
Semenjak kedatangan Carol dan putrinya ke toko bunga, Cia jadi sering berkunjung ke sana. Kedua wanita yang sama-sama manis beda usia itu sepertinya semakin dekat.
Tidak terasa sudah sebulan kepergian Dion. Dan Lily tidak menyadari itu karena harinya diisi dengan banyaknya kegiatan.
Beberapa hari ke belakang, Lily dan teman-teman sekolah disibukkan dengan berbagai latihan, salah satunya latihan drama untuk acara perpisahan sekolah. Acara perpisahan sudah diselenggarakan dan berjalan lancar. Ada keharuan di setiap tata acara. Lily senang bisa bertemu dengan teman-teman lagi namun juga sedih karena mereka benar-benar akan berpisah.
“Lily,” seru Axel yang melihat Lily di parkiran sekolah. Lily sedang menunggu Luna yang pergi ke toilet.
Lily menoleh, “Axel?” Padahal Lily sudah berusaha untuk menghindari Axel tadi, tapi nyatanya Axel menemukannya jua.
“Kamu nggak mau tukaran kado denganku?” Menyodorkan kadonya.
“Tapi aku udah nggak punya kado lagi, maaf.” Lily merasa bersalah karena memang dia tidak punya rencana tukaran kado dengan Axel.
Axel mengekspresikan wajah sedih yang dibuat-buat kemudian tersenyum, “aku nggak perlu kado apa-apa dari kamu. Aku hanya perlu hati kamu.” Axel mengedipkan sebelah matanya, cukup jenaka.
“Axel, aku rasa kita perlu bicara.” Lily bicara dengan penuh keseriusan.
”Mau bicara apa? kamu mau menyambung hubungan kita yang sempat terputus,” goda Axel lagi.
“Ya nggak lah. Sebaiknya kita jangan bicara di sini.” Takut ada yang mendengar pembicaraan mereka karena masih ada siswa di sekolah.
“Kamu malu ya kalo ada teman yang dengar kita nyambung lagi.” Axel mendekat, menunduk sedikit agar wajahnya dan wajah Lily sejajar. Menggoda kembali wanita yang sudah menikah itu.
“Axel!” Lily menarik mundur wajahnya, ini sudah kelewatan.
“Apa Lily sayang.” Bibir itu menyeringai.
Ini nggak bisa dibiarin lagi. Bisa-bisa Axel merajalela membuat argumennya sendiri kalo aku benar menyukainya.
“Ayo kita pergi dari sini. Kita bicara di kafe atau di mana saja. Yang penting jangan di sini,” desak Lily.
Tanpa diminta, Axel membuka tas gendong Lily. Memasukkan kadonya ke dalam. “Segitu tidak sabarnya ya kamu pacaran denganku lagi.”
Lily tidak menggubris, kalau tetap diladeni Axel akan menjadi. Lily mengeluarkan kunci dan menghidupkan motornya.
__ADS_1
“Kita naik mobil saja.”
“Nggak, kamu ikuti aku saja dari belakang. Kalo kamu nggak mau biar aku pulang.” Mengancam.
Mendengar itu, Axel berlari menuju mobilnya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berdua dengan Lily. Jarang-jarang Lily mengajak bicara berdua dengannya.
................................................................
Hari semakin sore, matahari sudah tidak terlihat lagi. Dua orang insan sudah duduk di dekat jendela sebuah kafe. Pelayan kafe mondar-mandir dengan cekatan melayani tamunya.
Lily sibuk mengetikkan pesan. Tidak tahu seberapa banyak panggilan tidak terjawab dari Luna. Lily lupa memberitahu Luna. Lily juga harus izin pulang terlambat kepada mertuanya.
“Makan dulu, Ly. Sibuk banget sama hpnya.” Mulai protes karena dari tadi diacuhkan.
“Iya, kamu aja dulu.” Sedikitpun tidak menoleh pada Axel, asyik dengan hpnya. Axel mendesah kesal. Lily yang mengajak ke sini, dia pula yang mengabaikan. Axel bangkit, dia cemburu pada hp yang mendapat perhatian Lily. Axel merebut hp itu.
“Xel, kamu apaan sih. Balikin hp aku!” Berusaha meraih hp yang digenggam Axel. Kakinya melompat-lompat, berharap bisa mendapatkan barang miliknya itu. Namun sial, tangan itu tidak dapat diraihnya.
“Nggak. Kamu makan dulu baru nanti aku kembalikan.” Memasukkan hp Lily dengan cepat ke saku celananya, “kalau kamu berani, ambil saja sendiri.” Axel duduk lagi ke tempatnya semula.
Lily bergumam jengkel, mengumpat. Dia memakan habis makanannya dengan cepat. Berdebat dengan Axel tidak akan ada habisnya. Axel tersenyum dan geleng-geleng kepala menyaksikan Lily makan dengan wajah kesal.
