Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Malam Terakhir


__ADS_3

Hari-hari terus bergulir seperti biasanya. Hari ini tepat 2 minggu setelah Adnan memutuskan untuk datang kembali ke ibukota. Setelah ucapan papa dulu, Lily jadi sering tampak termenung memikirkannya. Hatinya selalu saja bergetar ngilu bila mengingat ujaran papa yang terakhir itu.


Kali ini Lily menggoyangkan kepala. Mengusir praduga negatif yang berani-beraninya singgah di pikirannya. Itu hanyalah sebuah nasehat yang biasa diucapkan orangtua bagi kebaikan anaknya. Ia tersenyum pada diri sendiri, kemudian mengajak pikirannya untuk menyibukkan diri dengan modul pembelajarannya.


Ia membuka lembar demi lembar setelah membacanya terlebih dulu. Saat matanya dengan saksama melihat gambar anatomi perut, fokusnya buyar. Ia membayangkan gambar ginjal itu adalah mangga, karena bentuknya sama menurutnya. Sampai air liurnya datang dan ia telan berkali-kali. Gadis itu jadi teringat akan pohon mangga tetangga yang tadi pagi ia lihat saat hendak berangkat kuliah.


Lily cukup lama mengamati 'mangga' itu. Ia merasa kelenjar ludahnya lima kali lebih cepat untuk memproduksi air liur saking inginnya dia memakan buah itu. Lily berdiri hendak keluar memburu buah itu.


“Mau ke mana?” Dion yang kebetulan baru membuka pintu hendak masuk ke kamar sedikit terkejut karena kehadiran Lily yang sudah di balik pintu.


“Mau mangga, Mas. Mangga tetangga itu, lho.” Binar-binar harapan menyembul di kedua manik mata coklat gadis itu.


“Mangga lagi.” Dion mengucapkan dengan malas. “Tadi 'kan sudah banyak dibeli. Bahkan semuanya kamu yang habiskan.” Dion berujar dengan bingung. Ia berkata sembari masuk dan menutup pintu.


“Mangga tetangga itu kayaknya lebih enak. Lebih segar juga. Ayo, Mas, kita minta,” rengeknya lagi. Lily mengekori Dion sampai ke ruang pakaian. Berharap Dion mau memenuhi keinginannya.


“Enak apanya? Mangga itu masih muda dan pasti sangat asam.” Dion meringis membayangkan mangga muda ada dalam mulutnya. Dan, haha ... Apa yang akan dikatakan tetangga yang punya mangga itu kalau dirinya sampai minta-minta mangga. Seperti dia tidak bisa membeli buah itu saja.


“Nggak papa asam juga. Pokoknya Mas Dion minta, ya. Ya ... ya.” Lily menghentikan gerak tangan Dion yang mau mengambil baju piyama. Mukanya penuh permohonan.


Dion menghela napas. “Besok akan kubelikan lagi yang lebih besar dan lebih manis. Mau berapa banyak? Satu truk? Satu tronton? Atau satu hektar sekalian sama pohon-pohonnya?”


Lily malah merajuk. “Nggak perlu sebanyak itu juga, Mas. Aku cuma mau dua buah aja. Tapi buah mangga tetangga itu.” Gadis itu memonyongkan mulut.


“Haissst, permintaanmu ada-ada saja. Sudah dibilangin buah itu masih mentah, itu tidak enak.” Dion tetap acuh atas permintaan tidak masuk akal Lily. Ia melepas cekalan tangan Lily dan membuka bajunya.


“Itu enak, Mas. Cuman dilihat aja, aku langsung menelan air liur.” Masih terus berusaha membujuk. Tanpa ia sadari kalau Dion sudah telanjang dada.


Dengan menarik napas yang panjang karena Lily yang tidak ada capainya terus merengek, akhirnya Dion pasrah. “Ya, sudah. Besok kita minta.” Air mukanya sungguh tidak enak dipandang mata. “Menyebalkan,” sungutnya.

__ADS_1


“Kok besok? Sekarang dong, Mas,” rengeknya lagi.


“ Ini sudah larut malam. Mungkin saja mereka sudah tidur. Apa kamu tidak punya malu membangunkan mereka untuk minta-minta?” sewot Dion.


“Hehe. Ya, udah besok. Tapi Mas Dion janji, ya?”


“Hm.”


Gadis itu sungguh girang sampai melompat-lompat. “Makasih, Mas,” ungkapnya dengan memeluk tubuh Dion.


“Berterimakasihlah yang benar.”


“Mm?”


Dion menunjuk salah satu pipinya untuk dicium.


“Oh.” Kemudian gadis mungil itu berusaha meraih pipi Dion sampai berjinjit, “nggak nyampe, Mas,” keluhnya dengan terus berjinjit. Tangannya ia tempelkan di pinggang Dion sebagai tumpu.


Walau Dion menggerutu namun akhirnya ia membungkuk juga. Tapi bukan memberikan pipinya melainkan bibir. Lily terdiam dan ingin melepaskan tangannya dari pinggang pria itu. Tentu saja Dion tidak membiarkan Lily lepas begitu saja. Sentuhan tangan gadis itu yang mengenai kulitnya telah menyulut gairah.


