Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Menangislah!


__ADS_3

Dion's POV


Aku terduduk lesu di sebuah kursi besi panjang–yang ada di dekatku–yang disediakan rumah sakit ini. Ya, Rumah Sakit Jiwa.


Seumur hidup aku belum pernah menginjakkan kaki ke tempat seperti ini. Untuk terlintas di benakku barang sedetik pun tidak pernah. Namun pada kenyataannya di sinilah aku sekarang. Takdir yang kejam menuntunku untuk melangkah ke mari.


Suara jeritan pilu istriku–yang saat janji pernikahan dulu kusebutkan nama lengkapnya Liora Annetta–lambat-laun mulai meredup di runguku. Aku tidak sanggup lagi untuk ikut mengantarkannya ke ruang intensif yang dimaksud. Aku sungguh tidak sanggup melihat bagaimana kedua tangannya diapit paksa oleh orang-orang berbaju serba putih tadi.


Kupejamkan mata saat kepalaku bersandar mengenai dinding. Aku marah pada takdir yang teramat tega menyiksa wanita malang itu–istriku sampai semenyakitkan ini. Aku bisa maklum bila hanya melihat Lily menangis atas kehilangan papa dan janin kami seperti kemarin-kemarin. Tapi kalau sudah harus dibawa ke mari? Siapa yang sanggup menghadapi cobaan bertubi-tubi ini?


“Aarrghh!”


Aku memindahkan posisi kepalaku yang rasanya ingin pecah menjadi menunduk, dengan kedua telapak tanganku sebagai tumpuannya. Kututup kembali mataku karena tidak ingin melihat di mana kini aku berada.


Papa. Dalam bayanganku aku mengingat papa yang kini hanya tinggal nama. Saat sebelum hembusan napas terakhirnya, beliau berulang kali menyatakan bahwa ia sangat menyayangi putrinya, Lily. Lily adalah harta dan nyawanya.


Aku mempercayai itu. Karena sudah terbukti papa rela dipukuli dan dibunuh demi bisa mengalihkan perhatian keparat-keparat itu dari Lily.


Di saat kondisinya yang dulu kritis, beliau sempat-sempatnya menitipkan putrinya dengan kata-kata yang sangat tidak kusuka. Beliau berujar agar aku bisa memberikan sedikit saja rasa sayangku pada Lily. Atau setidaknya rasa empati saja pada putrinya bila beliau sudah tiada.

__ADS_1


“Aku mencintai Lily, Pa. Aku mencintainya,” gumamku sembari memukul-mukul dada yang begitu sesak. Entah sejak kapan air mata ini ikut luruh.


Aku mengumpati kebodohanku yang saat itu hanya bisa mengangguk. Aku merespon demikian mungkin karena terlampau panik dengan keadaan papa atau untuk bisa segera menenangkan hati beliau. Ya, aku memang bodoh karena semasa beliau hidup, aku tidak pernah mengutarakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadap putrinya. Kala itu aku menganggapnya tidaklah terlalu penting. Tapi kini kusadari, sebuah pengakuan amat berarti terutama bagi orang tua agar mereka tenang melepas anaknya. Aku menggumamkan kata cinta beberapa kali, walau tanpa kukatakan pun, kuyakin saat ini papa pasti sudah mengetahui seberapa besar aku mencintai putrinya–istriku.


Tepukan di bahu membuatku membuka mata seketika. Dari celana yang dipakai orang itu, kuyakin dia adalah Carol.


“Lily sudah lebih tenang sekarang setelah diberi suntik penenang.” Carol membuka suara setelah lebih dulu ikut duduk di sampingku. Aku menjauhkan wajahku dari jangkauan matanya. Selama ini tidak ada yang pernah melihatku menangis. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir menangis.


“Bukankah memang selalu seperti itu? Dia hanya akan tenang kalau sudah disuntik penenang atau pingsan.”


Sesekali aku mendongak dengan masih membelakangi Carol agar air mata ini tidak terus meluncur. Bukannya reda, air mataku malah semakin menjadi-jadi mengingat kondisi Lily saat ini. “Katakan, sampai kapan dia akan terus begini?” tanyaku mengalihkan perhatian Carol, agar dia tidak menyadari bahwa aku menangis. Aku terus menjauhkan wajahku darinya.


