
“Kamu utang penjelasan padaku. Di telepon atau pesan belum kamu jawab,” Carol tak kalah menghardik. Sebenarnya itu bukan salah Dion sepenuhnya. Dia dan keluarganya diundang ke pernikahan. Namun karena keadaan, tidak ada satupun anggota keluarga yang bisa hadir.
Dion mendecih sebal, “kamu sudah tahu aku nikah karna dijodohkan.”
“Kok bisa dengan bunga yang masih kuncup gitu?”
“Nggak tahu. Noh tanya mami, papi!” serunya dengan mengambil sikap duduk lebih santai.
Selang beberapa menit mereka terdiam karena mendengar suara canda tawa dari belakang.
“Anakmu bisa sedekat itu dengan Lily, kenapa?” Konon katanya, Cia adalah anak yang tidak gampang akrab dengan orang lain.
“Katanya binimu cantik seperti bunga dan manis seperti madu.” Carol menambahkan tawa di ujung kalimatnya. Dan, tentu saja Dion tidak terpancing dengan gelak itu. Matanya memburu Carol tajam.
“Katanya atau katamu?”
Carol menghela napas menyudahi tawanya, pria di sampingnya itu memang seperti itu, terlalu serius. Bisa dihitung pakai jari berapa kali tertawa selama bersahabat dengannya. Tanpa ingin mengulur waktu, ia menceritakan awal pertemuan mereka dengan Lily dan bagaimana antusiasnya Cia bila ingin bertemu dengan gadis penjual bunga itu.
Ternyata apa yang diungkapkan Lily padanya tempo hari sama dengan yang diucapkan Carol sekarang. Gadis itu tidak berbohong.
“Manusia normal bisa melihat Lily gadis yang cantik dan manis dari segi fisiknya. Gadis yang baik juga ramah dari segi sifatnya,” tuturnya di akhir cerita. “Cia tidak pernah satu haripun absen membahas tentangnya.”
Dion tahu itu. Ia memang munafik mengatakan di awal pertemuan dulu tidak berkesan. Gengsi merajainya saat itu. Karena orangtuanya terlalu bersemangat menjodoh-jodohkan dan ia mencoba membantahnya agar terlihat tidak tertarik. Namun yang terjadi? Takdir sudah menjawab.
Dion merebahkan kepalanya dengan mata terpejam. Pikirannya berlarian di kepala.
“Apa kamu tidak melihatnya begitu? Apa kamu belum move on dari Clara?” tebak Carol. Yang Carol tahu, pria ini cinta mati pada wanita yang namanya Clara itu.
Dion menyunggingkan senyum sumbing, “kamu salah. Aku sangat bersyukur sudah bebas darinya.” Lalu ia membuka mata, merebut toples yang tutupnya sudah terbuka dari genggaman Carol, merogoh isinya dan memasukkan ke dalam mulut.
“Tidak mungkin.” Carol tidak percaya dengan menunjukkan serta tawa mengejek di bibirnya. “Aku satu-satunya orang yang paling tahu seberapa cintanya kamu pada wanita itu.”
__ADS_1
“Haha, yang kamu bicarakan itu dulu. Kamu tahu? Kini aku percaya bahwa Tuhan memang mampu membolak-balikkan hati manusia. Karena satu diantaranya adalah aku,” jawab Dion mantap.
“Kamu?” Sesaat Carol menatap lekat orang yang duduk bersebelahan dengannya itu. Mengumpulkan butir-butir fakta yang baru saja ia asumsikan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dion, “jangan bilang kamu jatuh cinta pada gadis itu?” tanyanya pelan agar tidak ada yang mendengar.
Dion menoleh, sama sekali tidak terusik atau terganggu dengan pertanyaan barusan. Binar bahagia terlihat jelas di matanya, “kamu selalu tepat menebak isi hatiku.” Senyumnya turut mengembang.
Carol menjauhkan kepalanya, “Bro, aku tahu kamu orang yang sulit jatuh cinta. Itu mustahil. Tidak mungkin secepat itu. Clara saja butuh perjuangan selama bertahun-tahun buat bikin kamu jatuh cinta.”
“Gadis ini tidak memerlukan waktu sebanyak itu untuk membuatku jatuh cinta padanya, Bro,” katanya dengan bangga. Kudapan yang ada dalam toples itu diambilnya lagi dan dimakannya.
Carol tidak bisa berkata lagi. Dion juga menandaskan gelas teh Carol.
Setelah meminum itu. “Di sini,” Dion menepuk tipis bagian dadanya sebelah kiri, “selalu berdebar bila berdekatan dan bersentuhan dengannya,” sambungnya lagi tanpa malu.
