Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Tentang Clara


__ADS_3

Di sebuah apartemen yang tergolong mewah yang ada di pusat kota. Seorang wanita berparas cantik duduk dengan elegan di kursi sofa. Tangannya memegang sebingkai foto, foto seorang lelaki yang kini sudah jadi mantan pacar. Meskipun sudah mantan, foto-foto lelaki itu masih disimpannya dengan apik.


Wanita itu mengelus foto wajah sang pria. Senyumnya ia nampakkan. Siapa saja yang melihatnya pasti menilai senyumnya indah dan mempesona. Tanpa tahu kalau senyuman itu sebenarnya ditujukan pada sesuatu yang tidak baik. Keindahan senyumnya berbanding terbalik dengan isi hatinya.


“Aku tahu, Dion. Dengan menunjukkan foto tadi tidak akan langsung membuatmu dengannya berpisah. Tapi setidaknya ini langkah awal keretakan rumah tangga kalian. Dan pelan-pelan aku akan masuk ke dalam hidupmu lagi.” Wanita itu mengubah senyumnya yang indah menjadi seringai jahat.


“Menikah karena dijodohkan.” Seringai jahat di bibir wanita itu belum luntur. Bahkan bibirnya semakin mencibir. “Tidak ada pernikahan yang bertahan lama tanpa cinta. Apalagi kau menikah dengan seorang remaja labil. Sama sekali bukan tipemu.” Clara berspekulasi.


Aku punya seribu cara untuk membuat kalian berpisah dan mendapatkanmu kembali. Gadis remaja itu tidak layak jadi tandinganku.


Saat masih tenggelam dalam pikiran, pintu apartemennya digedor. Terdengar sangat tidak sabar dan tidak sopan. Clara berdecak kesal, ia terlebih dulu meletakkan foto Dion di samping tempat duduknya lalu berdiri untuk membukakan pintu.


Ketika Clara baru saja selesai memutar kuncinya, pintu sudah didorong dari luar. Sungguh tidak sabar sekali orang itu.


“Aku minta uang sekian juta,” serobot Rio saat kakinya baru melewati pintu. Dialah Rio yang berhasil memperdaya Clara saat wanita itu masih berstatus pacar Dion.


“Kau gila! Aku bukan mesin uangmu yang kapan saja bisa kau ambil.”


“Kau ini pelit sekali. Nanti kalau ada uang akan aku ganti.”


“Aku tidak punya uang. Pergilah!”


“Bohong!”


Rio membawa tubuhnya untuk masuk lebih dalam. Sekilas ia melihat foto Dion yang terletak begitu saja. “Kau masih memikirkannya?”


“Iya. Kalau aku tahu kau bukan laki-laki baik, seharusnya aku memilih setia. Penyesalan terdalam di hidupku adalah mau berhubungan dengan lelaki sepertimu,” ujar Clara berapi-api.


Rio tertawa. “Ayolah, Clara. Nikmati hidup ini. Kau jangan mau tenggelam dalam masa lalumu.”

__ADS_1


“Aku tidak mau lagi mendengar ucapanmu yang membuatku bodoh. Pergilah sekarang juga!”


Rio menyeringai, sangat tidak sedap dipandang mata, “aku akan pergi setelah mendapatkan apa yang kuinginkan.” Rio melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Tentu untuk mencari yang ingin ia dapatkan. Selalu seperti itu. Bukan hanya sekali dua kali ia meminta uang pada Clara. Dan bukan hanya 10-20 juta yang ia minta, sudah sampai ratusan juta uang Clara ada padanya. Nilai fantastis bagi author.


“Di mana kau menyimpannya?” Rio sudah membuka semua laci juga lemari, namun ia tidak menemukan uang atau kartu debit dan sejenisnya. Biasanya Clara menyimpan uang di sana.


“Sudah kukatakan aku tidak punya uang lagi. Kau sudah menghabiskan semua uangku. Jadi pergilah!”


Rio mendekat dan mengambil salah satu tangan Clara. Laki-laki itu mengangkat tangannya dan mencengkramnya kuat sampai Clara meringis kesakitan.


“Aku tahu kau bohong. Desainer terkenal sepertimu tidak akan kehabisan uang. Jadi berikan saja yang kumau agar kau tidak semakin kusakiti.”


“Lepaskan tanganku!” Clara memberontak.


“Tidak akan sebelum kau memberikan uang itu.” Semakin mengeratkan cengkramannya.


“Aku bilang lepaskan.” Clara mencoba melepaskan diri namun tangan pria itu begitu kuat. Clara meronta-ronta tapi percuma saja. Yang ada tangannya semakin terasa sakit. “Lepaskan tanganku biar kuambil uangnya!” hardiknya dengan kesal.


“Cepat!”


Dengan penuh amarah Clara mengambil tas, mengeluarkan cek dari dalamnya dan menulis nominal yang diinginkan Rio.


“Terima kasih, Sayang.” Rio merebut secarik cek yang baru saja selesai ditandatangani.


