
Pagi telah menjelang,Maria sudah bangun dan sudah selesai dengan kebutuhan pribadinya yaitu mandi dan membereskan kamar.Maria menuju dapur dan berniat untuk masak.Tapi dilihatnya seorang perempuan paruh baya telah sibuk mempersiapkan makanan.
"Pagi nyonya... Saya bik Nah,ada yang bisa saya bantu".seru Bik Nah asisten rumah tangga Dio yang setiap pagi sudah berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan pagi.
"Tidak bik, terimakasih, bolehkah saya membantu bik?". tanya Maria dengan sopan.
"Tidak ada nyonya, sebaiknya nyonya membangun tuan saja, tumben jam segini tuan belum turun".ujar Bik Nah.
Dengan langkah gontai Maria untuk pertama kalinya menuju kamar Dio.Diketuknya pintu kamar hingga tiga kali,tapi tidak ada sautan dari dalam.Maris berinisiatif membuka kamar pribadi Dio dan ternyata tidak dikunci.Maria melongok kan kepala nya ke kamar Dio dan memanggilnya.
"Dio... apakah kau di dalam?". tanya Maria kikuk.tapi lagi lagi tidak ada Jawaban.
Maria akhirnya memberanikan diri untuk masuk,dan baru dua langkah Maria menginjakkan kaki di kamar Dio,Maria melihat Dio keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk dililit di pinggangnya dengan rambut yang masih basah dan terlihat dada bidangnya.Dengan susah payahnya Maria menelan Saliva nya,dan memutar badannya serta menutup wajahnya.
"Maaf aku kira kau belum bangun,aku tidak berniat macam macam, sungguh".ujar Maria merasa bersalah karena dengan seenaknya masuk ke kamar Dio.
"heemmm"Dio hanya berdehem.
"Kau ingin tetap disini melihatku berganti pakaian atau...."belum sempat Dio melanjutkan perkataannya Maria sudah ngibrit keluar kamar dengan tergesa-gesa.
"Dasar gadis bodoh".Gumam Dio pelan.
__ADS_1
sesampainya di lantai dasar,Maria merutuki dirinya sendiri dan memukul kepala nya dengan tangannya.
"Kamu kok oon sih Mar, nyelonong aja dikamar cowok, untung masih pake handuk kalo....".Maria enggan membayangkan yang seharusnya tidak dilihatnya.
"Kenapa jantungku rasanya mau lompat liat Dio gak pake baju".gumam Maria sambil memegang dadanya yang berdetak sangat kencang.
Bibi melihat Maria dengan tatapan bingung.
"Nyonya sarapan sudah siap,anda mau makan sekarang atau menunggu tuan?"tanya bibik sopan.
"Nanti saja bik , tunggu Dio sekalian".jawab Maria halus dan berjalan menuju dapur untuk sekedar menata makanan di meja makan.
"Maaf bik bisakah saya saja yang membuat kopi untuk Dio?". tanya Maria ragu.
"Tentu nyonya , silahkan...."Bibik menyerahkan cangkir yang telah diambilnya membuat kopi untuk Tuan Dio.
"Tuan Dio suka dengan kopi Hitam bercampur krimer nyonya, dengan takaran 2 sendok teh kopi,gula 1 sendok teh,serta krimer secukupnya".Bibik menjelaskan agar Maria paham selera suaminya.
"Baik bik terimakasih,dan mulai sekarang biar saya saja yang membuat kopi untuk Dio".ucap Maria yang memohon agar permintaan nya dikabulkan.
"Baik nyonya".jawab bibik.
__ADS_1
tak berapa lama Dio turun dengan pakaian kasual dan menuju ruang makan.Maria memberikan secangkir kopi di hadapan Dio.
"Terimakasih.."ucap Dio dengan meraih secangkir kopi buatan istrinya dan menyruput kopi panas dihadapannya.
"Lumayan...".gumam Dio dalam hati.
"Hari ini aku tidak ada kegiatan,jika kau butuh sesuatu aku bisa mengantar mu".seru Dio yang melihat Maria sudah sibuk dengan makanan di mulutnya.
"Karena kita masih cuti dua hari aku berencana menemui teman-teman ku".jawab Maria dengan sopan.
"Temanmu yang mana? bukankah teman kantormu masih liburan di Bali? tanya Dio penasaran.
"Bukan,tapi teman teman kuliahku,aku kangen mereka, mereka tidak tahu jika aku sudah menikah.kemarin aku tidak sempat mengundangnya"Maria menjelaskan.
"Maukah kau ku antar"tanya Dio berharap.
"Tidak perlu,aku bisa naik taksi".jawab Maria yang sudah selesai makan dan hendak membereskan bekas makannya tapi dilarang Bik Nah.
"Biar saya saja nyonya".ujar Bik Nah yang meraih piring makan Maria.
"Kalo gitu aku pamit dulu untuk bersiap siap".ucap Maria yang meninggalkan Dio seorang diri di meja makan.
__ADS_1