
“Oh, jadi tidak boleh disiram terlalu sering, ‘ya?”
“Iya, Bu. Disiram seperlunya aja. Atau kalau tanahnya udah terlihat kering atau nyaris kering. Kalau tanah masih lembab dibiarkan aja. Dan yang disiram bukan daun atau bunganya, ‘ya, Bu, tapi tanahnya. Ibu juga harus memastikan wadahnya akan mengalirkan air dengan baik.”
“Lho, kenapa?”
“Karena kalau sampai akar atau umbinya digenangi air, tanamannya akan mati.”
“Oalah, saya baru tahu ternyata begitu cara merawat bunga amarilis. Selama ini saya selalu menyiramnya pagi dan sore dan kadang-kadang juga siang hari. Saya membiarkan airnya sampai penuh pula. Pantas saja cepat mati.”
“Oh, iya, satu lagi, Bu. Jangan dibiarkan terpapar sinar matahari sepanjang hari, ‘ya.”
Dan lagi-lagi ibu-ibu yang terlihat berperawakan menarik itu terperangah.
Dari bibir pintu, Adnan tampak tersenyum. Ya, terlihat Gadis itu–Lily sedang melayani pelanggan dengan ada sedikit gairah hidup, tidak seperti biasa yang lebih banyak diam dan sering melamun. Adnan bersyukur untuk itu. Apakah Lily sudah berani dan tegar untuk datang ke toko bunga milik keluarganya? Jawabannya tidak. Traumanya masih memenuhi hati.
Adnan membeli sebuah toko yang ada di persimpangan jalan, tidak jauh dari rumah. Dan menyulapnya menjadi toko bunga, besarnya hampir seperti Toko Bunga Liona.
Saat Adnan mengajak Lily dan Gendis ke toko bunga mereka yang baru itu, kedua wanita yang ia sayangi itu menyambutnya dengan riang. Terutama Lily. Ia bersorak karena akan menghabiskan waktu dengan kegiatan yang ia suka, berjualan bunga sambil menghirup aromanya.
“Mas Adnan emangnya punya uang dari mana sampai bisa membeli toko ini?” tanya Lily pada saat itu setelah selesai menjejakkan kakinya ke seluruh sudut toko. Menurut Lily, harga bangunan dan tanahnya pasti sangat mahal, melihat letaknya cukup strategis untuk membuat usaha yang pastinya banyak diincar orang. Belum lagi biaya merenovasi karena ada beberapa bagian bangunan itu yang terlihat baru dan juga biaya membeli bunga-bunga dan biaya-biaya lainnya.
Adnan menanggapinya dengan senyum, “ada deh.” Sambil menoel hidung yang bangir itu.
Sedangkan Dion?
Sampai dua kali laki-laki itu berusaha untuk bertemu dengan Lily, namun selalu ditolak dengan keras. Lily mengancam akan pergi bila Adnan masih terus mengizinkan Dion untuk mencoba menemuinya.
***
“Untuk apa ini, Mas?” tanya Lily di suatu sore setelah terlebih dulu melihat dan membaca sekilas brosur-brosur yang diserahkan Adnan barusan. Beberapa brosur perguruan tinggi swasta. Pendaftaran untuk universitas negeri tidak mungkin dilakukan karena sudah tutup beberapa minggu lalu.
“Pilih aja, kamu mau kuliah di perguruan mana. Atau kamu ada keinginan kuliah di mana?”
__ADS_1
Lily menatap brosur-brosur dan Adnan dengan bingung. “Maksud Mas Adnan, aku kuliah?”
Adnan mengangguk, “iya. Pilih aja kamu mau di mana melanjutkan kuliah kamu.” Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan dan beberapa kali konsultasi dengan psikolog maupun psikiater, kondisi Lily makin membaik dan normal sehingga Lily dibolehkan untuk bertemu banyak orang, misalnya kuliah lagi. Namun tetap ada kemungkinan psikisnya akan down lagi bila gadis itu terus-terusan dipaksa tidak sesuai dengan keinginannya.
Lily jadi teringat akan perguruan tinggi tempat belajarnya dulu. Dirinya pasti sudah di–drop out dari universitas itu. Tidak mungkin ia diberi cuti selama satu setengah tahun ini, mengingat kondisi mentalnya yang menyedihkan yang tidak seorangpun tahu kapan dirinya akan sembuh.
“Malah bengong.” Adnan menyikut lengan Lily. “Ayo pilih.”
Lily meletakkan semua brosur itu di sembarang tempat. Lalu menggeleng lemah. “Nggak usah, Mas. Di sana biayanya pasti mahal. Aku bisa menghabiskan waktu dengan jaga toko bunga aja udah untung.” Lily cukup tahu diri. Dengan dibelikannya toko bunga ini untuk ia kelola sudah sangat membuatnya bersyukur. Dia tidak menginginkan yang lain lagi.
“Lalu untuk apa semua uang tabungan papa yang semasa hidup beliau kumpulkan kalau bukan untuk masa depan kamu?”
“Aku rasa tabungan papa udah habis, Mas, untuk membeli toko ini. Aku yakin harga toko ini nggak sedikit.”
“Tabungan papa masih banyak. Sangat cukup sampai kuliah kamu nanti selesai. Kamu nggak mau ‘kan, bikin papa kecewa?”
Lily melirik Adnan. Laki-laki itu sedang dalam mode serius. Lily tahu papa memang memiliki banyak tabungan. Namun untuk jumlahnya Lily tidak tahu pasti. Tetapi harga toko ini yang dibeli beberapa minggu lalu juga pasti tidaklah sedikit.
