Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Ariel Berkunjung


__ADS_3

“Selamat pagi.”


“Pagi juga, Mas.”


Mereka berdua bertatapan malu-malu. Dominannya Lily yang merasa lebih malu. Pasalnya saat bangun tadi ia menemukan dirinya nempel di dada Dion. Biasanya memang begitu, tetapi untuk pagi ini beda karena mereka berpelukan tidak mengenakan pakaian. Lily menarik selimut untuk menutupi wajah, hanya menyisakan kedua bola matanya.


Dion tersenyum, “mata kuliah pertama jam berapa?” Belum menyurutkan senyum. Pria itu mengusap-usap lembut kepala istrinya. Mendapat perlakuan begini Lily tidak bisa untuk tidak semakin jatuh cinta pada Dion. Semakin ke sini pria itu semakin lembut.


“Jam delapan.” Menjawab dengan malu-malu.


Dion berpikir sebentar, “apa sebaiknya kamu izin saja untuk tidak masuk hari ini?” tanyanya kemudian dengan ragu-ragu.


“Loh, kenapa, Mas?” Lily tidak mengerti, benar-benar tidak paham mengapa Dion memintanya untuk tidak masuk kuliah.


“Itu-,” Dion berdehem, “aku pikir kamu lagi tidak enak badan.”


Lily merasa pelik, “nggak kok, Mas. Aku baik-baik aja.”


“Baiklah kalau kamu merasa begitu.” Dion duduk dan hendak beranjak namun segera ditahan gadis itu agar tidak keluar dari dalam selimut, eh apa dia masih bisa dibilang gadis, ya? 😁


“Mas, mau ke mana?” tahannya dengan bertanya. Tentu saja dia sadar kalau saat ini Dion sama seperti dirinya, sama-sama sedang tanpa busana.


“Mau mandi,” ujar Dion dengan sedikit melirik kemudian melanjutkan lagi niatnya untuk beranjak.


“Tunggu, Mas! Aku yang duluan, ya. Aku nggak tahan lagi pengin buang air.”


Dion menyeringai, “bagaimana kalau kita bersama saja?”


Dan Lily mendelik sembari menggeleng keras, “nggak mau.” Ia tentu memiliki perasaan malu untuk itu. Mengingat yang telah terjadi semalam saja dia sudah malu bukan kepalang.


“Kenapa tidak mau?”


“Pokoknya nggak mau.” Mata gadis itu mencari-cari di mana gaun tidurnya berada. Tidak ketemu. Entah ke mana Dion membuang gaunnya.


“Kamu cari apa?”

__ADS_1


“Baju tidurku, Mas.”


Dion menyibakkan selimut yang menutupi kakinya lalu turun dari ranjang dan itu membuat Lily teriak sambil memalingkan wajah.


“Kenapa kamu teriak? Ini baju kamu!” Dion menyodorkan gaun tidur Lily yang ternyata ada di ujung tempat tidur yang tertutupi selimut. Gadis itu menutup matanya seraya menengadahkan tangan meminta gaun.


“Kenapa kamu tutup mata?” Dion menarik tangan, mengurungkan niatnya untuk memberi pakaian Lily.


“Mas pakai baju dulu. Mas nggak malu apa berdiri dan telanjang di depan orang lain.” Lily tetap mempertahankan posisi wajahnya di arah yang berlawanan dengan Dion.


“Apa yang kamu pikirkan? Aku pakai celana.”


Mata gadis itu membeliak. Benarkah?


Benar. Saat Lily membuka mata dan melihat Dion, tubuh bagian bawah lelaki itu dibalut dengan long boxer di atas lutut. Lily menggerutu.


“Mas curang. Aku nggak pakai apa-apa tapi Mas ... Mas pakai celana. Nggak adil, nggak adil,” protesnya dengan mencebikkan bibir.


Dion menarik salah satu sudut bibirnya hanya 2 mm, “baiklah, aku akan membukanya kalau kau menginginkannya lagi.”


Gadis itu selesai membalutkan selimut ke sekujur tubuhnya. Saat ia turun, ia meringis menahan sakit. Tadi saat ia masih terbaring tidak merasa sesakit ini.


“Kau tidak papa?” Dion mencoba menghampiri namun ditahan gadis itu.


“Jangan bergerak! Tetap di sana, jangan mendekat.”


“Kenapa? Aku akan membantumu.”


“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Jangan mendekat!”


