Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Selamat Pagi


__ADS_3

Malam ini sungguh malam yang berbeda. Sudah tengah malam begini Lily masih terjaga.


[ Mulai sekarang dan seterusnya kita akan tidur bersama di kamar ini. Kalau kamu berani tidur di tempat lain dimanapun itu, aku akan menghukummu dengan tidak mengijinkanmu kuliah dan keluar rumah, paham? ]


Lily hanya mampu mengangguk patuh, bagaimana bisa pria itu tiba-tiba saja ingin tidur seranjang dengannya. Bukankah selama ini mereka tidur berpisah?


Dan ... ciuman tadi? Asli, kecupan itu mampu membuat Lily membisu.


Lily masih duduk bersandar dengan bertanya-tanya dalam hati dengan perubahan ini. Digenggamnya jari-jarinya karena merasa gugup, dengan sesekali melirik punggung yang membelakanginya di tengah keremangan cahaya.


Sama halnya dengan Lily, pria itupun dadanya berdebar. Namun Dion lebih pandai mengendalikan diri. Ia akan pelan-pelan mengarahkan istri kecilnya itu membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat. Ia pun akan memandu Lily, tentang cara memelihara benih cinta agar tumbuh dan semakin berkembang.


Entah pukul berapa sekarang, Dion merasakan guncangan dari sampingnya. Gadis itu akhirnya merebahkan tubuhnya dan menarik selimut yang sama yang digunakan Dion.


Merasa gadis itu sudah terlelap, Dion berbalik. Bibirnya tersenyum mendapati tubuh Lily juga membelakanginya. Dion mengangkat satu tangannya dan menepuk-nepuk ujung kepala Lily dengan lembut.


Tidurlah yang nyenyak. Esok kita akan mengawali hari yang lebih baik.


***


Siulan burung-burung yang beterbangan ke sana ke mari menandakan hari sudah pagi. Dedaunan yang saling bergesekan akibat ulah angin pun turut meramaikan suasana. Dan sinar surya menelusup tirai kaca jendela hingga menyinari kelopak mata Lily, membuat keningnya berkerut merasa terganggu.


Aroma parfum dulu kembali dihirup oleh penciumannya. Terasa mendamaikan sampai ke relung hati. Ia membuka mata. Karena penglihatannya belum sempurna, ia mengerjap beberapa kali.


Ingin berteriak namun tertahan. Bagaimana bisa kepalanya bersandar di dada bidang itu, bahkan tangan mereka saling merangkul dan berhadap-hadapan. Dadanya kembali berolahraga.


Diangkatnya kepalanya untuk menilik wajah orang yang sudah berani memeluknya itu. Ada kedamaian di sana. Juga ... tampan alami. Alis dan bulu mata yang cukup tebal, kulit bersih bersinar, dan bibir, bibir ini yang tadi malam mengecupnya. Rona merah kembali merajai pipinya.


Lily mendorong kepalanya ke belakang agar penglihatannya lebih leluasa menguasai wajah itu, sungguh ciptaan Tuhan yang indah. Andai pria ini juga menyukai dirinya.


Sorot matanya diturunkan hingga berhenti di leher. Sadar atau tidak, gadis itu mengangkat tangannya mengarah ke situ. Saat itu pula Dion membuka mata.

__ADS_1


Lily gelagapan dan malu setengah mati karena kedapatan memerhatikan wajah itu. Hendak menarik kembali tangannya namun cepat-cepat Dion meraih tangan itu dan membimbingnya ke tujuan yang diinginkan Lily.


“Kamu ingin menyentuhnya, kan,” ucap Dion setelah tangan Lily mendarat di kulit leher yang menonjol itu. Suara berat dan sentuhan Dion membuat Lily hilang akal. Terlebih lagi keinginan yang selama ini ditahan terwujud, rasanya ingin melayang ke udara. Sungguh gadis itu hilang kata-kata sampai rona merah semakin menyembul di kedua pipi putihnya.


“M, Mas.” Gadis itu tidak sanggup lagi dipandangi terus. Ia segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.


“Kenapa?” Dion pura-pura bertanya. Ia tahu Lily malu-malu. Dan itu membuatnya ingin menggodanya.


“Mas, tahu itu?”


