Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Menabrak


__ADS_3

Lily duduk di kursi panjang yang terbuat dari papan. Lututnya terlihat terluka. Dinaikkannya kaki yang sakit itu ke kursi plastik di depannya sambil ditiup-tiup. Kali ini dia memakai jumpsuit jeans pendek di atas lutut. Atasannya dibalut dengan sweater rajut. Jadi tidak perlu memotong celana untuk melihat lukanya seperti dulu.


“Neng, ban dalamnya tidak bisa ditambal. Bannya pecah, harus diganti dengan yang baru, Neng.”


“Oh, ya udah Mang, diganti aja.”


Ternyata gadis itu ada di bengkel. Sesekali dia menepis peluh yang keluar dari keningnya. Lily tadi mendorong motornya hampir 1 km di bawah teriknya matahari untuk menemukan bengkel itu.


“Neng, kakinya kenapa?” tanya seorang wanita paruh baya keluar dari warung kecil di samping bengkel itu. Mungkin kedua orang itu adalah pasangan suami istri yang memanfaatkan satu tempat untuk dua jenis usaha. Tempatnya lumayan luas.


“Saya menyenggol gerbang, Bu. Tadi kurang hati-hati saat keluar dari rumah,” jawab Lily tersenyum.


“Harusnya lebih hati-hati, Neng.”


Ibu warung itu memerhatikan Lily yang menggendong tas ransel, dan melihat mata Lily yang sembab dan juga kecapaian. Sepertinya gadis ini kabur dari rumah, begitu pikirnya. Biasanya anak muda kalau membawa barang banyak dan pergi sendirian, artinya itu kabur. Namun dia tidak punya hak untuk menanyakan itu.


“Neng, sepertinya Neng kecapekan. Ibu ambil air minum dulu, ya.”


Lily tersenyum dan mengangguk. Dia memang butuh air sebagai pelepas dahaganya.


Ibu itu kembali lagi dan duduk di samping Lily dengan membawa air kemasan, obat merah dan kapas.


“Neng, diminum dulu.”


Lily menerimanya setelah mengucapkan terimakasih, lalu meneguknya.


“Mari Neng, biar Ibu bantu mengobatinya,” ucap ibu itu lagi setelah Lily selesai minum. Ibu itu membuka penutup obat merah.


“Terima kasih, Bu. Maaf, saya akan mengobatinya sendiri saja. Saya merasa nggak enak, Bu.”


Ibu itu tersenyum dan menyerahkan obat merah itu.

__ADS_1


Setelah lukanya selesai diobati, Lily mengucapkan terimakasih berkali-kali. Perlakuan itu memang sederhana tapi sangat berarti bagi Lily. Kemudian ibu warung itu mengajak Lily bercakap-cakap sambil menunggu ban motornya selesai. Warungnya juga lagi sepi pembeli.


Di sela obrolan mereka, datang pemotor besar dan berhenti di depan bengkel. Sejenak Lily menoleh karena suara motor gede yang khas. Ada kekaguman sendiri dengan laki-laki yang bisa membawa motor besar. Namun kemudian Lily fokus lagi dengan percakapannya pada si ibu warung, membelakangi si pemotor yang baru selesai menstandar motornya.


Lily merasakan kursi papan yang didudukinya bergoyang. Pria pemotor besar itu duduk di sampingnya.


“Kamu di sini?”


Eh!


Lily sedikit memutar badan. Memandang pria di sampingnya yang membuka helm full face-nya. Nampaklah wajah tampan Dion setelah benda itu lepas dari kepalanya. Sebentar Lily melihat Dion dan motor besar itu bergantian, mengisyaratkan dia kagum. Namun kekaguman itu cepat-cepat ditepis.


Gadis itu langsung berdiri, “Mang, sudah selesai, belum?” Mengacuhkan keberadaan Dion.


“Sebentar lagi, Neng. Tinggal memasang.”


“Neng, apa Neng kenal dengan Aa ini?” tanya ibu warung yang mendengar pertanyaan Dion tadi.


Ibu warung melirik Dion. Dion mengangguk pelan sebagai tanda menghormati yang lebih tua.


“Dia istri saya, Bu,” kata Dion sambil mengangkat tangan memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Kemudian menunjuk tangan Lily.