Dengan terseok Lily berjalan menuju kamar mandi. Ia menahan perih dan sakit yang menjalar sampai pahanya, seperti naik betis. Dion melihat itu dan merasa kasihan. Namun mau bagaimana lagi, itu sudah hukum alam wanita akan merasakan sakit di malam pertamanya.


Sebaik Dion masih tercenung memandangi pintu kamar mandi yang sudah ditutup Lily, pintu kamar diketuk. Dion menghampiri dan membukanya. Mungkin itu adalah Edu atau pelayan lain yang berniat meminta mereka turun untuk sarapan.


Saat pintu dibuka, ternyata Ariel di baliknya.

__ADS_1


“Selamat pagi, Paman Dion.” Senyum manis bocah itu membingkai wajah bule-nya. Laki-laki kecil itu sudah rapi, wangi dan rambut pirangnya disisir spike. Benar-benar stylish sekali pria bule kecil itu. “Apa aku boleh masuk?”


Dion tergelak atas ucapan terakhir Ariel. Bule cilik itu berbicara layaknya orang dewasa yang sedang minta izin. “Tentu.” Dion membuka lebar pintunya membiarkan anak itu masuk.


Ariel mengamati sekitar, mencari sesuatu, “di mana Bibi Belle-ku, Paman?”


Dion bersedekap, “ada apa kau mencari istriku?” Ia balas pertanyaan Ariel dengan air muka serius pula, namun dengan tawa yang tertahan.


“Aku ada janji dengannya. Istri Paman punya hutang padaku,” balas Ariel serius juga.


“Aku kaya. Tidak mungkin istriku punya hutang apalagi hutang kepada anak kecil sepertimu.”


Akting terus berlanjut. “Hutangnya tidak bisa dibayar dengan materi. Paman tidak perlu tahu, ini rahasia antara kami. Sekarang katakan saja di mana istri Paman itu.” Berjalan menuju ranjang, mengacuhkan Dion yang menggerutu di sana. Ariel fokus memandangi tempat tidur yang tidak ada selimutnya, dan apa itu?


“Apa ini, Paman? Apa ini darrah?” Dion mendekat lalu mengikuti telunjuk keponakannya.


Dion tersentak. Seharusnya ia sadar dari awal kalau akan ada cairan merah atas perlakuannya. Dan anak kecil ini yang pertama melihatnya. Dion kalap dan buru-buru melepas sprei itu.


“Bukan, ini hanya noda.”


Ariel mengalihkan perhatiannya ke tubuh Dion yang memunggunginya tanpa memakai baju. Dahinya mengkerut, “Paman, apakah Paman dan bibi berkelahi?”


“Tidak. Kenapa kami harus berkelahi?” Dion naik ke ranjang untuk melepas bagian sudut sprei di sebelah sana.


“Lalu kenapa punggung Paman ada bekas cakaran?” Dion menegakkan tubuhnya. Ia pikir dari tadi tubuh bagian belakangnya sakit karena salah tidur. Tapi kenapa bisa ada bekas cakaran seperti yang dibilang Ariel. Ah, Lily.


“Oh ini. Paman meminta bibimu untuk menggaruk punggung Paman karena gatal. Dan bibimu malah menggaruknya dengan keras,” jawab Dion mantap. Ia segera membereskan urusan sprei-nya.


Ariel melihat lagi pakaian Dion dan Lily teronggok di bawah kasur. Anak bule itu benar-benar tidak habis pikir dengan paman dan bibinya yang sudah dewasa. Dirinya saja yang masih kecil sudah disiplin menyimpan barang pada tempatnya.


“Kamu turun saja duluan. Paman dan bibi akan segera menyusul.” Dion menggiring tubuh Ariel untuk keluar. Bisa dipastikan anak ini akan lebih banyak lagi bertanya ini dan itu kalau dibiarkan lebih lama untuk tinggal.


“Tapi, Paman. Aku perlu bicara dengan bibi.” Mencoba menahan tubuhnya.


“Nanti saja kalian bicara di bawah. Lagipula bibimu sedang mandi.”

__ADS_1


Dion mendorong lembut tubuh kecil Ariel sampai berada di luar kamar. “Sampai nanti.” Kemudian ia menutup pintunya. Dion menarik napas dalam-dalam dan berharap Ariel tidak memberitahu siapapun apa yang dilihatnya di kamar ini. Kalau anak itu diingatkan agar tidak memberitahu, ia malah akan heboh dengan berteriak-teriak. Sama sekali tidak bisa diajak kompromi.


__ADS_2