Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Anggap Seperti Ibu Kandung


__ADS_3

Lily masuk ke dalam kamar. Menghempaskan tubuh ke atas ranjang dengan menelungkup, menyembunyikan kepala di balik bantal. Wajahnya masih merah padam menahan rasa malu karena semua isi hatinya dia sampaikan di buku kesayangannya itu. Merutuki kelalaiannya yang meletakkan barang rahasia di sembarang tempat.


Tunggu! Terakhir aku meletakkannya di mana, ya? Di dalam tas? Iya, di dalam tasku. Berani sekali Mas Dion menyentuh bahkan sampai membongkar-bongkar barang milikku. Sementara aku nggak pernah menyentil barangnya secuilpun, kecuali ranjang ini, ya. Dia itu keterlaluan!


Pindah posisi dengan terlentang lalu berpikir lagi.


Tapi kapan Mas Dion mengambilnya? Kurang kerjaan amat dia mengambil itu dengan sengaja, dia itu mana ada waktu untuk jahil. Diakan selalu fokus dengan kerjaannya, mukanya aja serius terus. Duuh!


Lily terus berpikir mengapa diary kesayangannya bisa berpindah ke tangan lelaki itu. Terlebih lagi Dion membaca semua tulisannya di sana.


Dia bangkit dan berjalan mondar-mandir.


“Dia pasti bohong. Dia nggak mungkin membaca diaryku. Mana mungkin dia tertarik untuk membacanya,” gumamnya dengan mantap namun masih terus mondar-mandir.


“Tapi kalo benar dia membacanya, gimana?” Panik lagi, “aku kan menulis di diary itu kalo aku menyukainya. Aku kan malu.”


Tiba-tiba dia berubah jadi sedih dan gusar, dia yakin Dion tidak akan membalas perasaannya. Lagipula siapa dirinya? Dia menikah dengan pria itu karena keinginan orangtua. Bukan menikah karena alasan saling menyukai dan menginginkan.


Pria itu jelas tidak menyukainya. Dion menganggapnya sebagai gadis kecil ingusan. Dia suka dengan wanita dewasa dan elegan seperti wanita yang dilihatnya di pernikahan dulu. Mengingat itu hatinya perih. Namun itu adalah kenyataan yang benar adanya.


Gadis itu akhirnya terlelap setelah lelah berpikir dengan segala kemungkinan.


***


Pagi hari datang. Lily dibangunkan dengan suara air dari kamar mandi. Sebentar dia mengerjapkan mata dan menggeliat agar kesadarannya terkumpul. Lalu duduk dan membenarkan pendengarannya kalau dia memang mendengar gemericik air.


Tidak sama sekali. Dia tidak mendengar suara air. Mungkin tadi dia hanya bermimpi. Dipandangnya semua sudut ruang kamar, tidak ada siapapun. Dilihatnya juga jendela yang ditutupi tirai putih, di luar sudah terang benderang.


Jam berapa sekarang?


Belum juga sempat melihat jam dinding, suara derik pintu kamar mandi terdengar. Cepat-cepat gadis itu berbaring lagi dan menarik selimut sampai menutup kepala. Napasnya memburu. Dion keluar dari sana. Ternyata suara air yang didengarnya tadi nyata, bukan mimpi.


“Ehm.” Dion berdehem, Lily tetap pada posisi. Tidak mau bergerak alias pura-pura tidur.


“Aku tahu kamu sudah bangun.” Gadis itu tetap diam.


“Buku harianmu di atas meja.”


Masih diam.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan pergi.”


Dion berjalan, membuka pintu dan menutupnya lagi.


Mendengar suara pintu ditutup, Lily menyibakkan selimut dari kepalanya. Alangkah terkejutnya dia karena Dion masih ada di sana dan berjalan mendekatinya.


Aku dikerjai!


Lily menutup lagi wajahnya dengan selimut. Bagaimanapun juga gadis itu masih memiliki urat malu.


“Bersiaplah, kita akan mengantar mami dan papi ke bandara.”


“Aku nggak ikut,” jawabnya dari balik selimut.


“Kenapa?”


“Mm, aku akan ke sekolah.”


“Ngapain?”


“Kangen aja ke sekolah.”


“Hari ini sekolah tutup. Ini tanggal merah. Bersiaplah, sebentar lagi kita mengantar mami dan papi.” Dion berbalik hendak pergi.