“Kamu nggak mau papa kecewa ‘kan?” tanya Adnan sekali lagi karena Lily hanya terdiam menatapnya penuh selidik.
“Sembarangan!” pungkas Adnan cepat sembari mencapit hidung Lily. Yang hidungnya dicapit mendumel sambil memukul tangan Adnan membuat Adnan sedikit terkekeh. “Pikiranmu terlalu jauh. Aku mana berani menjual itu semua.”
“Trus darimana uang yang akan jadi biaya kuliah itu?”
“Udah dibilangin tabungan papa.” Adnan mendengus. “Udah, kamu itu tugasnya kuliah yang benar. Nggak usah mikirin biaya.”
*
*
*
Hari silih berganti. Kesibukan di toko bunga yang baru dan berkuliah membuat waktu terisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Perputaran rotasi bumi terasa begitu cepat bagi Lily meskipun tanpa Dion di sampingnya. Adnan sungguh menepati janji untuk tidak mempertemukannya dengan laki-laki yang dia anggap sudah menjadi mantan suami, bahkan sampai saat ini setelah beberapa tahun berlalu. Atau laki-laki itu yang memang tidak berniat lagi untuk bertemu dengannya?
__ADS_1
Lily tersenyum miring mengingat itu. Ternyata benar yang ia duga dulu. Tidak ada cinta Dion untuknya. Kalau memang laki-laki itu menyayanginya, mencintainya dengan sungguh-sungguh seperti perasaannya, bukankah seharusnya lelaki itu berusaha untuk bertemu meskipun dilarang olehnya dengan keras? Bukankah jika perempuan mengatakan tidak tetapi arti yang sebenarnya adalah iya?
Saat ini Lily tengah berdiri di trotoar sambil mengapit beberapa buku di lengannya. Menunggu kendaraan umum untuk pulang dari universitas tempatnya mengenyam pendidikan.
“Ly, ayo pulang bareng aku.” Seorang laki-laki turun dari motor besarnya. Kalau dulu Lily akan terkagum-kagum dengan laki-laki yang bisa mengendarai motor besar seperti itu, sekarang tidak lagi. Bahkan untuk sekadar mengagumi lawan jenis yang nampak sempurna secara fisik saja rasanya malas.
“Maaf, Rian. Aku naik angkot aja.” Lily langsung membuang pandangan menyapu jalan raya. Hari mulai petang. Hari ini Lily ada kelas siang sampai sore.
“Kalau gitu aku temenin. Nggak baik cewek cantik sendirian di jalan.” Lily melengos. Rian adalah satu-satunya laki-laki yang paling ngebet ingin menjadikan Lily sebagai pacar. Lily tidak tahu dan memang tidak mau tahu fakultas apa yang diambil laki-laki itu. Pertama bertemu saat Lily kesusahan untuk menyeberang jalan. Berkali-kali ditolak tidak membuat pria yang memang ganteng itu patah semangat mengejar Lily.
“Nggak usah, Rian. Kamu pulang aja duluan.”
“Nggak!” bantah Rian cepat. “Sini bukunya biar aku yang pegangin.“ Rian langsung menyambar tumpukan buku yang dipinjam Lily dari perpustakaan. “Sekalian juga sama tas kamu. Kasihan kamunya kelihatan capek banget.” Dengan berani Rian melepas tali tas yang melingkar di pundak Lily. Lily tidak mau. Ia berusaha mempertahankan tasnya karena menurutnya itu berlebihan.
Saat mereka ribut gara-gara tas, dua gadis remaja datang menghampiri.
“Kak. Kakak.”
Lily melihat sekilas, “iya, kenapa?” Lily langsung menarik dengan cepat tasnya saat perhatian Rian tersita pada dua gadis remaja itu dengan membawa setangkai bunga mawar.
“Ini ada mawar dari pacar kakak.”
“Pacar?” tanya Lily dan Rian serentak.
“Kamu udah punya pacar?” Rian bertanya dengan tampang kecewa.
“Nggak. Aku udah lama nggak pernah pacaran. Mungkin cuma orang iseng aja. Nggak usah ditanggapi.” Lily sesaat berpikir. Untuk apa dirinya menjelaskan ini pada Rian.
“Ini, Kak, kembangnya.” Gadis remaja yang memegang bunga mengacungkan mawar itu ke hadapan Lily. Melihat bunga mawar itu, Lily memiliki ide.
“Iya, Rian. Sebenarnya aku memang udah punya pacar. Cuma sekarang kami lagi ribut. Ya, biasalah pasangan suka ada ribut-ributnya.” Lily berhasil meyakinkan Rian kalau dirinya sudah punya pacar. Laki-laki itu kemudian pergi dengan tampang kusut.
Lily menerima bunga itu dengan was-was. Menatapnya lama. “Di mana orang yang memberi bunga ini, Dik?”
__ADS_1
“Itu, di sana.” Lily mengikuti arah telunjuk remaja itu. Hanya sekelebat saja ia melihat sosok laki-laki karena langsung berbalik dan berjalan ke belakang mobil. Jarak yang jauh membuatnya susah untuk bisa mengenal laki-laki itu.
“Neng, angkot, Neng.” Suara Mang Supir menghentikan niat Lily untuk menemui laki-laki itu. Meski penasaran Lily memutuskan untuk naik ke angkot itu setelah terlebih dulu mengucapkan terimakasih pada dua gadis remaja, karena petang sudah berubah menjadi senja.