
Dion meletakkan handphone -nya dengan malas di atas meja di depannya setelah panggilan beberapa saat lalu. Tadi pagi meja ini pun berantakan dengan buku-buku yang berserak akibat ulah Lily. Namun kini buku-buku itu sudah tersusun rapi.
Perhatian Dion terpusat pada satu buku, yakni buku harian Lily yang terletak paling atas. Tangannya kemudian tergerak untuk meraih benda persegi tersebut.
Perlahan tangan yang lainnya mengelus buku berwarna peach itu dengan kasih, seolah itu adalah wujud Lily. Yang dia tahu, di buku diary inilah biasanya Lily menumpahkan semua curahan hatinya.
Dengan hati-hati ia membuka lembar demi lembar, seakan takut membuat helaian-helaian kertasnya akan koyak. Dulu ia sudah pernah membaca isinya sekali. Sekarang pun ia akan berani membacanya karena hanya dengan ini ia bisa mengobati kerinduannya terhadap Lily. Tangannya terus bergerak membuka lembaran-lembaran sampai akhirnya ia menemukan goresan tinta tulisan Lily yang menarik perhatiannya menuju halaman terakhir.
Gelagat papa tadi siang aneh. Papa berulang kali mengatakan biar aku sama Mas Adnan harus bisa saling menjaga seperti saudara kandung. Agar papa bisa pergi dengan tenang kalau waktunya udah tiba. Apa coba. Papa bikin takut aja.
Udah gitu maunya selalu dekat-dekat terus padahal banyak pelanggan yang antri di toko. Papa juga berulang kali mengatakan biar aku jadi wanita kuat. Memangnya aku kurang kuat apa. Mengangkat tanaman siklok raksasa beserta potnya pun aku sanggup. Dasar papa.
Dion tersenyum miris sesaat sebelum akhirnya melanjutkan lagi membaca tulisan Lily di halaman yang lain.
Entah kenapa tiba-tiba aja aku pengin buah mangga tetangga di depan rumah. Sungguh menggiurkan. Aku bilang sama Mas Dion biar dia memintanya. Eh dia malah marah-marah dan malah membeli buah mangga yang lain. Padahal aku maunya buah mangga tetangga itu. Aku juga maunya Mas Dion yang manjat dan memetiknya. Kalo dipikir-pikir aku kok banyak maunya, ya. Kaya wanita hamil lagi ngidam aja.
Dion melihat kalimat terakhir yang ditulis Lily dicoret. Namun masih bisa dibaca dengan jelas. Mungkin saat menulisnya Lily merasa ambigu atau asal-asalan saja. Wajah Dion semakin dipenuhi rasa penyesalan. Kalau ia tahu saat itu Lily sedang mengidam, ia akan menekan sifat narsisnya untuk meminta buah mangga tetangga itu demi menyenangkan hati Lily. Kembali Dion melanjutkan membaca tulisan Lily.
Tadi pagi dengan berat hati aku terpaksa melepas kepergian Mas Dion. Sampe sekarang pun aku berharap Mas Dion membatalkan kepergiannya dan memilih pulang ke rumah. Entah kenapa rasanya kaya mau ditinggal selamanya.
__ADS_1
Tanpa sadar air mata Dion menganak sungai. Andaikan dulu ia menuruti Lily dan kata hatinya untuk tidak pergi. Andaikan... Ah. Dia tidak mau berandai-andai yang akan membuatnya semakin sakit. Sakit yang tidak berdarah. Sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dion ragu-ragu membuka halaman berikutnya. Antara ingin melanjutkan membaca atau tidak. Keingintahuannya akan curahan hati Lily sama besar dengan hatinya yang teramat sakit. Akhirnya tangan Dion bergerak menuruti hati nuraninya untuk membuka lembar berikutnya.
Dion melihat sebuah foto usg di sana. Dion semakin merasakan hancur yang bertubi-tubi, sungguh. Ia yakin itu adalah hasil usg kehamilan Lily. Teringat kembali bagaimana gembiranya mami saat dulu memberitahukan dirinya tentang hamilnya Lily. Teringat lagi bagaimana syok-nya dia saat mendengar berita itu. Namun kemudian berubah senang karena ia pun mendambakan kehadiran anak dalam pernikahannya.
Dengan tangan gemetar Dion mengambil foto usg itu. Diamatinya sesaat untuk mencoba mengartikan gambarnya. Tidak mengerti. Ia melihat ada sebuah kantung dan ia meyakini kalau itulah bakal calon anaknya. Dulu.
