Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Buku Harian Lily


__ADS_3

Lily masuk ke dalam kamar. Tidak ada Dion di sudut manapun di kamar itu. Baiklah, bukankah bagus dia tidak berhadapan lagi dengan laki-laki minim ekspresi itu.


Lily duduk di sofa di ujung kaki tempat tidur king size itu. Menyandarkan punggung lelahnya, mengingat kembali kejadian hari ini.


Tidak menduga sama sekali, ternyata mamanya Cia juga harus berpulang karena penyakit mematikan itu. Gadis kecil itu kehilangan mamanya di usianya yang masih teramat kecil. Lebih beruntungkah dia bisa merasakan kasih sayang ibu sampai memasuki usia remaja. Haruskah dia mensyukuri itu?


Tak terasa air matanya lolos lagi. Cia dan keluarganya bukanlah siapa-siapa. Namun hati mereka bisa sedekat ini karena nasib yang sama.


Terlintas lagi tentang pertanyaan-pertanyaan Dion tadi. Ini hanyalah suatu kebetulan. Lily hanya kebetulan mengenal keluarga Cia yang ternyata Carol adalah dokter keluarga ini. Dan pertanyaan Lily adalah, kenapa Dion harus semarah itu karena Lily dekat dengan keluarga Cia?


Digoyang-goyangkannya kepalanya yang terasa berat karena banyak menangis. Namun pikirannya belum mau berhenti bekerja. Masih terngiang-ngiang bagaimana kemarahan Dion tadi.


Benar, laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu selalu dengan keseriusan. Hanya sekali Lily melihatnya tertawa lebar, saat dirinya memakai celana yang katanya ‘Style Korea’ itu. Mulai sekarang gadis itu ingin berhati-hati bicara dengannya, jangan sampai mengusiknya lagi dengan berbohong. Pria itu sepertinya akan marah besar kalau dibohongi.


Sejauh yang Lily tahu sampai sekarang, Dion tidak pernah berbuat kekerasan dan kasar padanya. Itu nilai plus-nya. Namun satu kelemahannya, cara bicaranya yang terkesan monoton dan gampang marah kalau ada yang membuatnya kesal. Berbicara lembut bukanlah ciri khas Dion.


Lily memikirkan gaya bicara yang bagaimana menghadapi laki-laki yang sudah jadi suaminya itu. Namun sial, sangat mustahil menyamakan sifatnya dengan pria itu. Dia adalah pribadi yang ceria, banyak bicara, dan murah senyum. Bertolak belakang dengan Dion yang serius, kaku dan pelit ekspresi.


Mungkinkah mengurangi banyak bicara adalah pilihan yang terbaik? Tapi, bisakah dia untuk tidak banyak bicara?


Bangkit berdiri, sekarang lebih baik mandi dulu. Saat mandi nanti, mungkin cara yang lain terlintas di benaknya.


**


Kini Lily duduk lesehan di depan sebuah meja masih di kamar. Di atas meja sudah ada buku diary kesayangan, bermaksud ingin menumpahkan embel-embelnya hari ini dengan menulis di sana. Sudah memakai baju rumahan, dan rambut digulung dalam balutan handuk. Dia lebih suka mengeringkan rambut begitu daripada menggunakan alat elektronik.


Sebelumnya Lily sempat menilik dari balik jendela tentang cuaca. Rinai hujan masih turun, dan sepertinya akan awet sampai malam menjelang. Kalau saja hujan sudah reda dia ingin pergi ke luar. Ke rumah papa atau ke rumah Luna misalnya.


Diraihnya hp dengan casing warna merahnya, mengetik ke grup chat satu kelas.


Hai guys, gimana tadi acaranya? Seru nggak? (Lily)


Sesaat diperhatikan benda pipih itu kalau-kalau ada balasan. Belum ada juga. Lily dengan muka malas-malasan menjatuhkan pelan ponselnya di lantai depan tempat dia duduk. Baru juga lepas dari tangannya sudah ada notifikasi masuk. Lily semangat menyambar benda itu lagi.

