
Udara di luar semakin dingin seiring dengan bertambah larutnya malam, dan Lily masih berusaha agar Dion mau membuka mata.
“Mas, apa kamu benar-benar tidur?” tanyanya lagi setelah bosan menusuk-nusuk pipi. Tidak dijawab dan itu membuat Lily cemberut. “Masa iya udah tidur. Padahal aku mau bilang sesuatu.”
Lily kemudian duduk dari setengah tidurnya. Mengamati kembali wajah Dion yang tetap diam membatu. “Mas,” rengeknya dengan menggoyang-goyangkan tangan gagah yang ada di atas perut hingga membuat tubuh Dion terguncang. Dion berdehem dan menyilangkan tangan di atas dadanya, sedikit memiringkan kepala berlawanan dengan keberadaan gadis itu. Sama sekali tidak membuka mata atau menanggapi ocehan yang disemburkan Lily sedari tadi.
“Iihh.” Lily menggeser duduknya mendekat lagi. “Mas, aku kalah bermain dengan Ariel. Dan aku dapat hukuman darinya.” Tidak berhasil, pria itu ahli dalam bergeming. Hanya dadanya yang terlihat kembang-kempis karena udara yang bergilir untuk masuk dan keluar dari/ke paru-parunya.
Menusuk-nusuk pipi dan menggoyangkan tubuh pria itu tidak mempan untuk membangunkannya. Sekarang pandangan berpindah ke rambut yang menjuntai di depan dahi. Lily mendekatkan wajah dan meniup rambut itu sampai anak rambut itu bergoyang. Gadis Jahil itu tergelak tanpa suara karena bola mata Dion ikut bergerak-gerak dari dalam kelopak matanya.
Kini ada ide jahil yang muncul lagi. Lily mengangkat tangannya dan memainkan bulu mata Dion. Lily senang bukan main sampai mengeluarkan suara cekikikannya. Siapapun akan merasa terganggu dijahili seperti itu.
Dion menangkap tangan Lily yang sudah berani mengusilinya. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan mata yang menahan kesal.
Gadis itu sumringah karena berhasil membangunkan Dion, “aku sedang mencoba membuka mata Mas Dion,” tuturnya dengan enteng seperti tanpa dosa. Senyumnya masih terpatri menghiasi bibir.
Dion bangkit dari tidurnya lalu duduk. Namun tidak melepaskan tangan yang sudah berani mengganggunya itu. “Sekarang mataku sudah terbuka.” Dion mendekatkan wajah. Seketika senyum Lily yang ia nampakkan dari tadi menyurut, diikuti tubuhnya juga beringsut ke belakang. “Lalu apa lagi maumu sekarang?” Dion berbicara pelan di dekat telinga Lily, sampai hembusan napas Dion ikut menyentuh kulitnya. Bulu kuduk Lily meremang dibuatnya.
“Ng-nggak mau apa-apa. Aku cuma mau bilang sesuatu.”
“Bilang apa?”
Lily memalingkan muka. Yang benar saja ia akan mengatakan permintaan Ariel itu. Mending kalau Dion percaya, bila laki-laki itu berpikir kalau dirinya yang menginginkannya? Tidak, tidak. Memangnya dia gadis apaan yang ....
“Kau mau bilang apa?” desak Dion.
“Um, Mas.” Lily ragu-ragu melihat wajah Dion.
“Katakan!”
Sekian detik terdiam lagi, gadis itu malah tersenyum, berusaha semanis mungkin. “Bukan apa-apa, Mas. Aku cuma mau bilang selamat malam, itu aja, hee.”
__ADS_1
Dion memicingkan mata. Sedari tadi gadis ini membangunkannya dari tidur pura-puranya. Tentu saja ia mendengar semua ocehan Lily tadi, termasuk kekalahannya bermain dengan Ariel. Tunggu dulu, Ariel? Kira-kira apa yang diinginkan Ariel dari kekalahan Lily?
Tidak menunggu waktu lama, Dion pun tersenyum, “baiklah,” ujarnya kemudian. Sadar atau tidak, ia tidak jua melepas cekalannya dari pergelangan tangan Lily. Ia menarik tubuhnya ke belakang sampai punggungnya bersandar. Otomatis tubuh Lily juga turut bergerak karena tertarik. Dan itu membuat sebagian belahan dada gadis itu terlihat karena gaun tidur yang dilapisi jubah tidak serapi tadi. Dion berusaha menahan diri lagi dengan membuang muka lalu melepaskan tangan gadis itu. “Tidurlah!”
Lily mengangguk. Tanpa diduga ia malah mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Dion hingga suaminya itu tersentak. Baru kali ini Lily punya inisiatif sendiri tanpa diminta. Gejolak yang terasa membakar dirinya sedari tadi tidak bisa ia tahan lagi, terlebih aroma tubuh dan napas Lily yang ia rasakan semakin membuncahkan hati dan pikirannya.
Sebelum Lily menjauhkan tubuh dari dirinya, Dion menahan Lily dengan menarik tengkuk gadis itu. Tatapannya lembut dan mendalam sampai membuat Lily lumpuh di dalamnya.
