
Lily ikut masuk ke sebuah ruangan. Sudah dilarang pun gadis itu tetap ngotot. Nyalinya untuk membangkang pada Dion sepertinya mulai tumbuh. Walaupun Dion memasang wajah tegas dan mengancam, Lily tidak gentar. Lily sudah terbiasa dengan sikap dan wajah dingin itu.
Yang dia tahu, dia sudah bagian dari keluarga ini. Jadi dia punya hak dong hanya untuk sekadar mengetahui isi setiap sudut di rumah ini. Dia juga tidak akan mengobrak-abriknya, hanya melihat saja.
“Ruang apa ini, Mas?”
“Ruang karaoke,” jawab pria itu judas. Masih juga kesal karena Lily ikut masuk. Tangannya memilih-milih buku.
“Aku kira perpustakaan.”
“Udah tahu masih nanya,” ketus pria itu lagi tanpa menoleh.
Ya udah diamin aja lah. Kalau diajak bicara lagi nanti aku dilempar keluar.
Gadis itu berjalan menyusuri lorong rak buku. Takjub melihat buku-buku tersusun rapi di rak yang menjulang ke langit-langit. Dia mencium aroma bau buku yang khas. Ahh, dia jadi ingin mengulang sekolah lagi dari bawah.
Dibacanya satu-satu tulisan yang ada di batang buku tanpa menyentuh, semua tentang bisnis, ekonomi, perbankan, real estate dan lain-lain. Kalau disuruh untuk menjelaskan secara sederhana saja, dia nyerah. Lebih baik dia disuruh menghapal sistem periodik unsur-unsur kimia, rumus yang sulit dia kuasai.
“Kamu ngapain di situ?” tanya Dion yang sudah mengambil salah satu buku dan duduk di sebuah kursi. Melihat Lily yang berjalan pelan-pelan mengamati buku-buku, kedua tangan gadis itu bergandengan di balik tubuhnya.
“Cuma lihat-lihat aja, Mas.” Lily terus berjalan sambil mengamati, siapa tahu ada buku yang menarik perhatiannya.
“Di sini tidak ada buku cerita atau buku dongeng atau komik. Lebih baik kamu keluar.”
“Nggak mau.”
Gadis itu kemudian pindah ke lorong berikutnya yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan Dion. Mencari-cari buku yang menarik untuknya. Tidak ada juga, semua buku di sana membosankan untuknya.
Ya sudah lah, asal ambil saja. Setidaknya ada alasan untuk dia tetap tinggal di ruangan itu. Daripada di kamar sendirian tidak ada teman bicara. Seandainya dia ada di rumah papa, dia akan mengundang Luna untuk datang.
Gadis itu duduk di depan Dion. Dion melihat buku yang dipegang Lily. Lalu melanjutkan lagi membaca bukunya.
Dengan malas-malasan Lily membuka halaman pertama buku itu dan mulai membaca judul, “apa ini? Zero to One?”
Sementara Dion tidak acuh, tetap melanjutkan bukunya.
__ADS_1
Baru juga setengah halaman, gadis itu sudah bosan. Dia capai karena selain membaca, otaknya juga letih mentranslet kalimat dalam bahasa inggris yang dibacanya di novel itu. Akhirnya diputuskan berhenti membaca.
Diliriknya Dion di depannya yang tetap serius membaca.
Apa dia selalu serius dalam segala hal?
“Mas.”
Yang diajak bicara tetap fokus.
“Mas Dion.” Lily memanggil dengan sedikit nada manja, tidak ada takut-takutnya. Dion tetap pada pendirian, diam.
Lily mengangkat tangan, menempelkan sikunya di atas meja dan menopang dagu. Memperhatikan setiap lekuk wajah tampan nan dingin itu.
“Mas Dion kenapa jarang sekali senyum?” Pertanyaan dilayangkan. Tidak ambil pusing walau Dion mengacuhkan. Yang penting dia bicara.
Langsung Dion memindahkan pandangannya ke Lily dengan mengerutkan dahi, tapi hitungan detik fokus lagi pada bukunya. Tidak menjawab.
“Itu, keningnya juga selalu ditekuk sampe berkerut. Nggak takut cepet tua, Mas?” Gadis ini ya, benar-benar tidak ada takutnya.