“Bro, kamu tahu, tidak? Kamu seperti anak remaja yang baru merasakan jatuh cinta.”
Tawa Dion meledak.
Sebaik Carol memuji Lily, tawa Dion sirna. Dion menatap Carol horor, “jangan pernah kamu memuji istriku apalagi sampai jatuh cinta padanya! Klinik dan rumah sakit tempatmu bekerja akan kuratakan.”
Carol bergeming. Apa yang dikatakan Dion, maka itulah yang terjadi.
*****
“Pa, Papa tidak perlu khawatir tentang pendidikan Lily selanjutnya. Dion akan mengurusnya.”
Sebelum benar-benar pamit, Dion terlebih dulu mengutarakan keinginan besarnya saat ini. Sebenarnya bukan sepenuhnya keinginannya, ia sadar betul kalau itu memang sudah menjadi tanggungjawabnya ke mana ia akan mengarahkan Lily. Carol dan putrinya sudah pulang beberapa waktu yang lalu. Sedang Lily asyik di kebun bersama Bu Sinta.
Papa senyum. “Terima kasih.”
“Papa jangan begini. Dion akan melakukan yang terbaik bagi Lily.”
__ADS_1
Ada rasa bergejolak yang menguak dari dalam diri papa. Tidak penting apakah kata-kata itu hanya sebatas penyenang hati atau memang Dion mengatakannya setulus hati. Bagi papa setidaknya ada sedikit kemajuan dalam pernikahan ini. Tidak kaku seperti di awal dulu.
Papa merangkul bahu Dion dengan hangat sembari berjalan keluar. Keduanya terlibat lagi percakapan intim sebelum Dion benar-benar meninggalkan tempat itu menuju tempatnya bekerja.
***
Seperti janjinya tadi siang, sore ini Dion menjemput gadis imut itu. Masih dengan mengendarai roda duanya. Apalagi alasannya selain agar dipeluk gadis itu.
“Mas, kalau Mas Dion lagi sibuk, aku bisa pulang sendiri kok.” Lily tidak enak hati. Pasalnya pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, Lily mendengar dengan jelas agar jadwalnya diundur. Jadi ambigunya adalah Dion banyak pekerjaan.
“Tidak, pekerjaanku sudah selesai.”
Bohong. Saat ini di mejanya sedang banyak tumpukan berkas. Fasa, asisten itu sekarang sedang jengkel karena diberi tugas yang banyak dan mendadak pula. Malam ini juga pekerjaan itu harus beres dan harus diantarkan ke rumah nanti. Begitu titah sang bos. Ambyar sudah rencananya untuk malam mingguan bersama pujaan hati. Bersiaplah dia untuk menerima amukan dari sang kekasih karena dia yang membuat janji dia pula yang mengingkari.
“Di mana papa?”
“Papa lagi di kafe.” Bingung kenapa Dion malah masuk ke dalam. “Mas, kita nggak pulang?”
“Kita tunggu papa dulu.”
“Nggak perlu, Mas. Tadi aku udah pamit sama papa. Aku udah nggak tahan pengin mandi banget.” Lily menyambar jaket yang ada di kursi.
Dion memandangi tubuh gadis itu yang masih terbungkus oleh pakaian sekolahnya. Teringat lagi pada laki-laki remaja itu. “Apa perlu tanda tangan dan nama laki-laki itu di bajumu ini?”
“Ya?” Lily mengikuti arah telunjuk Dion. “Oh, Axel.” Lily bisa melihat tatapan dingin dari mata itu. “Ini kenang-kenangan, Mas. Agar kami saling mengingat.” Tentu saja alasannya memang begitu. Masih banyak nama siswa lain yang tergores di kemeja putih itu, tapi kenapa hanya nama Axel yang dipermasalahkan?
Dion sungguh tidak menyukai jawaban itu. Saling mengingat? Tatapannya menjadi lebih tajam seperti siap hendak menghujam. “Kenapa harus di situ? Kenapa harus tepat di hati?”
Lily merasa tubuhnya kian memanas. Tidak bisa diartikan mengapa Dion bereaksi seperti itu. Dan ia pun menambahkan kalimatnya lagi, “karena lusa Axel akan pergi ke Jepang dan kuliah di sana. Jadi dia ingin agar aku selalu mengingatnya di hati.”
Ahh, menyakitkan sekali. Ia cemburu, padahal gadis ini tidak menaruh hati pada Axel.
__ADS_1
Tanpa berbicara lagi, Dion bergegas menuju kendaraannya dengan wajah usang. Sebelum menyusul, Lily terlebih dulu pamit pada Pak Seto dan Bu Sinta.