
Sosok Dion kini duduk di bangku taman sekolah. Memerhatikan Lily dan beberapa siswa lain saling tertawa berkerumun, saling menyodorkan baju untuk di bubuhi tanda atau nama dengan spidol atau cat warna. Sama seperti ia dulu saat merayakan hari kelulusan. Sudah seperti kebudayaan saja, setelah dinyatakan lulus di selembar kertas, kemudian melakukan aksi corat coret sebagai bentuk kebebasan mereka. Padahal perjuangan sebenarnya belum selesai sampai di sini.
Terlihat Lily berjalan mendekatinya, “Mas, aku ikut konvoi dengan teman-teman, ya.” Air mukanya terlihat memelas, penuh dengan permohonan.
“Tidak,” tegas Dion.
“Kenapa, Mas?” Matanya menatap dalam-dalam, “teman-temanku semuanya ikut.”
Terdengar napas Dion yang berat. “Itu tidak baik. Lebih baik kita pulang,” jawabnya datar. Dion berjalan berharap Lily mengikutinya dari belakang. Namun gadis itu diam di tempat, protes dengan menghentak-hentakkan kaki.
Menyadari Lily tidak mengikutinya, Dion balik badan dan menghampirinya. Ia tahu gadis ini sedang di puncak bahagia sekarang. “Merayakan kelulusan tidak harus konvoi-konvoian di jalanan. Selain menyebabkan macet, juga bisa membuat masyarakat tidak nyaman.” Berusaha memberi pengertian.
“Kalau kamu ingin merayakan kebahagiaan, maka rayakanlah dengan benar. Kamu dan teman-teman kamu bisa bagi-bagi bahan pangan atau nasi kotak atau apapun itu yang berguna buat warga. Dengan begitu mereka juga ikut bahagia dan turut mendoakan kalian. Bukan dengan ugal-ugalan sambil berteriak-teriak di jalanan,” sambungnya lagi panjang lebar.
“Benarkah begitu?”
“Tentu saja. Aku lebih dulu berpengalaman daripada kamu. Dan sekarang pasti sudah banyak polisi yang siap siaga untuk merazia anak sekolah yang mau konvoi. Apa kamu masih mau ikut?”
“Nggak.”
Lily berlari meninggalkan Dion menemui teman-temannya. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun bisa dipastikan kalau Lily memberi ide seperti yang disampaikan Dion tadi.
***
Gadis itu sekarang sudah duduk di boncengan lagi. Dion tidak memberitahu ke mana mereka akan pergi. Semenjak motor besar itu beranjak dari sekolah, Lily sudah dengan posisi nyamannya di belakang. Tanpa disuruh tangannya sudah melingkar di perut Dion dengan mata terpejam. Bukan tidur, tetapi menikmati perjalanan. Sampai motor berhenti dan tiba di suatu tempat....
Lily menegakkan tubuhnya dan melepas pelukannya. Memandang ke sekeliling.
“Toko bunga?” tanyanya dengan heran. Dia sama sekali tidak meminta Dion untuk mengantarkannya ke sana.
“Kamu tidak mau memberitahu papa tentang kelulusanmu?”
Oh iya ya.
“Ayo turun!”
Gadis itu tergesa-gesa dan sedikit berteriak memanggil-manggil papanya karena tidak melihat di depan toko, meninggalkan Dion di belakang. Dan setelah masuk lebih dalam, ia mendapati orang yang dicari duduk di dalam dengan dua orang sedang bercengkrama hangat.
__ADS_1
“Pa, Lily lulus!” teriaknya dengan antusias tanpa peduli papa sedang apa dan bersama siapa.
“Syukurlah,” ujar papa dengan senyum sumringah.
Dan tanpa malu atau sungkan di hadapan orang lain, Lily menabrakkan tubuhnya untuk memeluk tubuh kokoh Pak Miko. Gadis itu menggoyangkan tubuhnya kegirangan.
“Kak Lily lulus apa?”
Lily mendengar suara anak kecil dan ia mengenal suara itu. Segera gadis itu mengangkat wajah dari bahu papa dan mengurai pelukannya. Ia tersadar kalau ada tamu di sana.
“Cia?”
Gadis kecil itu berdiri dari duduknya di samping papanya dan mendekat, “Kakak lulus apa?” tanyanya sekali lagi.
“Oh, Kakak lulus sekolah, Sayang,” jawab Lily setelah tersadar dan tahu siapa tamu itu. “Cia udah lama di sini?”
Bukannya menjawab Cia malah memeluk tubuh Lily. “Cia kangen sama Kak Lily,” tutur gadis cilik itu dipelukannya. Pelukan itu amat erat. Benar-benar pelukan rindu. Lebih tepatnya cilik itu merindukan kasih sayang seorang ibu yang bisa ia rasakan dari Lily.