Terdengar tarikan napas memburu Dion, lalu dikeluarkan dengan kasar. Mata tetap pada buku. Membalik halaman dan membaca lagi.
Sontak saja Dion kaget. Gadis itu sedang mencari perkara dengannya. Dengan menahan amarah, Dion berkata, “kembalikan!”
“Nggak mau.” Gadis itu mundur beberapa langkah. Menjauh dari jangkauan tangan Dion. Gadis itu tahu Dion sudah gondok bukan main. Sepertinya Lily mau mengetes sampai sejauh mana kemarahan Dion. Atau dia juga penasaran setelah ini apa yang akan dilakukan pria itu. Marah-marah? Haha, Lily sudah kenyang kalau hanya melihat Dion marah-marah.
Dion berdiri, menggeser kursi juga. Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana selututnya. Berjalan santai mengitari meja. Lily bergerak menjauh, ambil kuda-kuda takut kalau-kalau Dion akan menarik tangannya atau merampas balik buku itu. Dia sedikit berlari dan sekarang sudah berdiri di belakang kursi yang diduduki Dion tadi. Dion juga sudah di kursi Lily tadi.
Lily melihat Dion, begitupun sebaliknya. Lily sekilas bisa menangkap ada senyum sinis di bibir pria itu.
“Kembalikan,” pinta Dion dengan suara lembut.
“Nggak.” Lily semakin bersemangat menjahili Dion karena laki-laki itu tidak terlihat marah.
“Baiklah.” Dion berjalan menjauhi Lily, mendekati sebuah pintu yang ada di ruangan itu juga. Tidak tahu pintu apa itu.
__ADS_1
Lily penasaran, dia ikut dari belakang namun dengan jarak aman. Takut kalau itu adalah tipu muslihat Dion. Tidak menunggu lama Dion keluar dengan membawa tas kerja di tangannya. Lily cepat-cepat berlari ke meja tadi.
Dion masih dengan berjalan santai, sama sekali tidak terlihat kesal atau marah. Lily sampai bertanya dalam hati ada apa dengan pria bertubuh tinggi itu. Biasanya kalau Lily hanya banyak bicara saja Dion pasti langsung jengkel. Tapi ini? Lihat itu, pria itu sepertinya tidak terusik dengan keusilan Lily.
Dion meletakkan tas kerjanya di meja itu. “Yakin kamu tidak mau mengembalikan buku itu?” tanya Dion sekali lagi.
Kali ini Lily hanya menggeleng, tidak mengeluarkan suaranya. Menyembunyikan buku itu di balik punggung. Ada sedikit rasa was-was dengan perubahan sikap Dion. Melirik tas, dan bertanya-tanya apa yang ada di dalamnya.
Dion membuka kancing tas, tangannya masuk ke dalam. Setelah memegang sesuatu, Dion menarik tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Aku juga tidak akan mengembalikan ini,” ucapnya kemudian.
Lily melihat. Mata gadis itu melotot tidak percaya, “i, itu. Kenapa buku diaryku ada sama, Mas?” Langsung berlari mendekat. “Kenapa, Mas?” Tangannya menengadah.
“Nggak tahu.” Dion mengikuti cara bicara Lily. Tidak memberi buku diary itu meski tangan Lily sudah melayang di udara. Tetap mengangkat benda itu tinggi-tinggi.
“Balikin, Mas.”
“Nggak mau.” Dion balas dendam.
“Ya udah, kita barter, Mas.”
“Tetap nggak mau.”
“Ihh, Mas Dion.” Gadis itu melompat-lompat berusaha meraih buku diarynya. Dion bersiul-siul. Lily melompat sekuat tenaga tapi diarynya tidak bisa diraih.
Karena capai, gadis itu berhenti melompat dengan napas ngos-ngosan. Tatapan gadis itu lekat pada wajah Dion.
“Apa Mas Dion membaca diaryku?”
“Hm.”
Menelan ludah. “Semua?”
“He em.”
__ADS_1
Wajah gadis itu langsung berubah merah. Persetan dengan diary itu. Yang harus dia selamatkan sekarang adalah wajahnya yang sangat merah itu. Diletakkannya buku yang dirampas tadi ke meja dan secepat kilat lari keluar menuju kamar. Dirinya harus lenyap dari pandangan Dion.
Dion tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Lily.