“Ma, Mas ... a, aku-”
Gadis itu tidak tahu semakin ia grogi, maka Dion semakin tidak bisa menahan hasrat lagi. Kecupan lembut mendarat di bibir. Lily tidak protes atau menunjukkan penolakan. Dion mendaratkan kembali ciumannya dan semakin bergairah untuk menguasai bibir mungil merona itu.
Dion semakin tak terkendali saat bibirnya berpindah menelusuri rahang kemudian leher. Nalurinya menuntun tangannya untuk menyentuh setiap jengkal tubuh Lily. Otak Lily kosong dan mampu melumpuhkan saraf kesadarannya.
Entah dari kapan Lily sudah terbaring dengan Dion di atasnya. Kesadaran Dion kembali, lalu menghentikan ciuman memabukkannya dan menarik tangan yang sudah berani menjelajah ke setiap inci tubuh Lily. Mata Dion berembun karena sesuatu yang ia tahan.
“Maaf, maafkan aku.” Dion menjauh dari tubuh gadis itu.
“Mmas.” Suaranya bergetar diiringi degup jantung yang tidak karuan. Tidak sanggup atau memang malu melanjutkan kembali kalimatnya, Lily hanya mampu mendongak. Binar penuh harap terpancar jelas di mata gadis itu.
Mengerti atau tidak Dion menyambar kembali bibir penuh damba itu. Kali ini ritmenya lebih cepat namun tetap lembut. Gairahnya terpacu kembali bahkan naik menjadi dua kali lipat. Pelan-pelan Dion menarik tali jubah yang terikat di depan perut Lily dan melepaskannya, hingga menyisakan gaun tidur tanpa lengan.
Saat pasangan suami istri itu dimabuk asmara, ponsel Dion bunyi menandakan ada pesan masuk. Namun itu tidak menghentikan bibir Dion yang sudah merambat ke mana-mana.
**
Lily berusaha menutupi bagian sensitifnya, gadis itupun memalingkan wajah. Dion sudah berhasil melucuti pakaiannya hingga tiada satupun yang tersisa.
Dion turut menanggalkan pakaiannya satu satu.
“Mas, aku, aku ....” Lily kewalahan melanjutkan kalimatnya tatkala Dion masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuhnya dan kembali mendekati dirinya yang sudah polos itu.
__ADS_1
Dion berbisik, “tidak perlu malu atau takut. Kita sama-sama akan melakukannya, kecuali ... kecuali kamu tidak menginginkannya maka aku pun tidak akan melakukannya.” Dion menurunkan pandangan untuk melihat reaksi Lily yang duduk di sampingnya.
Seperti tadi, Lily malah membenamkan wajahnya pada dada kekar Dion. Dan itu sukses membuat Dion tersenyum lega juga senang.
Malam ini menjadi malam hangat walau di luar dingin. Tidak terhitung banyaknya ciuman di sekujur tubuh Lily yang diperoleh dari suaminya itu. Rasa malu dan takut menyatu tatkala Dion mendekatkan diri.
“Tidak akan apa-apa. Kita akan sama-sama memulainya.” Dion mencoba memberi ketenangan pada Lily yang sudah berwajah pucat itu. Digenggamnya tangan gadis itu dan ditinggalkan sebuah kecupan hangat di punggung tangan putih itu.
“Aku mencintaimu,” bisiknya nyaris tak terdengar. Setelah berucap demikian, Dion mencoba memulai pergumulan yang sudah ia tahan sejak lama. Sungguh sulit untuk menyatukan tubuh mereka. Terdengar Lily meringis menahan sakit. Dion menciumi segala sisi wajah Lily, mencoba mengalihkan rasa sakit yang gadis itu rasakan di bawah sana. Genggamannya pun ia pererat seperti menyalurkan tenaga.
Setelah perjuangan yang sulit mereka akhirnya menyatu. Setelah jeda untuk beberapa saat, Dion mencoba memimpin tubuh Lily dengan menggerakkannya dengan pelan, semakin lama semakin berirama. Deru napas mereka bersahut-sahutan.
Lily merasa ini lebih dari sekedar indah walau rasa sakit masih dapat ia rasakan. Tubuhnya serasa melambung tinggi ke angkasa kemudian turun dengan melayang-layang seperti kapas di udara. Dirinya menyatu dengan orang yang ia cintai.
Layaknya Lily, pria gagah itupun bagai tenggelam di lautan cinta. Sebelumnya tidak pernah ia rasakan keindahan sedalam ini. Mereka saling bertatap membiarkan sorot mata mereka yang berbicara. Sampai akhirnya mereka selesai dengan urusannya.
Dion menghapus sisa air mata dan titik-titik keringat yang membingkai kening Lily. Kemudian lelaki yang sudah menggagahi istrinya itu menarik tubuh mungil Lily dalam dekapannya dan menciumi pucuk kepalanya.
“Terima kasih.”
“Mas, jangan tinggalin aku.”
“Tidak akan. Kita akan selalu bersama, selamanya.”
-
-
-
Terimakasih untuk teman-teman semua yang sudah mau melike dan memvote tulisanku ini😊 Yang hanya membaca juga aku ucapkan banyak-banyak terimakasih. Kalau ada waktu senggang, aku akan up. Aku sayang kalian😘 See you in the next chapter ....
__ADS_1