
Hari yang begitu cerah namun tidak mampu membuat Lily tersenyum maupun berwajah ceria. Keluarga itu sudah menyelesaikan sarapannya dan Dion juga sudah mengutarakan maksud kepergiannya selama dua hari ke depan.
Tidak ada protes yang berarti dari mami maupun papi, malah mereka mendukung. Sebab dua hari bukanlah waktu yang lama yang bisa memicu aksi protes, kecuali Lily.
Gadis itu tidak menyentuh sarapannya sama sekali dengan memberi alasan tidak lapar. Hanya meminum susu hangat itupun seperempat gelas. Itu bukan alasan yang dibuat-buat karena kenyataannya ia memang tidak ingin makan atau bisa dibilang tidak berselera makan. Dion sampai heran karena sebelum-sebelumnya tiap kali Lily melihat makanan, wanita itu langsung mengiler.
Dengan berat hati Lily melepas tangannya dari lengan Dion. Mereka semua sudah sampai di dekat mobil yang akan mengantarkan Dion ke bandara.
“Pi, Mi, Dion berangkat dulu,” pamitnya dengan menyambut tangan orangtuanya dan menciumnya.
“Hati-hati di jalan dan cepatlah pulang kalau urusan sudah beres.” Dion mengangguk. Kini matanya beralih pada Lily yang tengah menunduk.
“Aku berangkat.”
“M.”
Dion menarik napas dalam saat mendengar jawaban Lily yang tidak mengikhlaskan kepergiannya. Seperti tahu yang diinginkan Dion, papi mengajak mami untuk masuk ke dalam membiarkan Dion dan Lily sendirian.
“Aku tidak lama. Kalau satu hari pekerjaan di sana selesai aku akan langsung pulang.” Lily hanya mengangguk lemah. Terus memikirkan kepergian Dion kepalanya jadi terasa pusing. Ingin rasanya ia masuk ke kamar dan menangis.
“Jangan sedih. Kau tidak sendirian di rumah. Nanti dan besok supir yang akan mengantar jemputmu ke kampus.” Kembali Lily hanya mengangguk. Ia seperti tidak punya tenaga menimpali perkataan Dion. Kepalanya semakin terasa pusing dan ia merasa ingin muntah. Susu yang ia minum tadi rasanya masih menyangkut di leher, membuat ia enek.
Saat yang bersamaan Edu datang membawa buah mangga. “Ini buahnya, Tuan. Mau diapakan buah ini?” tanya Edu dengan sopan. Ternyata tadi pagi-pagi sekali sebelum kejadian mimpi buruk itu, Dion sudah memerintahkan Edu untuk membeli buah mangga tetangga itu. Bukan meminta.
“Berikan saja padanya,” ucap Dion dengan melirik Lily. “Kalau begitu aku pergi.”
“Ya, hati-hati di jalan,” ujar Lily pelan dan juga susah payah. Ia mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk. Wajahnya terlihat pucat.
“Kau sakit?”
“Nggak. Mungkin karena mimpi tadi aku jadi kepikiran papa,” dalihnya. Padahal yang sebenarnya ia merasa kepalanya semakin berat dan perutnya tidak nyaman.
__ADS_1
“Jangan cemaskan itu lagi. Papa baik-baik saja. Kau sudah meneleponnya tadi.” Lily mengangguk. Dion mengecup kening Lily membuat Edu memalingkan wajah.
Akhirnya Dion masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil itu bergerak dan meninggalkan pelataran rumah. Lily melambaikan tangan dengan lemah sampai akhirnya mobil itu lenyap dari pandangan mata. Ia meneteskan air mata.
“Mangga ini mau dikupas sekarang atau di–” Belum Edu menyelesaikan pertanyaannya Lily sudah berlari menjauh darinya. Rasa mual yang mendera perutnya memaksa untuk segera muntah.
Hanya cairan berwarna putih yang ia muntahkan karena memang ia tidak memakan apapun tadi. Ia terus muntah mengeluarkan isi perut yang mengganjal sedari tadi. Namun tidak ada apa-apa selain cairan berwarna putih itu.
“Nona, Anda kenapa?” tanya Edu panik. Lily menggeleng lemah. Ia sungguh tidak memiliki tenaga bahkan untuk berbicara. Rasa takut kehilangan Dion dan mimpi buruk tentang papa tiba-tiba terlintas lagi. Membuat kepalanya teramat berat sehingga tidak mampu ia topang lagi. Lily memegangi kepalanya dan ingin masuk ke dalam rumah setelah rasa mual mulai berkurang. Namun yang terjadi ... ia tumbang. Ia hanya melihat gelap dan setelahnya tidak sadarkan diri.
***
Lily mengejap-ngejapkan matanya berulang kali. Setelah indra penglihatannya terbuka sempurna, yang pertama ia lihat adalah lampu gantung. Lily mengejap lagi dua kali, ini adalah kamarnya atau lebih tepatnya kamar Dion.
“Lily, Sayang.” Itu suara mami. Lily menurunkan pandangannya dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati mami dan papi dan juga ... Dokter Carol yang baru saja menyimpan stetoskopnya ke dalam tas. Lily terkejut lagi mengapa dirinya terbaring di kamar dan ditunggui oleh banyak orang. Apakah dia sakit?
Lily ingin bangun namun dicegah oleh mami.