“Biarin,” menjawab acuh sebelum meneguk habis air putihnya.
“Nih tisu,” menyodorkan kotak tisu, “mulut kamu belepotan.” Lily menarik sehelai tisu, membersihkan mulutnya. “Kamu mau makan punya aku?” Axel menawari isi piringnya yang belum habis.
“Nggak. Kamu pikir aku kebo, banyak makan.” Axel terkekeh. “Minta hp aku!”
“Bilang dulu Axel sayang!” Mulai genit.
“Jangan kayak anak kecil dong, Xel. Mana hp aku?” Menengadahkan tangan di udara. Axel senyum-senyum sembari menyerahkan hp Lily.
Untuk sesaat keduanya diam.
“Mulai sekarang kita resmi pacaran lagi,” ujar Axel tiba-tiba.
__ADS_1
Lily melotot. Kalau saja dia masih makan, bisa dipastikan makanan di dalam mulut akan disemburkan. “Nggak bisa , Xel.”
“Kenapa? kamu takut sama papa kamu? nanti aku akan menemuinya lagi. Tidak mungkin dia akan terus melarang hubungan kita.”
“Bukan itu, Xel.” Lily berpikir, berusaha menemukan kata yang tepat memulai dari mana dia akan menjelaskan. “Aku ingin memberitahu kamu sesuatu.” Menatap lekat pria yang mencintainya itu. “Kamu pernah kan menanyakan ini,” memperlihatkan jari manisnya yang tersemat cicin. “Ini cincin pernikahan, aku sudah menikah, Xel.” Terdengar gelak tawa pria itu. Tidak percaya.
“Menikah? haha, kamu sama sekali nggak berhasil ngeprank aku. Kamu gagal total.” Masih tergelak, tidak percaya.
“Aku serius, Xel. Aku sudah menikah.” Membuat wajah seserius mungkin agar pria tampan di depannya percaya.
“Kau mengharapkan apa dariku? kau berharap agar aku percaya, gitu.” Meminum minumannya karena tenggorokannya sedikit kering akibat tertawa.
“Iya, Xel. Kau harus percaya kalo aku memang benar sudah menikah. Aku menikah sebulan yang lalu.”
Axel mencondongkan badannya ke depan Lily, berbisik, “aku nggak percaya.” Duduk kembali di kursinya. “Sudahlah, Ly. Jangan berbelit-belit. Ayo kita mulai hubungan yang baru. Aku dan kamu sama-sama ingin ada hubungan dekat.” Tangannya bergerak memanggil pelayan untuk membayar bil.
Apa yang diperkirakan Lily memang benar. Axel tidak akan mudah percaya, tapi dia akan terus berusaha. Setelah Axel membayar tagihan dan pelayan itu pergi, Lily berucap lagi, “gimana caranya biar kamu percaya, Xel?”
“Emangnya kalo kamu menikah, menikah dengan siapa? kamu nggak punya pacar dan pacar yang pernah kamu punya cuma aku.”
Lily mendengus kesal karena apa yang diucapkan Axel terlalu benar. Ingin menunjukkan foto pernikahannya, tapi sial diponselnya tidak ada foto itu. Lily bingung harus menjelaskan dengan cara apa. Mengatakan dengan jujur kalau dia tidak mencintai Axel juga mustahil. Yang ada kesannya seperti membuat alasan yang dipaksakan.
“Sudahlah, Ly. Jangan membuat alasan yang nggak masuk akal. Aku tahu kamu hanya membuat alasan karena takut ketahuan papa kamu.”
“Aku dijodohkan, Xel.” Suara Lily cukup keras sampai orang yang ada di samping bisa mendengar.
Untuk sesaat Axel tertegun. Bisa-bisanya Lily berujar di luar yang dipikirkannya.
“Aku dijodohkan oleh papa dan kami menikah sebulan yang lalu. Kamu mau percaya atau nggak itu terserah kamu. Yang jelas aku udah kasih tahu kamu kebenarannya biar kamu nggak berharap, Xel.”
Axel diam menimang-nimang penuturan Lily dipikirannya.
Benarkah Lily sudah menikah?
Raut wajah berangsur sedih, hatinya juga bergetar sedih. Rasanya seperti jatuh dari ketinggian, sakit. Benar atau tidak dengan apa yang diucapkan Lily, kata-kata itu berhasil membuatnya frustasi.
__ADS_1
“Xel, aku minta maaf. Maaf sudah mengecewakanmu. Maaf untuk semuanya. Doaku, semoga kelak kamu akan menemukan yang lebih baik dari aku.”
Axel mematung. Wajahnya pucat dan dadanya sakit. Tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di tempatnya. Wanita yang tadi duduk di depannya sudah lama pergi. Dia hancur, wanita yang dicintainyalah yang membuatnya begitu.