
Dion memenuhi janjinya pada dirinya sendiri. Ia membawa Lily berkeliling-keliling setelah puas menyaksikan matahari terbit di Pantai Karang, Sanur. Mereka kemudian menjelajah ke Tanah Lot di mana terdapat pura tersohor yang terletak di atas batu yang berada di pantai lepas. Ke Hutan Ubud kemudian lanjut ke Kampung Penglipuran.
Ajaib betul gadis itu. Walau waktu tidurnya tadi malam bisa dihitung dengan satu tangan, namun tidak melunturkan jiwa semangatnya. Tidak ada lelah atau sedih sama sekali. Gadis itu bisa melupakan mood buruknya dengan cepat. Lihat saja dia, ia bisa tersenyum semangat dan berkali-kali menyerukan rasa kagumnya pada setiap tempat yang mereka sambangi.
Fasa turut serta dalam perjalanan ini. Pekerjaannya tentu melayani dua insan itu tanpa mampu untuk ikut menikmati pemandangan yang ada.
“Mas, ayo foto di depan rumah yang ada pura-nya itu!”Kembali Lily menarik lengan Dion untuk mengabadikan momennya yang baru pertama kali ke sana. Ia begitu terkesima melihat setiap rumah penduduk memiliki pura. Setelah keluar dari hutan bambu dan sempat melihat warga membuat kerajinan tangan dengan bahan baku bambu itu sendiri, kini mereka menjajakan kaki di Kampung Penglipuran
“Kampung ini bersih, asri, hijau. Struktur bangunan rumah tradisionalnya juga nyaris sama semua. Aku belum pernah ke desa yang sekeren ini, Mas.” Rasa kagum gadis itu belum pudar. Matanya dengan rakus ke sana kemari menikmati keindahan yang ada. Sejauh mata memandang saat mereka tadi tiba di sana, tidak ada sampah berceceran, pun dengan polusi udara.
“Tentu. Kampung ini pernah mendapatkan penghargaan salah satu kampung terbersih di dunia.”
Lily membeliak, “apa benar itu, Mas?”
Mengangguk, “benar.”
Si Pemandu Wisata kemudian menjelaskan asal-usul kampung itu terbentuk, kebudayaan di sana sampai rutinitas warganya sehari-hari.
Lily kembali memindai keadaan sekitar dengan wajah terkagum-kagum, “wah, kok aku jadi bangga, ya, padahal baru pertama kali ke sini. Seandainya kota kita juga dapat predikat kota terbersih di dunia, ya, Mas.”
Dion tertawa sumbang, “susah kalau mau mendapat gelar kota terbersih di dunia. Meraih penghargaan adipura untuk kota terbersih se-Indonesia saja belum pernah. Masih banyak orang-orang yang belum sadar diri akan pentingnya kebersihan lingkungan hidup, mungkin kamu salah satunya.“
Terbelalak, “eh, enak aja. Aku selalu buang sampah pada tempatnya, tahu,” protesnya tidak terima.
“Sudah, sudah. Kamu mau difoto, tidak?”
“Mau, mau!”
Sudah sangat banyak hasil jepretan tersimpan di galeri dimulai dari mereka menyaksikan matahari terbit sampai di sini Lily tidak bosan-bosan untuk diambil fotonya. Memori hp sampai penuh.
__ADS_1
“Memori-nya sudah penuh.” Dion menyerahkan hp ke tangan Lily.
“Kalau gitu aku pinjem hp-nya Mas.”
“Kamu tidak bosan foto-fotoan terus?”
“Nggaklah. Objeknya indah begini mana bisa bosan.”
“Ya sudah.” Dion mengeluarkan hp dari sakunya.
Beberapa wanita dalam satu gerombol datang dan mau melewati mereka. Wanita-wanita itu mengenakan kebaya cerah dan dipadukan dengan selendang yang diikat seperti sabuk. Wanita-wanita itu terlihat sangat anggun.
“Kakak-Kakak, maaf ganggu sebentar. Apa kami bisa foto dengan Kakak-Kakak sekalian?” pinta Lily dengan sopan yang disambut ramah oleh segerombol wanita cantik itu.
“Tentu bisa, Kak.”
Fasa yang akan membidik mengambil gambar karena katanya ia tidak mau ikut berfoto. Mereka pun mengatur posisi dengan baik. Lily dan Dion yang di tengah, sedangkan wanita-wanita berkebaya itu berdiri di sisi kanan dan kiri. Sang Pemandu Wisata juga ikut diajak berfoto.
