Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Laporan Clara


__ADS_3

Matahari yang terik siang ini tidak menyurutkan niat Lily untuk terus mengikuti langkah Orang Baik itu. Getaran ponsel di dalam tas yang ia rasakan sejak tadi diacuhkan. Ia sudah bertekad tidak akan melepaskan Orang Baik itu sebelum menjadikannya teman.


Orang itu berhenti berjalan dan memutar badan. Bola matanya tajam menancap di manik mata Lily. Bukannya takut Lily malah senang dengan napas yang terengah-engah. Hampir 20 menit ia berjalan mengejar Orang Baik itu.


“Kamu ini mau apa?” tanya orang itu dengan suara keras. Tatapannya penuh ketidaksukaan.


“Aku mau berteman dengan Kakak,” kata Lily polos. Sungguh tidak peduli kalau dia sudah membuat orang itu tidak nyaman.


“Sudah kukatakan aku nggak menerima pertemanan.”


“Aku akan terus mengikuti Kakak sampai Kakak mau menerimaku sebagai teman.”


Orang itu mengeraskan rahangnya, namun Lily tidak takut. Tidak bisa diuraikan dengan kata-kata bagaimana jengkelnya orang itu pada Lily. Baru kali ini ia bertemu orang keras kepala dan menyebalkan seperti Lily.


Bertolak pinggang, “baiklah, aku berteman denganmu. Sekarang pergilah!” Berbicara begitu saja biar gadis itu pergi dan tidak mengganggu.


Lily menggeleng. “Bukan gitu cara memulai pertemanan.” Mengambil tangan kanan orang itu dan menjabatnya. Tidak ada takutnya sama sekali. “Kurasa Kakak udah tahu namaku siapa. Tapi aku akan mengulanginya lagi. Namaku Lily, nama Kakak siapa?”


Orang itu menarik napas berat. Gadis ini sangat pemaksa. “Uni. Kamu bisa panggil aku begitu,” ujarnya dingin.


“Eonni?”


“U-N-I.”


“Eonni.”


“Hhh, terserah kau saja.” Menarik tangannya. “Pulanglah.”


“Minta nomor ponsel Kakak!”


Wanita tomboy bernama Uni itu menggeleng tidak percaya. Baru kali ini ada orang berani bertindak jauh padanya. “Untuk apa?”


“Tentu saja biar bisa menghubungi Kakak.” Santai Lily menjawab.


“Besok saja.”

__ADS_1


“Kalau gitu aku akan mengikuti Kakak terus.”


Uni masih berusaha menahan amarah yang semakin memuncak. Itu terlihat dari kepalan tangannya yang ia genggam kuat-kuat dan juga geraman yang keluar dari mulutnya. Dan lagi Lily tidak takut untuk itu, wanita berperawakan seperti laki-laki itu adalah orang yang memiliki sifat baik.


“Berikan ponselmu!” ketusnya.


“Iya.” Segera Lily mengeluarkan ponsel. Beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan yang masuk ia abaikan dan mencari aplikasi telepon. Lalu menyodorkan ponselnya.


Tidak menunggu waktu lama Uni selesai mengetikkan nomor hp-nya. “Ini! Sekarang pulanglah.”


“Terima kasih, Kak.” Mata Lily berbinar diikuti dengan senyum manisnya. Pandangannya fokus pada layar hp untuk menyimpan nomor baru itu.


“Pulanglah! Hati-hati di jalan.”


“Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih.”


***


Sore datang menjelang. Namun matahari masih memancarkan sinar terangnya. Hari ini cuaca sungguh cerah hanya sedikit awan yang berserak di langit biru.


Fasa selaku asisten membukakan pintu mobil untuknya. Kali ini Dion tidak ingin berkendara sendiri, ia memakai Fasa untuk menyetir. Dion merasa lelah karena pekerjaannya hari ini menguras pikir, tenaga dan fokusnya. Ia lelah namun suasana hatinya baik karena sebentar lagi akan bertemu dengan istri yang pelan-pelan hatinya mulai menerima Lily.


“Ke toko bunga,” ujarnya setelah Fasa duduk di belakang kemudinya.


“Baik, Pak.”


Dion mengambil posisi duduk yang nyaman bagi punggungnya juga tubuhnya. Ia memejamkan mata mencoba mengusir penat yang menghinggapi kepalanya semenjak dari pagi tadi. Saat mobil baru saja keluar dari gerbang kantor, seseorang menghadang jalan mereka hingga mengharuskan Fasa menginjak rem.


“Ada apa?”


Fasa memajukan wajah supaya dapat mengamati orang yang berdiri di depan dengan jelas. “Nona Clara menghalangi jalan, Pak.”


Dion menggeram. Mau apa lagi dia.