“Aku ... aku kenapa, Mi?” Aku sakit apa?”panik Lily. Bukannya menjawab ketiga orang itu malah saling pandang namun tetap dengan wajah sumringah mereka. Membuat Lily heran dan kebingungan.
“Kamu hamil, Sayang!” pekik mami sangat girang. Lalu wanita paruh baya itu mendekat dan memeluk Lily yang sangat terkejut bukan main karena berita itu.
“Untuk mengetahui usia kehamilannya, sebaiknya dilakukan usg, Tante, Om.”
“Iya, pasti, Carol. Mami ingin segera melihat cucu Mami. Semoga saja kembar. Apalagi kalau kembar perempuan. Laki-laki juga tidak apa-apa. Atau lebih bagus laki-laki dan perempuan.”
Selagi mami mengoceh ke mana-mana Lily masih ternganga tidak percaya.
***
Kini Lily tercenung di kamar mandi. Menyoroti tubuhnya di depan kaca, atau lebih pasnya menajamkan pandangannya pada perut. Dokter Carol memintanya untuk beristirahat di rumah hari ini. Jangan dulu pergi ke kampus karena tubuh Lily yang masih lemah.
__ADS_1
Perlahan ia mengangkat tangan dan meraba perutnya. Seharusnya ia tahu akan terjadi kehamilan karena baik Dion maupun dirinya tidak pernah terpikir untuk memakai alat kontrasepsi.
“A, aku, ha-mil,” gumamnya terputus-putus. Tangannya masih menempel di perut. “Itu artinya aku akan menjadi seorang ibu.” Matanya menjadi berkaca-kaca. “Anakku,” lirihnya. Ia belum bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Senang atau tidak.
Saat ia masih merenung sambil mematut diri di depan cermin, ketukan dan panggilan menyadarkannya dari lamunan.
“Lily, kamu ada di kamar mandi?” Itu panggilan mami. Membuat Lily bergegas merapikan diri dan keluar.
“Sayang, mengapa kamu begitu lama di dalam sana? Mami sudah menunggumu lama dan kamu tidak kunjung keluar. Mami cemas, takut kamu terpeleset atau pingsan lagi,” seloroh mami dengan wajah cemasnya. Lily tersenyum mendengar kecemasan mami yang menurutnya berlebihan.
“Ayo duduk!” Dengan pelan mami menuntun Lily ke tempat tidur. Wajah gadis itu masih nampak pucat. “Mami akan menyuapi kamu bubur. Tadi kamu tidak makan apa-apa. Apa kamu masih merasa mual?” Lily mengangguk.
“Kalau masih merasa mual minum susu ini dulu. Kata Carol susu ini untuk mengurangi mual. Semoga saja benar.” Mami menyodorkan segelas susu berwarna kecoklatan itu ke mulut Lily. Membuat Lily mau tidak mau meminumnya. Dan memang benar. Susu itu tidak membuatnya merasa mual. Kemudian Mami mengambil mangkuk bubur yang ia bawa.
“Mami, biar Lily makan sendiri,” tolak Lily dengan berusaha mengambil mangkuk dan sendok yang sudah dipegang mami.
“Tidak, Sayang. Mami yang menyuapimu. Ayo buka mulut!” seru mami lembut. Dengan terpaksa Lily menurut.
“Mami sangat senang kamu hamil. Tidak menyangka akan secepat ini punya cucu lagi. Terima kasih Lily. Terima kasih kamu sudah mau mengandung cucu mami,” ungkap mami dengan binar kebahagiaan di mata beliau. Sambil terus menyuapi Lily yang tidak ada tanda-tanda ingin muntah. Lily terenyuh mendengarkan mami yang terus bersyukur atas kehadiran janin di rahimnya. Matanya turut berkaca-kaca karena ia disuapi mami. Ia merasa mamanya ada dalam diri mami. Cepat-cepat dia mengapus air mata yang akan meluncur saat mami tengah fokus pada bubur.
“Tadi Mami mencoba menelepon Dion, tapi tidak bisa dihubungi.”
“Mungkin pesawatnya sudah take off, Mi.”
“Iya. Mami penasaran bagaimana ekspresinya saat tahu kamu hamil.” Mami menerka-nerka bagaimana reaksi Dion. Kemudian wanita yang masih terlihat modis itu beralih topik. “Kalau kamu ingin sesuatu, makanan atau apapun, beritahu Mami, ya. Jangan disimpan dalam hati. Wanita hamil biasanya suka tiba-tiba menginginkan ini atau itu.” Mami terus mengajak Lily berbicara sampai akhirnya bubur itu hampir habis dan Lily merasa sudah kenyang.
“Iya, Mi.” Sebenarnya ia masih menginginkan buah mangga tetangga itu. Tapi harus Dion yang memetiknya dan ia menyaksikannya sendiri. Baru dia mau memakannya.
Mami menyimpan mangkuk bubur. Tangannya meraih tubuh Lily dan memeluknya lagi. “Mami dan Papi sangat senang kamu hamil. Mami menyayangi kamu. Semoga kamu panjang umur.”
Epilog
__ADS_1
Mami sudah pergi meninggalkan Lily yang masih terduduk di tempatnya. “Kalau memang kehadiranmu bisa membuat semua orang bahagia, maka aku pun bahagia.” Ia mengusap perutnya dengan lembut sembari tersenyum.