“Ini yang terakhir. Kalau kau datang lagi, aku akan melaporkanmu ke polisi atas tindakan pemerasan.”


“Haha, kau tidak akan berani, Sayang.” Menyentuh dagu Clara dengan jari telunjuknya. Namun Clara segera menepis tangan Rio dengan keras. “Kau harus ingat kalau dulu aku memanjakanmu dengan uangku. Jadi anggap saja sekarang kita gantian.”


“Kau memang brengshek! Aku yang bekerja keras tapi kau yang menghabiskannya dengan wanita-wanitamu itu.” Kalau saja tenaga Clara lebih kuat dari laki-laki yang tidak baik di depannya ini, sudah dari tadi ditendangnya keluar.

__ADS_1


“Hahaha ....”


“Pergi dan jangan pernah datang lagi. Kita sudah putus tapi kau tetap saja datang untuk memoroti uangku.”


Rio tertawa ala bandit India yang kumisnya melengkung ke atas, “putus atau tidak, aku akan terus datang karena aku masih butuh kamu, Sayang, tepatnya butuh uangmu.” Laki-laki itu mengambil rahang Clara dan menciumnya dengan paksa.


Clara mendorong Rio sekuat tenaga hingga pria itu mundur ke belakang. “Aku membencimu, benar-benar membencimu. Aku menyesal pernah mau menjadi kekasihmu.”


Rio menyahuti dengan suara tawa yang membahana, “tidak ada gunanya menyesal sekarang, Sayang.” Membaca jam yang melingkar di tangannya. “Aku tidak punya waktu lagi, aku harus pergi.”


“Ya, pergilah! Pergi sampai ke ujung dunia sampai kau tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang.”


“Haha. Aku ingin sekali meladenimu di sini. Tapi sudah ada yang sedang menungguku, seseorang yang lebih cantik dan lebih punya banyak uang.”


“Kau memang benar-benar brengshek!” Clara menahan agar air matanya tidak berhambur keluar. Menangis di depan laki-laki seperti Rio malah menunjukkan kalau dirinya lemah. Sampai Rio keluar dari pintu apartemennya, ia baru menumpahkan sakit yang ia rasakan.


Ya, dialah Clara, wanita mandiri. Dulu saat umurnya hampir sama dengan usia Lily yang kehilangan mama, wanita itu juga kehilangan kedua orangtuanya dalam peristiwa kebakaran rumah. Saat rumah mereka kebakaran hanya nyawanya yang bisa diselamatkan.


Mulai saat itu ia hidup sebatang kara. Kehilangan orang yang dicintai tidak membuatnya menyurutkan semangat hidup. Banyak orang yang mengacungkan jempol atas ketegarannya.


Karena Clara juga memiliki bakat menjahit, ia pun bekerja di tempat ibunya bekerja dulu, sebuah konveksi kecil-kecilan yang ada di dekat rumah . Clara memutuskan sekolahnya karena tidak akan sanggup membiayai uang sekolah dan kebutuhan hidup secara bersamaan. Untuk bisa menyambung hidup saja ia sudah sangat bersyukur kala itu.


Hari-hari dilaluinya dengan bekerja. Dia menyibukkan diri dengan bekerja agar tidak ada kesempatan untuk merenungi nasibnya yang malang. Hingga ia memiliki tabungan dan bisa sekolah kursus menjahit untuk memahirkan kemampuannya dalam mendesain pola.


Kepiawaian dan kegigihannya dalam bekerja menghantarkan dia menjadi wanita sukses. Berawal menjahit di rumah kontrakan yang menerima pesanan jahit dari warga sekitar sampai akhirnya dia memiliki butik terkenal di kota besar ini. Melihatnya yang sekarang, tidak akan ada yang percaya kalau ia pernah ada di masa yang kelam.


Sampai suatu ketika Nyonya Surya mendapatkan rekomendasi dari temannya untuk berbelanja dan menjahit baju di butik Clara. Dengan seringnya mami mengundang Clara datang ke rumah, membuat wanita itu juga jadi sering bertemu dengan Dion. Dari situlah mereka dekat dan akhirnya menjalin hubungan.


Semua anggota keluarga menyukai Clara, tak terkecuali Tiara. Kemandirian dan keuletan wanita itu membuat Keluarga Surya bertepuk tangan bangga padanya. Wanita yang baik dan sopan, seperti itulah menantu yang diidamkan Keluarga Surya juga keluarga yang lain.

__ADS_1


Sampai penghianatan Clara diketahui Dion kala itu. Bukan hanya Dion yang kecewa, tetapi juga yang lainnya. Mami bahkan pingsan dan darah tingginya kambuh. Wanita dewasa yang selama ini beliau banggakan ternyata bisa bermain di belakang.


Itulah penyesalan terdalam Clara. Ia pikir ia akan mudah merayu Dion untuk kembali lagi padanya, karena yang ia tahu Dion mencintai dirinya setengah mati. Tetapi perkiraannya salah, niat yang semula hanya bermain-main untuk mengisi waktu senggang dengan Rio malah ditinggal nikah oleh Dion.


__ADS_2