Lily merasa dalam bahaya melihat tatapan Dion yang semula galak menjadi penuh maksud. Ia memundurkan langkah dengan waspada, bermaksud keluar dari situasi yang kurang baik ini. Namun tidak semudah itu, kawan. Tangan dan langkah Dion yang lebih panjang berhasil mengunci tubuhnya yang mungil dalam dekapan hangatnya.


“M-Mas.”


“Sudah kukatakan kau harus berterimakasih dengan benar.”


“Besok aja terimakasihnya kalau gitu. Kalau buah mangganya udah ada.” Berusaha menghentikan bibir yang sudah mulai berselancar ke mana-mana.


“Tidak bisa!”

__ADS_1


Tubuh mungil Lily yang tidak sebanding dengan Dion yang tinggi dan perkasa sudah pasti kalah. Entah bagaimana cara Dion, kini mereka sudah ada di kamar tidur. Dan Dion pun memulai aktivitas yang ia inginkan dengan semangat yang membara.


•••••


Pria yang masih punya tenaga itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Lily. Sementara Lily sudah terkapar tak berdaya karena ulahnya. Dion menarik ujung bibirnya melihat tanda merah yang menghiasi leher Lily. Sekali lagi ia membenarkan selimut guna menghangatkan tubuh istrinya itu yang hanya dia yang tahu sudah bagaimana bentuknya sekarang.


Lama Dion menyoroti wajah Lily dengan tangan membelai lembut kepala wanita itu, seakan-akan ini adalah kesempatan terakhir melihat Lily dari dekat. Dion menggelengkan kepala, mengutuki khayalan bodohnya yang sudah berani berpikir buruk sampai ke sana.


Tak lama kemudian ponsel pintarnya berbunyi. Ia melirik jam dinding. Ini sudah sangat larut malam. Siapa orang kurang kerjaan menelepon di jam segini. Dion masa bodoh dan meneruskan membelai kepala istrinya karena Lily bergerak mungkin terganggu dengan suara panggilan itu.


Sekali lagi ponsel itu berdering membuat Dion berdecak. Dengan hati-hati Dion memindahkan tangan Lily dari lehernya. Ya, kebiasaan gadis itu saat tidur adalah memegang jakun Dion. Awalnya Dion juga merasa risih karenanya. Namun semakin hari ia pun sudah terbiasa.


“Mau ke mana? Jangan pergi! Jangan tinggalin aku, aku takut.” Antara sadar atau tidak Lily mengoceh dengan menahan tangan Dion. Namun matanya masih tetap terpejam.


“Aku hanya mau menjawab telepon.” Setelah dijawab begitu, Lily akhirnya melepas tangannya membiarkan Dion melakukan seperti yang dikatakan tadi.


“Kenapa? Apa kau tidak punya pekerjaan harus menelepon malam-malam begini?” semburnya pada Si Penelepon. Ia menjawab telepon sembari menjauh dari ranjang, dengan sesekali melirik ke tempat tidur.


“Maafkan saya, Pak, sudah mengganggu malam Bapak. Saya sudah mengirim pesan tapi Ba-”


“Katakan saja ada penting apa? Awas saja kalau tidak penting!” ancam Dion membuat Fasa, yang ternyata adalah Sang Penelepon pasti menelan ludah di sana.


“Sekretaris Pak I Nengah Natya ingin memajukan jadwal pertemuan menjadi besok, Pak,” lapor Fasa dengan suara yang sedikit bergetar. I Nengah Natya adalah pebisnis besar asal Bali yang bakal menjadi salah satu rekan bisnis Dion.


“Kenapa tiba-tiba?” Dion sungguh terkejut. Seharusnya pertemuan mereka di Bali minggu depan.


“Lusa Pak I Nengah ada perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri sampai sekitar dua atau tiga mingguan. Kalau Bapak keberatan kita bisa membuat pertemuan lagi saat kepulangan beliau nanti,” usul Fasa.


Itu terlalu lama. Sementara rencana kerjasama untuk membangun anak perusahaan dengan salah satu pebisnis terkenal asal Bali itu sudah lumayan lama. Belum lagi rapat tadi siang para pemegang saham dan dewan direksi mendesak agar pembangunan segera dimulai. Karena tidak ada lagi kendala yang berarti untuk memulai pembangunan. Hanya tanda tangan dan meninjau ulang lokasi.

__ADS_1


“Baiklah. Siapkan penerbangannya besok. Kirimkan e-mail pada setiap anggota dewan direksi!”


“Baik, Pak.” Setelah sambungan putus, Fasa menarik napas lega. Dia beruntung Dion tidak bertanya mengapa ia memberitahu selarut ini. Pasalnya setelah pulang dari kantor tadi, ia langsung tidur dan baru terbangun beberapa menit yang lalu kemudian mengecek dan membaca e-mail penting itu.


__ADS_2