Gadis Penjual Bunga

Gadis Penjual Bunga
Rindu Setengah Caci


__ADS_3

Adnan memasukkan kendaraan roda duanya dengan tergesa ke halaman rumah. Setelahnya ia menutup kembali pagar rumah dengan tergesa juga. Gendis–istrinya–yang kala itu sedang duduk menonton di ruang tamu segera beranjak karena mendengar suara motor Adnan.


“Sudah pulang, Mas?” tanya wanita hamil itu setelah membukakan pintu, lantas memajukan tangannya untuk menyalami tangan sang suami.


“Iya. Lily di mana?” Adnan mengedarkan pandangan untuk menemukan di mana gadis itu. Ya, selama seminggu ini Lily ada di rumah mereka, yang letaknya di pinggir kota. Bukan Adnan yang memintanya untuk tinggal di sana, melainkan Lily yang ingin tinggal bersama mereka untuk menghindari Dion.


Setelah sakit hati yang ia terima karena melihat pernikahan Dion, keesokan harinya Lily harus memeriksakan perkembangan psikisnya seperti anjuran Dokter Hendri. Saat itu pula jadwal Gendis memeriksa kandungan. Dari situlah Lily dan Gendis bertemu dan berkenalan.


“Dia sedang di kamar mandi, Mas.” Gendis, wanita berparas ayu dan selalu bertutur lembut itu tidak hentinya menyematkan senyuman di bibir. Kelembutan dan kesopansantunan Gendis-lah yang akhirnya membuat Adnan perlahan-lahan mulai membuka hati dan mau menikah dengan wanita itu, pilihan orangtuanya di kampung. “Mas kelihatannya kecapekan sekali. Mas duduk dulu biar saya buatkan minuman hangat.” Adnan mengangguk. Ia berjalan ke ruang tamu yang besarnya tidak seberapa sedangkan Gendis menuju dapur.


Tidak lama kemudian Gendis kembali dengan membawa teh yang masih mengepulkan asapnya. “Kenapa, Mas? Ada Mas Dion lagi di sana?” tebak Gendis setelah meletakkan teh itu dan duduk di sebelah Adnan yang tertunduk sembari memijit-mijit sebelah pelipisnya.


Sebenarnya selama seminggu ini Adnan setiap hari pergi ke kafe dan toko bunga. Karena selalu ada Dion di sana, ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan memutuskan kembali pulang.


Adnan mengangguk, “iya,” jawabnya dengan suara berat.


Gendis memberikan usapan lembut pada lengan suaminya itu. “Apa tidak sebaiknya mereka dipertemukan saja, Mas?”


Adnan merebahkan punggungnya diikuti dengan helaan napasnya yang panjang. “Aku maunya juga begitu. Tapi kalau dipertemukan, takutnya Lily akan histeris yang akan membuat mentalnya terguncang lagi. Kamu sendiri dengar ‘kan, apa-apa saja larangan yang dikatakan dokter untuk Lily? Dan Dion adalah orang yang paling dibencinya saat ini. Aku tidak mau Lily kembali mendekam di RSJ.”


Walau Adnan masih memendam amarah pada Dion, namun ia sadar Lily dan Dion memang harus dipertemukan agar masalah diantara mereka bisa terselesaikan. Tetapi untuk saat ini Adnan lebih memprioritaskan kesehatan psikis Lily dulu.


Tidak ada yang bisa dikatakan Gendis lagi selain usapan hangat yang masih terus ia berikan pada lengan suaminya itu. Karena iapun membenarkan apa yang diucapkan Adnan.


“Adduhhh....” Tiba-tiba Gendis meringis sembari memegangi perutnya yang buncit.


“Kenapa? Kenapa?” panik Adnan. “Apa kamu mau melahirkan?”

__ADS_1


“Tidak, Mas. Usia kandunganku baru menginjak 8 bulan 1 minggu. Mana mungkin melahirkan sekarang. Bayinya menendang sangat kuat. Aduh... dia nendang lagi, Mas, sakit....”


“Anak Ayah, jangan main bola di dalam perut Ibu, ‘ya. Kasihan Ibu kamu. Nanti kalau kamu sudah lahir dan besar, baru kita main bola.”


Lily mengurungkan niatnya yang baru saja kembali dari kamar mandi untuk bergabung dengan pasangan suami istri itu yang sebentar lagi akan menjadi orangtua. Ia berdiri di balik tembok dengan mata berkaca-kaca menyaksikan interaksi antara Adnan dan calon anaknya.


Melihat bagaimana Adnan mengelus-elus perut Gendis dan berbicara lembut pada sang jabang bayi, membuatnya iri. Ya, iri karena ia tidak sampai merasakan perhatian sejauh itu pada kehamilan yang pernah dialaminya dulu. Jangankan diperhatikan, bagaimana reaksi Dion atas kehamilannya pun ia tidak tahu. Atau dasarnya saja, Lily bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Dion yang sebenarnya pada dirinya. Karena selama berumahtangga, tidak pernah sekalipun Lily mendengar ungkapan cinta dari pria itu. Rasa sakit kembali menusuk hatinya mengingat pernikahannya yang sudah kandas.