Satpam penjaga gerbang melihat lalu mendatanginya dan berusaha mengusir wanita itu. Clara berontak dan meneriaki nama Dion. Dion tidak acuh, dia membuang muka.

__ADS_1


“Dion, aku ingin memberitahumu sesuatu. Ini tentang gadis yang kau sebut istrimu!”


Samar-samar Dion mendengar Clara menyebutkan istrinya namun Dion mencoba untuk tidak tertarik. Berulangkali Clara melantaskan nama Lily hingga membuat Dion penasaran akan apa yang ingin disampaikannya.


Karena Clara yang terus berontak tidak ingin pergi dari sana, Dion keluar dengan meradang. Ia tidak ingin menjadi bahan tontonan orang-orang yang lalu lalang. “Kau mau mengatakan apa?” tanya Dion dengan sarkastik.


“Lepaskan!” Clara meronta meminta tangannya dilepas dari cekalan tangan para satpam itu. Dion memberi isyarat agar satpam itu memenuhi permintaan Clara.


“Maafkan kami, Tuan. Kami tidak tahu kalau nona ini ada di sini,” sesal salah satu satpam dengan kaki dan tangan bergetar. Ia takut dimarahi dan dipecat karena merasa lalai dalam bekerja. Mereka (satpam penjaga) sudah diperingatkan agar Clara tidak berkeliaran di sekitar kantor.


“Jangan gaji mereka selama 3 bulan. Kalau mereka keberatan pecat saja,” perintah Dion pada Fasa yang sudah berdiri di belakangnya.


“Baik, Pak.” Dan Fasa menginstruksikan para satpam itu supaya pergi dari sana agar tidak mengundang perhatian orang lain. Sebelum pergi satpam-satpam itu mengucapkan ribuan terima kasih, karena hukuman itu masih sangatlah ringan dibanding dengan kesalahan yang mereka perbuat. Bekerja di perusahaan itu adalah impian banyak orang sekalipun itu hanya sebagai penjaga gerbang. Perusahaan itu menarik minat banyak orang dengan menjanjikan gaji yang menggiurkan serta adanya bonus bagi yang bekerja dengan gigih tanpa melakukan kesalahan.


“Dion.” Clara mendekat.


“Tidak usah basa basi. Apa yang mau kau katakan.”


“Clara tersenyum miring, “kau tetap saja bersikap tidak acuh.” Wanita itu kemudian mengambil ponsel dari tas tangannya. “Mari kita lihat apa kau masih mengabaikanku setelah melihat ini.” Menggulir ponselnya lalu memberikannya pada Dion apa yang ingin diperlihatkan.


Sesaat kemudian Clara bisa melihat Dion marah dari matanya yang memerah, rahangnya mengeras dan tangan yang menggenggam kuat ponselnya.


Clara tertawa senang dalam hati. “Itukah yang kau bilang masa depanmu? Masa sekarang saja sudah berani bertindak jauh, bagaimana dengan masa depan nanti?” Clara mengompori, air mukanya dibuat sedih seakan-akan dia juga merasakan apa yang Dion rasakan. Tidak sia-sia usahanya hari ini menguntit Lily sampai ke toko buku tadi.


Rencananya ia akan membujuk Lily agar mau berpisah dengan Dion. Namun ia sendiri terkejut mendapati Lily dengan seorang laki-laki berpenampilan metal yang cukup akrab dan dekat. Jadi dia tidak usah mengeluarkan banyak tenaga untuk menghasut Lily meninggalkan Dion. Kemurungan wanita itu selama beberapa hari ke belakang terbayar sudah dengan foto-foto di ponselnya itu.


“Aku tadi tidak sengaja melihat mereka,” kilahnya. “Kalau aku mengatakan ini padamu tanpa bukti, aku yakin kau tidak akan percaya. Itu sebabnya aku mengambil foto mereka,” ungkapnya lagi dengan suara selembut mungkin. Dia harus mendapatkan lagi perhatian pria itu, meskipun sekarang dalam keadaan genting. “Aku yakin mereka ada hubungan. Lihatlah cara istrimu memegang tangan laki-laki itu, sangat erat.”


BRAK!!


Dion menyalurkan amarahnya dengan meninju kap mobil sampai penyek. Ia marah, murka, berang. Melihat foto-foto itu saja ia tak kuasa menahan amarah ditambah lagi dengan penuturan Clara yang semakin membuat hatinya mau meledak.


Akal sehatnya tidak mampu bekerja karena isi kepalanya dikuasai oleh kemurkaan yang semakin menggila.


Pantas saja tadi dia tidak mengangkat teleponku dan lama membalas pesan. Ternyata ini alasannya.

__ADS_1


Suasana hati Dion yang mulanya baik kini menjadi sangat buruk.


__ADS_2