“Tahu apa? Kalau bicara dengan seseorang itu, tatap wajahnya.”


“Aku malu, Mas.” Gadis itu tetap menyembunyikan wajahnya. Tangannya bahkan melingkar ke pinggang Dion.


Untuk beberapa lama Dion membiarkannya begitu sampai, “sepertinya kamu ketagihan memelukku.” Sontak saja Lily melepas tangannya dan menjauhkan tubuhnya.


“Nggak kok,” alibinya seraya duduk dan mengikat rambut dengan asal. Ia menoleh ke arah lain supaya Dion tidak mampu menjangkau wajahnya yang semakin memerah itu.


Tidak bisa lagi menahan malunya, Lily beringsut. Namun tangannya sudah terlebih dulu dicekal sebelum ia berhasil pergi.


“Mas, aku mau ke kamar mandi.” Berusaha melepas cekalan itu.


“Ciuman selamat pagi dulu.”


Lily melotot tidak percaya. Segera ia melihat wajah yang meminta permintaan konyol itu. Dia tidak salah dengar dengan omongan barusan, 'kan?


Sebaik Lily menoleh, pria itu sudah mengetuk-ngetuk pipinya.


“Jangan bercanda, Mas.” Lily tidak mau dan mencoba lagi melepas cekalan itu.


“Aku memintanya pada istriku bukan pada istri orang lain.”

__ADS_1


Dia ini! Apa dia sedang menggodaku? Tapi ini kan bukan sifatnya. Kerasukan apa dia saat tidur semalam?


“Ayo, mana ciuman selamat pagiku.”


“Ta-tapi itu tabu, Mas.”


Dion tertawa sumbang. “Baiklah kalau kamu tidak mau.” Menarik tangan Lily hingga gadis itu terjerembab. Untunglah Lily dengan sigap menopang tubuhnya dengan kedua telapak tangannya, kalau tidak bisa dipastikan ia akan menabrak tubuh yang sedang menggodanya itu.


Tetapi sialnya Lily mendaratkan tubuhnya tidak dengan posisi baik. Ia seperti menyodorkan wajahnya sendiri untuk dicium. Dion tidak menyia-nyiakan kesempatan. Satu kecupan mendarat di pipi mulus nan putih itu.


Lily malu bukan kepalang. Hendak protes tapi takut pipi yang sebelahnya akan mengalami hal serupa. Lebih baik dia kabur dari situasi ini. Saat ini pria itu sepertinya suka dengan yang berbaur cium-cium.


Sebelum Lily menggapai gagang pintu kamar mandi ... “Mulai besok kamu harus memberiku ciuman selamat pagi.”


Tuh 'kan benar, dia suka dengan hal cium-cium.


*****


Hampir satu jam Lily di kamar mandi. Malu sekali rasanya bila ia bersitatap dengan Dion. Ditempelkannya telinganya ke daun pintu, berharap mendengarkan sesuatu di luar sana. Tidak terdengar apa-apa.


Apa dia sudah pergi?


Merasa cukup aman, dengan hati-hati ia membuka pintu. Benar saja, tidak ada lagi sosok itu di sana. Lily bernapas lega.


Sepanjang kakinya berayun menuruni tangga, Lily membayangkan kejadian tadi malam juga tadi pagi. Ini benar nyata Dion telah menciumnya. Tetapi ada yang mengganjal di hatinya. Mengapa Dion tiba-tiba berubah jadi agresif? Yang Lily tahu pria itu tidak banyak bicara, tidak suka bercanda apalagi menggoda.


Ah, aku nggak mau berargumen apapun.


Hari ini Lily dan kawan-kawan akan melakukan seperti usul Dion. Merayakan hari kelulusan dengan berbagi rejeki, apa saja. Yang penting itu positif dan menguntungkan orang lain. Mereka sudah membuat janji untuk ketemuan di sekolah.


Sebelum berangkat dan setelah sarapan ia terlebih dulu pamit pada Edu. Kata Edu, Dion sedang berenang. Lily meraih hp dan mengirimi Dion pesan tentang kepergiannya. Sebenarnya kemarin sebelum makan malam, Lily sudah menceritakan kegiatannya hari ini dan itu sudah diijinkan Dion.

__ADS_1


__ADS_2