***


Lily tengah jongkok mencabuti rumput yang mengganggu beberapa tanaman di halaman. Tidak banyak yang dapat Lily kerjakan selama tinggal dengan kakak angkatnya itu. Urusan memasak, dirinya hanya bisa memasak mie instan dan telur, tidak sepandai Gendis yang bisa memasak apa saja. Menyapu dan mengepel, Gendis juga yang mengerjakannya. Dokter menyarankan supaya wanita yang sedang hamil tua itu lebih aktif dalam bergerak, untuk mempermudah proses persalinannya nanti.


Seandainya hatiku setegar karang dan punya kekuatan untuk pergi ke toko bunga atau kafe, aku bisa menghabiskan waktu melayani pelanggan-pelanggan. Nggak bosan seperti ini.


Lily sampai melamun hingga suara khas mesin motor Adnan menyadarkannya. Benar saja, beberapa detik kemudian Adnan muncul setelah membuka pintu pagar.


“Mas Adnan udah pulang? Kenapa motornya disimpan di luar?” tanya Lily. Biasanya laki-laki itu akan langsung memasukkan motornya ke halaman.


“Iya, kenapa M–”


Kedua mata Lily membulat melihat ada seseorang yang datang bersama Adnan. Tubuhnya seketika bergeming. Kakaknya itu datang bersama....


“Lily.”


Suara yang terdengar lembut dan sejujurnya sangat ia rindukan itu menyapa dirinya. Membuat matanya berkedut ingin menangis. Namun saat ini rasa sakit lebih dominan menguasai hatinya. Lily buang muka setelah beberapa saat terpaku dan bersiap untuk masuk ke dalam rumah. Namun tangannya diraih dengan cepat oleh Dion. “Lily, kita harus bicara.”


Gadis itu tidak menjawab. Ia melepaskan tangannya dan berjalan ke dalam rumah, setengah berlari. Baru beberapa langkah ia memasuki rumah, tangannya kembali disambar oleh Dion. “Tolong dengarkan aku sebentar saja,” pinta Dion mengiba. “Pernikahan itu sudah aku batalkan. Aku tidak pernah ada niat untuk menikah dengan siapapun lagi. Aku... aku, aku terpaksa melakukannya. Tolong maafkan aku.” Terdengar suara Dion yang tulus dan penuh penyesalan.

__ADS_1


Lily memejamkan mata, membuat genangan air mata yang sedari tadi sudah penuh di pelupuk mata kini jatuh bercucuran. Ia harus tenang seperti yang selalu diingatkan psikolog ataupun psikiater yang selama ini ia datangi.


“Kamu nggak perlu minta maaf atau menjelaskan apapun, Mas,” ucap Lily masih membelakangi Dion dan berusaha menahan tangisnya untuk tidak meledak. “Papa sudah tiada, jadi kamu bebas melakukan apa saja, termasuk menikah dengan siapa saja.”


“Apa yang kamu bicarakan ini?”


“Mas nggak usah merasa berkewajiban memenuhi janji pada papa untuk bertanggung jawab atas aku.” Itulah yang Lily pikirkan selama seminggu ini. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan bukan karena saling mencintai. Hal yang wajar bila Dion meninggalkannya yang mengalami gangguan mental dan menikah dengan wanita yang lebih baik. Karena laki-laki itu memang tidak mencintainya. Lily sudah berembuk dengan hatinya untuk ikhlas menerima semua jalan hidupnya ini, walau rasanya begitu sakit.


“Kamu ini bicara apa?” Dion berjalan ke depan Lily. Terlihat air mata dan banyak luka yang tertanam di bola mata gadis itu.


“Lupakan saja permintaan papa, Mas! Lupakan saja semuanya. Aku yang akan mewujudkan permintaan papa untuk hidup bahagia. Kamu nggak usah repot-repot atau merasa kasihan terhadapku.”


Dion sungguh tidak mengerti mengapa Lily berbicara seperti itu. Yang ia rasakan saat ini gadis itu kecewa teramat dalam pada dirinya. Dion bisa memahami itu karena dirinya–lah penyebabnya. Ia tidak tahan lagi melihat Lily yang beruraian air mata dan begitu rapuh. Ia lantas menghapus air mata lalu menarik tubuh Lily bermaksud ingin memeluknya, namun yang ia dapatkan adalah penolakan.


***


“Dion, sebaiknya kamu pulang dulu. Aku takut Lily akan semakin down. Dokter melarang jangan sampai membuatnya menangis histeris.” Adnan melarang Dion untuk mengejar Lily ke dalam kamar.


“Tapi Adnan, aku tidak mengerti dengan semua yang diucapkannya tadi.”


“Aku akan menghubungimu kalau dia sudah tenang. Dia hanya butuh waktu. Dia tidak boleh dipaksa.”


Dengan langkah terpaksa, Dion pergi dari rumah itu. Ia kecewa karena semua yang ingin disampaikannya belum ia katakan. Namun tidak mengapa, setidaknya ia tahu bahwa kondisi Lily baik-baik saja dan bisa mengikis rasa rindunya walaupun hanya sedikit.


.


.

__ADS_1


.


Plis, ya, karakter Lily jangan dihujat. Karena apa? Karena dari awal jalan ceritanya memang begitu. Jadi kalian ikuti aja alurnya, ya. Nanti akan indah pada waktunya. Kapan? Ditunggu aja😉


__ADS_2