__ADS_1


Seru, seru banget malah. Kamu kenapa nggak datang, sih? (Teman 1)


Sorry, ya. Aku ada acara mendadak tadi. Papa maksa aku harus ikut. (Lily)


Nggak ada kamu nggak seru, tahu (Teman 2)


Ah, bisa aja kamu. Tadi kalian ngapain aja? (Lily)


Tadi ada pertunjukan romantis, lho. Sayang banget kamu nggak lihat (Teman 1)


Pertunjukan romantis apa, sih? Aduh aku penasaran. (Lily)


Itu, si A nembak si C di depan kita-kita. Aduh..pokoknya sweet banget tadi. (Teman 1)


Ah, yang bener? Aduh sayang banget aku nggak lihat langsung. Eh, ada videonya, nggak? (Lily)


Ada, ada. Tadi si D sempet ambil videonya, kok. (Teman 2)


Mana sih si D, kok nggak nongol-nongol? Aku nggak sabar pengin lihat (Lily)


Tubuh sampai berpindah ke atas kasur. Geliat geliut di sana sini tanpa peduli rambut yang masih terbungkus dan basah.


Dion masuk pun gadis itu tidak tahu.


“Kenapa dengan gadis itu?” gumam Dion.


Dion berjalan ke sofa dengan sesekali melirik Lily yang asyik ketawa sendiri. Diletakkannya beberapa dokumen yang dipegangnya ke atas meja, menutupi buku harian Lily lalu masuk ke kamar mandi.


Malam harinya setelah makan malam, Lily sudah di kamar lagi. Tidak ada percakapan yang berarti antara dirinya dan Dion. Dion juga tidak menyinggung tentang pertanyaannya yang belum terjawab tadi siang dan itu membuat Lily lega.


Semenjak pulang dari Spanyol, Dion tidak pernah tidur di kamar itu lagi. Entah di mana dia tidur Lily pun tidak tahu. Mungkin sengaja biar Lily tidak tidur beralaskan tikar lagi.


*****

__ADS_1


Keesokan hari di kantor yang megah.


“Saya sudah mempelajari dokumen-dokumen ini dan saya suka. Sekarang print semuanya sebelum kita memulai rapat,” suruh pria tampan berbalut kemeja putih itu pada asistennya, Fasa.


“Baik, Pak.” Fasa meraih semua dokumen yang tersusun di meja kerja bosnya. Tangannya meraba ada yang janggal dengan dokumen yang paling bawah karena ukuran berbeda sendiri dan terasa lebih tebal. Untuk memastikan, ditariknya dokumen itu.


“Pak, apakah semua ini di-print?” tanyanya untuk memastikan.


“Tadi saya menyuruhmu bagaimana?” Balik bertanya, matanya tidak berpindah dari layar laptop.


“Apakah ini juga?” Mengangkat benda itu.


“Iya, se–,” ucapannya terhenti kala matanya menatap benda itu. Bagaimana mungkin ada dokumen semungil itu. “Apa itu?” Malah bertanya.


“Seperti note book, Pak.”


“Milik siapa?”


“Tidak tahu, Pak?”


Fasa menyerahkan benda itu karena tangan Dion sudah menggantung di depannya.


“Apa ini milik gadis itu?” gumamnya sembari mata masih lekat menatap sampul buku warna peach itu, “Tapi kenapa sampai terbawa ke sini?”


“Maksud Bapak, istri Bapak?”


Dion tersadar karena Fasa masih berdiri di sana. “Mm. Segera kamu print itu. Sebentar lagi kita rapat.”


Setelah kepergian Fasa, Dion fokus lagi dengan buku warna peach bergambarkan unicorn itu. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata ada tulisan nama lengkap Lily di cover buku itu. Tulisannya warna bening berkilauan.


“Apa seperti ini semua buku tulisnya, aneh sekali.” Perhatiannya jadi pada buku diary Lily. Tangan sudah siap untuk menarik kancing jepret buku harian itu karena penasaran dengan isinya. Namun Fasa sudah kembali lagi.


“Bapak sudah ditunggu di ruang meeting,” ucapnya.

__ADS_1


Dion mengurungkan niatnya untuk mengetahui isi buku itu. Ada pekerjaan penting yang sedang menunggunya. Dimasukkannya buku harian itu ke dalam laci kerjanya, mengambil jas di gantungan lalu pergi.


__ADS_2