily menimang-nimang ponsel menunggu balasan Dion. Tak kunjung di balas. Sudah bisa dipastikan kalau Dion memang sibuk. Lalu dimasukkannya hp ke dalam tas.


Satu per satu orang-orang mulai turun di tujuan masing-masing. Tinggal empat orang. Lily merasa ada gelagat tidak baik dari orang yang duduk di bangku pojokan sana. Sedari tadi orang itu menatapnya dan seseorang di samping Lily bergantian. Tidak tahu itu laki-laki atau perempuan. Penampilannya seperti ... bisa dibilang anak punk atau preman. Rambut ikal sepanjang bahu, pakai anting metal, banyak aksesoris di pergelangan tangan dan leher, celana jeans yang lututnya sobek, ada tato pula di lengannya yang sedikit terlihat. Lily menelan saliva kasar.


“Bang, berhenti!” seru orang yang duduk tepat di samping Lily. Angkot berhenti dan orang itu bersiap dengan tergesa untuk turun.


“Tunggu dulu, Bang!” cegah orang yang duduk di pojokan dengan suara baritonnya, jadi bisa dipastikan jenis kelaminnya laki-laki. Laki-laki sekitar umur 30 tahunan yang duduk di samping Lily mengurungkan niatnya untuk turun dan menatap orang yang duduk di pojokan itu. “Kembalikan hp teman saya.”


“Hp apa?” balas laki-laki itu menjawab.


Lily gagal memahami. Mungkin mereka saling kenal, pikirnya.


“Saya melihat Abang mengambil hp teman saya itu,” tunjuknya pada Lily.


Teman? Lily mendelik. Kesekian detik otaknya kemudian menyuruh tangannya untuk mengecek hp yang disimpan di saku tasnya. Benar saja, hp-nya tidak ada.


“Iya, hp-ku nggak ada.” Suara Lily cemas seraya mencari-cari benda pipih itu ke seluruh bagian dalam tasnya.


“Saya tidak tahu.” Laki-laki berbadan tinggi itu mengelak dan melanjutkan niatnya untuk turun.

__ADS_1


Tanpa diduga pria yang duduk di pojokan itu meraih tangan dan memutarnya ke belakang, lalu dengan tangan yang satunya menarik tas sampai tas itu merosot dari bahu. Gerakan yang cepat meski di ruang yang sempit. Ia berhasil mengeluarkan ponsel dengan casing merah dari dalam tas hanya dalam beberapa detik.


“Ini apa?”


Lily terperangah. Copet itu hilang kata-kata kemudian secepat kilat turun dan berlari bersama satu orang yang sudah turun duluan.


Sama seperti Lily, sang sopir pun tercengang belum menjalankan angkotnya.


“Sudah enam tahun saya menarik angkot dan baru kali ini saya melihat copet di angkot saya tertangkap basah. Ternyata penampilan rapi tidak menjamin kalau seseorang itu baik.” Pandangannya tertuju pada dua orang copet yang terus berlari. “Lain kali hati-hati, ya, Neng. Untung temannya melihat dan bisa merebut kembali hp itu.”


Lily tidak menanggapi. Bola matanya memperhatikan pria berambut ikal yang sudah duduk tepat di hadapannya. Pria? Jika sosok itu memang pria, lalu mengapa dadanya sedikit menonjol?


“Kamu mau hp kamu ini, nggak?” ucap orang itu untuk kesekian kali. Benda itu sudah terjulur di depannya dari tadi.


“I, iya. Makasih, Kak.” Menyambut miliknya itu.


“Lain kali hati-hati. Di angkutan umum banyak niat orang yang tidak baik.” Suara bariton tetap jelas kedengaran.


Sekian meter kemudian, Lily yang tidak bisa memastikan jenis kelamin orang itu apa, meminta sopir untuk berhenti. Setelah angkot menepi, orang berambut ikal itu meraih gitarnya, turun, dan membayar jasa lalu berjalan menjauh.


“Neng turun di mana?” tanya sopir karena hanya Lily seorang penumpangnya.


“Eh, di Jl. Cendrawasih, Bang. Tepatnya Toko Bunga Liona.”


Abang sopir mengangguk dan melaju lagi.


Orang itu penampilannya menyeramkan tapi hatinya baik. Aku salah karena sudah menilainya negatif terlebih dulu. Semoga saja nanti kami bisa bertemu lagi.


*****


“Bagaimana hari pertama kamu di kampus? Lancar?”


Mengangguk-angguk, “iya, lancar, Pa. Kakak tingkatan baik-baik semua,” jawabnya dengan lancar setelah menandaskan isi piringnya. Mereka berada di kafe papa.

__ADS_1


“Syukurlah.”


Lily menceritakan semua pengalaman tadi saat mengikuti ospek di kampus, kecuali kejadian di angkot. Karena biarlah itu menjadi pengalamannya sendiri untuk lebih waspada terhadap lingkungan sekitar. Papa turut senang karena Lily bercerita penuh semangat.


“Oh, iya, Pa. Mas Adnan mana? Kok Lily nggak pernah lihat. Kan dia udah kembali.”


Papa menghela napas. Ia belum memberitahu putrinya itu tentang kemarahan Adnan.


“Adnan marah setelah Papa memberitahu pernikahan kamu. Dia langsung mengundurkan diri saat itu juga.”


Lily tersentak, “mengundurkan diri?”


“Sudah beberapa kali Papa mencoba menghubungi tetapi tidak direspon. Dia masih marah.”


“Lily akan memberi penjelasan. Lily ke toko bunga dulu, ya, Pa.”


Setelah berpamitan, Lily beranjak. Ini juga adalah salahnya karena tidak memberitahu Adnan sejak awal. Bukankah selama ini Lily menganggap pria itu adalah saudaranya. Jadi wajar saja bila Adnan marah karena tidak dilibatkan dalam acara pernikahan, yang lebih parahnya tidak diundang.


Sampai di toko bunga, menyambar tas dan merogoh hp. Nada panggilan terdengar tersambung. Beberapa kali Lily mencoba menyambungkan kembali ke nomor yang sama tetapi hasilnya tidak dijawab juga.


[ Mas Adnan, jawab dulu panggilan Lily ]


Tidak ada balasan.


[ Mas, kita perlu bicara. Lily akan menjelaskan semuanya ]


Tidak juga dibalas.


[ Mas, Mas Adnan adalah kakak satu-satunya Lily. Lily minta maaf tidak memberitahu, pernikahan itu begitu mendadak. Mas, Lily dan papa sedih karena Mas Adnan pergi ]


Balasan dari Adnan empat kata ; selamat menempuh hidup baru.


Terimakasih buat teman-teman yang terus setia membaca tulisanku ini. Tetap tekan like, ya man-teman. Salam hangat ^•^

__ADS_1


__ADS_2