“Ehm, tunggu sebentar!” Lily mengibaskan tangannya ke depan kamera. Lalu beralih pada wanita di sebelah Dion. “Maaf, Kak. Suami saya ini kulitnya sangat sensitif. Jadi kalau bersentuhan dengan sesuatu yang baru kulitnya bisa gatal-gatal bahkan yang disentuh juga bisa kena dampaknya.” Wanita cantik berkebaya itu melihat tidak percaya dengan penyakit aneh yang baru pertama didengar. Ia juga tidak menyangka kalau dua orang itu adalah pasangan suami istri karena sangat terlihat dari garis wajah usia mereka jauh. Namun kemudian ia menarik tubuhnya memberi jarak dari Dion.
Semua orang yang mendengar terkejut begitupun Dion. “Apa maksud kamu?” tanyanya horor. Tentu saja orang yang sehat jasmani dan rohani dikatai punya penyakit aneh seperti itu akan protes.
“Jangan pura-pura kaget gitu, Mas.” Lily menatap Dion penuh ancaman. “Kamu, 'kan, kalau bersentuhan dengan cewek cantik memang begitu.” Suaranya berubah sinis. Kemudian ia berjinjit dan sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Dion, “apalagi kalau udah dipeluk dan dicium-cium, kamu akan berubah jadi patung kayak waktu dengan eks pacarmu itu,” gumam Lily namun masih bisa sampai ke rungu Dion.
Dion hampir tergelak. Oh, ternyata cemburu. Dion luar biasa senang karena Lily berani menunjukkan kecemburuannya di depan orang banyak. “Iya, Mbak. Saya memang punya penyakit seperti itu semenjak saya menikah.”
Lily melotot tidak terima. Kesannya dia seperti pembawa penyakit untuk pria itu. Namun Dion tidak acuh dan tetap menyisakan senyum kemenangan.
Dion menarik tangan Lily untuk menghadap kamera. Dion meminta pemandu wisata itu saja yang ada di sebelahnya. Pemandu wisata berjenis kelamin laki-laki itu kebingungan. Dari tadi ia memandu ketiga orang wisatawan lokal itu tidak ada kejadian aneh. Semuanya berjalan lancar, tidak ada gatal-gatal karena tadi Lily juga meminta berfoto dengan turis-turis mancanegara. Ah sudahlah, toh sampai sekarang dia tidak merasa gatal-gatal pada tubuhnya.
__ADS_1
“Sepertinya sudah cukup, Asisten Fasa.“ Lily menginterupsi. Wajah gadis itu tidak seceria tadi.
“Terima kasih, ya, Kakak-Kakak semua.” Lily beralih pada wanita-wanita berkebaya itu. Dalam hati ia menyesal mengapa ia mengajak gadis-gadis Bali itu tadi berfoto.
“Sama-sama, Kak. Kami harap Kakak juga tidak bosan datang ke desa kami ini,” balas wanita yang di samping Dion tadi.
Aku nggak mau ke sini lagi! Eh mau, sih. Tapi maunya kalian udah nggak di sini atau udah berubah jadi nenek-nenek.
“Kalau Kakak berkenan, Kakak dan Mas-nya bisa datang ke sanggar seni kami di ujung jalan sana.” Menunjuk jalan. “Nanti sore kami akan mengadakan pertunjukan tari.” Senyum gadis yang entah siapa namanya itu tetap ramah. Matanya juga tetap teguh mengintai Dion. Sepertinya dia tidak percaya kalau Dion punya penyakit yang disebutkan tadi.
“Maaf, Kak, kami nggak bisa. Kami sudah harus pulang sore ini,” tegas Lily sembari menyambar lengan Dion dan menggandengnya. Ia seperti menunjukkan kalau pria itu adalah miliknya.
“Oh, sayang sekali.”
Setelahnya tidak ada perbincangan lagi membuat gadis-gadis itu enggan tetap di sana. Mereka akhirnya pamit pergi.
“Kamu tidak takut tertular gatal-gatal dari aku?”
Lily menghempas kesal lengan Dion yang masih digamitnya. Kemudian ia berlalu cepat.
“Hei, tunggu dulu! Kamu mau ke mana?”
“Pulang!” jawabnya ketus. Lily semakin mempercepat gerakan kakinya yang dibalut oleh sepatu kets.
“Kamu tidak mau foto-fotoan lagi? Atau kamu tidak mau membeli souvenir dulu.” Dion menyusul.
“Nggak mau!”
“Atau kamu tidak lapar? Kita makan dulu.”
__ADS_1
“Nggak mau, nggak mau, nggak mau.”
Sang Pemandu Wisata kebingungan dengan perubahan sikap tamunya itu. Sementara Fasa mengikuti dari belakang dengan langkah gontai.