Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Oh Clara


__ADS_3

Siang yang masih terik. Lily tidak menduga Clara akan berani berujar seperti itu padanya. Ahh, tentu saja berani. Bahkan memeluk dan mencium Dion pun wanita itu berani padahal sudah tahu Dion sudah menikah. Lily jadi jengkel mengingat itu.


“Maaf, Tante. Aku nggak tertarik dengan tawaran Tante.”


Clara mendelik. Tante? Namun demi memuluskan rencananya, Clara membiarkan Lily memanggilnya apa saja. Dia harus berusaha merayu Lily. Gadis seusia Lily biasanya akan mudah dipengaruhi karena mentalnya yang masih labil.


“Kamu bisa meminta apa pun asal kamu mau berpisah dengan Dion. Aku tahu kalian menikah karena dijodohkan, 'kan? Jadi tidak sulit untuk berpisah karena tidak ada cinta dalam pernikahan kalian.” Clara berbicara dengan penuh keyakinan. Bibirnya tersemat senyum manis.


“Tante, maaf. Kalaupun aku menginginkan sesuatu, Mas Dion mampu memberikannya. Mas Dion bahkan memberikanku kartu tanpa batas sampai aku bingung mau menggunakannya untuk apa saja.”


Senyuman Clara yang semula menghiasi bibir kini sirna. Sombong sekali gadis ini, pikirnya.


“Dan aku rasa ada atau nggaknya cinta di pernikahan kami, cukup aku dan Mas Dion saja yang tahu,” sambung Lily lagi.


Clara tidak menyangka Lily akan menjawab seperti itu. Ia menenangkan hatinya yang mulai membuncah dengan menarik napas panjang. “Kamu ini gadis kecil tapi berbicara seperti lebih memiliki banyak pengalaman tentang cinta. Kamu tahu tidak, Dion itu susah untuk didekati. Hanya untuk sekadar berbicara dengannya saja sulit. Apalagi untuk mendapatkan cintanya. Aku saja bahkan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menjadi kekasihnya. Jadi, gadis kecil dan menyebalkan seperti dirimu sudah pasti bukan selera Dion,” desis Clara panjang. Senyuman ramah yang ia tunjukkan di awal tadi tidak tampak lagi. Membuat Lily geleng-geleng kepala. Perawakan yang anggun dan wajah yang cantik bertolak belakang dengan hatinya.


“Kasihan sekali, Tante. Aku nggak butuh waktu selama itu agar menjadi dekat dengan Mas Dion. Aku rasa Tante nggak lupa, 'kan, kalau Mas Dion pernah bilang kalau aku dan Mas Dion akan terus bersama sampai ke masa depan?!”


Clara melihat Lily penuh amarah. Gadis itu walau wajahnya terlihat imut dan polos, tapi ia memiliki keberanian menantang Clara dengan kata-kata menyakitkan. “Dion mengucapkan itu tidak dengan sungguh-sungguh. Dia hanya masih marah saja padaku. Aku lebih lama mengenalnya daripada kau. Jadi aku lebih tahu bagaimana watak Dion.”


Lily tersenyum, “kalau memang Tante lebih mengenal Mas Dion, kenapa Tante bisa membuat dia marah sampai begitu lama?” Clara semakin marah mendengarnya. Lily berdiri dan membenarkan letak tote bag-nya. “Tadinya aku mau membantu Tante untuk mendapatkan maaf dari Mas Dion. Tapi aku lihat Tante kurang baik padaku. Jadi, aku batalkan saja niatku itu. Aku permisi, Tante, bye.”


“Tunggu!” Clara turut berdiri dan mencekal tangan Lily. “Jangan pikir kamu sudah menang karena menikah dengan Dion, ya.” Mata Clara berkobar-kobar.


“Maaf, Tante. Aku menikah dengan Mas Dion bukan untuk meraih kemenangan atau apapun itu. Kalau Tuhan sudah berkehendak atas pernikahan kami, maka selamanya akan begitu meskipun Tante mengerahkan semua tenaga dan cara untuk memisahkan kami.”

__ADS_1


Clara semakin beringas menatap Lily. Ia sudah berkali-kali mendapatkan penolakan dari Dion. Dan sekarang Lily menambah kekesalan di hatinya karena tidak mau berkompromi. Ia mencengkram lebih kuat tangan Lily. Ingin rasanya ia melenyapkan Lily dari muka bumi ini karena gadis itulah yang membuat Dion menolaknya, begitu yang dipikirkannya sekarang.


