Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Suami Kamu


__ADS_3

Lily


Melihat papi begitu intim dengan anak kecil itu membuatku cemburu. Ya, andai saja Tuhan mengizinkan anakku terlahir ke dunia ini, dia yang akan tertawa dan merengek di pangkuan papi seperti yang kusaksikan ini. Aku hanya bisa tersenyum getir mengingat kenyataan yang telah digariskan Tuhan.


“Emm, Papi apa kabar?” tanyaku dengan sopan. Beliau mendekat. Mata yang kini telah dibingkai dengan kacamata itu terlihat berbinar meskipun sudah banyak kerutan di sana. Aku menyibak rambut yang menghalangi pandangan untuk menghalau kegugupanku. Baru satu anggota keluarga yang aku temui, tetapi sudah membuatku gugup bukan kepalang. Aku berdehem lalu bermaksud ingin menyampaikan tujuanku datang kemari.


“Lily..., Nak, kamu datang?” Papi nampak antusias menghentikan keinginanku untuk berbicara lagi. “Kamu sudah datang, Nak?” Telapak tangannya menyentuh kedua bahuku. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali tersenyum tulus karena merasa kedatanganku sepertinya sudah lama dinanti-nanti. Dengan cepat aku mengutuki hatiku yang paling dalam karena bisa-bisanya dia menyerukan kalau aku masih diharapkan di rumah ini.


Kegugupanku semakin bertambah kala Edu datang. Dia juga nampak terkejut melihatku di sini. Namun kemudian tersenyum semringah. Aku semakin canggung meskipun disambut dengan ramah.


“Papi, emmm, Lily datang kemari ingin mengambil barang-barang,” ucapku tanpa ada keinginan untuk berbasa-basi membicarakan hal lain. Karena kalau semakin lama aku berada di sini, maka anggota keluarga yang lain pun akan datang menghampiri yang akan membuatku tidak nyaman atau mungkin sakit hati.


“Nak, ayo masuklah dulu,” ajak beliau sembari menyentuh kepalaku dengan sayang. Hatiku bergetar. Andai saja aku masih bagian dari keluarga ini, sudah dari tadi aku memeluk beliau dan bersorak menyatakan kerinduan. Sungguh aku sangat merindukan beliau. “Mami pasti sangat senang karena kamu datang. Kami sangat merindukanmu, Nak,” ujar beliau lagi yang membuatku semakin dilema. Benarkah mereka merindukanku?


Ingin menolak akan tetapi sorot mata yang sendu dan tangan yang terasa hangat membuatku terhanyut karena merasa disayang. Aku menelan ludah dan dengan enggan perlahan melangkah.


“Kakek, ayo main lagi.”


Rengekan anak kecil itu menghentikan langkah kaki yang baru dua langkah. Anak itu menyadarkanku kalau aku tidak mempunyai hak apapun lagi di sini.


“Iya, nanti kita main lagi, ‘ya.”


Anak itu terus merengek menarik-narik tangan papi. Memandangku tidak suka karena mungkin sudah mengganggu waktu bermainnya. Atau mungkin karena merasa kakeknya direbut olehku. “Lily tunggu di sini saja, Pi.” Aku sadar diri dengan posisiku saat ini. Menggenggam tangan satu sama lain untuk menguatkan hati yang perlahan mulai berdenyut nyeri.


“Tuan, Tuan, Nyonya memanggil Anda.” Seorang pelayan datang tergesa-gesa kala papi masih berusaha membujuk anak kecil itu.


“Mami sudah bangun?” Pelayan itu mengangguk. “Bukannya mami baru minum obat dan baru tertidur?”gumam papi yang masih bisa kudengar. Beliau panik. “Apa mami bilang kalau kepalanya sakit lagi?”

__ADS_1


Disini aku bisa menyimpulkan kalau mami sedang dalam kondisi tidak baik.


“Tidak, Tuan. Nyonya hanya ingin berbicara dengan Tuan.”


Lantas beliau melangkahkan kaki. Baru satu langkah kemudian berbalik dan berkata, “Lily, ayo masuklah temui mami! Mami akan senang karena kamu sudah pulang.”


Pulang? Aku sungguh bingung. Aku datang kemari untuk mengambil barang-barangku.


“Edu, kamu temani Andra bermain dulu,” titah beliau meskipun anak kecil yang baru kutahu namanya Andra terus merengek ingin bersama papi. Sekilas hatiku bertanya akan keberadaan orangtuanya. Aku melihat sekitar, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Mas Dion.


Aku langsung mengikuti pergerakan papi yang tergesa-gesa menaiki tangga. Mendengar mami minum obat, panggilan jiwaku tergerak. Mungkin karena terbiasa langsung mengambil tindakan mendengar ada orang sakit. Tidak lagi mengkhawatirkan hatiku yang akan hancur bila bertemu dengan Mas Dion dan juga... istrinya.


“Mami kenapa sudah bangun?“ Pertanyaan papi yang kudengar saat aku hampir tiba di kamar. “Mami harus banyak-banyak istirahat. Ingat pesan dokter.”