Matanya kini tertuju pada tulisan Lily selanjutnya.
Ternyata karena aku lagi hamil makanya tadi pagi kepalaku pusing dan mual-mual, bahkan sampe pingsan. Begini rupanya ciri-ciri hamil. Aku jadi nggak sabar pengin kasih tahu Mas Dion. Kira-kira dia senang nggak, ya.
***
Satu tahun kini berlalu tanpa ada perubahan yang terjadi. Kecuali pada Clara dan komplotannya. Hakim menetapkan wanita itu di penjara dalam kurun waktu yang lama berikut denda yang harus dibayar. Sedangkan preman yang telah membunuh papa, dihukum mati.
Dinding ruangan ini yang menjadi saksi bagaimana menyedihkannya gadis malang itu. Sudah beberapa kali Lily dipindahkan dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain untuk mendapatkan pengobatan lebih baik. Dokter ahli kejiwaan terbaik di negeri ini pun sudah dipanggil untuk mengatasinya, bahkan dari luar negeri pun sudah berkali-kali memeriksa Lily. Psikoterapi dan obat anti depresan sudah diberikan. Namun tidak ada perubahan. Tubuh Lily seakan-akan menentang untuk sembuh.
Dion menatap nanar tubuh Lily dari kejauhan. Saat ini beberapa dokter jiwa dari berbagai negara sedang menanganinya di dalam, dia sedang mengamuk. Begitulah setiap hari bahkan setiap saat kalau tidak disuntikkan penenang. Bahkan beberapa kali tangan juga kakinya harus diikat karena melakukan percobaan bunuh diri.
__ADS_1
Bukannya Dion tidak mau ikut menenangkan Lily. Tiap kali dia mendekati istrinya itu, Lily akan semakin histeris dan menyerukan bahwa Dion adalah salah satu penyebab kematian papa juga janinnya. Ya, begitulah.
Beberapa waktu kemudian dokter-dokter terbaik di negaranya itu keluar juga. Dion langsung berhambur menghampiri. “Bagaimana, Dokter?” tanyanya dalam bahasa inggris. Walau tadi ia sudah melihat apa yang terjadi di dalam melalui celah pintu, namun secerca harapan akan kesembuhan Lily ia sematkan di hati. Berharap kali ini dokter-dokter itu akan mengucapkan diagnosis berbeda dari dokter yang sebelum-sebelumnya.
“Gangguan fungsi otaknya benar-benar fatal begitupun mentalnya. Dia sungguh sulit diajak berkomunikasi. Tidak ada satupun dari pertanyaan atau pernyataan kami yang ditanggapi dengan benar. Dia hanya menjerit dan berteriak,” terang dokter yang memiliki tinggi tubuh hampir dua meter itu dengan iba. “Maafkan kami,” lanjutnya lagi dengan wajah menyesal.
Dokter yang bekerja di rumah sakit jiwa ini–yang menjadi dokter Lily–memberi beberapa keterangan lanjutan yang intinya tidak ada perubahan yang signifikan pada Lily setelah ia ikut serta dalam pemeriksaan tadi.
“Lalu bagaimana caranya agar istriku itu sembuh, Dokter?” Dion frustrasi. Entah apa lagi yang harus dilakukannya untuk kesembuhan Lily.
“Selama ini Anda sudah memberikan yang terbaik. Selebihnya kita serahkan pada Yang Kuasa,” timpal dokter itu membesarkan hati Dion.
**
“Bagaimana?” tanya Tiara saat Dion baru saja muncul dari pintu masuk rumah. Sudah seminggu Tiara ada di Indonesia. Ini kali kedua ia berkunjung ke Indonesia selama setahun ini setelah takdir yang kejam menimpa Lily. Kali ini hanya dia sendiri yang datang.
Tiara juga turut andil dalam pengobatan Lily dengan mendatangkan dokter-dokter hebat. Namun semua rasanya sia-sia.
Dion menggeleng lemah dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Mami dan Papi juga ada di sana. Rona kesedihan yang terpancar di wajah orangtua itu sangat terlihat jelas. Dion merasa kedua orangtuanya terlihat semakin tua saja. Entahlah... Mungkin karena selama setahun ini hanya kesedihan yang dirasakan papi dan mami, sama seperti dirinya.
__ADS_1
Untuk beberapa lama mereka semua diam dalam pikirannya masing-masing. Sampai Tiara membuka suara dengan mengatakan, “sebaiknya kau menikah lagi, Dion.”