Tangan Clara berpindah pada leher Lily dan mencekiknya. Keadaan kampus mulai sepi dan tidak ada orang yang terlihat di sana. Lily mencoba melepaskan tangan Clara yang mencekiknya dengan kuat itu. Tidak berhasil. Clara lebih kuat. Wajah Lily mulai memucat.


“Apa yang Anda lakukan?”


Gerakan tangan yang cepat dan kuat berhasil melepaskan cekikan itu. Lily tersengal-sengal dan terbatuk.


“Apa Ibu mau membunuh teman saya?” Dia adalah Uni. Kini giliran Clara yang merintih karena kedua tangannya diputar ke belakang tubuhnya. “Saya bisa memidanakan Ibu.”


“Lepaskan tanganku! Aku tidak punya urusan denganmu.” Clara mencoba berontak. Namun Uni tidak mengindahkan. Ia semakin mengangkat tangan Clara ke atas yang membuat Clara semakin kesakitan.


“Lepaskan dia, Kak.”


“Dia sudah menyakitimu.”


Uni menghempas tangan Clara. “Kalau sampai saya melihat Anda lagi menyakiti teman saya, saya akan lebih menyakiti Anda.” Jangan diragukan lagi betapa tajamnya suara dan tatapan Uni pada Clara.


Clara memegangi tangannya yang terasa berdenyut dan memandangi Lily dan Uni bergantian hingga pada akhirnya dia memilih pergi dari sana.


®®®


“Sial!!”


Clara membanting unit pintu apartemen juga tasnya. Ia begitu marah namun juga sedih. Alih-alih membujuk Lily agar mau berpisah dengan Dion hingga tanpa sengaja ia mencekik Lily, ia malah mendapat serangan balik dari orang yang berpenampilan aneh.

__ADS_1


“Seharusnya aku mendorong dia ke jalan raya biar digilas tronton dan rata dengan aspal,” teriaknya dengan amarah penuh.


Selagi Clara marah-marah, seseorang masuk karena pintu memang terbuka lebar. Siapa lagi kalau bukan Rio.


“Kau kenapa?”


Clara yang sedang memukul-mukul sofa di samping menoleh. Ia kemudian berdecih setelah mengetahui siapa yang datang.


“Mau apa lagi kau ke sini? Bukankah sudah kubilang jangan pernah lagi menemuiku?!” Clara menghunuskan tatapan tajam.


Rio tertawa sumbang mendengar teriakan Clara. “Mana mungkin aku tidak ke sini lagi sementara kau satu-satunya sumber uangku.” Duduk di sebelah Clara.


“Jangan mimpi aku akan memberikanmu uangku lagi!”


Rio tersenyum smirk. Ia lalu merebahkan punggungnya di sandaran sofa. “Kau tidak bisa menolakku, Sayang.”


Clara berdiri masih dengan sikap yang sangat tidak bersahabat. “Kau tidak akan mendapat apa-apa. Jadi pergilah!” tunjuk Clara pada pintu.


“Sepertinya pekerjaanmu selama dua pekan di Singapura membuatmu tertekan. Bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang? Ke club misalnya?”


Clara tersenyum sombong. “Aku tidak punya waktu untuk itu. Apalagi dengan orang yang tidak berguna seperti dirimu.”


“Kau!” Rio melotot dan mengeraskan rahangnya tidak terima. Sedetik kemudian ia bangkit berdiri lalu mencengkram dagu Clara dengan keras. “Kalau saja aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, akupun tidak sudi melihatmu lagi.” Rio mendorong tubuh Clara hingga punggung wanita itu menyentuh dinding.


Saat Rio ingin keluar dari sana, ia melihat tas Clara yang teronggok di lantai. Rio memunggutnya dan membukanya dengan kasar. Terdapat cek di sana yang nominalnya sangat fantastis, 300.000 SGD. Clara yang baru menyadari itu berlari dengan sisa tenaga yang ia punya. Terlambat, Rio sudah memasukkan ke dalam sakunya dan pergi berlalu.

__ADS_1


“Rio, kembalikan! Itu hasil pameran desainku selama di Singapura.”


__ADS_2