“Pi, Mami tidak bisa begini terus.” Suara mami terdengar lemah namun serius. Aku sudah berdiri di daun pintu. Tubuh mami terhalang oleh papi. Membuatku tidak bisa melihat dengan jelas. “Mami harus bertemu dengan dia. Mami yang sudah bikin hubungan anak dan menantu kita berantakan. Mami harus menjelaskannya pada Lily, Pi.”


“Mi–”


“Pi, Mami tidak ingin mendengar larangan apapun lagi. Sudah cukup selama ini Mami diam dan menuruti keinginan Dion dan Papi. Lily pergi, Dion juga pergi. Ini semua karena kesalahan Mami, Pi.” Mami tiba-tiba terisak.


Aku bingung mencerna ucapan mami. Apakah Mas Dion pergi dari rumah?


“Mami mau ke mana?” Rupanya mami beringsut untuk turun dari tempat tidur. Belum menyadari keberadaanku di sini.


“Ingin menemui Lily.” Mami sudah berpijak di lantai. Aku bisa melihat tubuh beliau yang kurusan dan seperti tidak dirawat. Berbeda saat dulu aku masih tinggal di sini. Kulitnya bercahaya dan selalu menampilkan senyum bahagia. “Kalau Papi tidak ingin menemani Mami, Mami bisa pergi sendiri.”


“Lily sudah ada di sini, Mi.” Papi melihat dan menunjuk ke arahku. “Dia sudah pulang.”

__ADS_1


Mami tergugu saat manik beliau menangkap sosokku, demikian pula aku. “Pi, itu betulan Lily?” Mami memastikan. Papi mengangguk dan tersenyum.


“Li-Lily.”


Bagaikan magnet yang menarik besi, kami berjalan menghampiri satu sama lain. Mata mami sudah berembun, begitupun dengan manikku. Hingga pada akhirnya kami berpelukan. Isakan mami terdengar, pun dengan tangisku yang tidak kalah kuat. Pelukan kami semakin erat. Kecupan-kecupan mendarat di pipi dan bagian kepalaku. Membuatku merasa disayang. Tidak tahu sampai berapa lama kami saling berpelukan, sampai akhirnya mami melepaskan pelukannya.


“Lily. Menantuku sayang.” Sesaat mami merangkum wajahku dan menatapku dengan mata sayunya. Aku tercekat. Mengapa beliau menyebutku dengan panggilan seperti itu? Lantas memelukku lagi dengan erat. “Mami sangat merindukanmu,” imbuhnya lagi. Aku bisa merasakan ketulusan dari setiap kata yang diucapkan mami. Semua kata-kata yang beliau lontarkan membuat air mataku semakin berhamburan dengan deras.


Setelah berhasil mengendalikan diri, aku membawa mami untuk duduk. Terlihat jelas kalau fisik beliau lemah.


“Ma–mi kenapa bisa se–perti ini?” Akhirnya aku bisa berucap meskipun terdengar tersendat-sendat. “Mami sa–kit apa?”


Mami tersenyum. Senyum yang indah meski masih ada sisa air mata di pipinya. “Mami sudah tidak sakit lagi, Nak, karena kamu sudah datang.” Mami belum melepaskan pandangannya dari wajahku. Pun dengan tangan yang selalu menyentuh kepala dan pipiku dengan kasih sayang. “Kamulah obat untuk Mami.”


Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan.


“Nak, kamu sekarang sudah jadi dokter?” Suara mami membangunkanku dari lamunan yang berkecamuk. Beliau baru menyadari jas putih yang aku kenakan.


“Belum, Mi. Sebentar lagi setelah ujian kompetensi.”


“Nak.” Mami menggenggam kedua tanganku dan kedua bola matanya menatapku dengan sendu beberapa saat kemudian. “Maafkan Mami. Semua yang telah terjadi adalah karena kesalahan Mami,” sesal mami dengan air mata yang kembali menggenang. “Kalau saja Mami tidak memaksa Dion untuk menikah, kamu tidak akan tersakiti dengan melihat pernikahan itu.” Papi mengusap-usap punggung mami supaya bisa tenang, namun tangis mami semakin menjadi.


“Nggak apa-apa, Mi. Semua sudah terjadi. Lily juga sudah ikhlas,” ucapku berusaha terlihat lapang. Namun tidak dengan air mata yang juga turut berurai.


“Mami memang egois. Tidak memikirkan perasaan kalian, apalagi perasaan kamu.” Jeda sesaat. “Seharusnya dalam kondisi kamu yang seperti dulu, Mami memberi Dion semangat untuk terus tetap di samping kamu. Bukannya malah menyuruhnya menikah.” Tubuh lemah mami kembali memelukku dan menangis menyesal. “Kalau saja Mami tidak egois, kamu tidak akan merasakan hidup sendiri dan berjauhan dengan suamimu, Dion.”


“Su–suami?” Aku menarik kepalaku dari pundak mami demi melihat raut wajahnya. Itu barusan, apa yang dikatakan mami barusan?

__ADS_1


“Iya, Dion, suami kamu.”


__ADS_2