Lily membalasnya dan membiarkan tubuhnya dikuasai Cia. Ia tahu persis bagaimana perasaan Cia sekarang. “Kak Lily juga kangen sama Cia.”
Untuk sesaat keheningan tercipta sampai Cia terlebih dulu melepas pelukannya. Lalu perhatiannya tertuju pada seragam sekolah Lily.
“Em, ini tanda tangan dari teman-teman Kakak sebagai kenang-kenangan, Sayang.”
“Aneh. Kenapa tanda tangan di baju? Sampai penuh lagi. Apa nanti nggak dimarahi guru?” Cia menyibakkan jaket Lily yang tidak dikancing untuk melihat lebih jelas, sampai menampakkan nama laki-laki di atas saku bajunya. Nama Axel terpampang nyata di sana.
Lily menggaruk kepala, salah tingkah. Sedangkan Carol dan Pak Miko tersenyum. Dion buang muka menahan marah.
“Nanti kalau Cia udah sekolah dan lulus, Cia akan mengerti.” Carol yang menjawab. Cia manggut-manggut, entah ia mengerti atau tidak.
“Oh, iya. Selamat, ya, Ly, akhirnya kamu lulus,” ujar Carol dengan senyum yang lembut.
Dion yang sudah mendaratkan tubuhnya di samping Carol, tentu saja tidak suka itu. Namun karena ada mertuanya di sana, ia harus menahan kejengkelan hatinya. Ia harus terlihat baik dan cool.
“Terimakasih, Pak Dokter,” balas Lily dengan tersenyum juga. Tentu saja gadis itu sudah tahu profesi Carol.
Dion semakin tidak baik. Untuk meredam gejolak di hatinya, ia bertanya, “bagaimana keadaan Papa?”
__ADS_1
“Baik. Kamu apa kabar?”
“Baik juga, Pa. Maaf, Dion jarang mengunjungi Papa,” sesalnya dengan tulus.
“Tidak apa-apa. Papa tahu kamu orang sibuk. Yang terpenting kita semua sehat-sehat.” Papa menjeda sebentar, “kapan orangtua kamu pulang? Kata Lily mereka pergi ke Perancis.”
“Belum tahu, Pa. Papi dan mami belum mengabari. Sepertinya mereka sekalian berlibur di sana.”
Untuk beberapa saat ketiga pria dewasa itu diam, hanya menyaksikan Lily dan Cia sedang bermain jari tangan dengan diselingi canda tawa. Terlihat kedua perempuan beda usia itu sangat dekat. Dion tidak suka itu. Bukan dalam artian tidak menyukai Cia, tapi jika mereka sedekat ini maka besar kemungkinan akan sering bertemu. Tentunya Carol juga.
“Ternyata kalian berdua saling kenal, ya? Papa baru tahu tadi. Itu juga Nak Carol yang memberitahu.”
“Iya, Pa. Kita bersahabat mulai dari SMP.”
Kemudian ketiga pria beda profesi itu menceritakan tentang pekerjaan masing-masing dengan sesekali saling bertanya.
Sampai akhirnya seorang pelayan dari kafe datang untuk meminta papa ke kafe sebentar. Papa pamit lalu pergi. Lily ingin ikut tapi tidak mungkin ia meninggalkan Cia. Sedikit heran kenapa sampai papa turun tangan masalah dapur. Yang ia tahu, Adnan sudah kembali ke Jakarta dan pasti sudah bekerja lagi.
Sambil menyaksikan kedua perempuan itu bermain, Carol bertanya, “Ly, kamu nanti mau lanjut kuliah atau bagaimana?”
“Iya, Pak Dokter. Lily mau lanjut kuliah,” jawab Lily tanpa memandang lawan bicaranya karena sangat asyik bermain dengan Cia.
“Mau kuliah di mana dan ambil fakultas apa?” Terlihat antusias.
Lily menghadap ke depan, menghentikan permainannya sesaat, “Lily udah daftar SNMPTN di dua perguruan dan fakultas yang Lily pilih fakultas kedokteran dan teknik, Pak Dokter.”
“Wah, ternyata kamu berminat ingin bergelut di dunia dokter, ya. Dan kamu pasti salah satu murid pintar di sekolah karena mampu ikut SNMPTN. Semoga kamu lulus, ya.”
Lily malu-malu, “terimakasih, Pak Dokter.”
Dion sungguh tidak terima pria lain memuji Lily, sekalipun itu sahabatnya sendiri. Dan gadis yang sudah menjadi istrinya itu? Menyesal dia membawanya kemari.
“Kak Lily, kita ke kebun bunga, yuk!”
“Oh, iya, Sayang. Ayo!”
Setelah kepergian duo perempuan itu....
__ADS_1
“Lo ngapain kepo amat urusan istri gue?” sinis Dion. Ia menyikut lengan Carol.
Dan meledaklah amarahnya yang ditahan-tahan sejak tadi.