Ibu itu manggut-manggut. Jadi apa yang dipikirkannya tadi adalah benar kalau Lily kabur. Sesaat kemudian ibu itu nampak berpikir seperti pernah melihat wajah pria ini di tv. Ahh, mungkin karena kelewat ganteng jadi disamakan dengan aktor-aktor yang sering dia tonton.


“Istri ngambek itu wajar, A. Ngambek tandanya sayang,” bisik ibu itu lalu terkekeh pelan. Dion tersenyum kikuk menanggapi.


Motor Lily selesai dengan urusannya. Lily buru-buru mengeluarkan dompet dan membayar jasa si Mamang setelah ditanya berapa nominalnya. Dion juga bergegas menghampiri Lily setelah mengucapkan terimakasih pada pemilik bengkel.


“Sebaiknya kalau sedang marah jangan mengemudi.” Namun kata-kata Dion tidak diindahkan. Gadis itu cepat-cepat mengemudikan roda dua kesayangannya.


***

__ADS_1


Dion mengikuti Lily dari belakang, dan Lily tahu itu. Bagaimanapun kecepatan kemudi Lily, gadis itu tidak bisa mengelabuhi Dion. Padahal Lily sudah ahli dalam mengemudi motor. Namun keahliannya sepertinya masih di bawah Dion. (Ya iya lah, laki-laki. Dan yang dibawa motor balap pula).


Lampu merah mereka lalui satu demi satu. Di mana Lily berhenti, di sampingnya pula Dion berhenti dan mengingatkan Lily agar menyudahi kemarahannya. Marah di jalan raya sambil mengemudi itu sangat berbahaya. Namun sama sekali tidak digubris.


Baiklah Dion. Gadis itu sedang menunjukkan kecemburuannya. Emosinya sekarang lagi meluap-luap. Begitulah rasanya dicemburui gadis remaja.


Bagaimana Dion tahu kalau gadis itu cemburu? Ya tahulah, orang dia membaca semua tulisan Lily di buku diary warna peach dulu. Pria itu sudah tahu bagaimana perasaan istrinya padanya. Gadis itu menuliskan akan rasa sukanya pada Dion, belum mencintai.


Dion terus mengikuti dari belakang. Ada kelegaan sendiri karena arah jalan ini bukan ke toko bunga. Gadis itu ternyata sudah bisa berpikir dewasa tanpa harus melibatkan orang lain dalam urusan rumah tangga.


Brak!


Hal tak terduga terjadi. Lily menabrak mobil di depannya karena tidak melihat lampu sudah berwarna merah. Gadis itu diam di tempat masih duduk di atas motornya, gemetaran. Wajahnya pucat. Sang empunya mobil turun, melihat bagian belakang mobilnya yang penyok lalu marah-marah.


“Pak, maaf, maaf. Sebaiknya kita ke sisi jalan.” Tentu saja Dion tidak tinggal diam. Dan orang-orang yang mulai berkerumun di sana juga memberi pendapat yang sama agar tidak menimbulkan kemacetan.


Dion memapah Lily berjalan, dan beberapa orang mendorong motor Lily yang bagian depannya sudah retak. Lily masih dalam diam karena ini pertama kalinya dia menabrak, gadis itu syok.


Sekarang mereka ada di atas trotoar.


“Pak, saya akan bertanggung jawab atas kerusakan mobil Bapak. Saya mohon agar kejadian ini tidak dibawa ke kantor polisi.” Dion memohon.


Bapak yang punya mobil itu berpikir cukup lama, ada keraguan di wajahnya. Karena bapak itu hanya diam, Dion mengeluarkan dompetnya dan memberi kartu perusahaan.


Bapak itu terbelalak. Nama perusahaan Dippo Group beserta logo khasnya tertera di sana. Siapa yang tidak tahu perusahaan itu di negara ini. Perusahaan yang memiliki salah satu bank swasta terkenal di Indonesia. Bapak itu tidak tahu kalau orang di depannya adalah pewaris perusahaan itu, karena Dion tidak melepas helmnya. Dia mengira Dion adalah salah satu karyawan di sana.


“Bapak bisa menelepon ke nomor itu.”


“Ba, baik. Tapi saya sarankan anaknya jangan disuruh mengemudi kalau belum mengerti rambu-rambu lalu lintas. Bahaya, Pak.”


Dion melengos. Ada lagi orang yang mengira Lily adalah anaknya. Ingin rasanya Dion menambah penyokan di mobil bapak-bapak itu.

__ADS_1


__ADS_2