Gadis itu segera terduduk. “Aku nggak bisa ikut. Aku nggak enak badan!” serunya dengan suara lantang. Dasar Lily, dengan suara begitu siapa yang akan percaya jika dia sedang tidak enak badan.


Dion tersenyum kecut tanpa berpaling, “lima belas menit. Dalam waktu itu kamu harus sudah turun ke bawah.” Berjalan lagi.


“Aku nggak mau!”


Dion berhenti lagi, “ini permintaan mami. Apa kamu mau membuat mami sedih?”


“Iihh.”


***


Di mobil menuju bandara. Para lelaki duduk di depan dan wanita di belakang. Dion yang mengemudikan mobil.


“Sayang, kamu nanti mau dibawakan oleh-oleh apa?” tanya mami setelah lama mereka diam. Mami membelai rambut panjang Lily yang menjuntai dan masih lembab.

__ADS_1


Lily yang sedari tadi fokus melihat keluar segera menoleh. Wanita yang tetap cantik meski sudah berumur di sampingnya itu sedang melihatnya tersenyum.


“Lily nggak mau oleh-oleh apapun, Mi. Lily cuma mau Mami dan Papi pulang dengan sehat dan selamat.”


Mami semakin mengembangkan senyum. Diraihnya tubuh Lily dan dibawa dalam pelukannya. “Mami menyayangimu, Sayang.”


“Lily juga menyayangi Mami,” ujar gadis itu dan membalas pelukan mami.


“Kamu sudah pernah ke mana saja?” tanya mami lagi setelah pelukan mereka lepas. Mami sengaja mengajak mengobrol agar perjalanan panjang ini tidak membosankan.


“Maksud Mami?” Gadis itu tidak mengerti.


“Maksud Mami, kamu sudah pernah ke negara mana atau ke kota mana, gitu.”


“Oh. Lily belum pernah ke luar negeri, Mi. Dan Lily kalau ke luar kota paling juga ke kampung, ke rumah kakek dan nenek. Itu juga dulu, waktu kakek dan nenek masih hidup.”


Papi menoleh ke belakang untuk melihat Lily, sedangkan Dion melihat dari kaca spion. Entah apa maksud mereka memandang Lily dengan bersamaan. Mungkin merasa iba, kasihan atau yang lain.


“Kalau maksud Mami liburan, Lily suka pergi dengan teman-teman kalau libur sekolah. Dan kita perginya nggak jauh-jauh, di kota ini aja,” tutur gadis itu lagi dengan senyum sumringah.


Papi dan mami saling pandang. Mata mereka seperti mengatakan sesuatu.


“Memang tidak pernah ada acara tour dari sekolah keluar kota atau keluar provinsi, gitu?” Mami penasaran.


“Sebenarnya dulu waktu perpisahan SMP ada, Mi. Tour ke Jogja. Tapi Lily nggak mau ikut.”


“Kenapa kamu tidak mau ikut?” Mami semakin penasaran, begitupun dengan papi dan Dion. Terbukti dengan diamnya kedua lelaki itu sedari tadi, tidak ada obrolan yang tercipta diantara mereka. Mereka menajamkan pendengarannya, tidak ingin satu katapun terlewatkan dari bibir Lily.


Lily tertunduk, “itu karena dulu mama baru meninggal. Lily nggak mau pergi jauh dari papa. Lily takut papa juga akan pergi tinggalin Lily.” Tangis anak itu hampir tumpah. Entah mengapa setiap kali mengingat mama, gadis itu langsung sedih.


Hati mami bergetar, ditariknya lagi tubuh Lily ke pelukannya. Diciuminya wajah dan pucuk kepala Lily bertubi-tubi. Naluri keibuannya keluar. Sebagai seorang ibu, dia tahu gadis yang sudah jadi menantunya itu merindukan kasih sayang ibu.


“Mulai sekarang, Mami bukan hanya mertua kamu. Anggap Mami seperti ibu kandung kamu, ya, Sayang. Kalau ada masalah, cerita ke Mami, oke?”


Lily mengangguk dalam pelukan Mami. Papi memandangi kedua wanita itu dengan tersenyum. Dion memalingkan muka ke samping jendela mobil. Dia semakin sadar betapa gadis itu sangat berharga bagi Pak Miko.


“Dion, kamu jaga Lily baik-baik! Kalian harus akur seperti tadi malam.”


“Mm, tadi malam?”

__ADS_1


__ADS_2