“Kenapa jadi seperti ini? Kenapa takdir membiarkannya menderita seperti ini?!” Aku membentak Carol yang jelas-jelas tidak salah apa-apa. Dia tidak menjawab. Namun tangannya masih bergerak menepuk-nepuk pundakku. “Katakan, kenapa wanita malang itu harus menerima penderitaan di usianya yang masih muda?” sambungku lagi semakin tersedu. Aku kemudian menunduk sembari mencengkram rambutku yang kurasa semakin panjang. Aku segera menghalau pikiran tentang rambut yang tidak penting itu.


“Karena ada orang-orang hebat yang akan selalu mendukungnya.” Carol berhenti membuat tepukan di bahuku. Aku meliriknya sedang melihat lurus ke depan. “Jangan kau lupakan kalau aku juga pernah ada dalam posisi terpuruk. Apa kau lupa bagaimana Cia-putri kecilku- terguncang karena kematian mamanya?”


Carol menatapku yang diam tergugu. “Kau lebih beruntung dari aku. Kau masih bisa melihatnya setiap hari dan kemungkinan untuk pulih pasti ada. Sementara aku dan Cia?”


Aku tertegun. Sungguh bukan maksudku untuk mengingatkannya akan istrinya. Aku mendapati setitik air di ujung matanya. “Rol....”

__ADS_1


“Lily butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya, terutama kamu. Kamu adalah orang yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya selain daripada pengobatan. Jadi, kuatlah untuk Lily!”


Carol berdiri. Orang yang merangkap sebagai sahabat dan dokter keluargaku itu menyentuh kembali pundakku. “Cia yang masih berumur 5 tahun saat ditinggal mamanya bisa ceria lagi, dan kuyakin Lily juga pasti bisa. Untuk menunjang kesembuhannya, Lily membutuhkan orang-orang yang kuat yang bisa selalu ada di sisinya.”


Carol berlalu meninggalkanku yang masih terpaku. Aku masih bisa melihat dia melepas kacamatanya dan menyeka air mata. Dalam diam aku mengakui kalau dia adalah pria tangguh.


***


Langkahku lunglai menyusuri jalan setapak demi setapak. Sampai akhirnya aku tiba di kamar yang sudah rapi ini. Tadi pagi sebelum keberangkatan kami ke RSJ, aku dan Carol bekerja keras menenangkan Lily yang tidak mau tenang dan terus-menerus menjerit. Suntik penenang terakhir yang akan diberikan Carol pada istriku patah, karena Lily berhasil merebutnya dan melemparkannya.


Dering ponsel pertanda ada pesan masuk yang sedari tadi kuabaikan, kini berbunyi kembali. Dengan kesal aku merogoh saku-ku dan membaca siapa pengirimnya setelah benda pipih itu ada di tanganku. Ternyata pesan beruntun dari Fasa.


Sambil membawa tubuh lelahku menuju sofa, aku membaca pesan-pesan dengan malas. Apalagi kalau bukan tentang pekerjaan. Namun di pesan terakhir, darahku berhasil mendidih.


Pak, besok adalah sidang perdana Clara. Apakah Anda akan....


Belum juga aku membaca semua isi pesan Fasa mengenai wanita iblis itu, aku langsung menghubungkan panggilan dan memberinya perintah. “Pastikan manusia-manusia biadabb itu tidak bisa selamat. Pastikan papa dan anakku dan Lily mendapatkan keadilan seadil-adilnya!” tegasku dengan suara lantang.


Aku langsung mematikan panggilan tanpa mendengar suara dari sana. Emosiku meluap. Teringat lagi saat dulu aku mencekik wanita itu dengan brutal di kantor polisi. Sampai akhirnya aku terkena masalah karena sudah main hakim sendiri dan hampir melayangkan nyawanya. Seumur-umur baru kali itu aku menyakiti wanita.

__ADS_1


Menjijikkan sekali. Entah mengapa aku pernah mencintai wanita semacam itu.


__ADS_2